Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Megakolon

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Megakolon adalah pelebaran atau pembesaran abnormal pada usus besar (kolon). Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh masalah pada saraf-saraf di bagian usus besar. Operasi seringkali dilakukan untuk menyembuhkan penyakit ini.

Saat mengalami megakolon, kotoran di dalam usus besar tidak bisa bergerak menuju rektum dan dikeluarkan lewat anus. Akibatnya, terjadi penumpukan kotoran di dalam usus besar. Megakolon bisa disebabkan oleh faktor genetika (faktor yang dibawa atau diturunkan) dan konstipasi jangka panjang.

Seseorang terdiagnosis mengalami megakolon jika bagian-bagian pada usus besarnya mengalami pelebaran atau pembesaran dari kondisi normal. Bagian-bagian usus besar yang dimaksud adalah sekum (ukuran normalnya 12 cm), kolon sigmoid (normalnya 6,5 cm), dan kolon asenden (normalnya 8 cm). Menurut jenisnya, megakolon dibagi menjadi tiga, yaitu megakolon akut, megakolon kronis, dan megakolon toksik.

Penyebab megakolon

Umumnya, megakolon muncul sebagai komplikasi dari penyakit radang usus. Penyakit ini menyebabkan banyak masalah seperti pembengkakan dan iritasi pada saluran pencernaan, sampai menimbulkan kerusakan permanen pada bagian usus.

Megakolon muncul ketika radang usus menyebabkan usus besar melebar dan membesar. Dampaknya, usus besar menjadi tidak mampu membuang gas dan feses dari dalam tubuh. Jika gas dan feses tertahan di dalam usus besar, maka organ tersebut bisa bocor atau pecah. Kondisi ini sangat berbahaya dan mengancam jiwa.

Jika usus besar pecah, bakteri yang seharusnya hidup di dalam usus akan menyebar ke seluruh bagian dalam perut. Hal ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan infeksi serius bahkan bisa berujung kematian. Agar terhidar dari penyakit ini, disarankan untuk mendengarkan saran dari dokter, menjalani gaya hidup yang sehat, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang memicu timbulnya megakolon.

Secara lebih spesifik, penyebab megakolon berbeda-beda menurut jenisnya. Pada kasus megakolon toksik, penyebab utamanya adalah pengaruh dari penyakit radang usus seperti yang sudah dijelaskan di atas. Sedangkan megakolon akut dan kronis memiliki beberapa penyebab lainnya. Berikut adalah penjabaran singkat mengenai penyebab megakolon akut dan kronis:

  • Megakolon akut. Penyakit ini muncul sebagai pengaruh dari beberapa jenis penyakit, di antaranya:
    • Penyakit neurologis: penyakit Chagas, parkinson, distrofi miotonik, neuropati diabetik, cedera saraf tulang belakang, sindrom paraneoplastik, dan amiloidosis.
    • Penyakit sistemik: Scleroderma, dermatomiositis/polimiositis, lupus eritematosus sistemik, dan penyakit jaringan ikat campuran.
    • Penyakit metabolik: hipotiroidisme, hipokalemia, porfiria, dan tumor feokromositoma.
    • Penyebab lainnya: penyakit Hirschsprung, sindrom Waardenburg-Shah, dan neoplasia endokrin multipel tipe 2A (MEN 2A) or 2B (MEN 2B).
  • Megakolon kronis. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa kondisi seperti gangguan elektrolit, gangguan metabolik (hipotiroidisme dan hiperparatiroidisme), serta infeksi (kolitis pseudomembran, penyakit Chagas, dan disentri amoeba).

Gejala megakolon

Umumnya, penderita megakolon akan mengalami gejala-gejala seperti perut kembung, mual, konstipasi parah, dan muncul rasa sakit pada perut bagian bawah. Namun secara lebih spesifik, gejala megakolon berbeda-beda setiap jenisnya.

Pada kasus megakolon akut, tanda yang khas adalah gejala biasanya muncul sesaat setelah prosedur operasi. Pasien biasanya akan mengeluhkan kesulitan buang air besar atau sulit membuang gas, dan disertai dengan rasa mual dan muntah.

Pada kasus megakolon kronis, otot-otot yang berfungsi merapatkan anus lama kelamaan akan melemah akibat tekanan terus menerus dari tumpukan kotoran di dalam usus besar. Akibatnya, terkadang pasien dapat mengalami diare atau buang air besar yang keluar secara spontan tanpa mampu ditahan.

Sedangkan untuk megakolon toksik, penyakit ini memiliki gejala tambahan seperti demam, muncul rasa nyeri di perut, jantung berdetak kencang, syok, merasa sakit saat buang air besar, serta diare yang disertai dengan darah.

Diagnosis megakolon

Untuk mendiagnosis megakolon, dokter akan menanyakan beberapa hal kepada pasien mengenai gejala yang dirasakan dan siklus buang air. Untuk membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit, pasien disarankan agar memberi tahu dokter jika memiliki riwayat penyakit, riwayat konstipasi, atau sedang mengonsumsi obat-obatan.

Di samping itu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan rektal digital, dengan cara memasukkan jari tangan ke dalam anus guna melihat ada tidaknya massa/feses di ujung usus besar.

Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan guna menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, seperti ketidakseimbangan elektrolit. Selain itu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan menggunakan CT Scan dan X-ray untuk melihat fungsi otot-otot rektum. Sebelumnya, Anda akan diminta untuk meminum cairan khusus bernama barium enema, guna memberikan pewarnaan pada usus.

Pemeriksaan tambahan seperti anorektal mamometri, pudendal nerve latency, dan kolonoskopi juga mungkin akan disarankan dokter, tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Pengobatan megakolon

Dalam kondisi yang akut, penanganan utama yang perlu segera dilakukan adalah metode dekompresi. Metode ini menggunakan tabung rektal, dan bertujuan untuk mengurangi tekanan pada usus dan mengurangi rasa nyeri.

Meskipun demikian, hampir sebagian besar kasus megakolon memerlukan tindakan bedah untuk penanganan definitifnya. Tindakan bedah yang kerap menjadi pilihan untuk kasus megakolon antara lain kolektomi dengan anastomosis ileorektal, protokolektomi total dengan ileostomi, serta protokolektomi total dengan anastomosis ileoanal. Jenis yang dipilih bergantung pada lokasi usus besar yang bermasalah.

Komplikasi megakolon

Jika menemukan gejala-gejala megakolon, disarankan agar segera menemui dokter. Sebab jika diabaikan, megakolon bisa menimbulkan komplikasi seperti perforasi atau kebocoran usus besar, sepsis, syok, dan koma. Perforasi umumnya terjadi karena pengaruh overdistensi pada bagian sekum atau stercoral ulcerpada sigmoid.

Untuk menangani komplikasi megakolon, dokter akan melakukan tindakan serius berupa pemotongan usus besar pasien jika diperlukan. Operasi ini juga dibantu dengan prosedur ileoanal pouch-anal anastomosis (IPAA) untuk mengeluarkan feses dari tubuh pasien setelah usus besar dibuang.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT