Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Rhinitis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Rhinitis adalah peradangan atau iritasi yang terjadi di membran mukosa di dalam hidung. Secara garis besar rhinitis dibagi menjadi dua, yaitu rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi.

Rhinitis alergi atau yang disebut juga hay fever disebabkan oleh alergi terhadap unsur seperti debu, kelupasan kulit hewan tertentu, dan serbuk sari. Sedangkan rhinitis nonalergi tidak disebabkan oleh alergi tapi kondisi seperti infeksi virus dan bakteri.

Gejala Rhinitis

Rhinitis memiliki gejala yang mirip seperti pilek, yakni:

  • Bersin-bersin.
  • Hidung tersumbat atau berair.
  • Berkurangnya sensitivitas indera penciuman.
  • Rasa tidak nyaman atau iritasi ringan di dalam dan area sekitar hidung.

Pada rhinitis alergi, gejala ini akan muncul sesaat setelah terpapar oleh alergen seperti debu, serbuk sari bunga, atau bulu hewan. Apabila parah, gejala ini dapat berlangsung sepanjang hari sehingga mengganggu tidur dan kegiatan sehari-hari. Namun, kebanyakan penderita rhinitis hanya mengalami gejala ringan yang mudah diobati secara efektif.

Jika gejala yang dialami disebabkan oleh rhinitis nonalergi (misalnya akibat infeksi virus), Anda mungkin akan merasakan gejala lainnya seperti adanya kerak yang tumbuh di dalam hidung dan mengeluarkan bau busuk. Kerak ini akan berdarah apabila Anda berusaha mengangkat atau menggaruknya.

Penyebab Rhinitis

Peradangan membran mukosa yang diakibatkan oleh bakteri, alergen (penyebab alergi), dan virus dapat menyebabkan gejala-gejala rhinitis.

Beberapa penyebab rhinitis alergi adalah kelupasan kulit mati atau rambut hewan, bahan kimia di tempat kerja, tungau debu rumah, serta serbuk sari dan spora. Sedangkan penyebab rhinitis nonalergi adalah faktor lingkungan, kerusakan jaringan di dalam hidung, penggunaan dekongestan hidung berlebih, dan infeksi.

Diagnosis Rhinitis

Ada beberapa cara untuk mendiagnosis rhinitis alergi, di antaranya dengan mengetahui gejala serta riwayat kesehatan pribadi dan keluarga. Selain itu, ada dua tes alergi utama yang dapat membantu mendiagnosis rhinitis, yaitu tes darah dan tes tusuk kulit.

Jika ternyata bukan karena alergi, tes medis lain seperti endoskopi pada rongga hidung, tes aliran pernafasan dan CT-scan mungkin akan dilakukan dokter untuk memeriksa kondisi rongga hidung.

Perawatan Rhinitis

Anda bisa melakukan perawatan rhinitis di rumah jika gejala yang dialami tidak terlalu parah dengan obat-obatan yang dijual secara bebas, seperti dekongestan dan antihistamin. Antihistaminmemiliki efek yang bertahan lama untuk meredakan gejala, seperti hidung tersumbat atau berair dan bersin-bersin. Namun jika gejala rhinitis lebih parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari, periksakan diri ke dokter.

Selain dengan obat-obatan, Anda juga bisa membersihkan saluran hidung untuk membantu menjaga agar hidung bebas dari penyebab iritasi. Imunoterapi juga bisa dilakukan untuk mengatasi rhinitis alergi dan biasanya dilakukan jika gejala yang dialami sudah parah. Namun, terapi ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis yang terlatih.

Komplikasi Rhinitis

Rhinitis memiliki risiko memunculkan komplikasi, tapi hal ini jarang terjadi. Berikut ini adalah komplikasi yang mungkin terjadi akibat rhinitis.

  • Sinusitis. Infeksi terjadi karena ingus tidak bisa mengalir dari sinus akibat pembengkakan dan peradangan rongga hidung.
  • Infeksi telinga bagian tengah. Bagian telinga yang terletak di belakang gendang telinga bisa terkena infeksi akibat rhinitis.
  • Polip hidung. Jaringan yang tumbuh di dalam lubang rongga hidung dan sinus akibat inflamasi pada lapisan dinding rongga hidung.

Operasi mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah yang parah dan telah berlangsung lama, namun jika belum terlalu parah, masalah tersebut bisa diatasi dengan obat-obatan.

Pencegahan Rhinitis

Rhinitis dapat dicegah dengan menghindari pemicu yang dapat menyebabkan timbulnya gejala rhinitis, seperti menghindari lingkungan yang berpolusi atau terpapar asap rokok.

Selain itu, Anda juga sebaiknya menghindari alergen yang umum, seperti serbuk sari, tungau debu rumah, spora kapang, serta kelupasan kulit mati, kotoran dan urine kering hewan peliharaan.

Untuk rhinitis yang tidak disebabkan oleh alergi, segera obati penyebab dasar agar tidak berkelanjutan. Misalnya mengonsumsi antibiotik untuk rhinitis akibat infeksi bakteri.

Peradangan membran mukosa yang diakibatkan oleh bakteri, alergen, dan virus menyebabkan terjadinya rhinitis. Berikut ini adalah penjelasan tentang penyebab rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi.

Penyebab Rhinitis Alergi

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya rhinitis alergi, di antaranya adalah sistem kekebalan tubuhyang terlalu sensitif. Sistem kekebalan tubuh alami menganggap alergen berbahaya dan bereaksi dengan memproduksi antibodi untuk melawannya.

Ketika pertama kali terpapar unsur alergen, sistem kekebalan tubuh tidak langsung bereaksi dan menyebabkan gejala alergi. Sistem kekebalan tubuh menjalani proses yang disebut sensitisasi terlebih dahulu, yaitu proses untuk mengenali dan mengingat alergen. Namun pada paparan berikutnya, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi dan menyebabkan reaksi alergi.

Antibodi akan menyebabkan produksi lendir berlebih dan pembengkakan lapisan dalam hidung. Itu sebabnya penderita rhinitis alergi biasanya akan mengalami gejala-gejala hidung berair atau tersumbat, serta bersin-bersin.

Berikut ini adalah beberapa alergen yang ada di udara yang bisa memicu terjadinya rhinitis:

  • Kelupasan kulit mati hewan. Banyak orang alergi terhadap hewan (misalnya anjing atau kucing) dan menganggap bahwa bulu hewan yang menyebabkan reaksi alergi. Namun penyebab yang sebenarnya adalah kotoran dan kelupasan kulit mati hewan tersebut.
  • Alergen di tempat kerja. Beberapa orang yang bekerja di lingkungan yang terdapat alergen seperti lateks, debu lantai, atau debu kayu bisa mengidap rhinitis akibat terpapar unsur-unsur tersebut di tempat kerja.
  • Tungau debu rumah. Rhinitis dapat dipicu oleh zat kimia yang terdapat pada kotoran tungau yang sering ditemukan di kasur dan bantal, karpet, dan matras.
  • Serbuk sari dan spora. Pepohonan dan rerumputan memproduksi partikel kecil serbuk sari yang bisa memicu rhinitis alergi. Selain itu, fungi dan kapang memproduksi spora yang bisa memicu rhinitis alergi juga.

Kebanyakan rhinitis alergi merupakan kondisi yang diturunkan oleh orang tua. Selain itu, anak yang bertumbuh dewasa dengan anggota keluarga yang merokok atau dengan binatang peliharaan juga lebih rentan mengalami rhinitis alergi.

Penyebab Rhinitis Non-alergi

Hampir sama seperti rhinitis alergi, gejalanya meliputi cairan yang berlebihan di hidung dan membengkaknya pembuluh darah di dalam rongga hidung. Namun penyebab rhinitis nonalergi berbeda dengan rhinitis alergi, berikut ini adalah beberapa penyebab utama rhinitis nonalergi.

  • Lingkungan. Faktor lingkungan dapat memicu terjadinya rhinitis pada sebagian orang, seperti perubahan cuaca, wangi parfum, asap rokok, dan uap cat. Rhinitis autonomic atau vasomotor adalah istilah medis yang digunakan untuk rhinitis yang dipicu oleh faktor lingkungan. Orang yang memiliki pembuluh darah rongga hidung yang sangat sensitif diyakini bisa terkena rhinitis tipe ini, namun penyebab pastinya tidak diketahui.
  • Kerusakan jaringan. Lapisan jaringan di dalam hidung yang disebut dengan turbinates sangat penting untuk menjaga kelembapan bagian dalam hidung dan menjaga tubuh dari infeksi bakteri. Jika turbinates rusak atau diangkat, rhinitis bisa terjadi, karena jaringan yang tersisa menjadi keras, mudah terinfeksi, dan meradang.
  • Penggunaan dekongestan rongga hidung berlebih. Lapisan hidung akan membengkak kembali dan keadaan akan makin parah jika penggunaan obat semprot dekongestan digunakan secara berlebihan atau lebih dari tujuh Istilah medis untuk masalah ini disebut rhinitis medikamentosa.
  • Infeksi. Terkadang infeksi fungi atau bakteri dapat menyebabkan terjadinya rhinitis, namun tidak sesering infeksi virus seperti pilek.
  • Ketidakseimbangan hormon. Hormon sangat berperan dalam pembesaran pembuluh darah rongga hidung dan dapat memicu rhinitis nonalergi. Perubahan hormon biasanya terjadi saat masa pubertas, hamil, atau sedang menjalani pengobatan hormon, seperti terapi pergantian hormon, dan pil kontrasepsi. Selain itu, kadang-kadang rhinitis juga dapat terjadi akibat hipotiroidisme atau kurang aktifnya kelenjar tiroid.
  • Obat-obatan. Terkadang obat-obatan tertentu dapat menyebabkan efek samping rhinitis, seperti obat pereda nyeri atau obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat gangguan jantung (beta-blocker), obat antihipertensi (penghambat ACE), serta penyalahgunaan kokain.
  • Stres. Beberapa orang mengalami rhinitis nonalergi yang dipicu oleh stres, baik secara emosional maupun fisik.
  • Makanan dan minuman. Makanan pedas dan minuman beralkohol bisa menyebabkan selaput di dalam hidung bengkak dan membuat hidung tersumbat.

Ada beberapa cara untuk mendiagnosis rhinitis alergi, di antaranya adalah dengan mengetahui gejala serta riwayat kesehatan pribadi dan keluarga. Hal ini dikarenakan banyaknya kasus rhinitis alergi yang bersifat keturunan. Selain itu, ada dua tes alergi utama yang dapat membantu mendiagnosis rhinitis alergi:

  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk memeriksa keberadaan antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh ketika mengalami alergi, yaitu imunoglobulin E (IgE).
  • Tes tusuk kulit. Tes ini bertujuan memeriksa tipe alergi dengan cara menusukkan jarum ke kulit yang telah diberikan unsur alergen untuk mengenalkannya pada sistem kekebalan tubuh. Biasanya dilakukan di bagian tangan. Bilur kecil akan muncul jika Anda alergi terhadap unsur alergen yang diberikan.

Untuk memeriksa apakah terjadi komplikasi seperti sinusitis atau polip hidung, dokter mungkin akan menyarankan beberapa tes lanjutan seperti berikut ini.

  • Tes aliran inspiratory hidung atau nasal inspiratory flow test. Tes ini bertujuan mengukur aliran udara saat menarik napas melalui hidung menggunakan alat kecil yang diletakkan di atas mulut dan hidung.
  • Endoskopi hidung. Tes ini dilakukan untuk melihat bagian dalam hidung dengan menggunakan pipa tipis yang memiliki kamera dan sinar lampu di ujungnya.
  • CT scan. Tes ini dilakukan untuk melihat gambar bagian dalam tubuh secara rinci dengan menggunakan komputer dan X-ray.

Anda bisa melakukan perawatan rhinitis di rumah jika gejala yang dialami tidak terlalu parah dengan obat-obatan yang dijual secara bebas, seperti dekongestan dan antihistamin. Antihistamin berguna untuk meredakan gejala-gejala alergi, seperti hidung tersumbat atau berair dan bersin-bersin. Namun jika parah hingga berdampak kepada aktivitas sehari-hari, segera temui dokter.

Pastikan untuk membaca petunjuk pemakaian pada kemasan atau temui dokter jika anak Anda menderita rhinitis, karena tidak semua obat untuk mengatasi rhinitis dapat digunakan oleh anak-anak.

Berikut ini adalah beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rhinitis.

Obat-obatan

Anda bisa menggunakan obat-obatan untuk meredakan gejala yang umum terjadi pada rhinitis, namun tidak bisa untuk menyembuhkan alergi. Penggunaan obat harus segera dihentikan jika gejala telah membaik. Jika setelah dua pekan menggunakan obat namun tidak ada reaksi, segera temui dokter. Berikut ini adalah obat-obatan yang bisa digunakan untuk meredakan gejala rhinitis:

  • Dekongestan hidung. Obat ini bisa digunakan untuk membantu meredakan hidung tersumbat, namun tidak boleh digunakan lebih dari enam hari karena malah bisa memperparah tersumbatnya hidung Anda. Dekongestan hidung tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, obat cair, obat semprot hidung, dan kebanyakan dijual secara bebas. Jika Anda sedang mengonsumsi obat monoamine oxidase inhibitor (MAOI) untuk mengatasi depresi, dilarang untuk menggunakan dekongestan hidung.
  • Antihistamin. Histamin yang dilepaskan oleh tubuh saat alergi dapat dihambat oleh antihistamin yang tersedia dalam bentuk tablet dan umumnya dijual secara bebas di apotek. Perhatikan cara pemakaian karena terkadang antihistamin dapat menyebabkan kantuk.
  • Kortikosteroid. Obat ini memiliki efek yang lebih bertahan lama dibandingkan antihistamin, namun lebih lama untuk bereaksi. Kortikosteroid dapat membantu meredakan pembengkakan dan peradangan. Tersedia dalam bentuk kaplet, obat semprot dan obat tetes, biasanya dapat dibeli dengan resep dokter.

Jika perawatan inti tidak merespons dengan baik, temui dokter agar dapat diberikan perawatan tambahan, seperti:

  • Menambahkan obat semprot hidung dekongestan untuk jangka pendek.
  • Mengombinasikan obat semprot hidung dengan tablet antihistamin dan dekongestan.
  • Menggunakan pengobatan yang menghambat efek zat kimia yang dilepaskan saat reaksi alergi, yaitu antagonis reseptor leukotriene.
  • Meningkatkan dosis obat semprot kortikosteroid.
  • Menggunakan obat semprot ipratropium yang membantu meredakan ingus berlebih.
  • Meresepkan semprotan hidung yang mengandung cromolyn sodium untuk menekan produksi histamin dalam tubuh.

Membersihkan Saluran Hidung

Untuk membantu menjaga agar hidung bebas dari penyebab iritasi, Anda bisa membersihkan saluran hidung secara rutin dengan larutan air garam yang bisa dibuat sendiri atau menggunakan produk yang dibeli di apotek.

Cara untuk membuat larutan air garam di rumah sangat mudah. Anda cukup memasak air sekitar 500 ml hingga mendidih, lalu tunggu hingga suhunya suam-suam kuku, kemudian campurkan setengah sendok teh soda bikarbonat (baking powder) dan setengah sendok teh garam. Pastikan untuk tidak membasuh hidung saat airnya masih dalam keadaan panas.

Membasuh hidung dapat dilakukan dengan cara berdiri di depan wastafel, menuangkan sedikit larutan ke telapak tangan, lalu menghirupnya dengan lubang hidung satu per satu secara bergantian. Anda tidak perlu menghabiskan seluruh larutan, tapi cukup diulangi hingga hidung Anda terasa nyaman. Jika diperlukan, Anda bisa melakukan hal ini sesering mungkin, tapi jangan menggunakan sisa larutan dari proses sebelumnya. Anda harus membuat larutan baru tiap ingin membasuh hidung.

Sejumlah larutan mungkin akan melalui belakang hidung dan masuk ke tenggorokan. Anda tidak perlu cemas jika menelan larutan tersebut karena tidak berbahaya, namun usahakan untuk mengeluarkannya sebanyak mungkin.

Imunoterapi (Suntik Alergi)

Imunoterapi atau desensitisasi biasanya dilakukan jika pengobatan lainnya kurang efektif atau menyebabkan efek samping. Imunoterapi dilakukan dengan cara menyuntikkan alergen pada bagian lengan atas secara bertahap. Tujuannya adalah untuk mengenalkan dan membiasakan tubuh pada alergen. Dengan demikian, tubuh tidak akan bergantung pada obat untuk meredakan alergi. Terdapat pilihan tablet juga untuk jenis alergen tertentu, dikonsumsi setiap hari dengan diletakkan di bawah lidah hingga larut.

Imunoterapi memiliki risiko yang bisa menyebabkan reaksi alergi serius, itu sebabnya terapi ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis yang terlatih.

Imunoterapi juga bisa membantu mencegah perkembangan asma pada anak-anak.

Penderita rhinitis memiliki risiko terjadinya gejala lain, seperti mudah marah, mengantuk di siang hari dan gangguan konsentrasi. Hal-hal ini terjadi karena tidur malam yang terganggu oleh hidung tersumbat atau berair. Jika rhinitis terjadi pada penderita asma, maka asmanya bisa bertambah parah atau sering kambuh.

Selain beberapa masalah atau gangguan kesehatan yang disebutkan di atas, rhinitis juga berisiko memunculkan komplikasi seperti yang akan dijelaskan berikut ini.

Sinusitis

Sinus terinfeksi atau mengalami peradangan yang diakibatkan oleh rhinitis dan kondisi ini merupakan komplikasi rhinitis yang umum terjadi. Hal ini terjadi karena ingus yang dihasilkan oleh sinus secara alami tidak bisa mengalir ke hidung melalui saluran kecil seperti biasa akibat tersumbatnya saluran tersebut.

Gejala sinusitis seperti sakit gigi, demam, hidung tersumbat atau berair, serta rasa sakit yang parah di sekitar mata, dahi atau pipi bisa diatasi dengan obat pereda nyeri seperti ibuprofen, aspirin, atau parasetamol. Jika sinus yang dialami terinfeksi bakteri, disarankan untuk mengonsumsi antibiotik yang akan diresepkan dokter.

Pastikan untuk membaca petunjuk penggunaan pada kemasan sebelum mengonsumsi obat-obatan yang disebutkan karena tidak semuanya cocok atau diperbolehkan meminumnya. Contohnya penderita tukak lambung atau asma tidak disarankan untuk mengonsumsi ibuprofen dan aspirin tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak yang berusia di bawah 16 tahun.

Operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki pengaliran sinus jika sinusitis yang dialami sudah cukup lama atau kronis.

Infeksi Telinga Bagian Tengah

Rhinitis dapat menyebabkan masalah infeksi telinga bagian tengah atau otitis media, yaitu gangguan pada tabung Eustachian. Tabung ini terletak di belakang hidung, menghubungkan bagian belakang hidung dan telinga tengah yang berfungsi untuk mengalirkan cairan.

Cairan yang bertumpuk di telinga tengah akibat rhinitis menjadi terinfeksi dan menyebabkan infeksi pada telinga bagian tengah.

Infeksi telinga tengah dapat menyebabkan timbulnya gejala-gejala seperti hilangnya pendengaran, sakit telinga, kehilangan keseimbangan, dan demam.

Ibuprofen atau parasetamol dapat digunakan untuk meredakan demam dan rasa nyeri. Kebanyakan infeksi telinga akan sembuh dalam beberapa hari. Namun jika gejala yang dialami parah dan terus berlangsung, temui dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Polip Hidung

Polip hidungterkadang bisa terjadi akibat rhinitis. Polip adalah pembengkakan yang tumbuh di dalam hidung yang terjadi akibat peradangan selaput hidung. Ukuran polip hidung beragam dan bisa berwarna abu-abu, merah muda atau kuning.

Operasi umumnya diperlukan untuk mengangkat polip yang besar. Namun jika polip masih berukuran kecil maka dapat diatasi dengan obat semprot hidung steroid agar tidak halangan di hidung.

Polip bisa mengganggu pernapasan, menghambat sinus, serta mengurangi kemampuan indra penciuman. Sinusitis dapat terjadi jika polip hidung tumbuh secara berkelompok atau cukup besar.

Rhinitis dapat dicegah dengan menghindari pemicu yang dapat menyebabkan timbulnya gejala rhinitis, contohnya menghindari lingkungan yang berpolusi atau terpapar asap rokok. Alergen seperti tungau debu sulit untuk dilihat dan bisa berkembang biak bahkan di rumah yang sangat bersih, itu sebabnya sulit untuk menghindarinya. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu menghindari alergen yang paling umum.

Tungau debu rumah

Tungau debu rumah adalah serangga mikroskopis yang berkembang biak di debu rumah tangga dan merupakan salah satu penyebab utama alergi. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membatasi jumlah tungau yang ada di dalam rumah.

  • Bersihkan dengan cara mencuci atau menggunakan alat penyedot debu untuk barang-barang seperti tirai, bantal, kain pelapis furnitur, dan boneka anak secara rutin.
  • Jangan mengelap permukaan barang dengan kain lap kering karena bisa menyebarkan alergen, tapi gunakanlah kain lap bersih yang lembap untuk membersihkan debu.
  • Gunakan selimut yang terbuat dari bahan akrilik dan bantal yang berbahan sintetis.
  • Sebaiknya hindari penggunaan karpet untuk melapisi lantai, pilihlah bahan vinil keras atau kayu.
  • Gunakan kerai gulung yang mudah untuk dibersihkan.

Fokuskan mengendalikan tungau debu di kamar tidur dan ruang tamu karena Anda lebih sering menghabiskan waktu di area tersebut.

Spora kapang

Spora kapang merupakan alergen yang dilepaskan oleh kapang yang tumbuh di luar maupun di dalam rumah saat suhu meningkat secara tiba-tiba pada lingkungan yang lembap.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah spora kapang, yaitu:

  • Jangan memasukkan pakaian terlalu padat atau pakaian yang lembap ke lemari pakaian dan jangan menjemur pakaian di dalam ruangan tertutup.
  • Gunakan penyedot yang mengisap udara keluar dan buka jendela tapi pintu harus selalu ditutup saat Anda masak atau mandi agar udara yang lembap tidak menyebar ke seluruh ruangan di dalam rumah.
  • Atasi masalah pengembunan dan kelembapan di dalam rumah.
  • Pastikan rumah Anda memiliki ventilasi yang baik dan selalu menjaga rumah dalam kondisi kering.

Hewan peliharaan

Reaksi alergi dapat terjadi jika Anda memiliki hewan peliharaan atau mengunjungi rumah yang memiliki hewan peliharaan. Hal ini terjadi karena terpapar kelupasan kulit mati hewan, kotoran dan urine kering, bukan karena bulu hewan peliharaan.

Sebaiknya Anda tidak memelihara hewan peliharaan jika memiliki risiko terkena alergi. Di bawah ini ada beberapa petunjuk yang mungkin bisa membantu Anda mengatasinya.

  • Mandikan hewan peliharaan Anda secara rutin, setidaknya dua pekan sekali.
  • Cuci semua perabotan yang lembut dan seprai yang telah dinaiki hewan peliharaan Anda.
  • Batasi hewan peliharaan Anda di ruangan yang tidak memiliki karpet di dalamnya atau sebisa mungkin jagalah agar tetap berada di luar ruangan.
  • Rawat dan sikat hewan peliharaan, seperti anjing atau kucing, secara rutin di luar ruangan.
  • Jangan biarkan kamar tidur dimasuki oleh hewan peliharaan.

Jika ada kerabat atau teman Anda yang memiliki hewan peliharaan, minta mereka untuk tidak menyedot debu atau menyapu rumah ketika Anda sedang berkunjung ke rumah mereka karena hal itu akan membuat alergen beterbangan ke udara. Untuk meredakan gejala, minumlah antihistamin satu jam sebelum memasuki rumah seseorang yang memiliki hewan peliharaan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT