Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Meningioma

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Meningioma adalah tumor yang muncul pada selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang (meninges). Bila dibandingkan dengan saraf tulang belakang, otak lebih sering terkena meningioma.

Meningioma bisa bersifat jinak, ganas, ataupun atipik (di antaranya), tapi lebih sering tumor ini bersifat jinak. Tumor jenis ini biasanya berkembang cukup lambat. Mayoritas penderita meningioma adalah wanita berusia lanjut, namun pria dan anak-anak juga memiliki risiko menjadi pengidap tumor jenis ini.

Komplikasi jangka panjang yang bisa terjadi akibat meningioma adalah:

  • Kejang-kejang.
  • Hilang ingatan.
  • Kesulitan berkonsentrasi.
  • Perubahan kepribadian.

Komplikasi ini juga dapat terjadi setelah tindakan medis seperti operasi dan radioterapi.

Gejala Meningioma

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Gejala-gejala utama yang umumnya dirasakan oleh penderita meningioma adalah:

  • Lengan dan kaki terasa lemas.
  • Kejang-kejang.
  • Gangguan indera penciuman.
  • Mati rasa.
  • Sakit kepala yang semakin memburuk.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan pendengaran.
  • Hilang ingatan.
  • Gangguan bicara.

Gejala ini biasa timbul satu demi satu. Tapi segeralah berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami kejang dan gangguan pengelihatan secara tiba-tiba, atau hilang ingatan.

Penyebab dan Faktor Risiko Meningioma

Sampai saat ini, masih belum jelas penyebab pasti dari meningioma. Akan tetapi ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami meningioma, yaitu:

  • Paparan radiasi ke kepala, yang bisa terkena saat seseorang menjalani terapi radiasi.
  • Hormon kewanitaan. Karena meningioma banyak diderita oleh wanita, beberapa dokter percaya bahwa hormon kewanitaan bisa meningkatkan risiko terkena meningioma.
  • Cacat turunan pada sistem saraf seperti Neurofibromatosis tipe 2, bisa meningkatkan risiko terkena meningioma.

Diagnosis Meningioma

Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. Untuk mendiagnosis meningioma, dokter akan melakukan beberapa tes pencitraan bagian kepala seperti CT scan dan MRI.

Selain tes pencitraan, pengambilan sampel tumor atau biopsi kadang dilakukan dokter dan ahli bedah. Tujuan pengambilan sampel tumor ini adalah untuk meneliti apakah tumor yang diderita termasuk jenis jinak atau ganas.

Pengobatan Meningioma

Pengobatan yang akan dijalani oleh penderita meningioma akan disesuaikan dengan beberapa faktor seperti:

  • Ukuran dan posisi meningioma.
  • Tingkat agresivitas tumor.

Penderita meningioma tidak selalu langsung menjalani pengobatan. Jika meningioma berukuran kecil serta tidak menyebabkan gejala apa pun, dokter biasanya hanya akan menyarankan tes pencitraan secara berkala untuk memantau perkembangan meningioma.

Namun, ada beberapa cara yang biasanya dipilih dokter, jika ia memutuskan untuk menangani meningioma yaitu:

  • Pembedahan. Jika tumor membesar, dokter akan melakukan pembedahan untuk mengangkat seluruh meningioma.
  • Terapi radiasi. Jika meningioma tidak bisa diangkat seluruhnya, dokter akan menyarankan terapi radiasi usai pembedahan. Tujuannya, menghilangkan sisa sel tumor dan mengurangi risiko meningioma muncul kembali.
  • Obat-obatan. Bagi pengidap meningioma kambuhan dan meningioma yang tidak bisa ditangani oleh pembedahan dan radiasi, maka dokter akan menganjurkan terapi obat. Namun sampai saat ini, obat yang benar-benar ampuh menyembuhkan meningioma masih terus diteliti dan diuji.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT