Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Herpes Genital (Herpes Simplex)

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 31 kali

Herpes genital adalah infeksi pada alat kelamin yang bisa terjadi pada pria dan wanita. Penyakit ini termasuk salah satu infeksi menular seksual (IMS) karena umumnya ditularkan melalui hubungan seksual (vagina, anal, dan oral). Herpes genital bisa dikenali dengan kemunculan luka melepuh berwarna kemerahan dan terasa sakit di sekitar area kelamin. Luka ini bisa pecah dan menjadi luka terbuka.

Infeksi yang terjadi pada kasus herpes genital disebabkan oleh virus herpes simpleks atau sering disebut sebagai HSV. HSV dapat menular dan masuk ke dalam tubuh melalui berbagai membran mukosa dalam tubuh, seperti mulut, kulit, dan kelamin. Virus ini seringkali menetap di tubuh manusia dan suatu saat bisa aktif lagi. Saat virus ini aktif, gejala-gejala herpes genital akan kembali muncul. Virus ini bisa kambuh antara empat sampai lima kali pada dua tahun pertama sejak terinfeksi.

Penyebab Herpes Genital

Herpes genital disebabkan oleh virus herpes simpleks. Virus ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu HSV tipe 1 dan HSV tipe 2. Mayoritas kasus herpes genitalis disebabkan oleh HSV tipe 2, meskipun tidak menutup kemungkinan HSV tipe 1 merupakan penyebabnya. Kedua jenis virus ini sangat mudah menular dan penularannya terjadi melalui kontak langsung dari orang yang terinfeksi. Herpes terkadang tidak menimbulkan gejala tertentu, tapi orang yang terinfeksi tetap bisa menularkan virus. Karena gejalanya yang cukup ringan, sekitar 80 persen orang yang terinfeksi tidak menyadari bahwa mereka telah menderita herpes.

Pengobatan Herpes Genital

Tidak ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan infeksi HSV. Obat-obatan antivirus yang digunakan hanya dapat mengendalikan gejala yang muncul akibat infeksi virus ini. Obat-obatan antiherpes yang paling sering digunakan di antaranya adalah asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir.

Terkadang virus HSV tidak menyebabkan gejala. Bagi yang baru pertama kali terinfeksi herpes, mungkin tidak akan menyadari adanya gejala-gejala tertentu. Akibatnya, mereka tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi virus herpes. Gejala-gejala herpes genital bisa berupa:

  • Luka yang terbuka dan terlihat merah tanpa disertai rasa sakit, gatal, atau geli.
  • Sensasi rasa sakit, gatal, atau geli di sekitar daerah genital atau daerah anal.
  • Luka melepuh yang kemudian pecah dan terbuka di sekitar genital, rektum, paha, dan bokong.
  • Merasakan sakit saat membuang air kecil.
  • Sakit punggung bawah.
  • Mengalami gejala-gejala flu seperti demam, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan.
  • Luka terbuka atau melepuh pada leher rahim.
  • Adanya cairan yang keluar dari vagina.

Virus HSV bisa menjadi laten atau tidak aktif di dalam tubuh selama beberapa waktu. Namun virus ini bisa kembali aktif dan memicu timbulnya gejala herpes genital. Dengan kata lain, setelah gejala dari infeksi pertama menghilang, bukan berarti virus juga menghilang dari tubuh kita. Virus itu kemungkinan masih mengendap di dalam tubuh.

Ketika pertama kali terinfeksi, tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi. Hal itu membuat tubuh bisa mengenali virus dan menyusun kekuatan yang dibutuhkan untuk melawan HSV secara lebih efektif. Maka dari itu, infeksi atau gejala kambuhan yang terjadi tidak akan separah infeksi pertama. Frekuensinya akan berkurang dan gejalanya akan lebih cepat hilang.

Herpes genital disebabkan oleh virus herpes simpleks atau HSV yang umumnya ditularkan melalui hubungan seks vagina, oral, dan anal. Ada dua jenis virus herpes simpleks, yakni HSV tipe 1 dan HSV tipe 2. Herpes genital umumnya disebabkan oleh HSV tipe 2. HSV tipe 1 seringkali menyebabkan herpes di rongga mulut, atau yang seringkali disebut dengan cold sores. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa herpes genitalis juga disebabkan oleh HSV tipe 1.

Penyebaran virus ini terjadi melalui kontak langsung dengan pasangan yang terinfeksi oleh HSV. Hal ini bisa terjadi meski orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala apa pun. Virus ini menyebar melalui bagian yang lembap dari dinding kulit kelamin, mulut, dan anus. Selain itu, virus ini juga bisa menyebar melalui luka herpes dan bisa terjadi di sekitar mulut, mata, dan bagian tubuh lain.

Herpes genital tidak bisa menyebar melalui benda perantara, kecuali dengan alat bantu seksual yang dipakai oleh penderita herpes. Peralatan seperti handuk, alat makan, dan sikat gigi umumnya tidak bisa menjadi perantara penyebaran virus ini. Sebab, virus tidak akan sanggup bertahan lama jika terlepas dari kulit.

Herpes genital sangat mudah menular. Setelah terinfeksi, tubuh penderitanya akan selamanya memiliki virus ini. HSV bisa bersifat laten untuk beberapa waktu sebelum menjadi aktif lagi. Inilah yang menyebabkan herpes genital bisa kambuh.

Virus HSV akan kembali aktif ketika sistem pertahanan tubuh menurun. Hal ini bisa terjadi ketika penderita sedang mengalami infeksi, sedang mengalami masa-masa stres, sedang menjalani kemoterapi sebagai langkah pengobatan kanker, atau terkena virus HIV. Selain itu, konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat memicu virus HSV untuk kembali aktif.

Pada umumnya, dokter akan menegakkan diagnosis herpes genitalis dengan mengajukan pertanyaan seputar gejala yang dialami dan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian tubuh yang terkena. Selain itu, dokter mungkin akan mengambil sampel cairan dari luka melepuh yang muncul. Untuk mengetahui apakah kita menderita herpes genitalis, sampel ini akan dibawa dan diteliti di laboratorium.

Selain tes dengan menggunakan sampel cairan luka herpes, keberadaan antibodi terhadap virus herpes juga bisa diperiksa melalui tes darah.

PCR atau tes reaksi berantai polimerase juga bisa dilakukan untuk mendiagnosis keberadaan virus herpes genital. Tes ini dapat memeriksa keberadaan dan tipe HSV yang telah menjangkiti tubuh melalui sampel darah atau cairan tubuh.

Jika Anda mengalami kondisi kesehatan tertentu selain herpes genital ini, Anda mungkin perlu menemui dokter spesialis untuk menerima perawatan khusus. Infeksi yang terjadi bisa berdampak kepada bagian tubuh yang lain.

Bagi wanita hamil yang terinfeksi herpes genital, terutama mereka yang merencanakan atau sedang hamil, sebaiknya segera menemui dokter spesialis kandungan. Infeksi yang terjadi pada wanita hamil bisa menulari bayi yang sedang dikandungnya.

Pasien herpes genital yang memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh juga perlu menemui dokter spesialis, sama halnya dengan para penyandang HIV/AIDS dan penderita kanker. Kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh penderita herpes genital sangat berpengaruh terhadap lama tidaknya infeksi berlangsung dan juga tingkat keparahannya.

Untuk mengurangi gejala infeksi herpes genital, dokter akan memberikan obat-obatan antivirus seperti asiklovir, famsiklovir, dan valasisklovir. Obat-obatan ini hanya berfungsi mencegah virus herpes simpleks agar tidak menggandakan diri, tapi tidak bisa menghilangkan virus dari tubuh secara sepenuhnya.

Jika gejala infeksi tidak terlalu parah, konsumsi obat antivirus mungkin tidak diperlukan. Sebagai gantinya, dokter akan menyarankan pasien untuk meredakan gejala yang muncul dengan perawatan mandiri di rumah. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Bersihkan luka atau tukak agar tidak menjadi infeksi sekaligus mempercepat penyembuhan. Pembersihan ini bisa dengan menggunakan air biasa atau air garam.
  • Untuk meringankan rasa sakit, tutup luka dengan es batu yang dibalut dengan kain. Jangan menempelkan es secara langsung pada permukaan yang terluka.
  • Gunakan krim penghilang rasa sakit pada luka melepuh atau tukak. Selain itu perbanyaklah minum air mineral. Kedua hal ini bertujuan untuk memudahkan dan meringankan rasa sakit saat buang air kecil.
  • Gunakan pakaian yang longgar untuk mengurangi rasa sakit pada area kulit yang mengalami luka lepuh.

Penanganan Herpes Genital pada Pengidap HIV

Herpes genital yang terlalu sering kambuh bisa disebabkan karena sistem kekebalan tubuh melemah. Hal ini menandakan bahwa jumlah antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi berkurang. Alhasil, gejala herpes lebih sering terjadi dan tingkat keparahannya menjadi lebih serius.

Bagi yang sering mengalami infeksi herpes genital berulang dan memiliki rutinitas seksual kurang aman (berganti-ganti pasangan, tidak mengenakan kondom atau pengaman, melakukan hubungan seks anal), disarankan untuk melakukan tes HIV. Penderita HIV memiliki kekebalan tubuh yang jauh lebih lemah dibanding orang yang sehat, sehingga memerlukan penanganan khusus yang berbeda dengan penderita lainnya.

Dokter spesialis akan menangani herpes genital yang terjadi pada penderita HIV. Dokter umumnya akan memberikan antivirus dengan dosis yang lebih tinggi. Selain itu, banyak penderita HIV yang terjangkit oleh jenis HSV yang kebal terhadap obat-obat antivirus standar. Oleh karenanya, penderita mungkin akan diresepkan jenis antivirus yang lebih baru.

Komplikasi yang mungkin bisa terjadi bersamaan dengan herpes genital umumnya berupa penyakit infeksi menular seksual, inflamasi, infeksi pada bayi, dan gangguan pada kandung kemih. Selengkapnya akan dijelaskan di bawah ini:

Infeksi Menular Seksual Lainnya

Penderita herpes genital dengan luka terbuka memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebarkan atau tertular penyakit seksual lainnya, terutama jika berhubungan seksual tanpa pengaman. Penularan paling parah adalah terjadinya komplikasi berupa HIV/AIDS.

Inflamasi atau Peradangan

Pada beberapa kasus, herpes genital bisa menyebabkan inflamasi atau peradangan di saluran kemih. Pembengkakan yang terjadi bisa menutup jalur uretra selama beberapa hari. Dalam kasus ini, kateter harus dimasukkan untuk menyedot isi kandung kemih.

Selain pada uretra, peradangan juga bisa terjadi pada bagian rektal. Inflamasi pada dinding rektum ini lebih sering terjadi pada pria yang berhubungan seksual dengan pria lainnya. Pada kasus yang sangat langka, virus herpes simpleks juga bisa mengakibatkan meningitis atau radang pada selaput otak.

Pada Masa Kehamilan

Virus herpes simpleks atau HSV bisa menimbulkan masalah kehamilan. Virus ini bisa ditularkan kepada bayi saat melahirkan. Jika infeksi HSV terjadi sebelum kehamilan, kemungkinan penularan pada sang bayi sangatlah kecil.

Pada beberapa bulan terakhir di masa kehamilan, sang ibu akan melepaskan banyak antibodi pelindung kepada bayinya. Antibodi inilah yang akan melindungi sang bayi dari berbagai mikroorganisme termasuk HSV. Antibodi ini dapat bertahan pada saat melahirkan hingga beberapa bulan setelahnya.

Jika gejala herpes kembali muncul, obat asiklovir mungkin perlu dikonsumsi. Tanyakan kepada dokter kandungan tentang penanganan yang Anda bisa dapatkan, termasuk di dalamnya dosis dan aturan pakai obat tersebut.

Jika Anda mengalami infeksi pertama pada awal 3-6 bulan masa kehamilan, maka risiko infeksi menular pada bayi akan meningkat, begitu juga dengan risiko keguguran. Oleh karena itu, asiklovir mungkin perlu dikonsumsi.

Virus herpes bisa menular saat proses persalinan. Jika infeksi pertama terjadi di atas 6 bulan usia kehamilan, risiko penularan infeksi pada bayi sangat tinggi. Hal ini terjadi karena tubuh sang ibu memerlukan waktu untuk menghasilkan antibodi sebelum sang bayi dilahirkan. Untuk menghindarinya, perlu dilakukan operasi caesar. Kelahiran normal akan membuat risiko penularan infeksi pada bayi meningkat 40 persen lebih tinggi.

Infeksi pada Bayi dalam Proses Persalinan

Bagi bayi yang terinfeksi HSV pada saat proses persalinan, infeksi yang terjadi bisa sangat berbahaya dan terkadang mematikan. Kondisi ini dikenal sebagai neonatal herpes. Herpes yang terjadi pada saat melahirkan ini dapat berdampak buruk kepada organ tubuh seperti pada mata, mulut, dan kulit. Selain itu, otak dan sistem saraf lainnya juga bisa terkena dampak dari infeksi ini. Pada kasus neonatal herpes yang parah, berbagai organ tubuh lainnya seperti paru-paru dan hati juga bisa terserang hingga dapat menyebabkan kematian.

Virus herpes simpleks dapat menular dari penderita tanpa gejala apa pun. Tapi tingkat penularan virus ini akan lebih tinggi jika infeksi sedang kambuh. Penderita herpes simpleks disarankan untuk tidak berhubungan seksual ketika sedang memiliki luka yang terbuka.

Jika terdapat luka terbuka atau melepuh pada bagian mulut, jangan mencium pasangan Anda. Berbagi mainan seksual juga bisa menularkan virus ini. Jika ingin berbagi, pastikan Anda mencucinya terlebih dahulu.

Walau tidak sepenuhnya menghilangkan risiko terkena herpes genital, kondom dapat membantu menghambat penularannya. Penggunaan kondom dapat melindungi diri dan pasangan Anda. Tapi perlu diingat bahwa kondom hanya menutupi penis saja. HSV dapat menular melalui kontak dengan bagian tubuh lain, seperti mulut saat melakukan seks oral atau anus saat melakukan seks anal. Jika Anda atau pasangan merasa berisiko terinfeksi HSV, segeralah lakukan tes untuk memastikan diagnosis.

Virus herpes simpleks tidak bisa bertahan lama pada benda di luar tubuh manusia. Virus ini membutuhkan tubuh manusia untuk bertahan hidup. Tapi tidak ada salahnya untuk menghindari risiko penularan dengan tidak berbagi handuk atau pun pakaian.

Pada Wanita Hamil

Bagi wanita yang merencanakan kehamilan atau sedang hamil dan dicurigai mengidap herpes, disarankan untuk melakukan tes infeksi TORCH. TORCH adalah sekelompok virus yang terdiri dari virus toksoplasmosis, rubela, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, dan virus lain (misalnya sifilis, cacar air, gondongan, parvovirus dan HIV). Tes infeksi TORCH dilakukan untuk memastikan status herpes pada ibu sehingga jika terdiagnosis positif, penanganan bisa dilakukan agar janin tidak terinfeksi virus.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT