Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Obesitas

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi di dalam tubuh sehingga membuat berat badan berada di luar batas ideal.

Sejumlah komplikasi dapat timbul akibat obesitas, bahkan beberapa di antaranya membahayakan nyawa. Beberapa contoh komplikasi yang cukup serius tersebut di antaranya stroke, penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, kanker usus, dan kanker payudara.

Selain mengarah kepada sejumlah masalah kesehatan fisik, obesitas juga bisa menyebabkan masalah psikologis, seperti stres, dan depresi. Masalah psikologis ini timbul karena biasanya berawal dari rasa tidak percaya diri penderita obesitas yang mengalami perubahan bentuk badan.

Untuk mengetahui apakah berat badan Anda termasuk berat badan yang sehat bisa dilakukan melalui metode penghitungan IMT (indeks massa tubuh). Rumus yang dipakai dalam penghitungan IMT adalah berat tubuh dalam kilogram dibagi dengan tinggi tubuh dalam satuan meter kuadrat (m²). Sebagai contoh jika berat badan seseorang adalah 66 kilogram dan tingginya adalah 1,65 meter, maka penghitungannya adalah 66/(1,65 X 1,65) = 24,2. Hasil ini termasuk ke dalam kategori berat badan sehat atau normal karena masih berkisar antara 18,5 sampai 24,9.

Jika hasil akhir penghitungan IMT Anda kurang dari 18,5 maka Anda dianggap kekurangan berat badan. Sebaliknya, jika hasilnya lebih dari 24,9 maka Anda dianggap kelebihan berat badan. Seseorang dinyatakan mengalami obesitas jika memiliki hasil perhitungan IMT di antara 30-39,9. Selanjutnya, seseorang dianggap mengalami obesitas ekstrem jika hasil akhir BMI di atas 40.

Penyebab obesitas

Obesitas dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Sebenarnya mengonsumsi makanan berkalori tinggi tidak selalu menjadi masalah asalkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan tiap harinya. Namun, jika kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidak diimbangi oleh aktif berolahraga, maka sisa energi dari hasil pembakaran kalori tersebut akan disimpan di tubuh dalam bentuk lemak. Lambat laun, penumpukan lemak tersebut akan bertambah dan membuat tubuh terlihat membesar alias gemuk.

Selain akibat makanan tinggi kalori dan kurangnya melakukan olahraga, obesitas juga bisa terjadi karena:

  • Faktor keturunan (genetik)
  • Efek samping obat-obatan (antidepresan, obat antiepilepsi, kortikosteroid, dan diabetes)
  • Komplikasi dari penyakit tertentu (sindrom Cushing dan hipotiroidisme)

Obesitas di Indonesia

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada tahun 2008, sekitar 4,8 persen dari total penduduk Indonesia mengalami obesitas. Diperkirakan, kondisi ini dialami oleh 6,9 persen pria dan 2,6 persen wanita dari seluruh jumlah penduduk.

Pengobatan obesitas

Obesitas dapat ditangani sendiri dengan disiplin menerapkan pola makan sehat, seperti mengonsumsi makanan rendah lemak dan gula, serta berolahraga secara teratur. Olahraga yang dimaksud tidak perlu berat karena aktivitas berjalan pagi, bersepeda, bermain bulu tangkis, atau berenang sudah cukup, asalkan dilakukan secara rutin. Dianjurkan untuk melakukan olahraga 2,5-5 jam tiap minggu.

Penanganan dari dokter dapat diberikan jika obesitas tidak berhasil diatasi meskipun sudah disiplin dalam berolahraga dan menerapkan pola makan sehat. Contoh penanganan dari dokter adalah pemberian obat yang dapat menurunkan penyerapan lemak di dalam saluran pencernaan.

Pada beberapa kasus, obesitas akan ditangani dengan operasi. Operasi biasanya hanya dilakukan jika tingkatan obesitas dinilai sangat parah sehingga dikhawatirkan dapat mengancam nyawa penderita. Tindakan operasi juga dipertimbangkan jika usaha-usaha menurunkan berat badan yang sudah dilakukan selama beberapa waktu tetap tidak membuahkan hasil.

Perlu diingat bahwa penurunan berat badan yang dilakukan dengan usaha sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena itu dibutuhkan kesabaran demi mencapai hasil yang diinginkan dan komitmen untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.

Obesitas dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan tinggi kalori dengan tidak diimbangi oleh pergerakan fisik yang sesuai. Ketika energi yang dihasilkan dari pembakaran kalori tersebut tidak terpakai, maka tubuh akan menyimpannya dalam bentuk lemak. Seiring waktu, lemak ini akan terus bertumpuk dan terjadilah obesitas.

Kebutuhan rata-rata kalori bagi wanita dewasa yang aktif secara fisik per hari adalah sekitar 2000, sedangkan bagi pria dewasa yang juga aktif secara fisik adalah 2500. Namun yang menjadi masalah adalah kebanyakan dari kita jarang bergerak. Entah disebabkan oleh pekerjaan yang mengikat (misalnya diharuskan untuk duduk di depan komputer sepanjang hari) atau karena kita lebih suka mengisi waktu luang dengan bersantai, menonton tv, bermain video game, atau tidur.

Pada nyatanya faktor pekerjaan tidak boleh dijadikan alasan karena kita masih bisa memanfaatkan waktu luang setidaknya setengah jam tiap hari untuk berolahraga, seperti halnya berjalan cepat di pagi/sore hari, bersepeda, atau melakukan senam aerobik. Namun sering kali hal positif ini tidak kita lakukan, apalagi kekurangaktifan fisik ini diperparah juga oleh kebiasaan kita menyantap makanan dalam jumlah besar, kesukaan mengonsumsi makanan siap saji, mengonsumsi minuman manis, atau bahkan mengonsumsi minuman beralkohol.

Selain pola makan yang tidak sehat dan badan yang kurang aktif bergerak, obesitas juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor lainnya, seperti:

  • Keturunan atau genetik yang diwariskan dari orang tua.
  • Efek samping obat-obatan. Beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan adalah antidepresan, antipsikotik, antiepilepsi, steroid, obat diabetes, dan obat penghambat beta.
  • Kehamilan. Saat hamil, wanita akan membutuhkan banyak asupan nutrisi dari makanan. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang mengalami kesulitan untuk menguruskan kembali tubuhnya setelah melahirkan.
  • Kurang tidur. Perubahan hormon yang terjadi ketika kita kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan. Hal ini dapat mengarah kepada obesitas.
  • Pertambahan usia. Makin tua usia kita, maka makin besar pula risiko bertambahnya berat badan. Hal ini diakibatkan oleh metabolisme tubuh yang menurun dan massa otot yang berkurang.
  • Pola makan dan gaya hidup.

Ada beberapa jenis penyakit yang dampaknya bisa menyebabkan kenaikan berat badan, di antaranya:

  • Sindrom Prader-Willi. Seseorang yang lahir dengan gangguan genetik ini akan memiliki nafsu makan yang ekstre
  • Arthritis. Seseorang yang mengalami radang sendi biasanya akan sulit bergerak.Kondisi ini menjadikan aktivitas terbatas sehingga rentan mengalami kenaikan berat badan.
  • Sindrom Cushing. Penderita kondisi ini memiliki kadar hormon kortisol yang sangat tinggi di dalam tubuhnya. Kortisol adalah salah satu hormon yang dapat meningkatkan nafsu makan.
  • Sindrom ovarium polikistik. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan hormon-hormon di dalam sistem reproduksi wanita.
  • Hipotiroidisme. Ini merupakan gangguan kelenjar tiroid yang bisa menyebabkan produksi hormon-hormon penting menjadi kurang atau bahkan terhenti.

Cara utama untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak adalah melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan. Angka atau hasil perhitungan yang biasanya dijadikan dokter sebagai patokan berkondisi obesitas adalah 30 ke atas.

Selain dengan menghitung IMT, dokter juga mungkin akan menghitung perbandingan lingkar pinggul dan pinggang, mengukur ketebalan lipatan kulit, serta melakukan pemindaian dengan USG, CT scan dan MRI guna mengetahui kadar lemak dan distribusinya di dalam tubuh.

Hasil dari perhitungan lingkar pinggang dapat dijadikan dokter sebagai acuan apakah pasien berisiko terkena penyakit yang berkaitan dengan obesitas, seperti gangguan jantung dan diabetes. Risiko terkena penyakit tersebut akan meningkat jika pasien berjenis kelamin pria dan memiliki lingkar perut lebih dari 102 cm atau wanita dengan lingkar perut lebih dari 80 cm.

Dokter mungkin akan menawarkan pemeriksaan lanjutan lain, seperti tes darah (meliputi pemeriksaan kadar gula, kadar kolesterol, fungsi tiroid, dan fungsi hati) dan pemeriksaan jantung melalui elektrokardiogram untuk mengetahui tingkat risiko terkena penyakit terkait obesitas.

Menurunkan berat badan ke ukuran yang aman bagi kesehatan adalah tujuan utama pengobatan obesitas. Jika Anda menderita obesitas, disarankan untuk memangkas 600 asupan kalori per hari secara konstan agar bisa menurunkan berat badan secara aman. Penurunan berat badan yang aman bagi penderita obesitas adalah sekitar setengah kilogram sampai satu kilogram per minggu. Artinya, jika Anda seorang pria yang menderita obesitas, maka total asupan kalori per hari tidak boleh lebih dari 1900 kalori. Sedangkan jika Anda adalah seorang wanita penderita obesitas, maka asupan kalori per hari tidak boleh melebihi 1400.

Hindari makanan dan minuman yang mengandung lemak serta gula yang tinggi. Selain itu, hindari mengonsumsi minuman beralkohol. Disarankan untuk memperbanyak konsumsi makanan berserat tinggi, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Jenis makanan sehat lainnya adalah nasi merah, telur, daging rendah lemak, kacang-kacangan, ikan, kentang, dan roti gandum.

Jika Anda hendak membeli produk makanan atau minuman kemasan yang dijual di pasaran, perhatikan selalu kadar kalori yang tertera pada label produk. Hindari mengonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung garam karena dapat menyebabkan hipertensi.

Selain menerapkan kebiasaan makan sehat, hal lain yang juga harus Anda terapkan untuk mengatasi obesitas adalah dengan berolahraga secara rutin. Disarankan untuk melakukan olahraga selama dua setengah jam sampai lima jam per minggu. Contoh-contoh olahraga yang mudah dilakukan adalah berjalan santai di pagi atau sore hari, lari pagi, berenang, bermain bulutangkis, atau bersepeda santai.

Untuk mendukung keberhasilan Anda dalam mengobati obesitas, mintalah keluarga atau teman untuk turut mendukung dan memberikan motivasi. Selain itu, hindari situasi yang akan membuat Anda tergoda untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau makan secara tidak terkendali. Bila perlu, mintalah bantuan psikolog untuk membantu memperbaiki cara pandang Anda terhadap makanan atau pola makan. Jangan lupa untuk selalu memonitor hasil yang Anda dapat dengan cara rutin menimbang badan dan mencatatnya untuk melakukan perbandingan dengan minggu-minggu berikutnya.

Penanganan obesitas menggunakan obat

Penanganan obesitas dengan obat biasanya akan disarankan oleh dokter apabila berat badan tidak berhasil diturunkan oleh penerapan pola hidup sehat semata. Pemberian obat juga biasanya hanya akan dilakukan dokter jika BMI Anda mencapai angka 28 atau lebih, dan Anda memiliki penyakit diabetes atau hipertensi.

Obat yang sering kali diresepkan oleh dokter untuk menangani obesitas adalah obat yang mangandung orlistat. Obat ini bekerja di dalam saluran pencernaan dengan cara memblokir penyerapan lemak oleh tubuh. Efek samping penggunaan orlistat tergolong ringan, yaitu pusing, nyeri perut, perut kembung, serta menjadi sulit menahan dan sering buang air besar. Tinja seseorang yang mengonsumsi obat ini tampak seperti berminyak. Hal ini disebabkan oleh pembuangan lemak yang tidak terserap oleh tubuh.

Jika orlistat berhasil menurunkan lima persen berat badan dalam waktu tiga bulan, penggunaan obat ini sebaiknya diteruskan. Namun jika dalam jangka waktu tersebut tidak ada penurunan berat badan yang berarti, maka obat ini tidak efektif untuk Anda dan sebaiknya Anda menemui dokter kembali untuk dicarikan solusi alternatif.

Pengobatan obesitas dengan prosedur operasi

Prosedur operasi biasanya baru disarankan jika obesitas yang diderita pasien sudah mencapai taraf sangat berbahaya.

Meski prosedur bedah menjanjikan hasil yang cepat, namun tidak menjamin bahwa penurunan berat badan dapat dipertahankan secara jangka panjang. Hasil operasi akan dapat dipertahankan pasien jika dia mau mengubah kebiasaan pola hidup negatifnya menjadi pola hidup yang sehat.

Dua contoh prosedur operasi untuk menangani obesitas adalah operasi bypass lambung dan operasi laparoscopic adjustable gastric banding (LAGB). Operasi bypass lambung dilakukan dengan tujuan membatasi jumlah makanan yang masuk sekaligus menghambat proses penyerapannya dengan cara membuat kantung kecil di atas lambung serta jalan baru dari kantung kecil tersebut ke usus halus tanpa melewati lambung. Sedangkan operasi LAGB hampir mirip dengan bypass lambung, yaitu bertujuan memperlambat proses konsumsi makanan sehingga Anda lebih cepat merasa kenyang dan akhirnya mengurangi jumlah asupan makanan. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasang perangkat penjepit berbentuk gelang di sekitar lambung.

Obesitas yang didasari kondisi lain

Jika obesitas merupakan gejala atau komplikasi dari penyakit yang sedang Anda derita, misalnya diabetes, hipertensi, apnea tidur obstruktif, atau sindrom ovarium polikistik, maka dokter akan menyesuaikan pengobatan dengan kondisi yang mendasari tersebut. Dalam kasus seperti ini, pengobatan biasanya penderita akan dirujuk ke spesialis yang berkaitan.

Penderita obesitas dapat mengalami kesulitan dalam menjalani rutinitas sehari-harinya secara normal dikarenakan kemampuan gerak mereka yang terbatas dan juga kondisi fisik yang cepat lelah dan gampang berkeringat. Selain itu, penderita obesitas juga biasanya akan merasa tidak percaya diri dan merasa terkucilkan. Sering kali perasaan tersebut berkembang menjadi depresi atau menyebabkan kerusakan hubungan dengan orang lain.

Berikut ini sejumlah masalah kesehatan yang terkait dengan obesitas, di antaranya:

  • Mendengkur
  • Sesak napas
  • Nyeri sendi
  • Nyeri punggung
  • Aterosklerosis
  • Kolesterol tinggi
  • Hipertensi
  • Sindrom metabolik
  • Diabetes tipe 2
  • Asma
  • Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD)
  • Apnea tidur
  • Osteoarthritis
  • Penyakit batu empedu
  • Disfungsi ereksi
  • Gangguan menstruasi
  • Komplikasi kehamilan
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan hati
  • Kanker usus
  • Kanker rahim
  • Kanker payudara
  • Stroke
  • Penyakit jantung

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT