Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hiperpituitarisme

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hiperpituitarisme adalah kondisi yang terjadi akibat produksi hormon dari kelenjar hipofisis (pituitary) yang berlebihan. Hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis memiliki sejumlahperan penting dalam mengatur fungsi tubuh, seperti metabolisme, pertumbuhan, tekanan darah, serta reproduksi.

Gejala Hiperpituitarisme

Produksi hormon pituitari yang berlebihan di dalam tubuh dapat memunculkan ragam kondisi. Berikut ini adalah beberapa macam masalah kesehatan yang dapat terjadi akibat hiperpituitarisme berserta indikasinya.

  • Sindrom Cushing (kortikotropinoma), yang ditandai dengan:
    • Munculnya stretch mark berwarna merah muda atau ungu pada perut.
    • Penumpukan lemak pada tubuh bagian atas.
    • Jumlah rambut wajah yang berlebihan pada wanita.
    • Rentan lebam.
    • Tulang yang rapuh sehingga mudah patah.
  • Akromegali. Jika terjadi pada anak-anak, akromegali akan menyebabkan gigantisme. Beberapa indikasinya meliputi tinggi badan yang mencapai 180 cm serta panjang tangan dan kaki yang jauh melebihi normal. Sedangkan jika terjadi pada orang dewasa, gejalanya meliputi:
    • Perubahan bentuk wajah, misalnya ukuran hidung dan bibir yang melebihi normal.
    • Ukuran tangan dan kaki yang melebihi normal.
    • Mentruasi tidak teratur pada wanita.
    • Disfungsi ereksi pada pria.
    • Kulit berubah menjadi tebal, kasar, dan berminyak.
    • Meningkatnya risiko hipertensi, diabetes, serangan jantung, dan beberapa jenis kanker.
  • Hipertiroidisme,yang ditandai dengan:
    • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
    • Kelelahan.
    • Gugup.
    • Otot yang lemas.
  • Prolaktinoma, yang ditandai dengan:
    • Gangguan fungsi reproduksi, misalnya disfungsi ereksi pada pria dan mandul pada wanita. Penderitanya juga akan mengalami penurunan gairah seks.
    • Galaktorea, yaitu keluarnya cairan putih susu dari puting yang tak berhubungan dengan menyusui.
    • Kebutaan atau gangguan penglihatan.
  • Gigantisme (somatotropinoma), yang ditandai dengan:
    • Tinggi badan yang melebihi batas normal.
    • Obesitas.
    • Ukuran kepala, tangan, serta kaki yang melebihi normal.
    • Wajah yang terlihat janggal, misalnya bibir dan hidung yang lebih besar dari ukuran normal.
    • Kutil.

Apabila merasakan adanya kejanggalan atau gejala-gejala tersebut, periksakanlah diri Anda atau anak Anda ke dokter. Penanganan dini akan menurunkan risiko terjadinya gangguan yang fatal.

Penyebab dan Faktor Risiko Hiperpituitarisme

Tumor jinak merupakan penyebab utama di balik hiperpituitarisme. Meski demikian, pemicu tumbuhnya tumor belum diketahui hingga saat ini.

Kadar hormon yang akan terpengaruh tergantung pada jenis sel mana yang mengalami tumor atau keganasan (kanker). Para pakar juga menduga bahwa faktor keturunan turut andil sebagai pemicu kondisi ini.

Diagnosis Hiperpituitarisme

Pada tahap pertama, dokter akan menanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan laboratorium kemudian akan dianjurkan untuk memastikan diagnosis.

Terdapat berbagai jenis tes yang akan dijalani oleh pasien. Di antaranya meliputi:

  • Tes darah guna mengetahui kadar hormone, sekaligus menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain.
  • Tes pencitraan, seperti X-ray serta MRI dan CAT scan. Melalui tes ini, ukuran dan letak tumor akan diketahui.

Pengobatan Hiperpituitarisme

Setelah diagnosis pasti dan pasien terbukti mengidap hiperpituitarisme, dokter akan mendiskusikan metode penanganan yang tepat bagi pasien. Langkah utama penanganan kondisi ini umumnya sebagai berikut:

  • Operasi guna mengangkat tumor yang tumbuh pada kelenjar pituitari. Prosedur ini paling efektif dilakukan ketika tumor masih berukuran kecil, yaitu di bawah 1 cm.
  • Obat-obatan. Langkah ini dilakukan untuk memperkecil ukuran tumor sebelum operasi.
  • Radiasi. Metode biasanya dianjurkan bagi pasien yang tidak bisa menjalani operasi atau untuk memberantas sisa-sisa kanker yang tidak bisa diangkat. Sama halnya ketika obat-obatan terbukti tidak efektif dalam menangani hiperpituitarisme.

Sama seperti kanker pada umumnya, diagnosis dan penanganan hiperpituitarisme sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Ini dilakukan untuk mencegah komplikasi sekaligus mencegah perburukan kondisi pasien.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT