Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hipopituitarisme

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hipopituitarisme adalah kondisi dimana kelenjar pituitari (hipofisis) tak mampu memproduksi satu atau lebih hormon. Hipopituitarisme juga terjadi ketika kelenjar pituitari tak mampu melepaskan cukup hormon, sehingga menyebabkan penderitanya mengalami kekurangan hormon. Kelenjar pituitari adalah kelenjar kecil seukuran kacang yang berada di dasar otak manusia, tepatnya di belakang hidung, di antara kedua mata. Meskipun berukuran kecil, kelenjar ini memproduksi hormon yang mempengaruhi hampir sebagian dari tubuh manusia.

Kelenjar pituitari bertugas mengirimkan sinyal ke kelenjar-kelenjar lain penghasil hormon. Hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari berperan besar dalam menjalankan fungsi tubuh, seperti untuk pertumbuhan, tekanan darah, metabolisme, dan juga reproduksi. Jika salah satu hormon tidak bekerja dengan baik, fungsi tubuh akan terganggu.

Beberapa hormon yang diproduksi kelenjar pituitari meliputi:

  • Adrenocorticotropic hormone (ACTH), memicu kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon yang disebut kortisol, yang mengatur metabolisme dan tekanan darah dalam tubuh.
  • Thyroid stimulating hormone (TSH), merangsang produksi hormon tiroid yang mengatur metabolisme tubuh dan berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
  • Follicle-stimulating hormone (FSH), membantu pertumbuhan folikel ovarium pada wanita dan produksi sperma pada pria. Juga dikenal sebagai gonadotropins atau hormon seksual.
  • Growth hormone (GH), mentimulasi pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh.
  • Luteinizing hormone (LH), mengontrol fungsi seksual pada pria dan wanita.
  • Antidiuretic hormone (ADH), mengontrol tekanan darah dan pengeluaran cairan tubuh melalui ginjal.
  • Prolactin, menstimulasi produksi susu (ASI) dan pertumbuhan payudara.

Penyebab hipopituitarisme

Hilangnya fungsi kelenjar pituitari menyebabkan produksi hormon menjadi rendah, bahkan tidak bisa memproduksi hormon sama sekali. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti tumor, operasi otak, radiasi (terapi untuk mengobati kanker atau tumor), infeksi (misalnya meningitis), atau penyebab lain yang sulit diketahui.

Pada kebanyakan kasus, tumor di kelenjar pituitari memang menjadi penyebab utama hipopituitarisme. Saat tumor di kelenjar pituitari membesar, jaringan pituitari menjadi tertekan dan rusak, sehingga produksi hormon pun terganggu. Tumor juga bisa menekan saraf optik sehingga menyebabkan gangguan pengelihatan.

Selain beberapa hal di atas, ada faktor lain yang bisa memicu terjadinya hipopituitarisme, di antaranya adalah:

  • Cedera kepala,
  • Stroke,
  • Tuberkulosis
  • Mutasi genetik
  • Kehilangan banyak darah saat persalinan (sindroma Sheehan)
  • Penyakit infiltratif, seperti sarkoidosis (gangguan paru-paru), histiositosis X (sel-sel imun menyerang jaringan tubuh), dan hemokromatosis (penumpukan zat besi dalam tubuh).

Gejala hipopituitarisme

Hipopituitarisme terkadang datang secara tiba-tiba tanpa didahului munculnya gejala awitan terlebih dulu. Namun pada sejumlah kasus, ada juga yang muncul secara bertahap. Gejala-gejala penyakit ini bervariasi, tergantung apa yang menjadi penyebabnya, hormon apa yang terpengaruh, dan seberapa parah gangguan yang terjadi pada hormon itu. Berikut adalah beberapa gejala hipopituarisme berdasarkan hormon yang terganggu:

  • Kekurangan hormon ACTH. Gejala yang ditimbulkan antara lain mudah lelah, tekanan darah rendah, berat badan menurun, depresi, mual, dan muntah.
  • Kekurangan hormon GH. Apabila terjadi pada anak-anak, gejala yang ditimbulkan antara lain sulit bertambah tinggi, penumpukan lemak di sekitar pinggang dan wajah, serta gangguan pertumbuhan secara keseluruhan. Sedangkan pada dewasa, gejala yang dapat muncul antara lain tubuh tidak bertenaga, kekuatan dan daya tahan tubuh menurun, berat badan bertambah, massa otot berkurang, serta depresi.
  • Kekurangan hormon TSH. Gejala yang ditimbulkan antara lain susah buang air besar (konstipasi), tidak tahan terhadap suhu dingin, berat badan bertambah, serta otot melemah dan terkadang terasa sakit.
  • Kekurangan hormon FSH dan LH. Pada wanita, kekurangan hormon ini dapat berakibat pada periode datang bulan yang tidak teratur serta kemandulan. Sedangkan pada pria, gejala yang ditimbulkan antara lain hilangnya rambut di wajah atau di bagian tubuh lain, gairah seksual menurun, disfungsi ereksi, serta mandul.
  • Kekurangan hormon prolaktin. Gangguan ini biasanya muncul pada wanita, dengan gejala antara lain produksi ASI yang sangat sedikit, mudah lelah, serta tidak tumbuhnya rambut di ketiak dan kemaluan. Pada pria, kekurangan hormon ini tidak akan menimbulkan gejala apapun.
  • Kekurangan hormon ADH. Gejala yang dapat terjadi antara lain adalah sering merasa haus dan frekuensi buang air kecil menjadi bertambah.

Diagnosis hipopituitarisme

Sebelum memberikan pengobatan kepada pasien hipopituitarisme, dokter akan melakukan tes darah untuk memeriksa kadar hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari. Dokter mungkin akan memberikan pengobatan khusus sebelum tes darah untuk merangsang tubuh sang pasien agar memproduksi salah satu hormon. Pengobatan khusus ini akan membantu dokter dalam mengetahui kondisi dan fungsi kelenjar pituitari dalam diri sang pasien.

Ketika dokter telah mengetahui hormon mana yang bermasalah, dokter akan memeriksa bagian tubuh pasien yang dipengaruhi oleh hormon tersebut untuk memastikan masalah yang terjadi. Pemeriksaan itu harus dilakukan karena pada sejumlah kasus masalah utamanya bukan terjadi pada hormon, namun justru pada organ tubuh yang berhubungan langsung dengan hormon yang diduga bermasalah itu.

Selain tes-tes yang telah disebutkan di atas, dokter kemungkinan akan menyarankan pasien untuk melakukan tes MRI, tes CT Scan, serta tes penglihatan. Serangkaian tes itu dapat membantu dokter untuk memastikan apakah masalah yang terjadi pada fungsi kelenjar pituitari disebabkan oleh tumor.

Pengobatan hipopituitarisme

Ada beberapa jenis pengobatan untuk menangani kasus hipopituitarisme. Pertama, dengan cara mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter. Obat-obatan ini berfungsi sebagai pengganti hormon yang tidak bisa diproduksi dengan baik oleh kelenjar pituitari. Dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh pasien.

Kedua, dokter mungkin akan melakukan operasi atau memberikan radioterapi kepada pasiennya jika gangguan pada kelenjar pituitari disebabkan oleh tumor. Secara keseluruhan, pengobatan ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi dan level hormon pituitari ke kondisi normal, sehingga tidak ada lagi masalah kekurangan hormon.

Pengobatan hipopituarisme seringkali merupakan pengobatan seumur hidup. Namun dengan konsumsi obat secara tepat sesuai anjuran dokter, gejala-gejala akan dapat terkontrol dengan baik dan pasien dapat hidup secara normal.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT