Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Rambut Rontok

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Rambut rontok atau alopesia adalah penurunan jumlah rambut pada kulit kepala. Sebagian besar orang pernah mengalami rambut rontok. Merupakan suatu hal yang normal untuk kehilangan 100 helai rambut per harinya. Namun jika berlebihan, terkadang ada alasan medis yang menjadi penyebab kerontokan.

Kerontokan Rambut Akibat Perubahan Hormon

Pola kerontokan rambut akibat hormon dikenal dengan istilah medis sebagai alopesia androgenik. Kerontokan ini biasanya terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun, atau pada wanita setelah melewati masa menopause.

Hormon yang diduga berperan dalam proses perontokan rambut adalah dihydrotestosterone (DHT). Hormon ini dihasilkan oleh hormon progesteron. DHT akan menyebabkan folikel rambut menyusut sehingga lama kelamaan rambut akan rontok.

Pada pria, pola kerontokan akibat hormon ini bersifat khas, yakni membentuk lengkungan khas pada kedua sisi pelipis. Seiring berjalannya waktu, garis rambut akan berbentuk seperti huruf “M”. Selain di pelipis, puncak kepala juga akan mengalami kerontokan, sehingga menjadi rontok rambut total.

Bentuk kerontokan yang berbeda akan terjadi pada wanita. Kerontokan akibat hormon pada wanita akan terjadi di seluruh bagian rambut, tidak terpusat di daerah tertentu saja. Kerontokan pada wanita juga jarang sekali menimbulkan penipisan rambut di bagian-bagian tertentu.

Kerontokan Rambut Karena Alasan Lain

Selain karena perubahan hormon, kerontokan rambut juga bisa terjadi akibat kondisi-kondisi tertentu, seperti:

  • Pengaruh gizi. Asupan gizi yang buruk dapat menyebabkan helai rambut yang tumbuh menjadi lebih tipis dan rapuh.
  • Zat kimia. Rambut yang terlalu sering menjalani proses kimia di salon juga lebih rentan mengalami kerontokan. Sering mewarnai rambut dan meluruskannya secara permanen membuat batang rambut menjadi lebih rentan patah.
  • Diabetes, sindrom Down, dan hipertiroidisme. Ketiga kondisi ini bisa menyebabkan kerontokan yang disebut alopesia areata yang ditandai dengan pitak seukuran koin besar. Kerontokan ini biasanya terjadi pada remaja serta kalangan dewasa muda. Namun sebagian besar rambut penderitanya akan kembali tumbuh setelah satu tahun.
  • Efek samping obat-obatan. Kerontokan rambut juga bisa disebabkan oleh obat-obatan yang biasa digunakan untuk menangani arthritis, depresi, gangguan jantung, serta tekanan darah tinggi.
  • Tekanan psikologis. Tekanan psikologis (misalnya stres) dapat mengakibatkan penderita mengalami penipisan rambut di kepala. Namun kerontokan seperti ini biasanya hanya bersifat sementara.
  • Penyakit kulit dan autoimun tertentu. Penyakit kulit yang menyebabkan terbentuknya tukak dan sejumlah penyakit autoimun bisa menyebabkan kerontokan permanen. Contoh-contoh kondisi tersebut di antaranya adalah lichen planus, sarkoidosis, dan lupus eritematosus diskoid (discoid lupus erythematosus/DLE).
  • Pengobatan Kanker. Kemoterapi, imunoterapi, dan radioterapi dapat menyebabkan jenis kerontokan rambut yang disebut anagen efluvium (kerontokan menyeluruh). Kerontokan ini juga bisa berdampak pada kulit kepala, wajah, dan tubuh. Namun sebagian besar kasus ini tidak bersifat permanen. Rambut biasanya dapat tumbuh kembali setelah beberapa bulan berhenti menjalani kemoterapi.

Penanganan Kerontokan Rambut

Rambut rontok umumnya merupakan bagian dari reaksi alami tubuh akibat penuaan, sehingga tidak membahayakan kesehatan Anda. Oleh karena itu, gangguan ini jarang membutuhkan penanganan medis. Tetapi jika kerontokan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, langkah penanganan berikut dapat dilakukan.

Kebotakan pria dapat ditangani dengan dua jenis obat, yaitu finasteride dan minoxidil. Sedangkan kebotakan wanita ditangani dengan minoxidil.

Tujuan penanganan ini biasanya untuk alasan estetika. Keefektifan penanganan ini hanya berlangsung selama penderita menggunakan obat. Selain obat-obatan, operasi transplantasi rambut juga bisa dilakukan.

Gejala untuk tiap jenis kerontokan rambut berbeda-beda. Ada yang hanya menyerang rambut di kepala dan ada yang menyerang rambut di bagian tubuh lain.

Pria yang berusia di atas 35 tahun umumnya mengalami rambut rontok. Kebotakan ini memiliki pola spesifik, yaitu garis rambut yang bergeser naik dan cenderung membentuk huruf M, serta penipisan rambut di bagian ubun-ubun dan samping kepala.

Pada wanita, kerontokan rambut umumnya terjadi karena faktor usia dan perubahan hormon. Dampaknya terlihat jelas setelah mereka mengalami menopause. Tetapi pola penipisan rambut wanita biasanya hanya terjadi di bagian atas kepala. Rambut yang tumbuh juga lebih tipis dan lebih pendek.

Jika Anda menjalani kemoterapi, kerontokan rambut biasanya akan memiliki dampak menyeluruh, termasuk kulit kepala, wajah, dan tubuh. Tetapi sebagian besar tidak bersifat permanen dan rambut biasanya dapat tumbuh kembali setelah beberapa bulan berhenti menjalani kemoterapi

Kerontokan juga ada yang membentuk pitak. Pada kasus pitak, kulit tempat tumbuhnya rambut biasanya terasa gatal atau bahkan perih sebelum rambut rontok. Selain terjadi pada kulit kepala, kerontokan juga terkadang muncul di bagian wajah, misalnya alis.

Anda juga bisa mengalami penipisan rambut secara drastis karena tiba-tiba mengalami kerontokan yang parah. Hal ini biasanya disebabkan oleh tekanan psikologis atau fisik yang berat dan terjadi secara tiba-tiba, misalnya karena stres atau setelah menjalani operasi besar.

Jika Anda mengalami kerontokan rambut yang muncul secara mendadak dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya, disarankan untuk segera menghubungi dokter karena dikhawatirkan ada penyakit yang menjadi penyebabnya.

Selain bagian dari proses penuaan, rambut rontok juga bisa disebabkan oleh suatu kondisi medis, keturunan, atau faktor psikologis. Seseorang yang sering menjalani proses kimia pada rambut. misalnya mewarnai dan meluruskan rambut secara permanen, juga lebih rentan untuk mengalami kerontokan rambut.

Pengaruh asupan gizi

Asupan gizi yang buruk juga berpengaruh karena dapat menyebabkan helai rambut yang tumbuh menjadi lebih tipis dan rapuh. Bagi Anda yang sedang atau akan menjalani diet juga harap berhati-hati karena diet yang ekstrem dapat menyebabkan kerontokan rambut. Sebagai contoh, kekurangan zat zinc dan protein dapat menyebabkan kerontokan rambut.

Pengaruh hormon

Kebotakan pria umumnya adalah akibat efek hormon. Folikel rambut yang terlalu sensitif terhadap hormon dihidrotestosteron (DHT) diduga menjadi penyebab kerontokan rambut yang berlebihan pada pria. Meningkatnya hormon DHT membuat rambut makin tipis dan tumbuh lebih pendek dari biasanya. Proses kebotakan akan terjadi secara bertahap karena tidak semua folikel terpengaruh pada saat yang sama.

Wanita yang telah memasuki masa menopause biasanya akan mengalami kerontokan karena perubahan hormon.

Pengobatan kanker

Pengobatan kanker seperti kemoterapi, imunoterapi, dan radioterapi bisa menyebabkan jenis kerontokan rambut yang disebut anagen effluvium. Kerontokan rambut ini berdampak menyeluruh, termasuk pada kulit kepala, wajah, dan tubuh. Namun kondisi ini tidak bersifat permanen dan rambut biasanya dapat tumbuh kembali setelah beberapa bulan berhenti menjalani kemoterapi atau terapi kanker lainnya.

Efek samping obat-obatan

Kerontokan rambut juga bisa disebabkan oleh obat-obatan. Misalnya, obat-obatan yang biasa digunakan untuk menangani artritis, depresi, gangguan jantung, serta tekanan darah tinggi.

Faktor psikologis

Pada jenis ini, penderita akan mengalami penipisan rambut kepala tapi tidak selalu mengalami kebotakan. Kerontokan ini cenderung berkurang tanpa penanganan medis khusus. Penyebabnya dapat berupa stres, depresi, atau tekanan fisik yang berat (misalnya, setelah menjalani operasi besar atau baru sembuh dari infeksi yang parah).

Diabetes, hipertiroidisme, dan sindrom Down

Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan jenis kerontokan rambut yang disebut alopesia areata yang ditandai dengan pitak seukuran koin besar. Kerontokan ini biasanya terjadi pada remaja dan kalangan dewasa muda. Namun masalah ini tidak bersifat permanen sehingga rambut bisa tumbuh kembali.

Ada sebagian penderita alopesia areata yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama atau dengan penyakit autoimun. Karena itu, para pakar menduga ada gen tertentu yang menyebabkan alopesia areata.

Pengaruh Penyakit Lain

Kebotakan yang bersifat permanen karena rusaknya folikel rambut atau tempat tumbuhnya akar rambut sering kali disebabkan oleh kondisi medis yang menyerang kulit. Beberapa jenis penyakit yang dapat menyebabkan kebotakan permanen adalah lichen planus, lupus eritematosus diskoid, skleroderma, dan folliculitis decalvans.

Rambut rontok umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus. Namun karena dapat memengaruhi kepercayaan diri, banyak penderitanya yang berusaha mencari bantuan medis demi memperbaiki penampilan.

Wig

Penggunaan wig merupakan langkah penanganan yang paling praktis. Pilihannya juga beragam, ada wig yang terbuat dari rambut asli dan ada yang dari bahan sintetis.

Walau harganya tergolong lebih mahal, wig dari rambut asli lebih banyak digunakan karena bentuk dan teksturnya yang alami. Jenis wig ini dapat bertahan selama sekitar empat tahun, tapi membutuhkan perawatan khusus dari penata rambut profesional.

Sedangkan wig sintetis lebih terjangkau dan mudah dirawat. Bahan wig termurah biasanya terbuat dari akrilik. Tetapi jenis wig ini hanya dapat bertahan selama 6-10 bulan sehingga harus lebih sering diganti. Wig ini juga dapat menyebabkan panas dan gatal-gatal di kepala.

Obat-obatan

Berikut ini beberapa jenis obat yang mungkin akan disarankan oleh dokter untuk mengatasi rambut rontok.

Losion minoxidil

Untuk merasakan manfaat obat ini, Anda dianjurkan untuk menggunakannya dengan dioleskan ke kulit kepala dua kali sehari, minimal dalam jangka waktu 12 minggu hingga waktu yang ditentukan dokter. Pengobatan ini dapat membantu menangani kebotakan pada pria dan wanita, tapi cenderung lebih efektif untuk wanita. Pemulihan biasanya terlihat setelah 16 minggu hingga setahun pemakaian, tergantung dari kondisi yang dialami pasien.

Lotion Minoxidil ini dipercaya dapat memulihkan berbagai jenis kondisi kebotakan, namun belum terbukti ampuh untuk penanganan alopesia aerata. Hindari penggunaan bagi pasien dibawah usia 18 tahun.

Efek samping yang mungkin terjadi setelah menggunakan Minoxidil adalah iritasi kulit kepala, pertumbuhan rambut disekitar wajah dan tangan, hingga peningkatan denyut jantung (takikardia).

Tablet finasteride

Obat ini terbukti efektif untuk menangani kebotakan pada pria karena secara spesifik berfungsi untuk mencegah perubahan hormon testosteron menjadi dihydrotestosterone (DHT) yang menjadi penyebab kebotakan. Walau sangat jarang terjadi, finasteride memiliki efek samping penurunan gairah seks, disfungsi ereksi hingga berpotensi mengalami kanker prostat.

Obat ini dikonsumsi setiap hari dan manfaatnya akan terlihat setelah digunakan selama 3- 6 bulan. Tetapi jika pemakaian dihentikan, rambut akan kembali rontok dalam hitungan bulan. Wanita hamil disarankan untuk menghindari menyentuh tablet yang sudah pecah karena dapat membahayakan.

Terapi steroid

Terapi steroid ditujukan khusus untuk menangani kerontokan rambut jenis alopesia areata, yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang akar rambut. Penanganannya secara umum bertujuan untuk menekan kinerja kekebalan tubuh penderitanya. Jenis kerontokan ini tidak permanen dan sebagian besar rambut penderita akan tumbuh kembali setelah satu tahun.

Kortikosteroid mengandung hormon steroid dan bekerja dengan menekan kinerja sistem kekebalan tubuh. Karena itu, obat ini termasuk efektif untuk menangani alopesia areata yang disebabkan oleh kondisi autoimun. Selain menekan kekebalan tubuh, kortikosteroid juga mampu merangsang akar rambut untuk tumbuh kembali.

Terapi kortikosteroid dapat digunakan dengan dua cara, yaitu melalui suntikan atau dioles pada kulit. Larutan kortikosteroid terbukti paling efektif untuk mengatasi pitak di kepala maupun bagian tubuh lain, misalnya alis mata. Namun kefektifan terapi ini hanya bertahan selama terapi dijalankan. Efek samping terapi ini adalah rasa nyeri pada bagian yang disuntik hingga penipisan kulit kepala.

Kortikosteroid yang dioles juga disebut kortikosteroid topikal. Obat ini dapat berupa krim atau salep. Durasi pemakaian yang dianjurkan oleh dokter biasanya adalah 3-4 bulan. Tetapi obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian pada wajah karena potensi efek sampingnya meliputi penipisan kulit serta jerawat.

Imunoterapi

Imunoterapi adalah krim oles yang umumnya digunakan untuk penanganan kondisi rambut rontok parah. Obat yang menggunakan kandungan diphencyprone (DPCP) ini diolesi pada bagian pitak sesuai saran dokter. Umumnya, rambut akan mulai tumbuh dalam 12 minggu, namun tidak lepas adanya kemungkinan efek samping seperti dermatitis, ruam, vitiligo (perubahan warna kulit), hingga kerontokan rambut setelah pengobatan dihentikan.

Mengingat terapi ini cukup sensitif, sangat disarankan untuk menutup kepala dengan topi atau kain selama 24 jam setelah penggunaan agar terhindar dari efek samping.

Terapi sinar ultraviolet

Jika diperlukan, dokter akan menyarankan terapi sinar ultraviolet untuk menekan jumlah kerontokan rambut. Umumnya, sebelum kulit kepala dikenakan sinar ultraviolet A dan B, obat psoralen akan diberikan untuk membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar.

Terapi yang jarang dilakukan ini membutuhkan waktu hingga satu tahun agar hasilnya terlihat, dan tidak lepas dari efek samping seperti mual, perubahan pigmen pada kulit hingga meningkatkan risiko kanker kulit.

Transplantasi rambut

Proses transplantasi rambut dilakukan secara bertahap dengan jeda sembilan bulan sampai satu tahun di antara beberapa operasinya. Dalam operasi ini, sebagian kecil kulit kepala yang penuh rambut akan diambil lalu dicangkok ke bagian yang botak. Rambut yang sudah dicangkok biasanya akan tumbuh dalam waktu setengah tahun setelah semua proses selesai.

Operasi ini tergolong mahal dan memakan waktu yang cukup lama. Efek sampingnya juga sama seperti operasi pada umumnya, yaitu risiko infeksi dan pendarahan.

Tato

Metode yang disebut dermatografi ini dianggap sebagai salah satu cara yang terbaik bagi pria untuk menumbuhkan rambut rontok. Walau tergolong mahal, hasil tindakan ini dapat terlihat dalam waktu yang singkat dan biasanya tahan lama. Terapi ini dapat digunakan untuk penumbuhan rambut pada alis dan kulit kepala.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT