Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Hepatitis A

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Hepatitis A merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis tipe A dan menyerang sel-sel hati manusia. Setiap tahunnya di Asia Tenggara, kasus hepatitis A menyerang sekitar 400.000 orang per tahunnya dengan angka kematian hingga 800 jiwa. Sebagian besar penderita hepatitis A adalah anak-anak.

Gejala awal yang dapat muncul meliputi demam, mual, muntah, nyeri pada sendi dan otot, serta diare. Ketika organ hati sudah mulai terserang, ada beberapa gejala lain yang akan muncul, yaitu urine berwarna gelap, tinja berwarna pucat, sakit kuning dan gatal-gatal. Selain itu, daerah perut bagian kanan atas juga akan terasa sakit terutama jika ditekan.

Tetapi tidak semua pengidap mengalami gejala hepatitis A. Karena itu, penyakit ini kadang sulit untuk disadari. Hanya satu dari sepuluh penderita hepatitis A di bawah umur 6 tahun yang mengalami sakit kuning. Sedangkan pada remaja dan orang dewasa, penyakit ini biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah dan 70 persen di antaranya akan mengalami sakit kuning.

Tidak seperti dua jenis hepatitis lainnya yakni hepatitis B dan hepatitis C, infeksi akibat hepatitis A ini tidak menyebabkan gangguan hati jangka panjang (kronis), dan jarang berakibat fatal. Namun, hepatitis A dapat menyebabkan munculnya gejala kerusakan hati akut, yang mana cukup berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa.

Penyebab dan Penularan Hepatitis A

Penyebab penyakit ini adalah virus hepatitis A yang dapat menyebar dengan sangat mudah. Cara penyebaran utamanya adalah melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh tinja pengidap hepatitis A. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebaran virus ini meliputi:

  • Sanitasi yang buruk.
  • Kontak langsung dengan pengidap.
  • Berbagi jarum suntik.
  • Berhubungan seks dengan pengidap, terutama seks anal.
  • Pria yang berhubungan seks dengan sesama pria.
  • Bekerja di area yang berhubungan dengan kotoran, misalnya selokan.

Langkah Pengobatan Hepatitis A

Penyakit ini tidak memiliki langkah penanganan khusus karena sistem kekebalan tubuh akan melenyapkan virus dengan sendirinya.

Namun, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk meringankan gejala-gejala yang dialami pengidapnya. Penanganannya meliputi mengonsumsi obat pereda gatal, sakit, mual dan muntah sesuai dosis. Organ hati juga perlu dibiarkan untuk beristirahat misalnya dengan tidak mengonsumsi minuman keras dan berhati-hati dengan obat-obat yang bisa berdampak pada hati.

Waktu yang dibutuhkan pengidap untuk pulih sepenuhnya dari penyakit ini biasanya beberapa bulan. Pengidap yang berhasil sembuh total akan memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.

Risiko Komplikasi Hepatitis A

Infeksi hepatitis A umumnya tidak menyebabkan penyakit hati jangka panjang (kronis) dan jarang yang berakibat fatal. Meski demikian, penyakit ini berpotensi menyebabkan gagal hati terutama pada mereka yang telah mengidap penyakit hati sebelum terinfeksi hepatitis A dan penderita manula. Selain itu, pada sebagian penderita infeksi ini bisa kambuh atau kembali lagi.

Cara-cara Mencegah Hepatitis A

Karena penyebaran utamanya adalah melalui konsumsi sesuatu yang terkontaminasi, langkah utama pencegahan hepatitis A adalah dengan menjaga kebersihan. Langkah ini dapat dilakukan dengan mudah, misalnya selalu mencuci tangan, menghindari konsumsi makanan mentah atau kurang matang serta menghindari konsumsi air mentah yang tidak terjamin kebersihannya.

Selain itu, vaksinasi hepatitis A juga dapat mencegah penyakit ini. Terutama bagi mereka yang memiliki risiko tinggi seperti orang yang mengidap penyakit hati kronis, serta pengguna jarum suntik yang tidak steril.

Gejala awal yang dapat muncul pada penyakit hepatitis A adalah pusing, mual-mual, muntah, sakit tenggorokan, diare, kehilangan nafsu makan, kelelahan dan nyeri pada otot serta sendi. Ketika organ hati Anda mulai terserang, ada beberapa gejala yang akan muncul, yaitu urin berwarna gelap, tinja berwarna kuning pucat, sakit kuning serta pembengkakan hati yang terasa sakit jika perut kanan atas ditekan.

Tidak semua pengidap hepatitis A akan menunjukkan gejala. Karena itu, penyakit ini kadang sulit disadari. Biasanya masa inkubasi virus (masa sejak masuknya virus sampai gejala muncul) berlangsung sekitar dua minggu hingga satu bulan.

Pengidap hepatitis A anak-anak di bawah usia enam tahun cenderung tidak menunjukkan gejala. Hanya satu dari 10 yang mengalami sakit kuning. Sedangkan pada remaja dan orang dewasa, penyakit ini biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah dan sekitar 70 persen di antaranya akan mengalami sakit kuning.

Penyebab penyakit ini adalah virus hepatitis A yang dapat menyebar dengan sangat mudah. Sebagian besar kasus hepatitis A di Indonesia disebabkan oleh konsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh tinja penderita hepatitis A akibat kebersihan yang kurang terjaga. Maka penting bagi kita, terutama anak-anak, untuk selalu teratur mencuci tangan dan tidak jajan di tempat yang kebersihannya diragukan.

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebaran virus hepatitis A meliputi:

  • Sanitasi yang buruk.
  • Kurangnya ketersediaan air bersih.
  • Mengonsumsi makanan mentah.
  • Kontak langsung dengan pengidap, misalnya karena hidup serumah.
  • Memakai dan berbagi jarum suntik.
  • Berhubungan seks dengan pengidap, terutama seks anal.
  • Hubungan seks antar pria.
  • Bekerja di area yang berhubungan dengan kotoran, misalnya selokan.

Untuk mendiagnosis hepatitis A, dokter akan menanyakan riwayat perjalanan penyakit yang sedang Anda alami. Setelah itu, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan darah. Indikasi bahwa Anda mengidap hepatitis A adalah jika hasil tes darah Anda menunjukkan adanya reaksi positif antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh saat melawan virus ini.

Jika ditemukan antibodi Hepatitis A jenis IgM, berarti pasien baru terinfeksi hepatitis A kurang lebih selama 2 minggu. Antibodi ini akan menghilang 3 hingga 12 bulan setelah infeksi terjadi.

Sedangkan jika ditemukan antibodi Hepatitis A jenis IgG, maka infeksi hepatitis A sudah berlangsung kurang lebih selama 8 hingga 12 minggu. Antibodi jenis ini akan bertahan dalam darah dan melindungi tubuh pasien selamanya.

Jika positif mengidap penyakit ini, dokter akan memeriksa kondisi hati Anda melalui tes darah penunjang lainnya dan USG.

Penyakit ini tidak memiliki langkah penanganan khusus. Pemulihan hanya bergantung pada sistem kekebalan tubuh yang melenyapkan virus dengan sendirinya. Langkah pengobatan hepatitis A bertujuan meringankan gejala-gejala yang dialami. Langkah-langkah pengobatannya meliputi:

  • Banyak beristirahat. Pengidap hepatitis A pasti akan mengalami kelelahan, terutama pada awal infeksi.
  • Mengonsumsi obat pereda rasa nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen sesuai dengan resep dokter, jika pasien merasakan nyeri atau sakit.
  • Mengatasi mual-mual dan muntah, misalnya dengan menghindari makanan berlemak dan makan dengan porsi sedikit. Jika gejala ini tidak berkurang, dokter biasanya akan meresepkan obat antimuntah seperti metoclopramide. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, serbuk, serta lewat suntikan.
  • Jangan mengonsumsi minuman keras atau obat-obatan yang berdampak pada hati agar organ hati Anda juga bisa beristirahat. Jika ada obat-obatan tertentu yang harus Anda gunakan, diskusikanlah dosis atau jenis obat yang aman dengan dokter.

Ada beberapa cara bagi pengidap Hepatitis A untuk mencegah penyebaran infeksi ke orang lain, yaitu:

  • Jangan berbagi handuk dengan orang lain dan jangan mencampur cucian pakaian dengan milik orang lain
  • Cucilah tangan dengan sabun dan air bersih secara teratur, khususnya usai ke kamar kecil.
  • Sebaiknya tidak berhubungan seksual, selama masih terinfeksi.
  • Jangan menyiapkan makanan bagi orang lain.
  • Bersihkan kamar kecil, terutama bagian kloset.
  • Hindari berpergian ke luar rumah, setidaknya sampai seminggu setelah gejala mulai terasa.

Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A umumnya tidak menyebabkan penyakit hati jangka panjang (kronis) dan jarang yang berakibat fatal. Tapi beberapa kelompok seperti manula, orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun seperti penderita HIV, dan orang yang telah menderita penyakit hati sebelum terinfeksi hepatitis A lebih rentan untuk mengalami komplikasi. Berikut adalah komplikasi yang bisa terjadi:

Risiko Mengalami Gagal Hati

Komplikasi ini terjadi ketika fungsi hati menurun drastis. Gagal hati dapat menyebabkan pengidapnya mengalami muntah-muntah parah, rentan pendarahan, mudah mengantuk, penurunan konsentrasi dan daya ingat, serta gangguan konsentrasi. Jika tidak segera diobati, gagal hati bisa menyebabkan kematian.

Risiko Kambuhnya Infeksi

Infeksi hepatitis A terkadang dapat datang kembali. Kambuhnya hepatitis A bisa terjadi lebih dari satu kali setelah infeksi pertama.

Risiko Mengalami Kolestasis

Kolestasis biasanya terjadi pada pengidap hepatitis A yang berusia lebih tua. Kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Komplikasi ini terjadi ketika cairan empedu menumpuk di dalam hati. Gejala-gejalanya meliputi penurunan berat badan, demam, sakit kuning yang tidak kunjung sembuh, dan diare.

Pencegahan hepatitis A yang utama adalah dengan menjaga kebersihan. Hal ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah mudah seperti:

  • Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, contohnya sebelum makan, sebelum mengolah makanan, dan setelah ke toilet.
  • Jangan berbagi barang-barang pribadi seperti sikat gigi atau handuk.
  • Jangan saling meminjamkan peralatan makan.
  • Selalu memasak makanan sampai matang dan merebus air sampai mendidih.
  • Hindari jajan di pedagang kaki lima yang kebersihannya kurang terjaga.
  • Hindari konsumsi makanan mentah yang berasal dari perairan yang terkontaminasi, misalnya tiram.

Pencegahan infeksi hepatitis A juga dapat dicegah melalui vaksinasi yang dilakukan sebanyak dua kali dengan selang waktu 6-12 bulan. Vaksin ini dianjurkan bagi mereka yang berisiko tinggi terkena hepatitis A, misalnya pengidap penyakit hati kronis, pria yang berhubungan seks dengan sesama pria, orang yang sering menggunakan jarum suntik seperti pengguna obat-obatan terlarang, dan orang yang bekerja di area yang berhubungan dengan kotoran seperti selokan.

Di negara Indonesia sendiri, vaksin ini tidak termasuk ke dalam imunisasi wajib. Tetapi telah tersedia dan bisa diberikan mulai dari usia 2-18 tahun sebanyak dua kali dengan interval 6-12 bulan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT