Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Rheumatoid Arthritis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Rheumatoid arthritis atau artritis reumatoid adalah peradangan kronis pada sendi yang menyebabkan rasa sakit, bengkak dan kaku pada persendian (misalnya sendi kaki dan tangan).

Seiring waktu, peradangan ini bisa menghancurkan jaringan persendian dan bentuk tulang. Efek dari kondisi ini akan membatasi aktivitas keseharian, seperti sulit untuk berjalan dan menggunakan tangan.

Walau bagian tubuh yang paling sering terkena dampak rheumatoid arthritis adalah pada bagian kaki dan tangan, penyakit ini juga bisa menjangkiti bagian tubuh lainnya, seperti mata, paru-paru, pembuluh darah, dan kulit.

Rheumatoid arthritis terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh Anda sendiri. Penyakit ini lebih sering diderita oleh wanita, terutama di atas 40 tahun. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan pria dan siapa pun di luar usia tersebut terjangkit penyakit ini.

Gejala Rheumatoid Arthritis

Gejala rheumatoid arthritis pada masing-masing orang berbeda dan bisa berubah seiring waktu, namun gejala yang sering timbul pada persendian adalah rasa kaku, kemerahan, bengkak, terasa hangat, dan nyeri.

Rheumatoid arthritis harus segera ditangani karena jika penyakit bertambah parah, gejala bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya dan menyebabkan persendian bergeser atau bahkan berubah bentuk.

Penyebab Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan infeksi, tetapi justru menyerang sel normal pada persendian dan membuat sendi terasa nyeri, bengkak, dan kaku.

Walau alasan kenapa sistem kekebalan tubuh keliru menyerang tubuh dalam rheumatoid arthritis masih belum diketahui, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko, seperti faktor usia, hormon, genetika, lingkungan, obesitas dan kebiasaan merokok.

Diagnosis Rheumatoid Arthritis

Gejala rheumatoid arthritis sama dengan beberapa penyakit lainnya, itu sebabnya sulit untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis pada tahap awal.

Ada beberapa tes yang bisa membantu mendiagnosis rheumatoid arthritis, yaitu pemeriksaan fisik, tes darah, dan pemindaian X-ray.

Perawatan Rheumatoid Arthritis

Penderita rheumatoid arthritis hanya bisa melakukan perawatan dasar seperti mengubah pola gaya hidup karena hingga saat ini masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan rheumatoid arthritis secara total, namun dengan perawatan yang tepat, penyebaran dan peradangan dapat dihambat.

Perawatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan terapi serta pengobatan jangka panjang untuk menghambat perkembangan dan gejala rheumatoid arthritis. Jika perawatan dengan terapi dan pengobatan sudah tidak efektif, maka operasi untuk memperbaiki masalah persendian dapat dilakukan.

Komplikasi Rheumatoid Arthritis

Ada beberapa kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi jika rheumatoid arthritis tidak ditangani dengan baik, seperti peradangan pada pembuluh darah, mata, jantung, dan paru-paru, kerusakan pada sendi serta terjadinya sindrom carpal tunnel. Rheumatoid arthritis meningkatkan risiko terkena stroke serangan jantung.

Gejala rheumatoid arthritis pada masing-masing orang berbeda dan bisa berubah seiring waktu. Biasanya gejala rheumatoid arthritis tidak langsung muncul semua, tapi berkembang perlahan-lahan selama beberapa pekan. Walau jarang terjadi, sebagian penderita rheumatoid arthritis juga bisa mengalami perkembangan gejala dengan cepat, bahkan hanya dalam hitungan hari. Gejala rheumatoid arthritis juga bisa muncul dan menghilang selama beberapa saat.

Rheumatoid arthritis biasanya menyerang persendian kecil di tangan dan kaki terlebih dulu. Beberapa gejala yang sering timbul pada persendian akibat rheumatoid arthritis, di antaranya:

  • Kaku. Persendian akan terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Gejala ini terutama dirasakan pada pagi hari atau setelah beristirahat. Gejala kaku pada persendian ini sering dikaitkan dengan osteoartritis. Namun biasanya pada osteoartritis, gejala akan menghilang setengah jam setelah bangun tidur, sedangkan pada rheumatoid arthritis akan bertahan lebih lama.
  • Kemerahan, bengkak, dan terasa hangat. Persendian akan berwarna kemerahan, bengkak, dan terasa hangat saat disentuh.
  • Nyeri. Persendian akan terasa nyeri dan berdenyut. Sama halnya dengan rasa kaku pada persendian, biasanya rasa nyeri lebih parah pada pagi hari atau setelah beristirahat.

Selain gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas, beberapa penderita rheumatoid arthritis juga bisa mengalami demam, berat badan menurun, lelah dan kurang berenergi, berkeringat, serta berkurangnya nafsu makan. Penderita juga bisa mengalami mata kering dan merasakan sakit pada dada jika gejala menyebar pada bagian mata, jantung hingga paru.

Rheumatoid arthritis harus segera ditangani karena jika penyakit bertambah parah, gejala bisa menyebar ke sendi-sendi lain termasuk lutut, pergelangan tangan, bahu, pergelangan kaki, pinggul, dan siku. Dan jika dibiarkan terlalu lama, rheumatoid arthritis dapat menyebabkan persendian bergeser dan berubah bentuk.

Rheumatoid arthritis disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang diri sendiri dan masih belum diketahui pemicunya.

Sistem kekebalan tubuh yang normal seharusnya membuat antibodi yang gunanya untuk menyerang virus dan bakteri. Tapi sistem kekebalan tubuh pada penderita rheumatoid arthritis justru mengirim antibodi ke lapisan persendian untuk menyerang jaringan di sekeliling sendi dan menyebabkan radang serta rasa sakit. Pada jaringan sendi, rheumatoid arthritis menyebabkan kerusakan di sekitar tendon, ligamen, dan tulang.

Faktor risiko

Walau pemicu terjadinya rheumatoid arthritis masih belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis, antara lain:

  • Usia. Kebanyakan penderita rheumatoid arthritis berusia 40 tahun ke atas, tapi bisa juga menjangkiti orang pada usia berapa pun.
  • Jenis kelamin. Pria lebih jarang terkena penyakit ini dibandingkan wanita.
  • Genetika. Walau kecil, mempunyai anggota keluarga yang menderita rheumatoid arthritis meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini juga.
  • Merokok. Merokok dapat memicu berbagai macam penyakit dan kebiasaan buruk ini bisa meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis.
  • Obesitas. Seseorang dengan berat badan lebih memiliki risiko tinggi terserang rheumatoid arthritis, khususnya wanita berusia dibawah 55 tahun.
  • Lingkungan. Walau belum sepenuhnya terbukti, faktor lingkungan dapat menyebabkan seseorang terserang rheumatoid arthritis karena berkaitan dengan kekuatan daya tahan tubuh.

Gejala rheumatoid arthritis mirip dengan beberapa penyakit lainnya, itu sebabnya sulit untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis pada tahap awal.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa tes medis, seperti tes darah dan pemindaian untuk membantu mendiagnosis rheumatoid arthritis.

Tes Darah

Sejumlah tes darah bisa menunjukkan indikasi rheumatoid arthritis, tapi tidak bisa mengonfirmasi secara pasti. Berikut ini adalah beberapa tes darah yang bisa dilakukan.

  • C-reactive protein (CRP). CRP adalah sejenis protein yang dihasilkan oleh organ hati ketika sedang terjadi peradangan. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kadar CRP dan melihat potensi penyakit yang dapat dihasilkan.
  • Laju endap darah (LED). Tes ini juga dilakukan untuk mendeteksi adanya peradangan dalam tubuh. Sampel darah akan diletakkan di dalam sebuah tabung. Ketika sedang terjadi peradangan, maka sel darah merah dalam sampel darah yang diambil akan jatuh ke dasar tabung lebih cepat dari biasanya.
  • Faktor rheumatoid dan antibodi anti-CCP (anti-cyclic citrullinated peptide). Ada sebagian penderita rheumatoid arthritis terbukti positif ketika faktor rheumatoidnya dan/atau antibodi anti-CCPnya diperiksa. Mereka yang terbukti positif untuk kedua unsur ini berisiko menderita kasus yang lebih parah.
  • Tes darah menyeluruh. Tes ini akan mengukur jumlah sel darah merah yang terkait dengan anemia. Para penderita rheumatoid arthritis biasanya mengalami anemia, tapi hal ini tidak berlaku sebaliknya.

Pemindaian

Sejumlah tes pemindaian seperti ultrasound, pemindaian resonansi magnetik (MRI), maupun X-Ray, dapat dilakukan untuk memeriksa kerusakan dan peradangan pada persendian. Tes-tes ini juga dapat digunakan untuk mengawasi perkembangan kondisi dan membantu menentukan tipe arthritis.

Penderita rheumatoid arthritis hanya bisa melakukan perawatan karena hingga saat ini masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan rheumatoid arthritis sepenuhnya.

Perawatan bisa membantu mengurangi gejala peradangan di persendian, mencegah atau memperlambat kerusakan persendian, mengurangi tingkat disabilitas, dan membuat penderita rheumatoid arthritis bisa tetap hidup aktif. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah mengonsumsi obat, perawatan pendukung dan operasi, serta mengubah gaya hidup.

Ada beberapa cara perawatan dan pengobatan yang bisa dilakukan untuk menekan perkembangan penyakit ini. Pada awalnya, dokter akan meresepkan obat dengan efek samping paling sedikit dan setelah itu, jika tidak efektif, obat dengan efek samping lebih berat akan ditambahkan. Dokter akan menyesuaikan dosis dengan kondisi pasien.

Obat pereda sakit

Obat pereda sakit seperti parasetamol atau kodein digunakan untuk meredakan rasa sakit. Selain itu, obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) juga bisa digunakan. Obat pereda sakit tidak dapat mencegah perkembangan rheumatoid arthritis, tapi dapat membantu meredakan rasa sakit dan peradangan di persendian. Obat OAINS yang biasa digunakan adalah naproxen, ibuprofen, dan diclofenac.

Steroid

Steroid atau kortikosteroid merupakan obat sintetis yang menyerupai sebuah hormon yang dihasilkan tubuh secara alami, yaitu kortisol.

Obat ini bisa berbentuk tablet, salep, atau cairan suntik yang bisa disuntikkan langsung ke otot atau persendian yang sakit.

Steroid digunakan untuk meredakan nyeri jangka pendek karena jika digunakan secara jangka panjang bisa menimbulkan efek samping yang serius. Efek samping tersebut bisa berupa mudah memar, kulit menjadi lebih tipis, osteoporosis, lemah otot, dan bertambahnya berat badan. Obat ini perlu dikonsumsi di bawah pengawasan dokter.

Perawatan terapi biologis

Perawatan biologis merupakan bentuk perawatan rheumatoid arthritis yang paling baru dan berguna untuk menghentikan sistem kekebalan tubuh menyerang persendian.

Perawatan biologis dilakukan dengan cara menyuntikkan protein yang berasal dari genetika manusia. Bagian dari sistem kekebalan tubuh yang memicu peradangan dan menyebabkan kerusakan jaringan serta persendian dijadikan target oleh obat-obatan biologis. Perawatan biologis telah terbukti mampu memperlambat perkembangan rheumatoid arthritis.

Sama seperti pengobatan lainnya, perawatan biologis juga memiliki efek samping, tapi biasanya hanya efek samping ringan. Efek samping yang bisa terjadi adalah demam, mual, infeksi, sakit kepala, serta reaksi kulit pada titik penyuntikan. Beberapa penderita rheumatoid arthritis yang pernah mengidap tuberkulosis akan memiliki risiko terinfeksi kembali.

Obat biologis biasanya dikombinasikan dengan obat anti-rematik modifikasi-penyakit (disease-modifying antirheumatic drugs/DMARDs) jika penggunaan obat biologis saja tidak efektif.

Contoh obat-obat biologis adalah abatacept, etanercept, infliximab, rituximab, dan anakinra.

Obat anti-rematik modifikasi-penyakit (DMARDs)

DMARDs (disease-modifying anti-rheumatic drugs)adalah perawatan tahap awal yang diberikan untuk menghambat dan meredakan gejala rheumatoid arthritis, serta mencegah kerusakan permanen pada persendian dan jaringan lainnya.

Kerusakan pada ligamen, tulang, dan tendon akibat efek sistem kekebalan tubuh saat menyerang persendian dapat dihambat oleh DMARDs.

Beberapa DMARDs yang bisa digunakan adalah hydroxychloroquine, methotrexate, sulfasalazine, dan leflunomide.

Obat pertama yang diberikan untuk rheumatoid arthritis umumnya adalah methotrexate, tapi obat ini juga memiliki efek samping yang umum terjadi, seperti sakit kepala, diare, rambut rontok, mual, mulut terasa sakit, dan hilang nafsu makan. Tes darah harus dilakukan secara rutin untuk mengawasi efek pada hati dan jumlah darah selama mengonsumsi obat ini.

Terapi

Penderita rheumatoid arthritis dapat melakukan terapi untuk membuat persendian lebih fleksibel, serta membantu meningkatkan kekuatan otot dan kebugaran tubuh. Beberapa terapi yang bisa dilakukan adalah terapi okupasi, podiatry, dan fisioterapi.

Operasi

Penderita rheumatoid arthritis mungkin harus menjalani operasi jika pengobatan yang telah dilakukan masih belum berhasil untuk mencegah atau memperlambat kerusakan pada persendian.

Operasi dilakukan untuk memperbaiki kelainan bentuk, kerusakan persendian, membantu mengembalikan kemampuan untuk menggunakan persendian, dan meredakan rasa sakit. Berikut ini adalah prosedur operasi rheumatoid arthritis yang dapat dilakukan.

  • Perbaikan tendon. Prosedur ini dilakukan untuk memperbaiki tendon yang putus atau kendur di sekitar persendian yang mengalami kerusakan sendi atau peradangan.
  • Penggantian sendi total. Prosedur ini dilakukan untuk mengganti bagian sendi yang rusak dengan prostesis yang terbuat dari plastik atau logam.
  • Operasi penggabungan sendi. Prosedur ini dilakukan untuk meredakan nyeri, dan menyetel kembali atau menstabilkan sendi jika penggantian sendi total tidak bisa dilakukan.
  • Sinovektomi. Prosedur yang dilakukan untuk mengeluarkan cairan sinovial yang radang, dan biasa dilakukan pada lutut, siku, pergelangan tangan, jari dan pinggul.
  • Artroskopi. Prosedur ini mengangkat jaringan sendi yang radang dengan bantuan kamera antroskop dan alat khusus. Operasi ini tergolong minor, namun penderita perlu beristirahat untuk memulihkan sendi tersebut.

Penderita rheumatoid arthritis juga disarankan untuk menjalani diet yang sehat serta berolahraga secara teratur untuk memperkuat otot yang mendukung persendian, membantu pergerakan sendi, dan meredakan stres. Bagi orang yang mengalami kelebihan berat badan, olahraga juga bisa membantu menurunkan berat badan dan meringankan tekanan pada tulang dan sendi.

Selain itu, terapi pendukung seperti pijat, akupuntur, osteopati dan chiropatic dapat dilakukan untuk meredakan gejala, walau hanya untuk jangka pendek. Sangat disarankan untuk konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan terapi pendukung ini untuk menghindari komplikasi.

Sendi akan terasa lebih kaku dan otot menjadi lebih lemah jika tidak digerakkan, tapi aktivitas yang dilakukan harus seimbang dan tepat. Hindari olahraga yang membutuhkan kontak fisik secara langsung dan disarankan untuk melakukan olahraga yang tidak terlalu menekan persendian, seperti berjalan, berenang, dan bersepeda.

Beberapa kondisi yang mungkin dapat diderita oleh penderita rheumatoid arthritis adalah sebagai berikut:

  • Peradangan menyebar luas. Peradangan dapat menjangkiti jaringan tubuh lain, seperti hati, pembuluh darah, paru-paru, dan mata. Kondisi ini jarang terjadi dengan perawatan dini.
  • Cervical myelopathy. Saraf tulang belakang tertekan akibat dislokasi persendian tulang belakang bagian atas. Walau jarang terjadi, jika tidak segera dioperasi, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan saraf tulang belakang permanen dan akan berdampak kepada aktivitas sehari-hari.
  • Sindrom lorong karpal. Kondisi ini terjadi karena saraf median, yaitu saraf yang mengendalikan gerakan dan sensasi di pergelangan tangan tertekan dan menimbulkan gejala kesemutan, nyeri, dan mati rasa. Kondisi ini bisa diringankan dengan suntikan steroid atau menggunakan bebat untuk pergelangan tangan. Namun, umumnya operasi diperlukan untuk melepaskan tekanan pada saraf median.
  • Penyakit kardiovaskular. Penyakit seperti stroke dan serangan jantung bisa terjadi akibat dampak rheumatoid arthritis yang memengaruhi pembuluh darah atau jantung. Risiko terkena penyakit ini bisa dikurangi dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur dan berhenti merokok.
  • Kerusakan sendi. Kerusakan sendi akibat radang bisa menjadi permanen jika tidak ditangani dengan baik. Ada beberapa masalah yang dapat memengaruhi persendian, seperti kelainan bentuk persendian, penipisan tulang (osteroporosis), kerusakan pada tulang dan tulang rawan, serta tendon di area sekitar terjadinya peradangan.
  • Sindrom Sjogren. Penderita rheumatoid arthritis rentan mengalami sindrom Sjogren, yakni kondisi dimana kelembapan pada mata dan mulut berkurang.
  • Limfoma. Limfoma merupakan jenis kanker darah yang menyerang getah bening di dalam tubuh.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT