Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Radang Otak

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Radang otak atau ensefalitis adalah inflamasi yang terjadi pada otak. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, namun anak-anak serta lansia memiliki risiko tertinggi karena sistem kekebalan tubuh mereka yang cenderung lebih lemah.

Meski jarang terjadi, radang otak berpotensi menjadi kondisi yang serius dan dapat mengancam jiwa. Perkembangan penyakit ini juga sulit ditebak. Diagnosis dan pengobatan yang cepat serta efektif adalah kunci utama dalam menangani kondisi ini.

Gejala Radang Otak

Radang otak terkadang diawali dengan gejala-gejala ringan, seperti sakit kepala, lelah, demam, serta pegal-pegal. Kondisi penderita kemudian dapat menurun secara drastis dengan indikasi-indikasi yang lebih serius yang meliputi:

  • Kejang-kejang.
  • Perubahan kondisi mental, seperti linglung.
  • Halusinasi.
  • Otot yang lemas.
  • Kelumpuhan pada wajah serta bagian tubuh tertentu.
  • Gangguan pada kemampuan bicara atau pendengaran.
  • Pingsan.
  • Pergerakan mata yang tidak terkontrol.
  • Leher yang kaku.
  • Pandangan kabur atau bahkan kehilangan penglihatan.

Gejala awal penyakit ini cenderung mirip dengan indikasi flu sehingga sulit dideteksi. Karena itu, segeralah ke rumah sakit jika Anda atau anak Anda mengalami gejala flu yang makin parah dan yang disertai dengan perubahan kondisi mental.

Penyebab Radang Otak

Sebagian kasus radang otak tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Namun, infeksi serta sistem kekebalan tubuh yang rendah diduga berperan penting terhadap proses terjadinya penyakit ini.

Infeksi yang dapat menyebabkan radang otak dibagi menjadi dua, yakni virus infeksi yang berasal dari dalam otak atau disebut radang otak primer, serta infeksi yang berasal dari luar otak, atau radang otak sekunder.

Radang otak sekunder terjadi pada saat infeksi telah menyebar dan menembus masuk ke dalam otak. Berbagai jenis infeksi, terutama infeksi virus, yang dapat memicu kondisi ini antara lain:

  • Virus herpes simpleks, yang menyebabkan terjadinya penyakit herpes di mulut maupun di kelamin. Herpes simpleks merupakan virus yang paling sering ditemukan pada kasus radang otak.
  • Virus Varicella zoster, yang menyebabkan cacar air dan cacar api.
  • Virus Epstein-Barr, yang menjadi penyebab penyakit mononukleosis.
  • Berbagai jenis virus lain, yang menyebabkan penyakit campak (measles), gondongan (mumps), atau campak jerman (rubella).
  • Virus dari hewan, misalnya virus rabies serta virus yang disebarkan oleh nyamuk dan caplak.

Selain karena infeksi, radang otak juga dapat disebabkan oleh masalah pada sistem kekebalan tubuh. Normalnya, sistem kekebalan tubuh akan berusaha melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh supaya tidak menyebabkan penyakit yang serius. Meskipun jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh sendiri, dalam hal ini menyerang otak. Kesalahan sistem kekebalan tubuh ini dapat dipicu oleh beberapa hal, antara lain:

  • Infeksi yang terjadi di bagian tubuh yang lain (yang biasanya terjadi beberapa minggu sebelumnya). Radang otak akibat kondisi ini disebut juga dengan ensefalitis paska infeksi.
  • Pertumbuhan tumor, baik yang bersifat jinak maupun ganas, pada salah satu bagian tubuh. Radang otak akibat kondisi ini disebut dengan ensefalitis autoimun.
  • Vaksinasi. Kasus radang otak akibat vaksinasi sangatlah jarang, dan keuntungan yang didapat dari vaksinasi seringkali melebihi risiko vaksinasi itu sendiri.

Diagnosis Radang Otak

Karena gejalanya awalnya seringkali mirip dengan penyakit lain, radang otak sering disalahartikan sebagai penyakit lain sehingga sulit terdeteksi. Selain menanyakan gejala-gejala Anda, dokter akan menganjurkan pemeriksaan serta tes-tes untuk memastikan diagnosis.

Beberapa jenis pemeriksaan yang akan disarankan meliputi:

  • MRI scan atau CT scan. Umumnya, ini merupakan jenis pemeriksaan pertama yang disarankan oleh dokter guna mendeteksi adanya radang otak. Kedua jenis pemeriksaan ini akan menunjukkan ada tidaknya pembengkakan yang terjadi pada otak, serta ada tidaknya penyebab lain yang mendasari radang otak seperti tumor.
  • Pungsi lumbar. Pada pemeriksaan ini, dokter akan memasukkan jarum ke tulang belakang bagian bawah, dan kemudian dokter akan mengambil cairan serebrospinal guna diperiksa di laboratorium. Dari cairan tersebut, akan diperiksa ada tidaknya infeksi atau peradangan yang terjadi di otak. Tes ini terkadang juga dapat membantu mengidentifikasi jenis virus atau agen penyebab lainnya.
  • Tes lain, seperti tes darah, tes hapusan tenggorokan, dan tes urine. Tes ini mungkin dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab infeksi.
  • Elektroensefalogram atau EEG. Tes ini digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan aliran listrik di otak yang mungkin menjadi penyebab terjadinya radang otak.
  • Biopsi otak. Pada prosedur ini, sebagian jaringan otak akan diambil untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Prosedur ini mungkin dipilih jika gejala semakin memburuk dan pengobatan tidak berdampak positif.

Pengobatan Radang Otak

Radang otak berpotensi mengancam jiwa (terutama yang sudah parah), sehingga membutuhkan penanganan darurat di rumah sakit. Proses penanganan radang otak bertujuan untuk menghentikan dan mengobati infeksi, mengatasi komplikasi yang berpotensi muncul akibat demam, serta mencegah komplikasi jangka panjang.

Penanganan radang otak untuk tiap pasien berbeda-beda. Penentuannya tergantung kepada jenis radang otak yang diderita oleh pasien. Langkah penanganan umumnya meliputi antibiotik, antifungal, antivirus, kortikosteroid injeksi, terapi imunoglobulin, plasmapheresis, pembedahan, atau antikonvulsan.

Sebagian besar radang otak akibat infeksi virus akan diatasi dengan obat antivirus, seperti acyclovir. Meski demikian, keefektifan antivirus tetap terbatas karena tidak semua jenis virus bisa diatasi dengan obat ini. Obat antivirus hanya efektif untuk memberantas virus herpes simpleks dan varisela zoster. Efek samping obat ini meliputi diare, mual, muntah, serta nyeri pada otot atau sendi.

Untuk mengatasi radang otak akibat gangguan sistem kekebalan tubuh, dokter memberi suntikan kortikosteroid sebagai langkah penanganannya. Kortikosteroid akan menurunkan kinerja abnormal dari sistem kekebalan tubuh sekaligus mengurangi inflamasi pada otak. Jika obat ini dinilai kurang efektif, dokter mungkin akan menambahkan terapi imunoglobulin untuk pasien.

Kortikosteroid juga berpotensi menyebabkan efek samping seperti emosi tidak stabil, perubahan nafsu makan serta kesulitan tidur. Terapi imunoglobulin juga dapat digunakan untuk menangani radang otak yang terjadi karena gangguan sistem kekebalan tubuh.

Sementara padaradang otak yang terjadi karena infeksi akibat jamur atau bakteri, dokter akan memberikan obat antibiotik atau antijamur untuk mengatasinya. Obat antikonvulsan dapat diberikan dokter untuk menghentikan atau mencegah kejang-kejang yang disebabkan oleh radang otak.

Pada kasus radang otak akibat tumor, pilihan terapi pembedahan mungkin akan diambil guna mengangkat tumor penyebab. Namun, indikasi pembedahan ini bergantung pada jenis, ukuran, serta penyebaran tumor.

Di samping obat-obatan, pasien radang otak membutuhkan bantuan peralatan medis lain. Misalnya, alat bantu pernapasan serta tabung untuk menyalurkan nutrisi. Masa penyembuhan yang dibutuhkan pasien juga cenderung memakan waktu lama hingga berbulan-bulan.

Komplikasi Radang Otak

Dampak radang otak tentu tidak sama pada tiap pasien. Ada yang bisa sembuh total, tapi ada juga yang mengalami komplikasi. Di antara seluruh kasus radang otak yang terjadi, diperkirakan sekitar 10 persen meninggal dunia.

Risiko komplikasi yang mungkin terjadi tergantung pada banyak faktor. Di antaranya adalah usia pasien, penyebab terjadinya infeksi, jenis dan tingkat keparahan radang otak, serta kecepatan penanganan. Beberapa komplikasi yang berpotensi muncul meliputi:

  • Kelelahan yang berkepanjangan.
  • Hilang ingatan.
  • Epilepsi.
  • Gangguan kemampuan fisik dan motorik.
  • Perubahan kepribadian dan perilaku.
  • Gangguan kemampuan bicara dan penguasaan bahasa.
  • Perubahan emosi, misalnya kecemasan dan emosi yang tidak stabil.
  • Gangguan konsentrasi.

Pencegahan Radang Otak

Radang otak termasuk kondisi yang sulit dicegah. Pencegahan utama yang dapat Anda lakukan adalah melalui vaksinasi MMR. Langkah sederhana lain yang bisa diambil untuk menghindari kondisi ini adalah:

  • Menjaga kebersihan. Misalnya dengan sering mencuci tangan dan membersihkan rumah secara teratur.
  • Jangan menggunakan alat makan yang sama dengan orang lain.
  • Menghindari gigitan nyamuk. Kenakan pakaian tertutup saat tidur atau saat keluar rumah pada malam hari, gunakan semprotan antinyamuk, serta gunakan losion antinyamuk.
  • Vaksinasi. Jenis vaksinasi rutin di Indonesia yang dapat membantu menurunkan risiko terjangkit penyakit ini adalah vaksin MMR (measles, mumps, dan rubella). Selain itu, ada beberapa jenis vaksin yang disarankan apabila Anda akan bepergian ke daerah yang berisiko, seperti vaksin Japanese encephalitis, vaksin tick-borne encephalitis, serta vaksin rabies.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT