Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Rinitis Alergi

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Rinitis alergi adalah peradangan yang terjadi pada rongga hidung akibat reaksi alergi. Gejala pada kondisi ini biasanya langsung timbul setelah seseorang terpapar pemicu alergi (alergen). Beberapa gejalanya meliputi:

  • Hidung berair atau tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata yang gatal atau berair.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.

Tiap penderita alergi bisa mengalami gejala yang berbeda. Umumnya gejala pada rinitis alergi terbilang ringan dan mudah ditangani. Tetapi dapat juga muncul gejala-gejala yang cukup berat sehingga menghambat aktivitas sehari-hari. Periksakan diri Anda ke dokter jika:

  • Mengalami gejala-gejala yang terasa sangat mengganggu dan tidak kunjung membaik.
  • Obat alergi yang diminum tidak efektif atau justru memicu efek samping yang mengganggu.
  • Memiliki penyakit lain yang bisa memperparah rinitis alergi, misalnya sinusitis, asma, atau polip dalam rongga hidung.

Penyebab Rinitis Alergi

Penyebab utama dari rinitis alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap pemicu alergi. Sistem kekebalan tubuh yang menganggap alergen sebagai substansi berbahaya kemudian melepaskan senyawa histamin ke dalam darah. Reaksi inilah yang bisa memicu pembengkakan dan iritasi pada hidung serta produksi cairan hidung yang berlebih.

Terdapat beragam alergen yang bisa memicu reaksi sistem kekebalan tubuh jika terhirup melalui hidung. Beberapa jenis alergen yang umum adalah serbuk sari, tungau, debu, serta bulu hewan.

Faktor Risiko Rinitis Alergi

Rinitis alergi dapat dialami oleh siapa saja, tetapi ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya rinitis alergi. Faktor-faktor pemicu tersebut meliputi:

  • Faktor keturunan. Risiko seseorang untuk mengalami rinitis alergi akan meningkat jika orang tua atau saudara kandungnya juga memiliki kondisi yang sama.
  • Memiliki alergi jenis lain, misalnya asma.
  • Pajanan dari lingkungan. Contohnya, pengrajin mebel yang terus terpajan debu kayu.
  • Paparan asap rokok. Bayi yang terpapar asap rokok, memiliki risiko mengalami rinitis alergi di kemudian hari.

Diagnosis Rinitis Alergi

Proses diagnosis rinitis alergi akan diawali dengan menanyakan gejala-gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien. Dokter kemudian akan memeriksa hidung pasien untuk mencari kelainan yang dapat menjadi penyebab gejala. Contoh pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah endoskopi hidung, CT scan, atau tes pernapasan melalui hidung (nasal inspiratory flow test).

Apabila dibutuhkan, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan adanya alergi, seperti pemeriksaan darah untuk melihat kadar imunoglobulin E (IgE) dan tes tusuk kulit untuk mengetahui jenis alergen.

Pengobatan Rinitis Alergi

Metode pengobatan rinitis alergi berbeda-beda bagi tiap penderita. Perbedaan dalam penanganan ini tergantung pada tingkat keparahan gejala dan pengaruhnya pada kehidupan penderita.

Menghindari pemicu alergi atau alergen adalah metode penanganan sekaligus pencegahan utama pada rinitis alergi. Contohnya jika mengalami alergi terhadap debu, maka bersihkan rumah secara teratur, terutama ruangan yang sering digunakan.

Rinitis alergi memang tidak bisa disembuhkan, tapi gejalanya bisa diredakan dan dikendalikan melalui langkah penanganan yang tepat. Beberapa di antaranya adalah:

  • Obat-obatan, seperti antihistamin, dekongestan, serta kortikosteroid. Gejala rinitis alergi yang ringan umumnya bisa diatasi dengan dekongestan atau antihistamin yang dapat dibeli secara bebas di apotek. Tetapi apabila mengalami gejala rinitis alergi yang cukup berat, penderita sebaiknya ke dokter untuk mendapatkan jenis obat yang tepat. Saat dibutuhkan, dokter juga akan mengombinasikannya dengan obat semprot hidung yang mengandung ipratropium atau penghambat leukotrien.
  • Imunoterapi atau desensitisasi. Tindakan ini dilakukan dengan menyuntikkan alergen ke kulit penderita, setiap interval waktu tertentu (biasanya seminggu sekali), dengan dosis yang makin ditinggikan. Tujuannya adalah untuk menurunkan sensitivitas imun tubuh terhadap alergen tersebut. Pemberian alergen juga bisa dalam bentuk tablet yang diminum.
  • Irigasi hidung (nasal irrigation). Tindakan ini adalah untuk membersihkan rongga hidung dengan menyemprotkan atau menyedot cairan khusus melalui hidung, lalu mengeluarkannya melalui mulut.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT