Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hipotiroidisme

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hipotiroidisme merupakan suatu kelainan pada kelenjar tiroid yang mengakibatkan kelenjar tersebut tidak dapat menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak di bagian depan tenggorokan. Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid mengatur berbagai proses metabolisme tubuh termasuk suhu tubuh, kecepatan pembakaran kalori tubuh, serta detak jantung. Jika seseorang menderita hipotiroidisme, proses metabolisme tubuh akan melambat sehingga energi yang diproduksi oleh tubuh akan berkurang.

Hipotirioidisme dibagi menjadi dua, yaitu hipotiroidisme primer dan sekunder. Hipotiroidisme primer terjadi karena kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid yang cukup akibat kelainan kelenjar tiroid. Hipotiroidisme sekunder terjadi pada saat kelenjar tiroid dalam keadaan normal, namun tidak menerima hormon pemicu tiroid (TSH) yang cukup dari kelenjar hipofisis (pituitari).

Kelenjar tiroid menggunakan yodium sebagai bahan baku untuk membuat hormon. Hormon yang paling utama yang dihasilkan oleh kelenjar ini adalah Triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4). Kadar hormon T4 dalam darah jauh lebih besar dari T3. Akan tetapi, T4 akan diubah menjadi T3 yang memiliki aktivitas hormon lebih tinggi.

Seringkali hipotiroidisme bersifat asimptomatik pada usia muda dan stadium awal. Akan tetapi, semakin lama seseorang menderita hipotiroidisme, gejala-gejala akan muncul perlahan. Hipotiroidisme dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, nyeri sendi, kemandulan, dan penyakit jantung.

Gejala Hipotiroidisme

Tanda-tanda dan gejala hipotiroidisme berbeda-beda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahan hipotiroidisme yang diderita. Beberapa gejala hipotiroidisme yang umum ditemukan antara lain adalah:

  • Tenggorokan kering.
  • Wajah membengkak.
  • Kulit kering.
  • Berat badan meningkat tanpa penyebab yang jelas.
  • Lelah dan letih.
  • Lebih sensitif terhadap cuaca dingin.
  • Gangguan ingatan.
  • Depresi.
  • Detak jantung melambat.
  • Nyeri, kaku, dan pembengkakan pada sendi.
  • Lemah otot.
  • Kadar kolesterol dalam darah meningkat.
  • Rambut rontok.
  • Kesemutan dan gejala saraf terjepit.
  • Penglihatan kabur.
  • Pendengaran berkurang.

Tanpa pengobatan yang tepat, gejala hipotiroidisme akan memburuk seiring berjalannya waktu. Jika kelenjar tiroid terus-menerus distimulasi oleh hormon dari kelenjar hipofisis, kelenjar tiroid akan mengalami pembengkakan (gondok).

Meskipun hipotiroidisme seringkali terjadi pada usia lanjut, bayi dan balita dapat juga terkena hipotiroidisme. Beberapa gejala hipotiroidisme pada bayi dan balita adalah:

  • Kekuningan (jaundice). Kekuningan pada bayi disebabkan oleh bilirubin yang tidak dapat diuraikan oleh hati. Bilirubin dapat menumpuk pada tubuh manusia disebabkan oleh penghancuran sel darah merah.
  • Sering tersedak.
  • Lidah besar dan menonjol.
  • Wajah terlihat membengkak.
  • Konstipasi.
  • Ukuran otot yang kecil.
  • Tidur berlebihan.

Ketika hipotiroidisme pada bayi dan balita tidak diobati dengan baik, bayi dan balita akan mengalami permasalahan dalam pola makan. Selain itu, tanpa pengobatan yang baik, bahkan hipotiroidisme ringan pun dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental bayi dan balita.

Gejala hipotiroidisme pada anak-anak dan remaja tidak berbeda dengan gejala hipotiroidisme pada orang dewasa. Akan tetapi, hipotiroidisme pada anak-anak dan remaja dapat menimbulkan:

  • Pertumbuhan lambat yang menyebabkan tubuh pendek.
  • Perkembangan mental yang terlambat.
  • Penundaan masa pubertas.
  • Penundaan pertumbuhan gigi tetap.

Penyebab Hipotiroidisme

Penyebab terjadinya hipotiroidisme pada seseorang sangat bervariasi, termasuk di antaranya adalah akibat efek samping terapi, radioterapi, pembedahan, dan penyakit autoimun. Beberapa penyebab hipotiroidisme yang sering terjadi adalah:

  • Efek samping pengobatan hipertiroidisme. Hipertiroidisme merupakan penyakit yang menyebabkan seseorang memproduksi hormon tiroid berlebihan dari kadar normal. Pengobatan hipertiroidisme seringkali menggunakan iodin radioaktif dan obat-obatan antitiroid. Akan tetapi, terkadang muncul efek samping dari pengobatan tersebut yang justru menyebabkan seseorang terkena hipotiroidisme.
  • Pembedahan tiroid. Pembedahan kelenjar tiroid dapat menyebabkan seseorang kehilangan sebagian kelenjar tiroid. Hal itu mengakibatkan produksi hormon tiroid menjadi terhambat sehingga terkena hipotiroidisme, serta perlu mendapatkan hormon tiroid seumur hidupnya.
  • Efek samping obat-obatan. Beberapa efek samping dari obat-obatan dapat menyebabkan hipotiroidisme, contohnya adalah obat lithium yang digunakan untuk mengobati gangguan kejiwaan.
  • Radioterapi. Radioterapi, khususnya yang diberikan ke daerah leher, dapat mengganggu kinerja kelenjar tiroid dan menyebabkan hipotiroidisme.
  • Penyakit autoimun. Penyakit autoimun, terutama penyakit tiroiditis Hashimoto, merupakan penyebab hipotiroidisme paling umum. Penyakit autoimun Hashimoto akan menyebabkan sistem imun menyerang tubuh sendiri, khususnya kelenjar tiroid. Hal tersebut menyebabkan produksi hormon tiroid terganggu sehingga memicu hipotiroidisme. Belum dapat dijelaskan penyebab utama penyakit autoimun tersebut.

Beberapa penyebab hipotiroidisme yang mungkin terjadi, namun jarang muncul adalah:

  • Kelainan kongenital. Beberapa bayi dilahirkan dengan kelainan pada kelenjar tiroidnya atau bahkan tidak memiliki kelenjar tiroid sama sekali. Pada beberapa kasus, bayi lahir dengan kelenjar tiroid, namun tidak berkembang dengan baik seiring bertambahnya usia bayi. Bayi dengan kelainan tiroid kongenital seringkali terlihat normal pada awal pertumbuhan.
  • Kekurangan yodium. Yodium (iodin) diperlukan untuk membuat hormon T3 dan T4. Kekurangan yodium dapat memicu hipotiroidisme. Sebaliknya juga, terlalu banyak mengonsumsi yodium juga justru dapat memicu hipotiroidisme.
  • Kelainan kelenjar hipofisis. Kekurangan hormon TSH yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis dapat menyebabkan hipotiroidisme. Kasus kelainan ini seringkali disebabkan oleh tumor jinak di kelenjar hipofisis.
  • Kehamilan. Beberapa wanita hamil dapat mengalami hipotiroidisme selama atau setelah masa kehamilan (hipotiroidisme postpartum). Hipotiroidisme postpartum disebabkan oleh antibodi ibu hamil yang justru menyerang tubuh sendiri, termasuk kelenjar tiroid. Jika tidak diobati, hipotiroidisme pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan preeklampsia.

Hal-hal yang menyebabkan seseorang memiliki risiko lebih besar untuk terkena hipotiroidisme adalah:

  • Berjenis kelamin wanita dengan usia di atas 60 tahun.
  • Memiliki penyakit autoimun.
  • Hamil atau melahirkan dalam waktu 6 bulan terakhir.
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat kelainan tiroid.
  • Pernah mendapatkan pengobatan dengan menggunakan iodin radioaktif atau obat antitiroid.
  • Pernah mendapatkan radioterapi ke daerah leher atau dada bagian atas.
  • Pernah mengalami pembedahan tiroid (tiroidektomi parsial).

Diagnosis Hipotiroidisme

Beberapa metode yang dapat digunakan dan dikombinasikan untuk mendiagnosis hipotiroidisme. Di antaranya adalah:

  • Tes darah untuk mengukur kadar T4 dan TSH dalam darah. Kadar T4 yang sangat rendah dalam darah dapat menunjukkan adanya kondisi hipotiroidisme pada diri seseorang. Pada beberapa kasus, kadar T4 dalam darah seseorang masih dalam angka normal, akan tetapi terjadi peningkatan TSH. Kondisi tersebut dinamakan hipotiroidisme ringan atau hipotiroidisme subklinikal. Angka normal TSH adalah 0,4-4,2 mIU/L. Sedangkan pada penderita hipotiroidisme subklinikal, angka TSH dalam darah biasanya berkisar antara 4,5-10,0 mIU/L.
  • Pemeriksaan tiroid rutin (skrining). Pemeriksaan tiroid sangat dianjurkan bagi orang yang memiliki risiko terkena hipotiroidisme. Pemeriksaan tiroid pada bayi yang baru lahir berguna agar hipotiroidisme diketahui sejak awal dan mencegah keterlambatan pertumbuhan bayi. Beberapa orang yang juga dianjurkan menjalani pemeriksaan tiroid rutin yaitu:
    • Wanita hamil.
    • Wanita di atas 60 tahun.
    • Penderita diabetes tipe 1.
    • Penderita penyakit autoimun.
    • Penerima radiasi ke daerah leher.
  • Biopsi jarum tipis. Biopsi jarum tipis untuk memeriksa kelenjar tiroid dapat membantu diagnosis hipotiroidisme. Target pelaksanaan biopsi tiroid adalah untuk mengetahui keberadaan nodul pada tiroid yang menjadi tanda klinis hipotiroidisme, eutiroidisme, dan hipertiroidisme. Nodul pada tiroid seringkali ditemukan pada pemeriksaan menggunakan CT scan, MRI, dan foto Rontgen dada. Biopsi dapat dibantu dengan menggunakan ultrasonografi.

Pengobatan Hipotiroidisme

Hipotiroidisme utamanya diobati menggunakan levotiroksin, yang merupakan hormon T4 sintetis, dan diberikan dalam bentuk oral. Fungsi dari levotiroksin adalah untuk mengembalikan kadar hormon tiroid ke kondisi normal sehingga dapat meredakan gejala-gejala hipotiroidisme. Dalam waktu satu-dua minggu pengobatan, biasanya perubahan gejala-gejala akan terasa membaik. Selain itu, pengobatan menggunakan levotiroksin juga akan menurunkan kadar kolesterol sehingga dapat menurunkan berat badan. Pengobatan menggunakan levotiroksin biasanya diberikan kepada pasien seumur hidup, namun dosisnya dapat disesuaikan oleh dokter sambil memantau kadar hormon TSH secara berkala.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama pengobatan menggunakan levotiroksin adalah:

  • Dosis levotiroksin harus tepat. Kelebihan dosis levotiroksin dapat menyebabkan pasien mengalami efek samping berupa peningkatan nafsu makan, insomnia, denyut jantung bertambah cepat, dan kegoyahan badan.
  • Penderita penyakit jantung koroner dan hipotiroidisme berat harus memberitahukan kepada dokter terkait kondisi kesehatan pada saat akan menjalani terapi levotiroksin. Dokter akan memberikan levotiroksin secara bertahap dengan dosis kecil pada awal terapi. Dosis levotiroksin akan ditingkatkan secara perlahan sehingga jantung dapat menyesuaikan kerjanya dengan peningkatan laju metabolisme akibat obat ini.
  • Jangan berhenti untuk mengonsumsi levotiroksin meskipun gejala-gejala hipotiroidisme sudah mereda dan membaik. Gejala hipotiroidisme dapat muncul kembali jika pasien berhenti mengonsumsi obat ini.
  • Penyerapan levotiroksin oleh tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu, dokter harus diberitahu jika pasien yang mengonsumsi levotiroksin juga mengonsumsi makanan dan obat-obatan di bawah ini:
    • Suplemen zat besi atau multivitamin mengandung zat besi.
    • Cholestyramine (obat untuk hiperkolesterolemia).
    • Aluminium hidroksida (obat sakit maag).
    • Suplemen kalsium.

Bagi wanita hamil yang mengalami hipotiroidisme, perlu diperhatikan bahwa dosis levotiroksin yang kemungkinan dibutuhkan akan mengalami peningkatan sekitar 30%. Selain itu selama periode kehamilan dan menyusui, AKG yodium pada wanita akan meningkat dari 0,15 mg/hari menjadi 0,24-0,29 mg/hari. Asosiasi Tiroid Amerika Serikat (American Thyroid Association) merekomendasikan asupan yodium bagi wanita hamil dan menyusui adalah 0,25 mg/hari dalam bentuk garam kalium iodida (KI). Seperti pada penderita hipotiroidisme yang tidak hamil, levotiroksin yang diberikan kepada wanita hamil tidak boleh dikonsumsi bersama dengan suplemen zat besi.

Beberapa efek samping dari pengobatan hipotiroidisme menggunakan levotiroksin adalah:

  • Dapat memicu krisis kelenjar adrenal, terutama bagi penderita gangguan kelenjar adrenal yang belum diobati.
  • Dapat mengganggu kerja jantung jika pengobatan levotiroksin dilakukan secara agresif, terutama pada pasien yang juga menderita penyakit jantung. Untuk menghindarinya, dosis levotiroksin sebaiknya diberikan dalam jumlah sedikit pada awal pengobatan yang ditingkatkan secara perlahan.
  • Diperkirakan dapat memicu osteoporosis, terutama pada penderita yang memiliki risiko dan riwayat osteoporosis.
  • Gangguan penglihatan, gangguan pseudotumor pada otak, dan gangguan psikologis. Namun efek samping ini jarang ditemukan.

Pada penderita hipotiroidisme subklinikal, sangat dianjurkan untuk meningkatkan asupan yodium melalui makanan. Hal ini dikarenakan pemberian levotiroksin bagi penderita hipotiroidisme subklinikal diragukan akan memberikan efek yang baik, melainkan justru dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Komplikasi Hipotiroidisme

Jika tidak diobati dengan baik, hipotiroidisme bisa menyebabkan komplikasi-komplikasi seperti berikut:

  • Gondok. Kelenjar tiroid yang distimulasi terus-menerus dapat menyebabkan pembesaran kelenjar (gondok). Meskipun biasanya tidak memberikan gangguan berarti, gondok yang muncul dan membesar terkadang dapat menghambat pencernaan dan pernapasan. Tiroiditis Hashimoto merupakan penyebab utama terjadinya gondok pada seseorang.
  • Miksedema. Miksedema merupakan komplikasi dari hipotiroidisme jangka panjang yang tidak terdiagnosis dan dapat membahayakan jiwa penderita. Gejala miksedema antara lain adalah tidak tahan suhu dingin, pusing berat, kelelahan berat, kehilangan kesadaran, atau bahkan koma (myxedema coma). Koma akibat miksedema dapat disebabkan oleh obat sedatif, infeksi, dan cekaman pada tubuh. Miksedema harus segera diobati agar nyawa penderita bisa diselamatkan.
  • Kelainan pada bayi. Bayi yang dikandung serta dilahirkan oleh wanita yang mengalami hipotiroidisme akan sangat rentan terkena kelainan sejak lahir. Selain itu, bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita hipotiroidisme dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental.
  • Kemandulan. Hipotiroidisme dapat mengganggu proses ovulasi pada wanita yang menyebabkan kemandulan.
  • Gangguan pada jantung. Hipotiroidisme dapat menyebabkan penyakit jantung dikarenakan penumpukan lemak jahat atau LDL (low density lipoprotein) pada darah penderita hipotiroidisme. LDL akan menyebabkan peningkatan kolesterol dalam darah dan mengganggu kemampuan jantung memompa darah. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya pembesaran jantung, bahkan gagal jantung. Kasus hipotiroidisme ringan juga dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi kolesterol dalam darah.
  • Gangguan mental. Hipotiroidisme dapat menyebabkan perlambatan fungsi mental seseorang, salah satunya adalah depresi. Depresi akibat hipotiroidisme dapat bertambah parah dari waktu ke waktu jika tidak ditangani dengan baik.
  • Gangguan saraf tepi. Hipotiroidisme jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf tepi yang berfungsi untuk membawa impuls saraf dari saraf pusat ke berbagai organ tubuh. Kerusakan saraf tepi dapat ditandai dengan nyeri, kaku, dan kesemutan pada tangan atau kaki. Selain itu, hipotiroidisime juga dapat menyebabkan otot menjadi lemah dan tidak terkontrol.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT