Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Radang Amandel

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Radang amandel adalah peradangan yang terjadi pada amandel atau tonsil. Kondisi yang dinamakan juga dengan tonsilitis ini sebagian besar dialami oleh anak-anak.

Amandel atau tonsil merupakan dua kelenjar kecil yang terdapat di dalam tenggorokan. Organ ini berfungsi sebagai pencegah infeksi, terutama pada anak-anak. Seiring dengan perkembangan umur, sistem kekebalan tubuh mereka makin kuat dan perlahan-lahan tugas tonsil sebagai penangkal infeksi mulai tergantikan. Ketika peran tonsil sudah tidak dibutuhkan lagi, kedua kelenjar ini kemudian berangsur-angsur menyusut.

Penyebab radang amandel atau tonsilitis pada umumnya adalah virus dan selebihnya disebabkan oleh bakteri. Mereka yang menderita tonsilitis akan mengalami sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan saat menelan, sakit telinga, dan batuk. Gejala biasanya akan pulih dalam tiga hingga empat hari.

Meski sebagian besar kasus tonsilitis tidak tergolong serius, namun tetap disarankan untuk menemui dokter jika Anda atau anak Anda mengalami gejala yang berlangsung lebih dari empat hari dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan atau gejala menjadi makin parah yang membuat Anda sama sekali tidak bisa makan atau bahkan kesulitan bernapas.

Diagnosis Radang Amandel

Dalam mendiagnosis tonsilitis, dokter akan memulai dengan pemeriksaan tenggorokan, sekaligus mengajukan pertanyaan perihal gejala-gejala yang Anda rasakan.

Jika tonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri, biasanya gejala dapat berupa pembengkakan kelenjar getah bening di bagian tenggorokan, munculnya bintik-bintik nanah di sekitar amandel, dan/atau demam. Sedangkan jika radang amandel disebabkan oleh infeksi virus, gejala-gejala yang muncul dinilai lebih ringan dari infeksi bakteri, dan sering disertai gejala batuk dan pilek.

Tes lebih lanjut di laboratorium, seperti tes darah, biasanya diperlukan dokter untuk memastikan apakah pasien juga menderita kondisi lain, contohnya demam kelenjar.

Pengobatan dan pencegahan radang amandel

Sebagian besar kasus tonsilitis akan sembuh dalam waktu satu minggu. Tidak ada obat khusus untuk menangani tonsilitis. Obat biasanya diberikan untuk meringankan gejala, misalnya ibuprofen atau parasetamol sebagai pereda rasa sakit. Jika tonsilitis disebabkan oleh bakteri, maka antibiotik bisa digunakan. Selain dengan obat, pemulihan bisa ditunjang dengan istirahat yang cukup dan minum banyak cairan.

Pada kasus tonsilitis yang tergolong parah dan kerap kambuh, biasanya dokter terpaksa akan melakukan operasi pengangkatan amandel untuk mengatasi hal tersebut.

Tonsilitis dapat dicegah penyebarannya dengan selalu mencuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet, menggunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung saat batuk atau pilek, dan memakai masker saat berada di tempat umum.

Gejala radang amandel atau tonsilitis biasanya akan pulih dalam waktu 3-4 hari. Gejala-gejala radang amandel meliputi:

  • Sakit tenggorokan
  • Tonsil berwarna kemerahan dan bengkak
  • Kesulitan atau rasa sakit saat menelan
  • Nyeri telinga
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Lelah
  • Sakit perut, terutama pada anak-anak
  • Demam
  • Perubahan atau kehilangan suara
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
  • Munculnya bintik-bintik nanah pada amandel
  • Bau napas

Pada kasus tonsilitis yang diakibatkan oleh infeksi virus, seperti virus pilek atau flu, gejala yang muncul pada umumnya dinilai lebih ringan daripada tonsilitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri seperti infeksi streptococcal.

Kenalilah gejala tonsilitis pada anak-anak, meski mereka tidak dapat menggambarkan rasa sakit yang mereka derita. Anda dapat mencurigai anak terkena tonsilitis jika dia:

  • Rewel
  • Menolak makan
  • Terus-menerus mengeluarkan air liur akibat kesulitan atau sakit saat menelan

Walau bisa disebabkan oleh bakteri, sebagian besar kasus radang amandel atau tonsilitis disebabkan oleh virus. Penularan bakteri atau virus tersebut bisa terjadi melalui:

  • Kontak langsung, misalnya ketika tanpa sengaja Anda turut menghirup percikan air liur akibat bersin atau batuk di udara yang dikeluarkan oleh penderita penyakit ini.
  • Kontak tidak langsung, misalnya ketika Anda tanpa sengaja memegang permukaan benda yang telah terkontaminasi virus atau bakteri, kemudian memegang mulut atau hidung Anda.

Bakteri penyebab tonsilitis umumnya berasal dari kelompok streptococcus. Sedangkan virus penyebab radang amandel di antaranya adalah:

  • Parainfluenza. Ini merupakan virus penyebab penyakit pernapasan pada anak dan radang kotak suara (faringitis).
  • Influenza, virus penyebab flu.
  • Rhinovirus, virus penyebab pilek.
  • Rubeola, virus penyebab campak
  • Adenovirus, virus penyebab diare.
  • Enterovirus, virus penyebab penyakit mulut, kaki, dan tangan.
  • Epstein-Barr, virus penyebab demam kelenjar

Anak-anak usia prasekolah hingga yang berusia pertengahan remaja lebih berisiko terkena tonsilitis. Karena pada kisaran usia tersebut, interaksi dengan kawan-kawan sebaya sangat tinggi sehingga peluang virus atau bakteri untuk menular sangat tinggi juga. Tonsilitis yang disebabkan oleh bakteri paling sering dialami anak berusia 5-15 tahun, sementara yang disebabkan oleh virus jarang dialami oleh anak yang lebih muda usianya. Walau demikian, penyakit ini jarang timbul pada anak yang berusia di bawah dua tahun.

Dalam mendiagnosis radang amandel atau tonsilitis, dokter akan terlebih dahulu menanyakan perihal gejala yang dirasakan pasien. Jika tonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri, biasanya gejala dapat berupa pembengkakan kelenjar getah bening di bagian tenggorokan, munculnya bintik-bintik nanah di sekitar tonsil, dan demam. Sedangkan jika tonsilitis disebabkan oleh infeksi virus, biasanya gejala akan lebih ringan dari infeksi bakteri, dan sering disertai batuk dan pilek.

Untuk menguatkan dugaan bahwa pasien menderita tonsilitis, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik seperti:

  • Pemeriksaan tenggorokan, hidung, dan telinga.
  • Merasakan jika terdapat pembengkakan kelenjar getah bening di leher.

Kadang-kadang, pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya pembengkakan organ limpa untuk mendeteksi penyakit mononukleosis dan memeriksa adanya ruam untuk mendeteksi ruam kemerahan akibat infeksi streptococcusjuga dilakukan.

Jika diagnosis secara lebih rinci diperlukan, misalnya untuk menentukan apakah tonsilitis yang dialami pasien disebabkan oleh virus atau bakteri, maka bisa dilakukan penelitian sampel apusan tenggorokan dan darah di laboratorium. Tes lebih lanjut di laboratorium juga bisa dilakukan untuk memastikan apakah pasien juga menderita kondisi lain, contohnya demam kelenjar.

Sebagian besar kasus tonsilitis akan sembuh dalam waktu satu minggu. Tidak ada obat khusus untuk menangani kondisi ini. Anda dapat meredakan gejala penyakit ini di rumah, misalnya nyeri tenggorokan, menggunakan obat pereda rasa sakit yang dijual bebas, seperti ibuprofen, parasetamol, atau aspirin. Namun aspirin sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak yang masih berusia di bawah 16 tahun.

Pastikan Anda membaca petunjuk mengenai dosis dan cara penggunaan obat yang tertera pada kemasan. Atau jika ragu, Anda bisa bertanya pada dokter. Pemakaian obat secara tepat dinilai penting agar terhindar dari efek samping yang tidak diinginkan sekaligus mencegah overdosis.

Untuk mendukung pemulihan, pastikan Anda atau anak Anda beristirahat dengan cukup dan tetap perhatikan asupan makanan bergizi dan minum agar tidak mengalami dehidrasi, meski pada saat itu tenggorokan terasa sakit. Kekurangan cairan dapat membuat gejala lain seperti sakit kepala memburuk dan menyebabkan dehidrasi.

Pengobatan lain yang bisa dilakukan sebagai langkah alternatif bagi orang dewasa adalah berkumur dengan campuran setengah sendok teh garam dan 250 ml air yang dilarutkan untuk mengatasi sakit tenggorokan.

Jika kemudian Anda pergi ke dokter, dan menurut hasil pemeriksaan, Anda atau anak Anda dinyatakan menderita tonsilitis akibat bakteri, dokter tidak akan langsung memberikan antibiotik jika gejala yang dirasakan belum parah.

Pengobatan antibiotik pada kondisi ringan dikhawatirkan dapat memicu kekebalan bakteri terhadap antibiotik, sehingga tubuh nantinya tidak akan mampu melawan infeksi bakteri yang tergolong serius. Pada sebagian kasus, antibiotik bahkan tidak mempercepat proses penyembuhan, melainkan menyebabkan efek samping mual dan sakit perut.

Antibiotik akan diberikan dokter jika gejala radang amandel dinilai sudah parah dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pengobatan dengan antibiotik juga bisa diberikan jika sistem kekebalan tubuh Anda atau anak Anda sedang lemah lemah. Jika antibiotik oral tidak mempan, dokter biasanya akan memberikan antibiotik melalui infus di rumah sakit sesuai dengan jenis antibiotik yang cocok dengan pasien.

Operasi Pengangkatan Amandel (Tonsilektomi)

Prosedur ini akan direkomendasikan dokter jika pasien mengalami tiga kondisi berikut.

Pertama, jika gejala tonsilitis pasien sudah makin parah sehingga mereka benar-benar kesulitan untuk makan, tidur, atau bernapas.

Kedua, jika pasien menderita tonsilitis bakteri yang sudah tidak bisa ditangani lagi oleh antibiotik.

Ketiga, jika pasien menderita tonsilitis kronis yang kerap kambuh.

Tonsilitis yang bersifat jangka panjang atau kronis terlihat dari pasien yang mengalami:

  • Lebih dari tujuh kali dalam satu tahun.
  • Lebih dari lima kali setahun dalam dua tahun terakhir.
  • Lebih dari tiga kali setahun dalam tiga tahun terakhir.

Berikut ini adalah jenis-jenis operasi tonsilektomi:

  • Operasi standar, yaitu prosedur pengangkatan tonsil (amandel) dengan menggunakan pisau bedah.
  • Sinar laser, yaitu prosedur pengangkatan tonsil dengan menggunakan laser.
  • USG, yaitu prosedur pengangkatan tonsil dengan menggunakan gelombang ultrasound berenergi tinggi.
  • Diatermi, yaitu prosedur penghancuran jaringan dan pengangkatan tonsil dengan menggunakan suhu panas.
  • Ablasi dingin, yaitu prosedur yang sama dengan diatermi, namun menggunakan suhu yang lebih rendah, yaitu sekitar 60 derajat celcius.

Setelah melakukan tonsilektomi, biasanya Anda akan merasakan sakit di area yang dioperasi dan dapat berlangsung 1-2 minggu. Pada minggu pertama, sakit akan terasa memburuk. Bahkan dalam beberapa kasus, ada yang mengalami nyeri telinga pasca-tonsilektomi. Hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena Anda dapat mengonsumsi obat pereda rasa sakit.

Berikut ini adalah saran-saran yang dapat Anda lakukan jika Anda atau anak Anda telah menjalani prosedur tonsilektomi.

  • Minumlah banyak cairan, namun hindari minuman yang mengandung asam, seperti jus jeruk, agar rasa sakit yang dirasakan tidak bertambah.
  • Meski sulit menelan setelah menjalani operasi, namun usahakan untuk tetap mengonsumsi makanan padat, karena akan membantu penyembuhan lebih cepat.
  • Pastikan untuk tetap menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi atau menggunakan mouthwash untuk mencegah timbulnya infeksi.
  • Pastikan anak Anda tidak melakukan aktivitas di luar rumah selama dua minggu, misalnya, bermain atau bersekolah, untuk mencegah dia tertular infeksi dari teman-temannya.

Pendarahan kecil pada bagian amandel yang diangkat merupakan hal yang biasa terjadi pasca tonsilektomi. Biasanya berlangsung selama 1-10 hari setelah operasi dan akan sembuh dengan sendirinya. Segera minta pendapat atau bantuan medis jika perdarahan menyebabkan pasien batuk yang mengandung darah.

Sebenarnya radang amandel atau tonsilitis jarang menimbulkan komplikasi. Komplikasi biasanya timbul jika kondisi ini tidak ditangani, beberapa di antaranya:

  • Infeksi telinga bagian tengah akibat bakteri.
  • Apnea tidur obstruktif. Kondisi yang terjadi ketika dinding tenggorokan menjadi relaks saat tidur yang menyebabkan susah saat bernapas. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan buruknya kualitas tidur penderita.
  • Quinsy atau abses peritonsil, yaitu munculnya gumpalan-gumpalan nanah pada amandel dan dinding tenggorokan. Mereka yang mengalami komplikasi ini akan merasakan sakit di tenggorokan, mengeluarkan bau napas tidak sedap, sakit kepala dan sakit telinga, sulit berbicara, demam tinggi, dan pembengkakan di dalam mulut dan tenggorokan.
  • Glomerulonephritis, yaitu pembengkakan di saringan ginjal. Penderita komplikasi ini akan mengalami penurunan nafsu makan dan muntah-muntah.
  • Demam rematik, yaitu kondisi yang menyebabkan radang di sekujur tubuh dengan gejala berupa ruam kulit dan nyeri sendi.
  • Demam scarlet atau skarlatina, yaitu kondisi yang menyebabkan kulit penderita dipenuhi ruam atau bercak berwarna kemerahan.

Pencegahan Radang Amandel (Tonsilitis)

Tonsilitis yang disebabkan oleh virus maupun bakteri bisa dicegah dengan menjaga kebersihan diri, misalnya dengan mengajar anak mengenai kebiasaan cuci tangan yang baik dan benar. Langkah pencegahan lainnya, antara lain:

  • Gunakan saputangan atau tisu untuk menutup hidung dan mulut ketika batuk atau bersin. Segera buang tisu yang telah digunakan ke tempat sampah.
  • Hindari menggunakan alat makan maupun minum secara bergantian, khususnya meminjami seseorang yang sedang sakit.
  • Disarankan untuk mengganti sikat gigi setelah pasien didiagnosis tonsilitis.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT