Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Gangguan obsesif kompulsif atau yang lebih dikenal dengan singkatan OCD adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Gangguan ini merupakan penyakit jangka panjang seperti halnya tekanan darah tinggi maupun diabetes.

Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari 3 kali sebelum keluar rumah.

Jumlah pasti penderita OCD sulit diketahui karena para penderita umumnya enggan ke dokter. Tetapi Anda tidak perlu malu dan menutupinya jika mengalami OCD karena langkah-langkah terapi yang tepat terbukti efektif untuk menanganinya.

Gejala dan Tahap OCD

Gejala OCD yang dialami tiap penderita berbeda-beda. Ada yang ringan di mana penderita menghabiskan sekitar 1 jam bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang parah hingga gangguan ini menguasai dan mengendalikan hidupnya.

Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kelegaan sementara.

Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa takut atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan berkurang.

Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara. Namun obsesi serta kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola itu.

Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Menjaga kebersihan serta kerapian yang berlebihan bukan berarti Anda otomatis mengidap OCD. Pikiran OCD bukan hanya sekedar rasa cemas yang ekstrem tentang masalah dalam kehidupan. Jika obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, harap periksakan diri ke dokter atau psikolog.

Faktor Risiko Dalam OCD

Penyebab OCD belum berhasil diketahui secara pasti. Meski demikian, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis sejumlah faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko OCD. Di antaranya adalah:

  • Faktor genetika. Ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan ini berhubungan dengan gen tertentu yang memengaruhi perkembangan otak.
  • Ketidaknormalan pada otak. Hasil penelitian pemetaan otak memperlihatkan adanya ketidaknormalan pada otak penderita OCD yang melibatkan serotonin yang tidak seimbang. Serotonin adalah zat penghantar yang digunakan otak untuk komunikasi di antara sel-selnya.
  • Kepribadian seseorang. Orang yang rapi, teliti, serta memiliki disiplin tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar untuk mengalami OCD.
  • Trauma atau kejadian penting dalam hidup, contohnya karena mengalami perundungan (bullying) atau setelah persalinan.

Langkah Pengobatan dan Komplikasi OCD

Tingkat pengobatan OCD bergantung kepada sejauh apa dampak OCD yang Anda alami dalam kehidupan Anda. Ada beberapa langkah dalam penanganan OCD, yaitu:

  • Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku Anda.
  • Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang Anda alami.

Mencari bantuan medis adalah hal terpenting bagi penderita OCD karena mereka memiliki kemungkinan untuk sembuh atau setidaknya untuk menikmati hidup dengan mengurangi gejalanya.

Jika tidak ditangani, perasaan tertekan dapat bertambah parah dan membuat penderita makin sulit untuk menghadapi OCD sehingga mengalami depresi. Tingkat depresi yang parah bahkan dapat memicu dorongan untuk bunuh diri.

Dampak gangguan obsesif kompulsif (OCD) berbeda-beda pada tiap orang. Tetapi kelainan ini biasanya menyebabkan pola pikir dan perilaku tertentu, yaitu obsesi, kompulsi, kelegaan sementara, dan kecemasan.

Tahap obsesi muncul saat pikiran Anda terus dikuasai ketakutan atau kecemasan, misalnya ketakutan berlebihan untuk tertular penyakit. Kemudian obsesi dan rasa tertekan akan memancing aksi kompulsi yang mendorong penderita untuk melakukan hal tertentu guna mengurangi rasa cemas dan tertekan seperti mencuci tangan sebanyak lima kali. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara, tapi obsesi serta kecemasan akan kembali dan membuatnya mengulangi pola tersebut.

Semua orang pasti memiliki pikiran tidak menyenangkan atau negatif. Tetapi sebagian besar orang dapat melanjutkan hidup secara normal karena berhasil mengendalikan pikiran dan membendung kekhawatiran tersebut. Jika benak Anda terus dihantui dan sangat dikuasai pikiran negatif, maka terdapat kemungkinan bahwa Anda mengalami obsesi. Beberapa jenis obsesi yang umumnya menguasai penderita OCD adalah:

  • Takut terkontaminasi atau kotor, misalnya karena menyentuh objek yang sudah disentuh orang lain atau bersalaman.
  • Semua harus teratur dan simetris, contohnya menyusun pakaian berdasarkan gradasi warna.
  • Takut tidak sengaja melukai diri sendiri atau orang lain, seperti berulang kali memeriksa setrika karena takut menyebabkan kebakaran.
  • Munculnya pikiran yang tidak diinginkan, termasuk tentang sikap agresif, seksualitas, keyakinan,serta agama. Misalnya mendadak ingin mengutarakan sumpah serapah tanpa alasan jelas atau tertekan karena sering membayangkan hal-hal seksual.

Penderita OCD juga umumnya melakukan tindakan repetitif tertentu. Tujuannya adalah untuk mengurangi atau mencegah kecemasan yang disebabkan oleh pikiran obsesif. Tetapi perilaku ini sering berlebihan atau tidak berhubungan secara rasional dengan hal yang ditakutkan. Contohnya:

  • Mencuci tangan berkali-kali sampai kulit menjadi kering dan lecet.
  • Berulang kali memeriksa pintu, kompor, atau setrika.
  • Selalu bersih-bersih.
  • Sangat menyukai keteraturan dan selalu menghitung.
  • Tidak pernah membuang barang walau sudah tidak terpakai.
  • Terus-terus bertanya untuk memastikan sesuatu.
  • Mengulang kata-kata atau doa tanpa bersuara.

Penderita OCD umumnya pun menyadari bahwa tindakan kompulsif mereka tidak masuk akal, tetapi mereka tidak bisa menghentikannya sehingga dapat memberikan dampak negatif pada kehidupan penderitanya. Karena itu, sangat penting bagi penderita untuk mencari bantuan guna mengatasi kondisinya. Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, penderita OCD umumnya dapat mengatasi kondisi dan memperbaiki kualitas hidup mereka.

Penyebab pasti dari gangguan ini belum berhasil ditemukan, tapi faktor keturunan dan pengaruh kehidupan yang berat diduga berperan besar sebagai pemicu OCD.

Jika memiliki orang tua atau saudara yang mengidap OCD, risiko Anda untuk menderita gangguan yang sama juga dipercaya akan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Penelitian menunjukkan bahwa OCD mungkin muncul akibat gen keturunan tertentu yang memengaruhi perkembangan otak.

Kejadian signifikan atau menyedihkan dan yang menyebabkan trauma, seperti kehilangan anggota keluarga atau keretakan hubungan keluarga, dapat memicu OCD pada mereka yang lebih berisiko terkena OCD misalnya akibat keturunan. Walau tidak menyebabkan OCD, stres dapat memperparah gejala-gejala OCD pada penderitanya.

Di luar kedua faktor tersebut, ada beberapa hal lain yang juga diperkirakan dapat memicu OCD. Di antaranya:

  • Pengaruh pola asuh dan keluarga. Sikap orang tua yang terlalu cemas dan protektif dapat meningkatkan risiko seseorang menderita OCD.
  • Kelainan pada otak. Penelitian juga menunjukkan bahwa ada kekurangan senyawa serotonin pada otak penderita OCD. Serotonin adalah salah satu senyawa otak yang berperan mengatur beberapa fungsi tubuh yang meliputi suasana hati, kecemasan, ingatan, dan pola tidur.
  • Dampak dari infeksi. Menurut salah satu teori, antibodi dapat memicu reaksi tubuh terhadap bagian otak tertentu dan bisa memicu OCD. Gejala OCD yang muncul akibat terpicu infeksi biasanya mulai dalam waktu 7-14 hari.

Banyak penderita gangguan obsesif kompulsif (OCD) yang tidak memeriksakan diri ke dokter karena merasa malu. Padahal penderita tidak perlu menutupinya dari keluarga serta teman terdekat karena dampak negatif OCD pada kehidupan dapat dikurangi dengan langkah diagnosis dan penanganan yang tepat. Gangguan ini merupakan penyakit jangka panjang (kronis) seperti halnya diabetes dan tekanan darah tinggi.

Dokter akan bertanya sekitar pikiran, perasaan, gejala, serta pola perilaku penderita terlebih dahulu. Jika diduga positif mengidap OCD, tahap selanjutnya adalah pemeriksaan tingkat keparahan gejala oleh dokter spesialis. Tingkat keparahan OCD dapat dilihat dari intensitas perilaku kompulsif, waktu yang dihabiskan untuk melakukan perilaku kompulsif atau ritual tertentu, dan sejauh apa gangguan itu menguasai pikiran dibandingkan tindakan. Ada tiga kategori yang dapat mengelompokkan tingkat keparahan OCD, yaitu:

  • Terganggu dalam skala berat di mana pikiran obsesif dan perilaku kompulsif menguasai Anda selama lebih dari tiga jam dalam sehari.
  • Terganggu dalam skala menengah di mana pikiran obsesif dan perilaku kompulsif menguasai Anda selama 1-3 jam dalam sehari.
  • Terganggu dalam skala ringan di mana pikiran obsesif dan perilaku kompulsif menguasai Anda selama kurang dari satu jam dalam sehari.

Saran Untuk Keluarga Penderita OCD

Karena tidak ingin membuat mereka sedih atau tertekan, teman serta keluarga penderita OCD cenderung menuruti kemauan mereka. Tetapi sikap ini tidak tepat karena dapat memperparah perilaku obsesif kompulsif mereka. Menentang dan menyadarkan para penderita dari perilaku janggal mereka justru lebih berguna. Kita juga sebaiknya menganjurkan mereka untuk mencari bantuan medis.

Dampak OCD pada rutinitas sehari-hari akan menentukan proses pengobatan yang cocok untuk Anda. Proses pengobatan ini dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu sampai hasilnya benar-benar efektif, terkadang lamanya hingga berbulan-bulan. Karena itu, penderita OCD serta keluarganya dianjurkan untuk menjalani proses pengobatan dengan sabar.

Langkah pengobatan yang biasanya akan dijalani meliputi terapi perilaku untuk mengubah tingkah laku dan mengurangi kecemasan. Selain itu juga ada obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang dialami.

Hambatan OCD dalam rutinitas penderita sering disebut sebagai gangguan fungsional. Jika masih termasuk ringan, gangguan ini pada umumnya bisa ditangani dengan terapi perilaku atau CBT saja. Tetapi jika lebih berat, terapi CBT akan lebih ditekankan dan obat antidepresan juga bisa disertakan.

Anak-anak yang mengidap OCD umumnya akan ditangani oleh dokter dengan spesialisasi menangani OCD pada anak-anak.

Terapi Pajanan dan Pencegahan Respons (Exposure and response prevention/ERP)

CBT meliputi terapi pajanan dan pencegahan respons (ERP) yang terbukti efektif untuk menangani OCD. Dalam terapi ini, sejumlah situasi yang menjadi pemicu kecemasan penderita akan dideteksi. Penderita akan menjalani pajanan terhadap objek atau obsesinya dan belajar mengatasi kecemasan secara bertahap dengan cara yang sehat.

Tahap ini harus dilewati tanpa melakukan perilaku kompulsif yang biasa muncul untuk menghilangkan kecemasan penderita. Proses ini memang terdengar menakutkan, tapi terbukti sangat membantu.

Tingkat dan durasi kecemasan penderita biasanya cenderung berkurang seiring jumlah latihan yang dijalaninya. Setelah berhasil menaklukkannya, penderita dapat melanjutkan ke pemicu kecemasan yang lebih berat.

Penggunaan Antidepresan

Obat-obatan juga mungkin dibutuhkan untuk menangani OCD jika penderita mengalami tingkat OCD menengah atau parah, dan jika CBT tidak cukup efektif. Beberapa jenis obat yang biasa digunakan adalah fluoxetine, citalopram, dan clomipramine.

Fluoxetine dan citalopram termasuk obat-obatan penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI). Jenis antidepresan ini dapat meningkatkan jumlah serotonin dalam otak dan manfaatnya akan terasa biasanya setelah tiga bulan pemakaian. Tetapi penderita OCD tingkat menengah dan parah setidaknya perlu mengonsumsinya selama satu tahun. Jika penderita hanya mengalami sedikit gejala atau tidak sama sekali saat kembali diperiksa, dokter mungkin akan mengizinkannya untuk menghentikan penggunaan.

Penderita perlu waspada karena obat ini dapat meningkatkan kecemasannya sehingga dapat menimbulkan dorongan untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Segera periksakan penderita ke dokter atau rumah sakit terdekat jika dia mengonsumsi SSRI dan mengalami dorongan-dorongan negatif tersebut.

Penderita juga sebaiknya tidak berhenti mengonsumsi SSRI tanpa mendiskusikannya dengan dokter karena dapat menyebabkan kambuhnya gejala-gejala OCD. Dokter akan mengurangi dosis secara bertahap sampai Anda boleh berhenti meminumnya.

Bagi penderita OCD yang tidak cocok mengonsumsi SSRI, tersedia clomipramine yang merupakan antidepresan trisiklik (TCA). Tetapi meski terbukti efektif, obat ini jarang dianjurkan oleh dokter karena efek sampingnya yang lebih banyak.

TCA tidak cocok untuk orang yang memiliki tekanan darah rendah, aritmia (detak jantung yang tidak teratur), dan pernah terkena serangan jantung dalam waktu dekat. Orang yang berisiko terkena penyakit kardiovaskular juga dianjurkan untuk menghindari penggunaan obat ini. Jika memang perlu, pengguna obat ini sebaiknya menjalani tes tekanan darah dan elektrokardiogram (EKG) secara teratur.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT