Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Rabies

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Rabies atau umumnya dikenal sebagai penyakit anjing gila adalah penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf. Penyakit ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat.

Rabies di Indonesia

Menurut data yang dihimpun Kementrian Kesehatan Indonesia, terdapat sekitar 70 ribu kasus gigitan hewan penular rabies di tahun 2013. Dari keseluruhan kasus tersebut, terdapat 119 orang di antaranya yang positif terkena rabies.

Di tahun 2013 tersebut, Provinsi Bali masih menjadi daerah paling banyak mendapat kasus gigitan hewan penular rabies dengan persentase hampir mencapai 60 persen dari total kasus di seluruh Indonesia. Sedangkan daerah kedua paling banyak mendapat kasus gigitan hewan penular rabies adalah Provinsi Riau (7,4 persen), diikuti Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Penyebab rabies

Rabies disebabkan oleh virus lyssaviruses. Virus ini ditularkan ke manusia melalui hewan yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini. Seseorang dapat terjangkit rabies jika air liur dari hewan rabies tersebut masuk ke tubuhnya melalui gigitan, Bahkan melalui cakaran pun bisa jika hewan rabies tersebut sebelumnya telah menjilati kuku-kukunya. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang terjangkit rabies karena luka di tubuhnya terjilat oleh hewan yang terinfeksi.

Selain ditularkan oleh hewan, penularan penyakit rabies dari manusia ke manusia pun bisa terjadi. Namun sejauh ini yang terbukti adalah penularan melalui transplantasi atau pencangkokan organ.

Di Indonesia, 98 persen kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing dan 2 persen ditularkan melalui gigitan kucing dan kera. Di indonesia juga, rabies pada hewan sudah ditemukan sejak tahun 1884. Sedangkan kasus rabies pada manusia di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat.

Gejala rabies

Waktu yang dibutuhkan virus rabies untuk berinkubasi sangat bervariasi, namun biasanya antara dua minggu sampai tiga bulan. Pada kasus yang jarang terjadi, inkubasi virus terjadi hanya dalam waktu empat hari. Masa inkubasi adalah jarak waktu ketika virus pertama kali masuk ke tubuh sampai gejala muncul.

Setelah tergigit hewan berpenyakit rabies, virus akan berkembang biak di dalam tubuh inang. Selanjutnya virus-virus tersebut akan menuju ujung saraf dan berlanjut menuju saraf tulang belakang serta otak yang mana perkembangbiakan terjadi dengan sangat cepat. Setelah itu, virus rabies menyebar ke paru-paru, kelenjar air liur, hati, ginjal, dan organ-organ lainnya.

Gejala-gejala penyakit rabies pada manusia antara lain demam tinggi, rasa gatal di bagian yang terinfeksi, perubahan perilaku menjadi agresif, dan takut terhadap air atau hidrofobia. Sedangkan pada hewan, gejala hampir serupa dengan manusia, namun tanpa hidrofobia. Ketika gejala penyakit rabies memasuki fase akhir, baik manusia atau hewan yang mengalaminya bisa mengalami kematian.

Diagnosis rabies

Hingga kini, belum ada tes yang dapat mendeteksi seseorang terinfeksi virus rabies ketika baru digigit. Rabies baru diketahui jika virus sudah selesai berinkubasi dan memulai terornya melalui gejala. Oleh sebab itu untuk menentukan terkena rabies atau tidaknya bagi seseorang, dokter hanya mengacu pada keterangan pasien. Dalam melakukan diagnosis, biasanya dokter akan bertanya apakah pasien telah mengunjungi tempat atau daerah yang rawan rabies dan apakah pasien telah digigit oleh hewan yang berpotensi membawa virus penyakit tersebut.

Pengobatan rabies

Jika Anda telah digigit hewan yang berpotensi menularkan rabies, satu hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah mencuci luka gigitan tersebut dengan sabun dan basuh dengan air bersih yang mengalir. Selanjutnya bersihkan luka dengan menggunakan antiseptik atau alkohol. Jangan tutupi luka menggunakan perban apa pun dan biarkan luka tetap terbuka. Setelah itu, segera ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat untuk diperiksa lebih lanjut.

Jika rabies yang menjangkiti seseorang masih berada pada tahap awal atau sebelum gejala muncul, dokter akan melakukan pengobatan yang disebut profilaksis pasca pajanan yang terbukti sangat efektif dalam menangkal gejala rabies. Melalui profilaksis pasca pajanan, dokter akan membersihkan bagian tubuh yang terinfeksi, serta memberikan serangkaian vaksinasi untuk mencegah virus menyebar ke otak dan sistem saraf. Pada sebagian kasus, dokter juga akan memberikan serum anti rabies.

Namun jika penderita terlambat mendapatkan penanganan dan gejala sudah muncul, maka maka pada fase ini biasanya dokter akan lebih berfokus pada upaya membuat pasien tetap tenang dan senyaman mungkin karena pasien menghadapi risiko kematian.

Pemberian vaksinasi rabies

Penularan rabies dapat dicegah melalui vaksinasi. Vaksinasi secara berkala biasanya hanya diberikan kepada mereka yang dalam pekerjaannya sering berinteraksi dengan hewan sehingga berpotensi tinggi untuk terjangkit, contohnya dokter hewan dan pengurus kebun binatang.

Kiat menghindari rabies

Menjaga diri sendiri dan keluarga dari penularan virus rabies sebenarnya tidak sulit. Ketika mengunjungi desa atau daerah pelosok yang belum terbebas dari rabies, usahakan Anda dan keluarga Anda tidak sembarangan menyentuh hewan liar. Ajarkan pada anak-anak Anda mengenai bahaya memiara hewan liar tersebut beserta alasannya.

Jika terdapat luka pada anak-anak Anda, tanyakan pada mereka dari mana luka tersebut berasal karena dikhawatirkan didapat dari gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi rabies. Didik anak-anak Anda agar paham bahwa gigitan hewan bisa berbahaya.

Setelah masuk ke tubuh, lyssaviruses atau virus rabies akan mengalami masa inkubasi atau waktu yang diperlukan bagi virus tersebut untuk berkembang hingga menyebabkan gejala. Masa inkubasi virus rabies biasanya berlangsung selama dua minggu hingga tiga bulan. Lama atau tidaknya masa inkubasi tergantung kepada bagian tubuh mana yang digigit dan terinfeksi virus rabies. Makin dekat dengan otak, maka makin cepat pula gejala yang berkembang. Sebagai contoh, gigitan rabies pada kepala, leher, atau wajah, memiliki periode inkubasi yang lebih singkat daripada gigitan yang terjadi pada kaki atau lengan.

Pada kasus yang jarang terjadi, masa inkubasi virus rabies bisa berlangsung dengan sangat cepat atau bahkan sangat lambat, yaitu empat hari hingga lebih dari satu tahun.

Jika terinfeksi virus rabies, umumnya seseorang masih memiliki kemungkinan untuk pulih jika pengobatan segera dilakukan pada masa inkubasi virus. Namun jika virus terlanjur melewati masa inkubasi dan kondisi sudah memasuki tahap gejala, maka rabies akan sulit untuk diobati.

Ketika rabies mencapai tahap gejala, biasanya gejala yang dirasakan penderita terlihat ringan. Namun dalam waktu singkat, gejala tersebut akan memperlihatkan keseriusannya.

Gejala awal rabies sering sulit untuk dikenali dan terkadang justru dianggap sebagai gejala dari penyakit yang tidak berbahaya. Gejala awal rabies di antaranya:

  • Demam
  • Tubuh yang terasa sangat lelah
  • Tubuh yang terasa dingin
  • Sakit tenggorokan
  • Gelisah
  • Bingung
  • Lekas marah
  • Mual
  • Muntah-muntah
  • Sakit kepala
  • Hilang nafsu makan
  • Kesulitan untuk tidur atau insomnia
  • Rasa sakit dan kesemutan pada area yang terinfeksi

Gejala lanjutan rabies

Selepas gejala awal, gejala rabies yang berikutnya akan terlihat makin parah. Biasanya ini terjadi dalam kurun waktu 2-10 hari. Pada 80 persen kasus yang terjadi, penderita penyakit rabies akan:

  • Mengalami halusinasi seperti melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata.
  • Menjadi hiperaktif.
  • Berperilaku agresif (misalnya meronta-ronta dan mengamuk tanpa sebab yang jelas).
  • Kerap terlihat gelisah dan sering mengamuk.
  • Demam tinggi.
  • Selalu meneteskan air liur (hipersalivasi).
  • Ereksi yang berkelanjutan pada penderita rabies pria.
  • Mengeluarkan keringat yang berlebihan (hiperhidrosis).
  • Bulu-bulu di kulit yang terlihat berdiri.
  • Mengalami delusi atau percaya pada sesuatu yang tidak nyata.

Penderita juga akan mengalami hidrofobia atau ketakutan terhadap air. Sebelum mencapai tahap ini, mereka biasanya akan merasakan sakit pada tenggorokan dan kesulitan untuk minum. Ketika mereka mencoba untuk menelan air, otot-otot tenggorokan akan mengalami kejang dan berlangsung hingga beberapa detik. Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan penderita rabies mengalami hidrofobia. Jangankan melihat air, mendengar orang menyebut kata “air” saja mereka akan terlihat sangat ketakutan.

Selain mengalami hidrofobia, sebagian besar penderita rabies juga mengalami fotofobia atau takut terhadap cahaya dan aerofobia atau takut terhadap angin. Beberapa hari setelah gejala ini berkembang, penderita biasanya akan mengalami koma sebelum selanjutnya meninggal akibat gagalnya sistem pernapasan atau serangan jantung.

Pada 20 persen kasus lainnya, penderita rabies justru tidak menunjukkan perilaku agresif selepas gejala awal atau hidrofobia. Penyakit rabies menjadikan tubuh tampak seperti lumpuh akibat melemahnya otot-otot tangan dan kaki. Selanjutnya kemampuan indra peraba akan hilang secara perlahan hingga akhirnya tubuh tidak bisa digerakkan sama sekali. Pada tahap akhir gejala, penderita rabies kelompok kasus ini akan mengalami koma sebelum akhirnya meninggal dunia akibat gagal pernapasan atau serangan jantung.

Gejala rabies pada hewan, khususnya anjing

Sama seperti pada manusia, gejala rabies pada hewan pun akan melewati beberapa tahapan. Misalnya pada anjing, pada tahapan pertama, anjing biasanya akan terlihat tidak mau makan. Kemudian anjing akan terlihat jinak, meski terhadap orang-orang yang tidak dikenalinya.

Selanjutnya masuk tahap kedua yang disebut tahap ’anjing gila’. Tahapan ini biasanya hanya berlangsung 2-4 hari. Tahapan ini ditandai dengan perilaku anjing yang liar dan agresif. Perilaku agresif tersebut di antaranya seperti anjing yang terlihat tidak memiliki takut terhadap musuh-musuh alaminya, menyalak terus-menerus, dan berusaha menyerang apa saja yang mendekat, bahkan benda mati sekalipun.

Dan yang terakhir adalah tahap lumpuh. Pada fase ini anjing akan terlihat mengeluarkan busa dari mulutnya, nampak seperti sedang tersedak dan rahang bawah yang terlihat turun. Selanjutnya otot-otot rahang, mulut, serta kerongkongan hewan tersebut mengalami kelumpuhan dan akhirnya mati.

Anjing peliharaan yang dibiarkan keluar rumah tanpa pengawasan, lebih berisiko terkena rabies. Anjing yang bebas berkeliaran memiliki peluang lebih besar untuk terlibat interaksi dengan anjing-anjing liar, ketimbang anjing peliharaan yang diawasi pemiliknya.

Virus rabies berasal dari kelompok lyssaviruses dan menyerang mamalia. Semua hewan mamalia sebenarnya bisa membawa atau menularkan virus ini (termasuk mamalia ternak seperti kambing, sapi, dan kuda). Namun yang paling umum adalah anjing, kucing, monyet, kelelawar, luwak, dan rubah. Di negara-negara berkembang, terutama di Afrika dan Asia (termasuk Indonesia), sebagian besar kasus rabies disebabkan oleh gigitan anjing. Sedangkan di Amerika Selatan, kelelawar kerap menjadi media utama.

Virus rabies yang menginfeksi hewan-hewan tersebut dapat menular pada manusia melalui gigitan, cakaran, jilatan, atau bahkan semburan air liur yang mengenai mata dan bekas luka pada kulit manusia. Terkait kasus penularan rabies dari manusia ke manusia, sejauh ini biasanya disebabkan oleh transplantasi atau pencangkokan organ. Namun kasus-kasus seperti itu jarang terjadi di Indonesia.

Setelah masuk ke tubuh, virus rabies akan memperbanyak diri dahulu sebelum menyebar ke ujung saraf. Selanjutnya virus akan menuju saraf tulang belakang dan otak. Dari sistem saraf pusat inilah, virus rabies kemudian menyebar ke paru-paru, ginjal, kelenjar ludah, serta organ lainnya.

Seseorang yang tinggal di wilayah rawan rabies atau bepergian ke wilayah tersebut berisiko tinggi terjangkit rabies. Selain itu, orang yang sering berinteraksi dengan mamalia, seperti pengurus kebun binatang atau dokter hewan, orang yang suka mengeksplorasi alam liar (salah satunya adalah gua), dan ilmuwan yang meneliti virus rabies di laboratorium juga berpotensi tinggi terjangkit penyakit ini.

Sebaiknya segera periksakan diri ke dokter jika Anda khawatir terkena rabies setelah mengunjungi tempat-tempat yang masih rawan rabies.

Penanganan rabies tergantung kepada status penyakit tersebut, apakah virus masih pada tahap inkubasi atau sudah menunjukkan gejala. Jika belum menunjukkan gejala, maka rangkaian pengobatan yang disebut profilaksis pasca pajanan harus dilakukan guna mencegah virus berkembang ke tahap gejala.

Penanganan profilaksis pasca pajanan terdiri dari tiga tahap. Pertama adalah pembersihan luka. Gigitan hewan pembawa rabies harus segera dibersihkan. Gunakan air bersih yang mengalir untuk membersihkan luka. Setelah itu pakailah antiseptik atau alkohol untuk mensterilkan luka tersebut. Anda juga bisa menggunakan etanol atau larutan yodium jika ada. Biarkan luka tetap terbuka. Sangat tidak diperbolehkan untuk menjahit luka tersebut karena dikhawatirkan ujung saraf akan terekspos virus rabies. Pergilah ke klinik kesehatan atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Tahap penanganan profilaksis pasca pajanan yang kedua adalah pemberian immunoglobulin rabies sebagai persiapan khusus antibodi. Immunoglobulin rabies ini disebut juga sebagai serum anti rabies (SAR). Setelah dokter mendengar penjelasan Anda dan memperkirakan bahwa Anda kemungkinan besar terjangkit virus rabies, maka Anda akan disuntik terlebih dahulu dengan immunoglobulin rabies, misalnya pada keadaan gigitan hewan pembawa virus rabies yang menyebabkan luka besar pada penderita. Jenis SAR yang paling utama digunakan saat ini adalah serum homolog yang dibuat dari serum darah manusia. Apabila serum homolog tidak tersedia, maka biasanya dokter akan memberikan serum heterolog yang dibuat dari serum darah kuda sebagai penggantinya.

Immunoglobulin berfungsi sebagai antibodi yang dapat menetralkan virus rabies dan mencegah virus tersebut menyebar ke sistem saraf. Mengenai efek sampingnya, immunoglobulin hanya menimbulkan rasa sakit sementara di beberapa titik suntikan.

Tahap penanganan profilaksis pasca pajanan yang ketiga adalah pemberian serangkaian vaksinasi rabies. Dokter akan tetap memberikan Anda vaksinasi rabies meski Anda sudah pernah mendapatkannya. Dengan kata lain vaksinasi rabies selalu diberikan pada tiap kasus yang berisiko tinggi.

Anda akan menerima empat suntikan vaksin rabies jika belum pernah divaksinasi sebelumnya. Dua suntikan diberikan langsung segera setelah terpapar dengan gigitan,sisanya masing-masing diberikan pada hari ke-7 dan ke-21.

Bagi pasien yang pernah divaksinasi rabies, dokter hanya akan memberikan dua suntikan vaksin. Suntikan pertama diberikan di awal pengobatan, dan suntikan kedua diberikan tiga hari kemudian.

Ada beberapa jenis vaksinasi rabies (VAR), di antaranya adalah vaksin jaringan saraf, vaksin sel embrio ayam yang dimurnikan (PCEC), vaksin sel diploid manusia (HDCV), dan vaksin sel vero yang dimurnikan (PVRV). Yang membedakan seluruh vaksin tersebut adalah sampel sebagai bahan pembuatnya. Vaksin jaringan saraf dibuat dengan menggunakan sampel saraf otak hewan, vaksin PCEC dibuat dengan menggunakan sampel embrio ayam, vaksin HDCV dibuat dengan menggunakan sampel sel manusia, dan vaksin PVRV dibuat dari sampel sel epitel yang terdapat pada ginjal monyet hijau Afrika.

Jenis-jenis VAR yang disarankan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO antara lain HDCV, PCEC, dan PVRV. Di Indonesia, PVRV adalah salah satu VAR yang sering digunakan. Vaksin jaringan saraf tidak termasuk yang direkomendasikan karena setelah diteliti, vaksin tersebut dapat menyebabkan cacat permanen, seperti kelumpuhan otot. Kendati begitu, peluang untuk terjadinya komplikasi serius sangatlah kecil. Bila tidak ada vaksin lain (HDCV, PCEC, PVRV), vaksin jaringan saraf tetap harus diberikan.

Efek samping vaksin rabies

Umumnya efek samping yang timbul setelah pemberian vaksin rabies hanya berupa rasa sakit, bengkak, serta warna kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik. Namun efek samping tersebut biasanya tidak berlangsung lama, yaitu hanya terasa 1-2 hari setelah disuntik.

Pencegahan rabies dengan profilaksis pasca pajanan

Meski hingga saat ini belum ada laporan mengenai seseorang yang tertular rabies akibat berada dekat dengan pasien rabies atau terjadi kontak dengan pasien rabies, namun secara teori ada kemungkinan hal tersebut bisa terjadi. Karena itu bagi yang berada dekat dengan pasien rabies, terutama keluarga pasien atau dokter yang menangani, dianjurkan untuk melakukan prosedur profilaksis pasca pajanan sebagai pencegahan.

Penanganan rabies yang sudah memasuki tahap gejala

Jika rabies terlambat ditangani dan sudah masuk tahap munculnya gejala, itu artinya rabies sudah tidak dapat diobati lagi dan risiko kematian telah mengintai. Dalam kondisi ini, dokter biasanya hanya akan memberikan penanganan yang sifatnya menenangkan bagi pasien. Sebagai contoh, dokter akan memberikan obat penenang bahkan obat bius agar pasien tidak meronta-ronta dan agar pasien tidak menderita akibat sakit yang dirasakannya.

Jika Anda digigit atau dicakar oleh seekor hewan, terutama anjing, segera periksakan diri ke dokter. Rabies tidak ditularkan melalui gigitan saja, seseorang juga bisa terjangkit jika dia memiliki luka yang terjilat oleh hewan pembawa virus penyakit ini. Selain itu, Sebaiknya periksakan diri Anda ke dokter jika khawatir terkena rabies setelah mengunjungi tempat-tempat yang masih rawan penyakit rabies.

Hingga kini, belum ada tes yang dapat mendeteksi seseorang terkena rabies ketika baru digigit. Rabies baru diketahui jika virus sudah selesai berinkubasi dan memulai terornya melalui gejala. Oleh sebab itu untuk menentukan pasien terkena rabies atau tidak, dokter hanya mengacu pada keterangan mereka, misalnya apakah pasien telah digigit hewan atau baru pulang dari daerah rawan rabies.

Jika pasien diperkirakan terkena virus rabies, dokter akan segera memulai pengobatan tanpa menunggu hasil diagnosis karena menunda pengobatan dikhawatirkan akan memberi virus waktu untuk berinkubasi dan menyebar ke dalam sistem saraf. Jika virus sudah menyebar ke dalam sistem saraf dan sudah masuk ke dalam fase gejala, maka hampir bisa dipastikan bahwa pasien akan berakhir dengan kematian.

Berikut ini beberapa tes untuk memastikan adanya virus rabies pada pasien yang dicurigai telah memasuki masa gejala rabies, di antaranya:

  • Pemeriksaan darah dan air liur pasien.
  • Pemeriksaan fungsi lumbal melalui pengambilan sampel cairan serebrospinal (cairan yang mengelilingi otak dan saraf tulang belakang) menggunakan jarum khusus.
  • Pemeriksaan sampel kulit pasien melalui biopsi

Selain bagian dari pengobatan, pemberian vaksin rabies juga bisa berfungsi sebagai pencegahan yang sebaiknya diberikan pada mereka yang berisiko tinggi terkena penyakit ini, diantaranya:

  • Orang-orang yang tinggal di wilayah yang masih rawan rabies.
  • Pecinta alam yang menjelajahi hutan dan gua.
  • Peneliti lapangan yang sedang meneliti soal rabies.
  • Pengurus kebun binatang.
  • Dokter hewan.
  • Pekerja toko hewan.
  • Petugas laboratorium yang menangani sampel virus rabies.
  • Wisatawan yang mengunjungi daerah rawan rabies yang tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai.

Vaksinasi untuk pencegahan biasanya diberikan sebanyak tiga kali. Setelah memberikan suntikan pertama, dokter akan kembali memberikan suntikan kedua pada hari ke-7. Dan untuk suntikan ketiga, dokter akan memberikannya pada hari ke-21 atau ke-28. Sebaiknya rangkaian vaksinasi tersebut dijalani seluruhnya agar kekebalan tubuh bisa terbentuk sempurna.

Setelah menerima suntikan vaksin rabies, biasanya Anda akan mengalami efek samping ringan, seperti bengkak berwarna kemerahan dan rasa sakit pada bagian tubuh yang disuntik. Namun efek samping itu hanya sementara dan akan hilang setelah 1-2 hari. Beberapa efek samping lainnya yang sangat jarang terjadi adalah ruam, nyeri otot, muntah, demam ringan, dan sakit kepala.

Vaksin rabies tidak sulit ditemukan di Indonesia. Biasanya rumah sakit, puskesmas, atau klinik kesehatan sudah menyediakan vaksin tersebut. Meski vaksin rabies tidak menimbulkan efek samping yang berarti, vaksin ini sebaiknya tidak diberikan kepada wanita hamil sebisa mungkin.

Vaksinasi lanjutan

Agar kekebalan tubuh terhadap rabies tetap terjaga, bagi mereka yang hidupnya selalu berisiko tinggi terkena rabies alangkah baiknya menjalani vaksinasi lanjutan. Vaksinasi rabies lanjutan ini dilakukan setahun setelah rangkaian atau paket vaksinasi pertama. Dan vaksinasi lanjutan kedua atau yang berikutnya biasanya berjarak tiga hingga lima tahun setelahnya.

Langkah-langkah pencegahan rabies lainnya

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit rabies, selain melalui pemberian vaksin pada manusia, di antaranya:

  • Penyuntikan vaksin rabies pada hewan-hewan peliharaan kita.
  • Mencegah hewan peliharaan kita berinteraksi dengan hewan liar yang berada di luar lingkungan rumah.
  • Menghindari risiko digigit hewan liar dengan cara tidak mendekatinya atau menyentuhnya.
  • Tidak menyentuh bangkai hewan liar.
  • Mendirikan pagar rumah yang cukup aman melindungi anggota keluarga dari hewan-hewan liar.
  • Mengajari anak-anak tentang bahaya rabies dan cara mencegahnya.
  • Melaporkan pada pihak terkait (misalnya RT, RW, atau kelurahan) bilamana ada hewan liar yang dicurigai sakit rabies berkeliaran di lingkungan kita.
  • Pertimbangkan untuk mendapatkan vaksin rabies jika bepergian ke daerah rawan rabies.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT