Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Infeksi Usus

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Infeksi usus adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada usus kecil dan besar. Kondisi dengan istilah medis enterokolitis ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis infeksi akibat virus, jamur, bakteri, maupun parasit.

Gejala umum pada infeksi usus adalah gangguan pencernaan. Gejala dan tanda klinisnya dapat berupa diare yang bisa disertai mual, muntah-muntah, darah pada tinja, sakit perut, demam, serta menggigil.

Terdapat 2 jenis infeksi usus, yaitu necrotizing enterocolitis (NEC) dan kolitis pseudomembran.

Necrotizing Enterocolitis (NEC)

NEC adalah terbentuknya nekrosis atau jaringan mati dalam usus. Kondisi ini umumnya terjadi pada bayi prematur dan dapat menyebabkan kematian.

Penyebab munculnya jaringan mati tersebut belum diketahui hingga saat ini. Beberapa faktor yang diduga berpotensi meningkatkan risiko bayi untuk mengalami NEC meliputi:

  • Konsumsi susu formula yang lebih banyak dibandingkan dengan ASI.
  • Transfusi darah.
  • Bayi yang sakit parah.

Di samping diare dan muntah, NEC dapat ditandai dengan gejala berupa perut kembung, susah makan, perut yang membesar, lemas, serta napas, detak jantung, tekanan darah, atau suhu tubuh menjadi tidak stabil.

Bayi yang mengalami gejala-gejala tersebut sebaiknya segera menjalani pemeriksaan mendetail seperti USG atau X-ray pada bagian perut, pengambilan sampel tinja guna memeriksa keberadaan darah, serta tes darah lengkap (termasuk analisa gas darah serta kadar elektrolit).

Apabila positif mengidap NEC, dokter akan segera menganjurkan sejumlah metode penanganan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  • Menghentikan pemberian makanan secara oral.
  • Memberikan cairan, gizi, serta antibiotik melalui infus.
  • Mengeluarkan gas dari usus melalui selang yang dimasukkan ke dalam perut.

Prosedur X-rayperut serta tes darah juga dianjurkan setiap 6 jam sekali. Langkah ini sangat penting agar dokter dapat senantiasa memantau kondisi pasien.

Jika kondisi pasien tidak kunjung membaik atau bertambah parah, dokter akan menganjurkan operasi sebagai berikut:

  • Pengangkatan jaringan yang mati pada usus.
  • Prosedur melubangi dinding perut untuk mengeluarkan ujung usus kecil atau besar.

Terdapat beberapa komplikasi serius yang berpotensi dialami oleh pengidap NEC. Contohnya adalah sepsis, peritonitis, gangguan hati, sindrom usus pendek, serta usus yang berlubang.

Kolitis Pseudomembran

Kolitis pseudomembran adalah salah satu jenis pembengkakan atau inflamasi usus besar parah. Inflamasi tersebut disebabkan oleh perkembangan jumlah bakteri Clostridium difficile (C.diff)yang berlebihan.

Pada kondisi normal, bakteri C.diff memang ada dalam usus besar manusia. Tetapi jika Anda mengonsumsi antibiotik, bakteri tersebut bisa berkembang secara tidak terkendali.

Kolitis pseudomembran termasuk penyakit menular karena bakteri C.diff bisa menyebar melalui spora-spora yang terkandung dalam tinja. Beberapa faktor yang dapat mempertinggi risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini meliputi:

  • Usia. Penyakit ini lebih sering diidap oleh orang dewasa.
  • Penggunaan antibiotik, seperti ampicilin, clindamycin, serta cephalosporin.
  • Tempat perawatan seperti rumah sakit, panti jompo atau institusi medis lainnya. Penyebaran bisa terjadi lewat tangan pekerja medis yang tercemar spora tersebut.
  • Pasien yang menginap dalam waktu lama di rumah sakit, misalnya karena mengidap sakit parah.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, contohnya karena kemoterapi.

Apabila mengalami diare (5 hingga 10 kali dalam sehari untuk dewasa dan setidaknya 3 kali sehari selama lebih dari dua hari pada pasien anak-anak), kram perut, merasa ingin buang air besar, serta muncul darah pada tinja, segera periksakan diri ke dokter.

Jenis pemeriksaan yang akan dijalani oleh pasien umumnya berupa kolonoskopi, sigmoidoskopi, serta pemeriksaan immunoassay guna memeriksa keberadaan racun bakteri C.diff pada sampel tinja. Immunoassay adalah pendeteksian atau pengukuran kadar substansi tertentu melalui penggunaan antibodi (umumnya) atau antigen (jarang).

Jika diagnosis pasien positif, dokter akan menyarankan beberapa langkah penanganan. Di antaranya adalah:

  • Berhenti mengonsumsi antibiotik penyebab kolitis pseudomembran.
  • Pemberian cairan melalui infus guna menangani dehidrasi akibat diare.
  • Mengonsumsi antibiotik lain untuk mengendalikan bakteri C.diff. Contohnya, metronidazole, vancomycin, serta fidaxomicin.
  • Operasi. Prosedur ini hanya dianjurkan jika langkah-langkah lain terbukti tidak efektif.

Melalui pengobatan yang cermat dan seksama, kolitis pseudomembran dapat disembuhkan tanpa ancaman komplikasi. Meski demikian, risiko komplikasi yang biasa berupa dehidrasi, usus besar yang berlubang, serta pembengkakan usus besar tetaplah ada.

Demikian pula dengan kemungkinan kambuh yang umumnya membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Langkah ini biasanya dilakukan dengan pemberian antibiotik untuk jangka panjang.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT