Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Radang Sendi

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Radang sendi atau disebut juga sebagai arthritis merupakan suatu penyakit yang menyebabkan terjadinya inflamasi di dalam satu atau beberapa sendi. Gejala yang dirasakan penderita biasanya berupa rasa sakit, bengkak, kemerahan, atau sensasi hangat pada sendi yang meradang. Radang sendi juga bisa menyebabkan sendi menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan.

Faktor risiko terkena radang sendi biasanya meningkat seiring perkembangan usia. Selain usia, penyakit obesitas, jenis kelamin, dan riwayat kesehatan keluarga dapat turut berpengaruh. Terlebih lagi jika Anda pernah mengalami cedera di suatu sendi, bukan tidak mungkin rasa sakit di sekitar sendi tersebut akan kambuh.

Jenis-jenis Radang Sendi

Ada beberapa jenis radang sendi di antaranya:

  • Rheumatoid arthritis. Kondisi ini terjadi ketika membran sinovial (lapisan pembungkus sendi) mengalami inflamasi dan bengkak akibat serangan dari sistem kekebalan tubuh kita sendiri. Rheumatoid arthritis lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan pria dengan usia antara 40-50 tahun. Jika tidak ditangani dengan benar, kondisi ini bisa mengarah kepada kerusakan tulang dan tulang rawan di dalam sendi.
  • Osteoarthritis. Kondisi ini terjadi ketika tulang rawan sendi mengalami keausan sehingga tulang bisa bergesekan langsung dengan tulang lain, menyebabkan rasa sakit dan terhambatnya gerakan. Osteoarthritis umumnya diderita oleh golongan usia 50 tahun ke atas.
  • Penyakit asam urat. Kondisi yang umumnya menyerang bagian sendi jempol kaki ini disebabkan oleh penumpukan zat asam urat di dalam tubuh. Selain sakit, sendi yang terkena penyakit asam urat juga bisa membengkak.
  • Lupus. Kondisi ini terjadi ketika jaringan dan organ tubuh mengalami gangguan akibat menyerang sistem kekebalan tubuh sendiri.
  • Fibromyalgia. Kondisi ini ditandai dengan gejala rasa sakit pada bagian otot, tendon, dan ligamen.
  • Cervical spondylosis. Kondisi ini bisa menyebabkan gejala nyeri dan kaku pada leher.
  • Polymyalgia rheumatica. Sama seperti penyakit lupus, serangan sistem kekebalan tubuh diduga berperan dalam timbulnya kondisi ini. Namun, penyebab pasti kondisi ini belum diketahui. Polymyalgia rheumatica umumnya dialami oleh orang-orang berusia di atas 50 tahun dengan gejala inflamasi sendi, kaku, dan nyeri pada otot.
  • Reactive arthritis. Kondisi ini biasanya muncul setelah seseorang mengalami infeksi pada saluran kelamin, usus besar, atau tenggorokan. Selain di sendi, orang yang terkena reactive arthritis juga bisa mengalami radang pada uretra dan mata.
  • Enteropathic arthritis. Gejala inflamasi pada penyakit ini umumnya dirasakan pada sendi tungkai dan punggung. Enteropathic arthritis biasanya merupakan salah satu komplikasi dari penyakit radang usus (misalnya penyakit Crohn dan kolitis ulseratif).
  • Psoriatic arthritis atau radang sendi yang muncul sebagai komplikasi dari penyakit psoriasis.
  • Secondary arthritis. Kondisi ini kerap dialami oleh orang yang dulunya pernah mengalami cedera sendi.
  • Juvenile idiopathic arthritis atau jenis radang sendi yang diderita oleh anak-anak. Penyebab kondisi ini belum diketahui dan biasanya gejala nyeri atau inflamasi pada sendi akan hilang seiring perkembangan usia anak.

Diagnosis Radang Sendi

Temui dokter jika Anda mengalami gejala-gejala radang sendi. Untuk memastikan kondisi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik sederhana terlebih dahulu, misalnya mengamati adanya pembengkakan dan melihat kemampuan pasien dalam menggerakkan sendi. Jika pasien dicurigai menderita radang sendi, maka pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium (misalnya pemeriksaan darah, cairan sendi, dan urine) akan dilakukan untuk menguatkan bukti.

Pemeriksaan radang sendi yang dilakukan akan bervariasi tergantung dari jenis kondisi yang dicurigai diderita oleh pasien. Selain analisis cairan di laboratorium, diagnosis radang sendi juga bisa dilakukan menggunakan metode pencitraan, contohnya dengan USG, pemindaian CT scan atau MRI, dan pemeriksaan menggunakan X-ray.

Pengobatan Radang Sendi

Pengobatan radang sendi atau arthritis yang direkomendasikan oleh dokter bergantung kepada jenis dan tingkat keparahan dari radang sendi itu sendiri. Selain untuk meringankan gejala, pengobatan radang sendi juga bertujuan untuk meningkatkan fungsi sendi sendi.

Untuk mengurangi rasa sakit, Anda bisa mengonsumsi obat-obatan antiinflamasi nonsteroid (misalnya ibuprofen), analgesik (misalnya acetaminophen), serta krim atau salep yang mengandung capsaicin dan menthol sesuai dengan dosis dan aturan pakai yang diresepkan oleh dokter.

Untuk mengatasi kasus radang sendi yang diakibatkan oleh serangan sistem kekebalan tubuh kita sendiri, dokter kemungkinan akan meresepkan kelompok obat disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD), misalnya hydroxychlorquine atau methotrexate. Bersamaan dengan pemberian DMARD, infliximab atau etanercept (jenis agen biologis) biasanya diberikan. Selain itu, dokter bisa juga memberikan obat-obatan golongan kortikosteroid, misalnya cortisone atau prednisone.

Selain dengan obat-obatan, terapi fisik juga kadang-kadang direkomendasikan oleh dokter dengan tujuan memperkuat otot-otot di sekitar sendi dan meningkatkan kemampuan gerak tubuh.

Mengatasi Radang Sendi Tingkat Parah

Apabila gejala radang sendi sudah sangat parah dan tidak bisa diatasi lagi, baik oleh obat atau pun terapi, maka dokter kemungkinan akan merekomendasikan operasi. Beberapa jenis operasi yang bisa dilakukan adalah prosedur penyatuan sendi atau arthodesis, prosedur pemotongan tulang atau osteotomy, atau prosedur penggantian sendi atau arthroplasty.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT