Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hipospadia

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hipospadia adalah kondisi di mana uretra tidak berada di posisi yang normal. Uretra merupakan sebuah saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan ujung penis. Dalam kondisi normal, lubang uretra terletak tepat di ujung penis untuk mengeluarkan urine. Tetapi pada pengidap hipospadia, lubang uretra justru berada di bagian bawah penis.

Hipospadia termasuk kelainan bawaan yang artinya diderita sejak lahir yang cukup umum terjadi. Kondisi ini dapat bersifat ringan, yakni apabila ujung uretra hanya bergeser sedikit dari posisi normalnya, atau bisa jadi parah apabila ujung uretra berada jauh dari posisi normal, misalnya di dekat skrotum atau buah zakar.

Selain proses berkemih yang sedikit berbeda dengan orang normal, hipospadia juga dapat menyebabkan kelainan bentuk penis. Penis dapat melengkung ke arah bawah akibat tarikan kulit di sekitar uretra. Kondisi ini mampu berdampak pada rasa percaya diri seorang pria.

Prosedur operasi biasanya akan mampu memperbaiki bentuk penis hingga kembali ke posisi normal. Dengan penanganan yang tepat, pria dengan hipospadia umumnya dapat menjalan fungsi berkemih dan aktivitas reproduksi secara normal.

Gejala dan Komplikasi Hipospadia

Kondisi hipospadia yang dialami tiap penderita berbeda-beda. Tingkat keparahannya tergantung kepada lokasi lubang uretra. Pada umumnya, lubang uretra pada pengidap hipospadia terletak di dekat ujung penis. Tetapi ada juga pengidap dengan lubang uretra yang terletak di bagian tengah atau pangkal penis (dekat skrotum). Posisi kedua inilah yang disebut hipospadia parah.

Di luar letak lubang uretra, gejala-gejala hipospadia lainnya cenderung terlihat mirip. Di antaranya adalah:

  • Kulup yang terlihat menaungi ujung penis. Ini terjadi karena kulup tidak berkembang di bagian bawah penis.
  • Penis yang melengkung ke bawah akibat terjadinya pengencangan jaringan di bawah penis.
  • Percikan abnormal yang terjadi saat buang air kecil.

Bawalah anak Anda ke dokter jika Anda melihat gejala-gejala di atas pada anak Anda, terutama lokasi lubang uretra yang abnormal.

Jika tidak ditangani dengan benar, maka penderita hipospadia dapat terkena beberapa komplikasi seperti:

  • Gangguan akibat ejakulasi tidak normal.
  • Anak kesulitan untuk belajar buang air kecil di kamar kecil.
  • Penis melengkung tidak normal saat ereksi.
  • Bentuk penis tidak normal.
  • Gangguan psikologis, karena penderita cenderung tidak percaya diri karena kondisi alat vitalnya

Penyebab dan Faktor Risiko Hipospadia

Hipospadia adalah kelainan yang terjadi sejak lahir. Sama seperti cacat lahir pada umumnya, penyebab perkembangan abnormal pada penis ini belum diketahui secara pasti.

Pembentukan penis selama bayi berada dalam rahim ditentukan oleh beberapa hal, salah satunya adalah hormon seks laki-laki, yakni testosteron. Hipospadia diduga disebabkan oleh terhambatnya kerja hormon testosteron tersebut, sehinga pertumbuhan penis menjadi terganggu.

Terdapat beberapa faktor yang diduga dapat memicu hipospadia. Salah satunya adalah riwayat keluarga. Hipospadia memang bukan penyakit keturunan, tapi kondisi ini terkadang dapat terjadi pada bayi yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.

Di samping keturunan, faktor-faktor pemicu lain diperkirakan juga bisa berdampak kepada perkembangan janin pada masa kehamilan. Misalnya pengaruh usia ibu yang di atas 40 tahun saat hamil dan pajanan rokok atau senyawa kimiawi selama kehamilan, terutama pestisida.

Diagnosis dan Penanganan Hipospadia

Hipospadia umumnya dapat didiagnosis segera setelah bayi dilahirkan. Diagnosis ini bisa dilakukan melalui pemeriksaan fisik pada penis dan tidak membutuhkan tes-tes lain.

Namun hipospadia yang parah membutuhkan pemeriksaan lebih mendetail untuk memastikan ada atau tidaknya keabnormalan pada alat kelamin pengidap. Karena itu, dokter akan menganjurkan penderita untuk menjalani tes kromosom dan proses pemindaian area genital.

Meski positif didiagnosis hipospadia, bayi atau anak Anda belum tentu membutuhkan penanganan medis. Hal ini tergantung pada tingkat keparahan hipospadia yang dialami.

Beberapa tujuan dari penanganan hipospadia adalah membuat urine mengalir keluar melalui ujung depan penis, membuat penis tidak membengkok ketika ereksi, dan membuat penis terlihat senormal mungkin.

Jika lubang uretra terletak sangat dekat dari lokasi yang seharusnya dan bentuk penis tidak melengkung, penanganan medis secara khusus kemungkinan tidak diperlukan. Tetapi jika lubang uretra berada jauh dari lokasi yang seharusnya, operasi pemindahan uretra perlu dilakukan.

Operasi ini bisa dijalani kapan saja, tapi masa idealnya adalah saat anak berusia empat bulan hingga 1,5 tahun. Dalam prosedur ini, dokter bedah akan memosisikan uretra pada lokasi yang seharusnya. Begitu juga dengan bentuk penis yang melengkung ke bawah karena pertumbuhan kulup yang tidak normal, dokter akan memperbaiki sehingga penis kembali ke bentuk yang normal.

Ahli bedah mungkin juga akan membutuhkan cangkok jaringan tubuh yang diambil dari kulup atau bagian dalam mulut untuk merekonstruksi saluran urine, jika lubang uretra berada di dekat pangkal penis. Perlu diingat bahwa jaringan dari kulup biasanya diperlukan dalam operasi ini. Karena itu, hindari proses sunat sebelum prosedur rekonstruksi ini dilakukan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT