Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hipertensi Pulmonal

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hipertensi pulmonal adalah naiknya tekanan di dalam pembuluh arteri paru akibat terhambatnya aliran darah yang melalui paru. Kondisi ini juga dapat mengakibatkan otot jantung bagian kanan melemah mengalami gagal fungsi jika tidak segera ditangani.

Kondisi-Kondisi Penyebab Hipertensi Pulmonal

Naiknya tekanan darah yang memicu hipertensi pulmonal disebabkan oleh penyumbatan, penyempitan, atau kerusakan yang terdapat di dalam pembuluh darah kecil atau pembuluh darah kapiler di dalam paru.

Beberapa kondisi kesehatan juga dapat menyebabkan hipertensi pulmonal, antara lain penyakit jantung bawaan, emfisema (penyakit paru-paru), dan terdapatnya penggumpalan darah di paru-paru.

Mendiagnosis Hipertensi Pulmonal

Hipertensi pulmonal jarang terdiagnosis pada stadium awal karena sering tidak ditemukan ketika pemeriksaan fisik rutin. Pada stadium lanjut, penyakit ini memiliki gejala yang serupa dengan penyakit jantung dan paru lainnya. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan, yaitu tes darah, tes genetik, elektrokardiogram (EKG), ekokardiogram, X-ray, CT scan, MRI scan, V/Q scan, polisomnogram, hingga prosedur biopsi atau kateterisasi jantung. Selain kondisi paru-paru, pemeriksaan-pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi jantung, penyebab, memastikan diagnosis dan menentukan tingkat keparahan hipertensi pulmonal.

Faktor Risiko Berkembangnya Hipertensi Pulmonal

Selain penyakit, hipertensi pulmonal dapat terjadi juga pada orang-orang yang memiliki sejarah penyakit ini dalam keluarganya. Penderita kelebihan berat badan juga memiliki risiko terkena penyakit ini.

Risiko terkena hipertensi pulmonal juga dimiliki oleh kelompok usia remaja dewasa, pengguna obat-obat terlarang, obat penekan nafsu makan, dan seseorang yang bertempat tinggal di dataran tinggi.

Mengurangi Risiko Hipertensi Pulmonal

Sebagian besar kasus hipertensi pulmonal merupakan kasus yang sulit disembuhkan. Sehingga pengobatan akan lebih difokuskan untuk mengurangi gejala-gejala atau mengobati sumber penyakit awal yang menjadi pemicu. Jika tidak segera ditangani, hipertensi pulmonal dapat menyebabkan munculnya komplikasi berupa pendarahan pada paru-paru atau pembengkakan pada jantung.

Perubahan gaya hidup, seperti pilihan makanan yang sehat dan seimbang dan melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kemampuan tubuh dapat membantu mengurangi risiko penyakit ini. Menghentikan kebiasaan yang buruk bagi kesehatan, seperti merokok juga dapat membantu menjaga kesehatan paru-paru. Pemeriksaan kesehatan rutin juga dapat membantu Anda mengetahui kondisi tubuh dan mengenali gejala penyakit lebih dini.

Jantung memiliki dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel) yang dilalui darah dari dan menuju seluruh tubuh. Sebelum dikembalikan ke seluruh tubuh, bilik kanan jantung akan memompa darah ke dalam paru-paru melalui pembuluh arteri paru (pulmonal) untuk melepaskan kandungan karbondioksida dan mengangkut oksigen. Pada kondisi tubuh yang baik, darah dapat mengalir dengan mudah melalui pembuluh darah yang ada di paru-paru. Namun pada kasus hipertensi pulmonal, terjadi perubahan pada pembuluh darah paru-paru sehingga darah dan oksigen tidak dapat mengalir dengan baik.

Hipertensi pulmonal disebabkan oleh terjadinya penyempitan, penyumbatan, atau kerusakan pada pembuluh darah kecil dan pembuluh kapiler yang memicu naiknya tekanan darah dalam pembuluh. Tekanan darah yang tinggi kemudian membuat dinding pembuluh darah menjadi tebal, kaku, meradang, tegang, atau memicu tumbuhnya jaringan tambahan yang berujung pada berkurangnya aliran darah. Hipertensi pulmonal dapat disebabkan oleh beberapa kondisi berikut:

  • Grup 1: Hipertensi arteri pulmonal. Dikenal juga dengan istilah hipertensi pulmonal arteri idiopati, yaitu kenaikan tekanan yang berkelanjutan pada pembuluh darah paru-paru yang tidak diketahui penyebabnya. Beberapa kondisi yang diduga menjadi pemicu kondisi ini, antara lain mutasi genetik yang bersifat turun-menurun di dalam keluarga, obat-obatan metamfetamine, dan penyakit jantung bawaan.
  • Grup 2: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit jantung bagian kiri, seperti berbagai jenis penyakit katup jantung bagian kiri dan gangguan atau gagal fungsi pada bilik kiri jantung.
  • Grup 3: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit paru-paru. Beberapa gangguan yang dialami oleh paru-paru dapat memicu naiknya tekanan darah, seperti penyakit paru obstruktif kronis (emfisema), gangguan tidur (apnea tidur), dan fibrosis pulmonal. Seseorang yang terlalu lama tinggal di dataran tinggi juga memiliki risiko mengidap hipertensi pulmonal.
  • Grup 4: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penggumpalan darah kronis di paru-paru atau chronic thromboembolic pulmonary hypertension.
  • Grup 5: Hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh kondisi terkait lain yang juga tidak diketahui penyebabnya, seperti gangguan darah, gangguan metabolisme, serta tumor yang menekan pembuluh arteri paru-paru. Gangguan yang memengaruhi fungsi organ tubuh lain juga dapat memicu hipertensi pulmonal, seperti sarkoidosis.

Hipertensi pulmonal juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan kondisi paru-paru bayi yang tidak berkembang dengan baik ketika lahir (severe pulmonary hypoplasia). Kondisi lainnya yang mungkin berkaitan adalah hipoglikemia, sepsis, dan sindrom aspirasi mekonium atau bayi baru lahir yang menghirup cairan plasenta atau kotoran si bayi (mekonium).

Penyebab lain dari hipertensi pulmonal adalah sindrom Eisenmenger. Kondisi ini adalah salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang umumnya disebabkan oleh adanya lubang besar di antara kedua bilik jantung. Sindrom Eisenmenger menyebabkan darah yang mengandung oksigen bercampur dengan darah yang tidak mengandung oksigen dan kemudian kembali ke paru yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh Kondisi ini membuat tekanan darah pada pembuluh darah paru-paru meningkat, memicu hipertensi pulmonal.

Selain dipicu oleh kondisi kesehatan yang terganggu, hipertensi pulmonal juga dapat dipicu oleh beberapa faktor risiko berikut:

  • Kelebihan berat badan
  • Sejarah penyakit ini di dalam riwayat keluarga
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Mengonsumsi obat-obatan penekan nafsu makan
  • Kasus hipertensi pulmonal arteri idiopati umumnya ditemukan pada golongan usia remaja dewasa
  • Mengidap salah satu dari kondisi kesehatan yang telah disebutkan di atas atau gangguan kesehatan lainnya
  • Hidup di dataran tinggi

Penderita hipertensi pulmonal kemungkinan tidak menyadari gejala awal dari kondisi ini. Gejalanya bahkan berisiko tidak dapat dikenali selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Gejala hipertensi pulmonal akan bertambah buruk dan mulai terlihat seiring penyakit ini berkembang. Beberapa gejala hipertensi pulmonal yang patut diperhatikan, yaitu:

  • Kelelahan
  • Napas yang pendek atau terputus-putus, awalnya timbul tiap melakukan latihan fisik dan memburuk hingga timbul saat sedang beristirahat
  • Tekanan atau rasa sakit di area dada
  • Rasa sakit pada area kanan perut
  • Nafsu makan yang berkurang
  • Pusing atau pingsan
  • Jantung berdebar (palpitasi)
  • Pembengkakan di area pergelangan, tungkai, dan area perut
  • Warna bibir atau kulit yang kebiruan

Gejala hipertensi pulmonal dapat membatasi kegiatan Anda. Gejala-gejala penyakit ini juga dapat memburuk hingga Anda tidak dapat melakukan aktivitas harian Anda seperti biasanya. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan terapi sedini mungkin untuk mencegah perburukan penyakit.

Diagnosis hipertensi pulmonal umumnya jarang ditemukan dalam stadium awal karena jarang ditemukan ketika pemeriksaan fisik rutin. Pada stadium lanjut, penyakit ini juga sulit ditemukan karena gejalanya yang menyerupai penyakit jantung dan paru lainnya. Pada awal pemeriksaan, dokter mungkin akan menanyakan tentang gejala yang dialami, riwayat penyakit yang sama dalam keluarga, riwayat medis penderita serta obat-obat yang sedang dikonsumsi oleh penderita. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dengan melihat pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki dan mendengarkan suara jantung dan napas menggunakan stetoskop.

Beberapa pemeriksaan awal dan tes penunjang yang mungkin direkomendasikan dokter untuk memastikan diagnosis dan mengetahui tingkat keparahan hipertensi pulmonal, yaitu:

  • Pemeriksaan darah dilakukan untuk memeriksa keberadaan zat tertentu pada darah yang mengindikasikan hipertensi pulmonal atau komplikasinya, maupun penyakit lain.
  • Pemeriksaan fungsi paru-paru dilakukan untuk mengetahui daya tahan paru-paru terhadap udara dan sebaik apa aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paru melalui sebuah alat yang bernama spirometer.
  • Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) akan menunjukkan gelombang listrik dari jantung pasien. Elektrokardiogram pada penderita hipertensi pulmonal akan memperlihatkan gejala-gejala berupa denyut jantung tidak beraturan, ketegangan, atau pembengkakan bilik jantung.
  • Pemeriksaan X-ray pada dada juga dapat menunjukkan adanya pembengkakan pada bilik kanan jantung atau pembuluh darah paru-paru yang merupakan gejala dari hipertensi pulmonal.
  • Pemeriksaan ekokardiogram menghasilkan gambar melalui gelombang suara untuk mengetahui ukuran dan seberapa baik jantung, termasuk ketebalan dinding bilik kanan jantung. Pasien juga mungkin melakukan ekokardiogram sebelum dan sesudah aktivitas fisik untuk mengetahui sebaik apa kinerja jantung dan paru-paru dalam tekanan, serta terhadap kandungan karbondioksida dan oksigen.
  • Kateterisasi jantung bagian kanan umumnya dilakukan setelah pasien menjalani pemeriksaan ekokardiogram untuk memastikan diagnosis hipertensi pulmonal sekaligus mengetahui tingkat keparahan kondisi ini. Prosedur ini juga digunakan untuk mengetahui efek pengobatan yang berbeda terhadap hipertensi pulmonal yang telah digunakan. Pada prosedur ini, kateter akan dimasukkan ke bilik kanan jantung melalui sebuah pembuluh di daerah leher atau pangkal paha.
  • CT scan dan MRI scan digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari ukuran dan fungsi organ jantung, penggumpalan pada pembuluh darah, dan aliran darah pada pembuluh darah paru-paru.
  • Polisomnogram digunakan untuk mengamati tekanan darah dan oksigen, denyut jantung, dan aktivitas otak selama pasien tertidur. Alat ini juga digunakan untuk mengenali gangguan tidur, seperti apnea tidur.
  • V/Q scan atau ventilation-perfusion scan dilakukan dengan cara memasukkan alat pelacak ke dalam pembuluh di tangan melalui suntikan. Alat akan melacak aliran darah dan udara ke paru-paru dan mendeteksi apakah terdapat gumpalan darah yang menyebabkan hipertensi pulmonal.
  • Biopsi paru terbuka untuk mengambil contoh jaringan paru-paru dengan cara membuat irisan di antara tulang rusuk. Prosedur ini umumnya dilakukan karena prosedur biopsi lain tidak berhasil atau tidak memungkinkan untuk dilakukan, atau jaringan yang diperlukan berukuran terlalu besar.
  • Tes genetik dilakukan untuk mengetahui apakah pasien memiliki gen yang sama dengan anggota keluarga lain setelah dokter meninjau sejarah penyakit hipertensi pulmonal di dalam riwayat keluarga. Dokter mungkin menyarankan tes genetik pada anggota keluarga lainnya jika hasil tes Anda positif.

Beberapa klasifikasi diagnosis hipertensi pulmonal yang dapat diberikan kepada pasien setelah dokter mendapatkan hasil dari rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan adalah:

  • Kelas 1. Penderita didiagnosis menderita hipertensi pulmonal, namun tanpa disertai gejala dan masih dapat beraktivitas dengan normal.
  • Kelas 2. Penderita yang mengalami gejala kelelahan, napas yang terputus-putus, atau sakit dada ketika melakukan aktivitas normal, namun tidak pada saat sedang beristirahat.
  • Kelas 3. Penderita yang mengalami gejala saat melakukan aktivitas fisik yang lebih ringan dari normal, namun tetap normal atau tidak mengalami gejala saat sedang beristirahat.
  • Kelas 4. Penderita mengalami gejala, baik saat melakukan aktivitas fisik maupun saat beristirahat.

Sebagian besar kasus hipertensi pulmonal merupakan kasus yang tidak bisa disembuhkan sehingga pengobatan hipertensi pulmonal ditujukan untuk meredakan gejala-gejalanya. Pengobatan yang dimulai lebih awal juga membantu mencegah kerusakan permanen pada pembuluh darah paru-paru. Pengobatan hipertensi pulmonal umumnya memerlukan tindak lanjut dengan cakupan yang lebih luas dan pilihan pengobatan yang benar-benar sesuai dengan kondisi pasien. Pengidap hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh penyakit lain umumnya akan melalui pengobatan untuk penyakit yang memicu kondisi ini terlebih dahulu. Beberapa pilihan prosedur pengobatan yang ada, yaitu:

  • Vasodilator, golongan obat yang berfungsi melebarkan pembuluh darah. Diberikan menggunakan kateter yang dimasukkan ke kulit, suntikan, sebagai obat inhaler, atau obat oral. Beberapa obat yang termasuk sebagai vasodilator dan digunakan untuk mengatasi kondisi ini, antara lain epoprostenol, iloprost, dan trepostinil. Efek samping yang mungkin muncul adalah sakit rahang, mual, diare, kram, pusing, serta sakit atau infeksi di sekitar area suntikan.
  • Sildenafil dan tadalafil, yaitu obat yang berfungsi membuka pembuluh darah paru-paru agar darah dapat mengalir dengan lebih mudah. Efek samping yang mungkin muncul adalah sakit kepala, gangguan pada perut, dan gangguan penglihatan.
  • Penghambat kalsium berdosis tinggi, adalah obat yang berfungsi melemaskan otot pembuluh darah dan hanya ampuh pada sebagian penderita hipertensi pulmonal. Beberapa obat yang termasuk ke golongan ini, antara lain nifedipine, diltiazem, dan amlodipine.
  • Perangsang enzim guanylate siklase yang dapat larut, adalah obat yang berinteraksi dengan nitric oksida untuk membantu melemaskan dan mengurangi tekanan pada pembuluh darah paru-paru. Efek samping yang mungkin muncul, adalah pusing dan mual. Obat ini tidak direkomendasikan untuk pasien wanita hamil.
  • Penghambat reseptor endothelin, adalah obat yang berfungsi menghambat terjadinya penyempitan yang disebabkan oleh suatu protein pada dinding pembuluh darah. Beberapa obat yang termasuk ke golongan ini, antara lain macitentan, ambrisentan, dan bosentan. Efek samping yang mungkin muncul, adalah kerusakan organ hati dan memburuknya gejala. Obat ini tidak direkomendasikan untuk pasien wanita hamil.
  • Antikoagulan, adalah obat yang berfungsi menghambat terbentuknya gumpalan darah. Warfarin adalah salah satu antikoagulan yang umumnya digunakan, namun penggunaannya perlu diwaspadai karena turut meningkatkan risiko terjadinya pendarahan. Beberapa obat, makanan, dan bahan herbal memiliki interaksi jika dikonsumsi dengan warfarin. Pastikan dokter Anda mengetahui informasi obat lain yang sedang dikonsumsi sebelum menggunakan warfarin.
  • Diuretik, adalah obat yang berfungsi mengurangi cairan di dalam tubuh dan membatasi penumpukan cairan di dalam paru-paru. Obat ini membantu mengurangi kerja jantung dan biasanya cairan akan dikeluarkan melalui pembuangan urine. Efek samping yang muncul adalah gangguan ringan pada perut, tekanan darah menurun tiba-tiba sesaat setelah terjadi perubahan posisi tubuh, ruam, pusing, dan mulut kering.
  • Digoxin, adalah obat yang berfungsi membantu jantung memompa lebih banyak darah dan mengendalikan denyut jantung.
  • Oksigen murni yang dihirup dapat membantu penderita hipertensi pulmonal yang hidup di dataran tinggi dan bisa digunakan juga pada penderita apnea tidur sebagai oksigen pelengkap atau suplemen.
  • Prosedur bedah terbuka jantung septostomi atrial untuk meredakan tekanan pada bagian kanan jantung. Prosedur ini dilakukan sebagai pilihan selain obat-obatan dan dilakukan dengan cara membuat bukaan pada bagian bilik atas kiri dan kanan jantung. Efek samping yang mungkin muncul adalah ritme jantung yang tidak normal.
  • Transplantasi paru-paru atau jantung mungkin diperlukan pada kasus yang berisiko atau pada penderita hipertensi pulmonal arteri idiopati. Prosedur ini juga memiliki risiko yang dapat membahayakan pasien, yaitu penolakan tubuh terhadap organ atau infeksi yang serius.

Perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengurangi gejala hipertensi pulmonal dan menjaga kondisi kesehatan Anda. Langkah-langkah berikut dapat membantu Anda memulai perubahan gaya hidup menjadi lebih baik.

  • Istirahat secukupnya dapat membantu mengurangi gejala kelelahan akibat hipertensi pulmonal.
  • Aktivitas fisik tingkat menengah dapat membantu agar badan tetap aktif, seperti jalan kaki ringan. Diskusikan dengan dokter terlebih dulu sebelum memilih dan melakukan kegiatan fisik atau olahraga.
  • Hindari melakukan aktivitas yang dapat menurunkan tekanan darah, seperti mandi dengan air panas atau sauna, dan aktivitas fisik yang mengakibatkan otot menjadi tegang dalam waktu yang terlalu lama.
  • Hindari berada terlalu lama atau tinggal di tempat dengan ketinggian 2,400 meter atau lebih karena dapat memperburuk gejala hipertensi pulmonal.
  • Mulai mengurangi atau hentikan kebiasaan merokok, termasuk menghirup asap rokok. Anda bisa mendiskusikan langkah-langkah berhenti merokok dengan dokter untuk membantu memulai langkah ini.
  • Mulailah diet makan sehat yang diikuti dengan pola makan yang sehat pula untuk menjaga berat badan tetap normal. Pilih dan diskusikan jenis-jenis makanan yang baik untuk tubuh Anda bersama dokter atau ahli gizi.
  • Hamil dapat membahayakan jiwa ibu dengan hipertensi pulmonal dan bayinya. Hindari alat kontrasepsi dalam bentuk pil yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah. Diskusikan dengan dokter mengenai pilihan alat kontrasepsi lain yang sesuai untuk menghindari komplikasi hipertensi pulmonal bagi ibu dan janin.
  • Pelajari dan diskusikan pilihan obat-obatan yang sesuai dengan kondisi fisik dan kesehatan Anda bersama dokter. Beberapa obat dapat memperburuk kondisi Anda jika diminum bersamaan dengan obat-obatan lain yang sedang Anda konsumsi di hari yang sama. Minumlah obat sesuai dengan instruksi yang telah diberikan dan perhatikan juga semua informasi yang tertera pada kemasan obat.
  • Vaksin pneumonia dan influenza dapat direkomendasikan, karena dua penyakit ini dapat memperburuk keadaan penderita hipertensi pulmonal.
  • Pemeriksaan rutin dan dukungan dari keluarga atau teman akan memberikan dampak positif pada penderita hipertensi pulmonal yang merasa tertekan selama proses pengobatan berlangsung. Dokter dapat memantau perkembangan kondisi pasien sementara orang-orang terdekat dapat memberikan semangat bagi pasien. Bergabung dengan sebuah kelompok dukungan yang berisi sesama penderita hipertensi pulmonal juga dapat membuat pasien tetap mendapatkan informasi terkini mengenai penyakit ini.

Selain dapat dipicu oleh memburuknya kondisi kesehatan, hipertensi pulmonal juga dapat memicu gangguan kesehatan lainnya jika tidak segera ditangani. Beberapa komplikasi yang mungkin muncul adalah:

  • Aritmia atau detak jantung tidak beraturan yang terjadi saat jantung bekerja keras memompa darah melalui pembuluh darah yang tersumbat. Kondisi ini dapat turut memicu sakit kepala, palpitasi, hingga pingsan, dan dapat berubah menjadi fatal.
  • Terjadi pembesaran/pembengkakan atau kegagalan fungsi pada jantung bagian kanan (cor pulmonale). Kondisi ini diakibatkan oleh jantung yang harus bekerja keras untuk memompa darah melewati pembuluh darah paru-paru yang tersumbat atau menyempit.
  • Penggumpalan darah pada pembuluh darah kecil di paru-paru dapat menyumbat pembuluh darah yang sudah mengalami penyempitan akibat hipertensi pulmonal.
  • Pendarahan pada paru-paru hingga pasien mengalami batuk darah atau kondisi yang bernama hemoptysis. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa penderitanya.

Pencegahan Hipertensi Pulmonal

Perubahan gaya hidup menjadi lebih baik dan lebih sehat tidak pernah terlambat untuk dilakukan. Mulailah dari pemilihan bahan makanan dan pola makan yang lebih sehat bagi tubuh. Kebiasaan buruk lainnya juga dapat turut dihindari, seperti merokok, jarang berolahraga, hingga terlalu banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan garam atau gula yang tinggi.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT