Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hepatitis B

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hepatitis B adalah infeksi serius pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B bisa menyebabkan kondisi akut dan kronis pada pasien. Jika sudah memasuki level kronis, penyakit ini bisa membahayakan nyawa penderitanya. Jika tidak segera ditangani, pendertia hepatitis B kronis berisiko terkena sirosis, kanker hati, atau gagal hati.

Hepatitis B sulit dikenali karena gejala-gejalanya tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Karena itulah, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Virus ini biasanya berkembang selama 1-5 bulan sejak terjadi pajanan terhadap virus sampai kemunculan gejala pertama.

Beberapa gejala umum hepatitis B antara lain:

  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri di perut bagian bawah.
  • Sakit kuning (dilihat dari kulit dan bagian putih mata yang menguning).
  • Gejala yang mirip pilek, misalnya lelah, nyeri pada tubuh, dan sakit kepala.

Penderita Hepatitis B di Indonesia

Hepatitis B merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 680 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat komplikasi hepatitis B, seperti siroris dan kanker hati.

Di Indonesia sendiri, hasil riset Kesehatan Dasar pada yang dirilis pada 2015 menunjukkan bahwa penderita hepatitis di Indonesia diperkirakan mencapai 28 juta orang, dimana setengah di antaranya berpotensi untuk menjadi kronis, dan 10 persen dari risiko kronis tersebut akan mengalami sirosis atau bahkan kanker hati.

Cara Penularan Hepatitis B

Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, misalnya sperma dan cairan vagina. Beberapa cara penularan umumnya antara lain:

  • Kontak seksual. Misalnya berganti-ganti pasangan dan berhubungan seks tanpa alat pengaman.
  • Berbagi jarum suntik. Misalnya menggunakan alat suntik yang sudah terkontaminasi darah penderita hepatitis B.
  • Kontak dengan jarum suntik secara tidak disengaja. Misalnya petugas kesehatan (paramedis) yang sering berurusan dengan darah manusia.
  • Ibu dan bayi. Ibu yang sedang hamil dapat menularkan penyakit ini pada bayinya saat persalinan.

Diagnosis pada Hepatitis B

Diagnosis hepatitis B dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan darah, yakni tes antigen dan antibodi untuk virus hepatitis B, serta pemeriksaan darah untuk melihat fungsi hati.

Ada tiga jenis pemeriksaan antigen dan antibodi untuk hepatitis B, yakni hepatitis B surface antigen (HbsAg), hepatitis B core antigen (HbcAg), antibodi hepatitis B surface antigen (anti-HbsAg). Masing-masing tes ini memiliki fungsi yang berbeda, dan akan dijelaskan lebih mendetail pada bagian diagnosis.

Tes fungsi hati dilakukan untuk memeriksa kemungkinan menderita penyakit hati lainnya. Hal ini dikarenakan gejala hepatitis B seringkali menyerupai penyakit lainnya, terutama gangguan di hati. Pada pemeriksaan ini, akan dilihat apakah terdapat peningkatan enzim hati, yang menandakan bahwa hati Anda sedang berada di bawah tekanan atau sedang mengalami gangguan tertentu.

Hepatitis B Akut dan Kronis

Ada dua jenis infeksi hepatitis B, yaitu akut (terjadi dalam waktu singkat) dan kronis (jangka panjang). Infeksi akut umumnya dialami oleh orang dewasa. Jika mengalami hepatitis B akut, sistem kekebalan tubuh Anda biasanya dapat melenyapkan virus dari tubuh dan Anda akan sembuh dalam beberapa bulan.

Hepatitis B kronis terjadi saat virus tinggal dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Jenis hepatitis B ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Anak-anak yang terinfeksi virus pada saat lahir berisiko mengalami hepatitis B empat sampai lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang terinfeksi pada masa balita.

Sebanyak 20 persen orang dewasa yang terpapar virus ini akan berujung pada diagnosis hepatitis B kronis. Penderita hepatitis B kronis bisa menularkan virus meski tanpa menunjukkan gejala apa pun. Berdasarkan penelitian WHO, sekitar 3 dari 10 penderita hepatitis B kronis akan mengalami sirosis.

Sirosis adalah kerusakan hati jangka panjang atau kronis yang menyebabkan luka pada hati. Perkembangan penyakit yang perlahan-lahan mengakibatkan jaringan sehat digantikan oleh jaringan rusak. Fungsi hati dalam memproses nutrisi, hormon, obat, dan racun yang diproduksi tubuh akan melambat.

Pengobatan Hepatitis B

Tidak ada langkah khusus dalam pengobatan hepatitis B. Tujuan pengobatan kondisi ini adalah untuk mengurangi gejala dengan obat pereda sakit, serta menjaga kenyamanan sehari-hari si penderita dan keseimbangan gizinya.

Sementara itu, pengobatan untuk hepatitis B kronis tergantung pada tingkat keparahan infeksi pada hati. Penanganan penyakit ini adalah menggunakan obat-obatan yang berfungsi untuk menghambat produksi virus dan mencegah kerusakan pada hati.

Vaksin dan Pencegahan Hepatitis B

Langkah efektif dalam pencegahan hepatitis B adalah dengan melakukan vaksin. Di Indonesia sendiri, vaksin hepatitis B termasuk vaksin wajib dalam imunisasi. Proses pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu saat anak lahir, saat anak berusia 1 bulan, dan pada saat anak berusia 3-6 bulan. Meskipun begitu, orang dewasa dari segala usia pun dianjurkan untuk menerima vaksin hepatitis B, terutama apabila mereka berisiko tinggi tertular hepatitis B. Contohnya seperti:

  • Orang yang memiliki lebihdari satu pasangan seksual.
  • Orang yang menggunakan obat suntik atau berhubungan seks dengan pengguna obat suntik.
  • Petugas kesehatan (paramedis) yang berisiko terpapar virus hepatitis B.
  • Orang yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B.
  • Penderita penyakit hati kronis.
  • Penderita penyakit ginjal.

Pemeriksaan hepatitis B juga diterapkan bagi ibu hamil. Jika sang ibu mengidap penyakit ini, bayinya harus menerima vaksin pada saat lahir (12 jam setelah persalinan) untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Langkah lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena hepatitis B di antaranya adalah:

  • Berhenti atau jangan menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Hindari berbagi penggunaan barang seperti sikat gigi, anting-anting, ataualat cukur.
  • Waspadalah saat ingin menindik ataumenato tubuh.
  • Jangan berhubungan seks tanpa alat pengaman kecuali Anda yakin pasangan Anda tidak memiliki hepatitis B atau penyakit kelamin menular lainnya.

Apabila Anda telah melakukan kontak dengan salah seorang penderita hepatitis B dalam rentang waktu 24 jam terakhir, segera periksakan diri ke dokter. Risiko penularan penyakit ini dapat diturunkan dengan pemberian suntikan imunoglobulin hepatitis B. Ini adalah larutan obat yang berisi antibodi guna melawan virus hepatitis B.

Gejala hepatitis B sering kali tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul selama sistem kekebalan tubuh si penderita berjuang melawan virus. Karena itulah banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Penularan tetap dapat terjadi selama virus masih ada di dalam tubuh penderita.

Jika ada gejala pun, masa inkubasi hepatitis B berkisar antara dua sampai lima bulan sejak terpapar virus. Inkubasi adalah jarak waktu antara masuknya virus ke dalam tubuh hingga munculnya gejala. Gejala tersebut biasanya akan hilang dalam waktu 30-90 hari.

Yang termasuk dalam gejala hepatitis B antara lain:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Penurunan berat badan.
  • Gejala yang menyerupai flu seperti lelah, nyeri pada tubuh, sakit kepala, dan demam tinggi (sekitar 38ºC atau lebih).
  • Nyeri perut.
  • Lemas dan lelah.
  • Sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning).

Penyebab munculnya sakit kuning adalah bilirubin (senyawa hasil limbah sel darah merah) yang tidak dapat dilenyapkan oleh hati yang mengalami kerusakan. Senyawa ini juga dapat mengubah warna urine menjadi kuning pekat dan warna tinja menjadi pucat.

Hepatitis B Jangka Panjang (Kronis)

Hepatitis B kronis terjadi saat virus tinggal dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Gejalanya cenderung lebih ringan dan tidak konstan. Sebagian besar penderita penyakit ini tidak mengalami gejala yang signifikan.

Tetapi penderita harus tetap berhati-hati karena penderita hepatitis B kronis, terutama yang tidak menjalani pengobatan, dapat mengalami komplikasi serius. Misalnya sirosis atau inflamasi hati.

Jika menemukan gejala-gejala tidak biasa yang berlangsung selama berhari-hari atau Anda merasa telah terpapar virus hepatitis B, periksakan diri Anda ke dokter.

Infeksi hepatitis B dapat dicegah dengan pengobatan. Tetapi perlu diingat bahwa pengobatan ini hanya efektif jika dilakukan dalam 48 jam setelah terjadi pajanan. Meski demikian, proses ini juga terkadang bisa efektif sampai satu minggu.

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B bisa menyebabkan kondisi akut dan kronis pada pasien. Hepatitis B termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Penularan hepatitis B dapat melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain penderita. Risiko Anda akan makin tinggi jika Anda tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.

Faktor Risiko Secara Umum

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi. Berikut adalah beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko terkena hepatitis B pada diri Anda:

  • Berbagi sikat gigi, alat cukur, dan handuk yang sudah terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang dan berbagi jarum suntik.
  • Berhubungan seks dengan pengguna obat-obatan terlarang yang memakai dan berbagi jarum suntik.
  • Memiliki luka terbuka dan terjadi kontak dengan darah yang terinfeksi.
  • Bekerja dan berurusan dengan darah. Paramedis dan staf laboratorium memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidaksengajaan tertusuk jarum suntik bekas.
  • Menjalani transfusi darah di klinik atau rumah sakit yang tidak memeriksa darah untuk hepatitis B. Semua darah yang akan digunakan dalam transfusi harus dites untuk berbagai penyakit, termasuk hepatitis B.
  • Menjalani pengobatan atau perawatan gigi di klinik atau rumah sakit dengan peralatan yang tidak steril.
  • Menindik atau menato tubuh di tempat yang peralatannya tidak steril.

Cairan tubuh merupakan salah satu perantara utama dalam penularan hepatitis B. Anda juga berisiko mengalami penyakit ini jika:

  • Melakukan hubungan seks tanpa kondom (termasuk seks oral dan seks anal), terutama jika pasangan Anda sudah terinfeksi.
  • Memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang.
  • Pekerja seks komersial (wanita atau pria) juga berisiko tinggi tertular hepatitis B.

Faktor Risiko Secara Geografis

Faktor geografis juga memiliki peran yang cukup penting dalam penularan hepatitis B. Wilayah dengan jumlah kasus hepatitis B tertinggi di antaranya adalah Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Tengah, Afrika sub-Sahara, Eropa Timur, dan Eropa Selatan.

Jika Anda atau pasangan seksual Anda pernah tinggal lama di salah satu wilayah tersebut, Anda berisiko tinggi untuk terkena Hepatitis B. Karena itu sebaiknya Anda berwaspada dan dianjurkan menerima vaksinasi.

Penularan dari Ibu kepada Bayi

Jika ibu hamil terkena hepatitis B, bayinya dapat tertular selama masa kehamilan atau pada saat lahir. Para ibu hamil dianjurkan untuk menjalani tes darah sehingga hepatitis B dapat segera terdeteksi.

Penularan hepatitis B dari ibu kepada bayinya masih dapat dicegah. Caranya adalah dengan memberi vaksin hepatitis B pada sang bayi saat dilahirkan (sebaiknya dalam waktu 12 jam). Pemberian ASI juga boleh dilakukan jika sang bayi sudah menerima vaksin pada saat lahir.

Diagnosis hepatitis B ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan darah, yakni tes antigen dan antibodi untuk virus hepatitis B, serta pemeriksaan darah untuk melihat fungsi hati.

Ada tiga jenis pemeriksaan antigen dan antibodi untuk hepatitis B, yakni:

  • Hepatitis B surface antigen (HbsAg). Tes ini dilakukan untuk menilai penularan virus hepatitis B. Hasil tes negatif (-) berarti tidak ada virus hepatitis B dalam darah Anda. Sedangkan hasil tes yang positif (+) menandakan bahwa Anda memiliki virus hepatitis B dalam tubuh dan berpotensi menyebarkan virus ini ke orang lain. Namun, tes ini tidak dapat membedakan apakah infeksi ini sedang terjadi (akut) atau telah terjadi di masa lampau (kronis).
  • Hepatitis B core antigen (HbcAg). Tes ini seringkali dilakukan apabila hasil HbsAg Anda menunjukkan hasil positif, karena dengan tes ini dapat dilihat apakah hepatitis B yang Anda alami bersifat akut atau kronis. HbcAg positif pada umumnya berarti Anda menderita hepatitis B kronis (jangka panjang), atau dapat juga berarti Anda sedang dalam masa pemulihan dari hepatitis B akut.
  • Antibodi hepatitis B surface antigen (anti-HbsAg). Tes ini menunjukkan kekebalan anda terhadap virus hepatitis B. Apabia anti-HbsAg Anda positif, besar kemungkinan Anda akan terlindungi dari virus hepatitis B. Hasil tes yang positif dapat berarti Anda telah mendapatkan vaksin hepatitis B atau Anda telah berada dalam masa pemulihan dari hepatitis B akut.

Selain ketiga tes di atas, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan darah untuk melihat fungsi hati. Tes fungsi hati ini akan melihat apakah terdapat peningkatan enzim hati, yang menandakan bahwa hati Anda bekerja lebih keras daripada biasanya, sedang dalam tekanan, atau sedang mengalami kerusakan.

Proses pengobatan hepatitis B biasanya dilakukan oleh dokter spesialis hati (ahli hepatologi). Jenis penanganan terhadap hepatitis B dilakukan tergantung pada berapa lama pasien terinfeksi. Apakah hepatitis B akut (jangka pendek) atau hepatitis B kronis (jangka panjang).

Langkah Pengobatan Hepatitis B Akut

Infeksi akut ini umumnya dialami oleh penderita dewasa. Penderita hepatitis B akut biasanya dapat terbebas dari gejala dan pulih dalam beberapa bulan tanpa terkena hepatitis B kronis.

Tidak ada langkah khusus untuk mengatasi hepatitis B akut. Penyakit ini dapat sembuh tanpa harus menjalani perawatan di rumah sakit. Namun penderita disarankan untuk berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala yang parah.

Tujuan pengobatan hepatitis B akut adalah untuk mengurangi gejala melalui pemberian obat pereda sakit (misalnya parasetamol) dan obat anti-mual (misalnya metoclopramide). Dokter mungkin akan memberikan kodein jika rasa sakit yang Anda alami lebih parah.

Penderita hepatitis B akut yang merasa sehat belum tentu sudah terbebas dari virus. Mereka dianjurkan untuk menjalani tes darah dan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Proses ini bertujuan untuk memastikan Anda benar-benar terbebas dari virus dan tidak menderita hepatitis B kronis.

Langkah Pengobatan Hepatitis B Kronis

Penderita hepatitis B kronis umumnya tidak merasakan gejala apa pun untuk waktu yang lama. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Jika telah didiagnosis positif menderita penyakit ini, penderita pada umumnya membutuhkan obat-obatan untuk jangka panjang (terkadang bertahun-tahun) guna mencegah kerusakan hati.

Seiring berkembangnya dunia kedokteran, obat-obatan yang efektif untuk menekan aktivitas virus hepatitis B kini telah tersedia. Obat-obatan ini dapat menghambat proses kerusakan pada hati sehingga tubuh sempat memperbaikinya. Namun perlu diingat bahwa kemungkinan obat-obatan ini untuk sepenuhnya melenyapkan virus sangat tipis.

Kondisi organ hati penderita hepatitis B kronis juga harus dipantau secara rutin. Pemeriksaan ini akan menunjukkan apakah virus sudah merusak hati dan seberapa jauh kerusakannya. Proses ini biasanya meliputi:

  • Tes darah
  • USG
  • FibroScan (alat untuk mengukur tingkat pembentukan jaringan luka dan pengerasan jaringan hati)
  • Biopsi hati (proses ini jarang digunakan)

Ada sebagian penderita hepatitis B yang memiliki kekebalan tubuh yang dapat menekan aktivitas virus sehingga tidak merusak hati. Karena itu, jenis obat yang akan dikonsumsi tergantung pada ada atau tidaknya proses kerusakan hati yang sedang berlangsung.

Jika hati penderita hepatitis B masih bisa berfungsi dengan baik, biasanya dokter akan menganjurkan penggunaan obat peginterferon alfa-2a. Jika pemeriksaan mengindikasikan bahwa hati Anda mengalami kerusakan, dokter akan memberikan obat lain. Kerusakan yang terjadi menunjukkan bahwa peginterferon alfa-2a kurang efektif atau tidak cocok untuk Anda. Alternatif yang mungkin ditawarkan oleh dokter adalah obat antivirus (biasanya tenofovir atau entecavir). Efek samping obat ini adalah muntah-muntah, tubuh terasa nyeri, dan pusing.

Jika kerusakan hati sudah sangat parah, dokter akan menyarankan Anda untuk menjalani transplantasi hati (prosedur operasi untuk menggantikan hati yang rusak dengan hati yang sehat). Sebagian besar organ hati yang sehat berasal dari orang yang sudah meninggal dunia. Namun tidak sedikit juga orang yang masih hidup yang bersedia mendonorkan hati mereka.

Satu dari tiga penderita hepatitis B kronis yang tidak menjalani pengobatan dapat mengalami komplikasi penyakit hati yang serius. Komplikasi tersebut di antaranya adalah sirosis, kanker hati, dan hepatitis B fulminan.

Sirosis

Sirosis adalah pembentukan jaringan parut pada hati. Jaringan parut adalah jaringan yang terbentuk setelah sel-sel hati yang awalnya normal, mengalami luka atau radang yang berkelanjutan. Gejala sirosis biasanya tidak terdeteksi dan sering tidak disadari penderitanya sampai terjadi kerusakan yang parah pada hati. Sirosis yang parah dapat memicu gejala-gejala seperti turunnya berat badan, mual, gampang lelah, gatal-gatal pada kulit dan pembengkakan pada perut serta pergelangan kaki.

Perkembangan komplikasi ini dapat dihambat dengan langkah pengobatan tertentu, misalnya dengan obat antivirus. Tetapi ada sebagian penderita yang terpaksa menjalani transplantasi hati karena kondisinya sudah sangat parah.

Kanker Hati

Hepatitis B kronis bisa berkembang menjadi kanker hati jika tidak ditangani dengan baik. Gejala pada komplikasi ini di antaranya adalah mual, muntah, sakit perut, penurunan berat badan, serta sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning). Operasi mungkin akan dilakukan untuk membuang bagian hati yang terserang kanker.

Hepatitis B Fulminan

Hepatitis B fulminan terjadi saat sistem kekebalan tubuh menjadi keliru dan mulai menyerang hati hingga menyebabkan kerusakan yang parah. Beberapa gejala yang mengindikasikan kondisi tersebut adalah penderita menjadi linglung atau bingung, perut membengkak, dan sakit kuning. Penyakit ini bisa menyebabkan hati berhenti berfungsi dan seringkali berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT