Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hipoksia

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 22 kali

Hipoksia adalah kondisi kurangnya pasokan oksigen bagi tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya. Hipoksia bisa merupakan kondisi lanjutan dari hipoksemia, yaitu rendahnya pasokan oksigen pada pembuluh darah bersih (pembuluh arteri).

Hipoksia merupakan kondisi berbahaya, karena otak, hati, dan organ lainnya bisa rusak dengan cepat ketika tidak mendapat oksigen yang cukup. Kondisi ini juga bisa terjadi pada bayi prematur, disebabkan paru-parunya belum berkembang sempurna.

Kita juga harus selalu waspada akan hipoksia saat berada pada lingkungan dengan kadar oksigen rendah seperti pegunungan, dalam penerbangan, berada di dalam air, atau di area kebakaran.

Gejala Hipoksia

Gejala hipoksia bisa mendadak muncul, cepat memburuk (akut), atau bersifat kronis. Berikut ini beberapa gejala hipoksia yang umumnya terjadi:

  • Napas pendek.
  • Kebingungan.
  • Berkeringat.
  • Kulit berubah warna, menjadi biru atau merah keunguan.
  • Sesak napas.
  • Halusinasi.
  • Batuk-batuk.
  • Kelelahan.
  • Detak jantung cepat.
  • Napas berbunyi (mengi).

Hipoksia juga bisa menimbulkan komplikasi jika terjadi kesalahan dalam penanganannya. Pemberian oksigen berlebihan justru bisa meracuni jaringan tubuh atau biasa disebut hiperoksia. Hal ini bisa menyebabkan:

  • Katarak.
  • Vertigo.
  • Kejang-kejang.
  • Perubahan perilaku.
  • Pneumonia.

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Sekalipun gejala-gejala lanjutan sudah hilang, Anda tetap dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab Hipoksia

Seringkali, munculnya hipoksia disebabkan oleh hipoksemia. Namun, bisa juga terjadi sebaliknya. Selain hipoksemia, beberapa hal yang bisa menyebabkan hipoksia adalah:

  • Keracunan gas atau zat kimia.
  • Rendahnya kadar oksigen.
  • Gangguan jantung berupa detak jantung melambat cukup parah (severe bradycardia) dan kontraksi bilik jantung (ventrikel) terlalu cepat dan tidak teratur (ventricular fibrillation).
  • Gangguan paru-paru, contohnya penyakit paru obstruktif kronik, bronkitis, emfisema, kanker paru-paru, pneumonia, asma, edema pulmonari, dan sleep apnea.
  • Berhenti atau berkurangnya aliran darah menuju organ tertentu.
  • Obat-obatan apa pun yang mengganggu atau menghentikan napas.
  • Anemia atau kondisi yang merusak sel darah merah.

Diagnosis dan Pengobatan Hipoksia

Ada dua cara yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis hipoksia pada pasien, yaitu:

  • Analisa gas darah. Sampel darah dari pembuluh arteri diperiksa untuk mengetahui kadar oksigen yang terikat di sel darah merah.
  • Pemasangan monitor oksigen, pada jari atau telinga penderita untuk mendeteksi kadar oksigen dalam darah.
  • Tes fungsi paru. Tes ini dilakukan untuk mengetahui penyebab berkurangnya oksigen dalam tubuh.

Jika merasa terkena hipoksia, Anda harus segera ke rumah sakit agar kadar oksigen dalam tubuh bisa dimonitor dan mendapatkan penanganan secepatnya. Ada beberapa pengobatan yang akan dilakukan dokter bagi para penderita hipoksia, yaitu:

  • Memasok oksigen ke dalam tubuh. Tubuh penderita hipoksia akan dipasok oksigen menggunakan selang atau masker oksigen. Semakin cepat kadar oksigen dalam tubuhnya kembali normal, semakin kecil risiko kerusakan organ tubuh.
  • Ruang hiperbarik. Penderita hipoksia yang disebabkan oleh keracunan karbonmonoksida biasanya akan dimasukkan ke dalam ruang hiperbarik, yang berfungsi meningkatkan okigen dalam darah.
  • Intubasi. Membuat saluran udara mekanis yang berfungsi untuk menyalurkan oksigen dengan kadar di atas normal.

Pencegahan hipoksia dapat dilakukan dengan cara menghindari kondisi yang menurunkan kadar oksigen, atau secepatnya memberikan pasokan oksigen sebelum hipoksia muncul. Hipoksia yang disebabkan oleh asma bisa dihindari dengan cara mengikuti terapi asma yang sudah diresepkan oleh dokter. Terapi tersebut juga bisa membantu pasien mengendalikan asma.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT