Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Obstruksi Usus

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Obstruksi usus adalah penyumbatan yang terjadi di dalam usus. Kondisi ini dapat menyebabkan peredaran makanan atau cairan di dalam saluran pencernaan menjadi terganggu. Obstruksi usus bisa terjadi di dalam usus halus atau besar dan sifatnya bisa parsial (sebagian) atau total. Pada kasus obstruksi usus parsial, sedikit makanan atau cairan masih bisa melewati usus. Sedangkan pada kasus obstruksi usus total, tidak ada apa pun yang bisa melewati usus.

Jika penyumbatan di dalam usus tidak diobati, maka makanan atau cairan yang telah bercampur dengan asam lambung dan gas bisa menumpuk di lokasi penyumbatan tersebut dan menimbulkan tekanan pada usus. Lambat laun, tekanan ini akan membesar dan bisa menyebabkan usus bocor. Pada kondisi usus bocor, isi di dalamnya bisa keluar dan masuk ke rongga perut. Kondisi ini dianggap darurat medis.

Gejala Obstruksi Usus

Obstruksi usus bisa dikenali dari gejala-gejala berikut ini, di antaranya:

  • Nyeri seperti kram di dalam perut yang muncul dan hilang secara silih berganti)
  • Konstipasi
  • Sulit buang angin atau pergerakan usus terganggu
  • Perut bengkak
  • Muntah
  • Hilang nafsu makan

Penyebab Obstruksi Usus

Obstruksi usus bisa dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Umumnya, obstruksi usus pada orang dewasa disebabkan oleh kanker usus dan adhesi usus, dikenal juga sebagai penyakit perlengketan usus. Sedangkan pada anak-anak, kondisi ini umumnya disebabkan oleh intususepsi usus (posisi usus yang terlipat ke dalam seperti teropong). Beberapa penyakit berikut juga dapat menimbulkan obstruksi usus:

  • Penyakit Crohn
  • Hernia
  • Divertikulitis atau radang divertikula
  • Pengerasan tinja di dalam usus besar
  • Penyakit volvulus (kondisi ini menyebabkan usus terpelintir)

Jika tidak segera ditangani, obstruksi usus dapat menyebabkan komplikasi yang membahayakan nyawa pasien. Komplikasinya berupa kematian jaringan usus akibat pasokan darah yang berhenti. Hal ini dapat memicu robekan pada dinding usus yang menyebabkan keluarnya isi usus ke rongga perut dan menyebabkan infeksi (peritonitis).

Diagnosis Obstruksi Usus

Dokter akan menanyakan gejala yang diderita dan riwayat medis pasien. Selanjutnya, seorang pasien juga bisa dicurigai menderita obstruksi usus oleh dokter apabila bagian perutnya terlihat membengkak atau terasa nyeri atau terdapat benjolan. Kecurigaan tersebut akan diperkuat jika pasien memiliki riwayat kesehatan yang terkait dengan obstruksi usus.

Obstruksi usus mungkin saja dapat terdeteksi oleh dokter setelah mendengarkan suara di area perut dengan bantuan stetoskop. Untuk mengetahui lokasi penyumbatan, dokter akan melakukan pemeriksaan X-ray dan CT scan. Kedua pemeriksaan ini juga berguna untuk mengetahui penyebab obstruksi usus. Kolonoskopi mungkin diperlukan sebagai pemeriksaan tambahan jika diketahui terdapat penyumbatan di dalam usus besar. Pemeriksaan menggunakan cairan barium enema juga mungkin akan dilakukan pada kasus-kasus tertentu. Tindakan ini bahkan mungkin dapat mengatasi kasus intususepsi pada anak sehingga tidak perlu terapi lanjutan.

Pengobatan Obstruksi Usus

Umumnya penderita obstruksi usus parsial tidak perlu menjalani operasi. Dokter biasanya hanya akan merekomendasikan makanan-makanan khusus berserat rendah agar bisa dicerna dengan mudah oleh penderita. Penderita diharuskan untuk terus mengonsumsi makanan tersebut sampai obstruksi usus parsial sembuh dengan sendirinya. Jika kondisi ini tidak kunjung membaik, maka dokter kemungkinan akan menyarankan operasi.

Operasi juga akan disarankan bagi penderita obstruksi usus total. Beberapa jenis operasi yang dilakukan kasus obstruksi usus adalah:

  • Laparoskopi. Prosedur ini biasanya diterapkan pada penderita adhesi usus atau pada penyumbatan yang belum terlalu besar. Dokter akan memasukkan alat khusus yang disebut laparoskop melalui sebuah irisan kecil di perut.
  • Laparotomi. Dalam prosedur ini, dokter akan membuat irisan di perut untuk mencari tahu penyebab penyumbatan usus, kemudian mulai melakukan penanganan.
  • Kolonoskopi. Prosedur ini biasanya diterapkan pada kasus obstruksi usus akibat usus yang terpelintir. Dokter akan memasukkan selang khusus yang dilengkapi kamera dan lampu di ujungnya bersamaan dengan selang karet panjang (flatus tube) untuk mengurangi tekanan di dalam usus dan menguraikan organ tersebut.
  • Pemasangan stent endoskopik. Metode pengobatan obstruksi usus ini biasanya diterapkan pada penderita yang sudah lanjut usia atau pada pasien sakit kanker yang menjalani perawatan paliatif. Stent digunakan untuk menyangga usus agar tetap terbuka. Pemasangan alat ini dilakukan melalui endoskopi.
  • Kolostomi. Prosedur ini biasanya diterapkan pada kasus obstruksi usus parah. Dokter akan membuat stoma atau lubang alternatif untuk mengalirkan kotoran keluar dari tubuh ke dalam kantung plastik.

Operasi dilakukan pada pasien yang kondisi kesehatannya memenuhi syarat. Bagi pasien yang belum bisa menjalani operasi, dokter biasanya akan memberikan obat untuk meredakan gejala untuk sementara. Contoh obat yang mungkin diberikan adalah:

  • Obat pereda nyeri golongan opioid
  • Obat steroid
  • Obat antiemetik (anti muntah)
  • Obat antispasmodik (anti kontraksi)

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT