Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Retinoblastoma

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Retinoblastoma adalah kanker pada mata yang umumnya dialami oleh anak-anak, namun dapat juga dialami oleh orang dewasa. Retinoblastoma menyerang selaput jala mata atau retina yang terletak pada dinding mata sebelah dalam. Retinoblastoma dapat menyerang salah satu atau kedua mata. Kebanyakan penyakit ini terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Penyebab Retinoblastoma

Retina manusia dibentuk oleh sel-sel yang disebut retinoblas. Kanker terjadi karena adanya mutasi genetik yang membuat retinoblas terus bereproduksi hingga tumor tumbuh pada retina. Kanker ini dapat tumbuh ke seluruh bagian mata hingga menyebar ke bagian tubuh lain, seperti otak dan tulang belakang.

Faktor risiko Retinoblastoma

Terjadinya mutasi genetik pada penyakit Retinoblastoma tidak diketahui pada sebagian besar kasus, namun ada kemungkinan bahwa seorang anak mengalami penyakit ini karena diturunkan dari orang tua. Retinoblastoma yang diturunkan disebut retinoblastoma heresiter. Retinoblastoma jenis ini biasanya mengenai kedua mata serta dapat berkembang bahkan sejak usia sangat muda.

Retinoblastoma yang tidak disebabkan oleh mutasi genetik umumnya terjadi secara kebetulan dan hanya mengenai salah satu mata. Sementara retinoblastoma pada orang dewasa bisa juga dipicu oleh penyakit diabetes atau terdapat sejarah penyakit mata lainnya di dalam riwayat kesehatan keluarga.

Gejala dan komplikasi Retinoblastoma

Gejala umum retinoblastoma dapat berupa leukokoria, yaitu terdapat warna putih pada pupil mata saat disinari cahaya. Dapat juga terjadi juling, pembengkakan mata, dan mata merah. Segera temui dokter jika kondisi mata anak memburuk, seperti mata merah yang tidak kunjung membaik.

Penyakit ini bisa menyebabkan kebutaan dan timbulnya kanker jenis lain pada anak-anak yang pernah mengidap retinoblastoma. Kanker dapat timbul kembali di mata yang sehat atau di bagian tubuh lain. Pengidap retinoblastoma akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara rutin, sebelum dan sesudah perawatan untuk meminimalisasi retinoblastoma terulang kembali.

Diagnosis Retinoblastoma

Serangkaian tes perlu dilakukan sebelum seorang spesialis mata dapat memberikan diagnosis retinoblastoma kepada pasien. Dokter akan menggunakan oftalmoskop khusus untuk melihat dengan jelas, apakah ada tumor pada retina mata pasien. Pemeriksaan mata ini dapat dilakukan dengan obat anestesi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Dokter juga bisa menyarankan tes pencitraan untuk mengetahui seberapa banyak sel kanker yang telah menyebar dan apakah kanker sudah meluas ke bagian tubuh lain. Tes pencitraan sel kanker yang disarankan meliputi tes ultrasound, CT scan, dan MRI. Dokter mungkin akan merujuk kepada dokter spesialis kanker, konsultan genetik, atau ahli bedah selama proses perawatan berjalan.

Jika Anda memiliki sejarah retinoblastoma, tanyakan kepada dokter mengenai kapan anak Anda sebaiknya mulai menjalani pemeriksaan mata secara rutin. Bagaimanapun juga, anak pengidap retinoblastoma akan lebih sering mengalami pemeriksaan rutin dan bisa berlangsung hingga 5 tahun.

Stadium Retinoblastoma

Tahapan retinoblastoma dibedakan berdasarkan ukuran, tingkat penyebaran, dan lokasi kanker. Tahapan ini akan berpengaruh kepada jenis prosedur perawatan yang diterapkan. Retinoblastoma yang didiagnosis pada stadium awal akan memiliki tingkat kesuksesan pengobatan yang lebih besar.

Adapun tahapan penyebaran retinoblastoma dimulai dari saat sel kanker ditemukan pada salah satu atau kedua mata dan belum menyebar ke jaringan di luar mata, atau disebut sebagai tahap intraocular retinoblastoma. Kondisi selanjutnya adalah ketika sel kanker telah menyebar ke luar mata atau tubuh bagian lain. Kondisi ini berarti kanker sudah masuk ke tahap extraocular retinoblastoma. Recurrent retinoblastoma terjadi setelah perawatan berakhir lalu Retinoblastoma terulang lagi di mata penderita atau menyebar ke bagian tubuh lain.

Penanganan Retinoblastoma

Dokter akan melihat sejauh mana tingkat keparahan pasien. Selanjutnya akan ditentukan apakah kebutaan masih dapat dihindari atau perlunya dilakukan pengangkatan mata yang akan digantikan dengan mata buatan.

Salah satu cara mengobati Retinoblastoma adalah menggunakan terapi laser (laser photocoagulation). Terapi sinar laser dapat digunakan untuk menghancurkan pembuluh darah yang menutrisi tumor dan menyebabkan matinya sel kanker.

Pilihan terapi lainnya adalah dengan krioterapi atau terapi dingin. Terapi ini menggunakan cairan nitrogen yang sangat dingin untuk membekukan sel kanker sebelum diangkat. Proses pembekuan dan pengangkatan ini dapat dilakukan beberapa kali selama prosedur perawatan. Proses ini dilakukan hingga sel kanker mati. Selain itu, terdapat terapi panas yang merupakan kebalikan dari terapi dingin. Termoterapi menggunakan gelombang ultrasonik, gelombang mikro, atau laser untuk mengarahkan panas dan membunuh sel kanker.

Obat kemoterapi dan terapi radiasi (radioterapi) dapat juga termasuk cara yang biasa digunakan untuk membasmi sel kanker Retinoblastoma. Jika kemoterapi menggunakan obat untuk membunuh sel kanker, maka terapi radiasi menggunakan penyinaran X-ray untuk melakukannya. Radiasi internal atau brachytherapy menggunakan alat yang ditempatkan di dekat tumor untuk mengurangi risiko terpaparnya jaringan sehat terhadap radiasi. Bagi penderita retinoblastoma parah, terapi radiasi eksternal dapat dilakukan untuk memberikan paparan radiasi yang lebih besar. Dibandingkan terapi internal, terapi ini berisiko turut merusak jaringan yang sehat.

Tindakan operasi pengangkatan mata dilakukan bila ukuran tumor sudah terlalu besar dan/atau tumor sudah tidak bisa diobati dengan perawatan lainnya. Operasi pengangkatan mata terdiri dari beberapa tahapan yang diawali dengan pengangkatan bola mata yang terjangkit kanker atau disebut enukleasi. Setelah itu, sebuah bola buatan (implan) dipasang dan disambungkan dengan otot-otot mata. Jaringan otot ini akan beradaptasi dengan jaringan mata seiring proses penyembuhan anak, sehingga nantinya mata implan dapat bergerak seperti mata alami walaupun tidak bisa melihat. Mata tiruan baru akan dipasang beberapa minggu setelah operasi dan diletakkan bersama implan mata di balik kelopak mata. Selain berdampak kepada penglihatan anak, prosedur operasi ini juga memiliki efek samping pendarahan dan infeksi.

Anak yang didiagnosis retinoblastoma harus segera ditangani sebelum tahapan kanker menjadi sulit untuk disembuhkan hingga menyebabkan hilangnya penglihatan. Tes dan pemeriksaan pasca perawatan sebaiknya dijalani dengan tekun, khususnya bagi anak dengan mutasi genetik turunan.

Pencegahan retinoblastoma

Sementara sebagian besar kasus retinoblastoma belum memiliki tindak pencegahan yang pasti, pemeriksaan mata secara rutin yang dimulai sejak lahir dapat mendeteksi retinoblastoma lebih cepat. Biasanya, kunjungan rutin ke dokter anak pada tahun-tahun awal anak dilahirkan, sudah mencakup pemeriksaan mata. Dokter akan mengecek tanda-tanda penyakit turunan termasuk tanda-tanda tumor pada mata. Pemeriksaan mata secara rutin pada orang dewasa dapat dilakukan paling tidak setahun sekali untuk memonitor kesehatan mata serta memperkecil risiko kanker terulang kembali.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT