Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Inkontinensia Urine

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Inkontinensia urine adalah kondisi dimana urine keluar tanpa terkontrol. Tingkat keparahan penyakit ini pun bervariasi, mulai dari urine yang merembes keluar saat Anda batuk atau bersin, hingga rasa ingin berkemih yang sangat dan tiba-tiba sehingga Anda tidak sempat pergi ke toilet.

Secara garis besar, inkontinensia urine terbagi menjadi enam jenis, yakni:

  • Inkontinensia dorongan. Ini adalah salah satu jenis inkontinensia urine yang paling sering, di mana pada kondisi ini penderita akan mengalami rasa ingin berkemih yang sangat dan tiba-tiba hingga pasien tidak mampu menahannya lagi.
  • Inkontinensia stres. Pada jenis ini, urine langsung keluar saat kandung kemih mendapat tekanan yang tiba-tiba (misalnya ketika tertawa, bersin, atau batuk).
  • Inkontinensia luapan. Disebut juga resistensi urine kronis, di mana kandung kemih tidak mampu mengeluarkan urine secara sempurna setiap kali berkemih. Akibatnya, kandung kemih akan membesar akibat terjadi tumpukan sisa urine.
  • Inkontinensia total. Urine sering keluar tanpa terkontrol akibat kandung kemih yang tidak bisa menampung urine sama sekali, sehingga urine akan langsung dialirkan keluar.
  • Inkontinensia fungsional. Urine keluar tanpa kontrol akibat seseorang menderita suatu gangguan kesehatan (baik fisik atau mental) sehingga ia tidak bisa ke kamar kecil tepat pada waktunya.
  • Inkontinensia campuran. Tipe ini adalah campuran lebih dari satu jenis inkontinensia urine di atas.

Inkontinensia urine merupakan kondisi yang banyak diidap oleh orang di seluruh dunia. Namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena inkontinensia urine, antara lain menjaga berat badan supaya tidak berebihan, mengonsumsi makanan berserat, mengurangi konsumsi minuman yang dapat mengiritasi kandung kemih (misalnya kopi), dan melakukan senam kegel (untuk ibu hamil). Segera konsultasikan dengan dokter jika inkontinensia urine sudah mengganggu aktivitas harian.

Gejala Inkontinensia Urine

Gejala inkontinensia urine berbeda-beda, tergantung dari jenis inkontinensia yang dialami. Gejala-gejalanya adalah sebagai berikut:

  • Inkontinensia dorongan. Pada jenis ini, urine dapat keluar akibat perubahan posisi, atau bahkan hanya dengan mendengarkan suara aliran air. Urine juga dapat keluar dengan tidak disadari pada saat melakukan hubungan seksual.
  • Inkontinensia stres. Urine terutama keluar atau merembes pada saat ada tekananan pada kandung kemih, seperti bersin, tertawa keras, batuk, atau angkat beban. Jumlah urine yang keluar umumnya hanya sedikit, namun bisa juga banyak saat tekanan semakin besar atau saat kandung kemih penuh.
  • Inkontinensia luapan. Pada kondisi ini, kandung kemih biasanya akan berisi tumpukan sisa urine sehingga urine akan keluar sedikit-sedikit secara sering. Selain itu, penderita akan selalu merasa ada sisa urine yang mengganjal, meskipun sudah berusaha mengosongkan kandung kemih.
  • Inkontinensia total. Ini merupakan kondisi yang cukup parah di mana penderita seringkali akan mengeluarkan urine dalam jumlah banyak, bahkan pada malam hari.

Seorang yang menderita gejala saluran kemih bawah/lower urineary tract symptoms (LUTS) cenderung berisiko mengalami inkontinensia urine. LUTS umum terjadi di kalangan wanita atau pria yang memasuki usia tua. Seseorang dengan kondisi ini akan mengalami gangguan dalam menahan urine, gangguan ketika mengeluarkan urine, dan gangguan setelah mengeluarkan urine.

Penyebab Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine bukanlah sebuah penyakit, melainkan sebuah gejala. Penyebab inkontinensia urine pun beragam, mulai dari pola kebiasaan sehari-hari hingga adanya kondisi medis yang mendasarinya. Berikut ini penjelasan secara lebih rinci mengenai penyebab inkontinensia urine sesuai dengan jenis-jenisnya.

  • Penyebab inkontinensia dorongan: Penyebab inkontinensia jenis ini berkaitan erat dengan otot yang melapisi dinding kandung kemih. Otot-otot tersebut berkontraksi secara berlebihan, sehingga meningkatkan dorongan seseorang untuk berkemih. Kontraksi otot kandung kemih ini dipicu oleh berbagai hal seperti minum alkohol atau kafein secara berlebihan, konstipasi, infeksi saluran kemih, atau beberapa kondisi kelainan saraf.
  • Penyebab inkontinensia stres: Inkontinensia stres terjadi pada saat tekanan dalam kandung kemih lebih kuat dibandingkan kemampuan uretra untuk menahan urine supaya tidak keluar. Uretra adalah saluran yang mengalirkan urine keluar dari tubuh. Kelemahan uretra ini dapat disebabkan oleh gangguan pada proses persalinan, obesitas, penyakit Parkinson atau multipel sklerosis, atau kerusakan uretra akibat tindakan operasi.
  • Penyebab inkontinensia luapan: Tersumbatnya kandung kemih biasanya terjadi akibat pembesaran kelenjar prostat, adanya batu kandung kemih, adanya kerusakan saraf, atau konstipasi.
  • Penyebab inkontinensia total: Kandung kemih tidak mampu menampung urine sama sekali umumnya dikarenakan adanya gangguan pada kandung kemih sejak lahir, cedera pada saraf tulang belakang, serta munculnya lubang (bladder fistula) di antara kandung kemih dan organ sekitanya, misalnya vagina.

Selain itu, beberapa obat-obatan juga dapat mengganggu proses penyimpanan dan penyaluran urine yang normal, serta dapat meningkatkan produksi urine. Obat-obatan tersebut adalah:

  • Obat anti-depresan.
  • Obat untuk hormone replacement therapy (HRT).
  • Obat sedatif.
  • Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor).
  • Diuretik.

Faktor Resiko Inkontinensia Urine

Ada beberapa faktor yang memperbesar risiko seseorang mengalami inkontinensia urine, yaitu:

  • Kelebihan berat badan. Berat badan yang berlebih akan menambah tekanan dan melemahkan otot-otot kandung kemih.
  • Bertambahnya usia. Otot pada pada kandung kemih dan uretra akan semakin melemah ketika usia seseorang bertambah tua.
  • Menderita gejala saluran kemih bawah (LUTS).
  • Penyakit lainnya. Diabetes atau penyakit neurologis lainnya dapat meningkatkan resiko seseorang menderita inkontinensia urine.
  • Faktor keturunan. Kemungkinan seseorang terkena inkontinensia urine akan lebih besar jika ada anggota keluarga yang menderitanya.
  • Berjenis kelamin wanita. Inkontinensia tekanan lebih beresiko menyerang wanita, karena bentuk anatominya. Selain itu wanita juga mengalami kehamilan, melahirkan, dan menopause yang memperbesar resiko inkontinensia urine.

Diagnosis Inkontinensia Urine

Dalam mendiagnosis inkontinensia urine, dokter mungkin akan bertanya tentang gejala yang dirasakan dan riwayat medis, kemudian baru melakukan pemeriksaan fisik pada pasien.

Selain pemeriksaan fisik, dokter biasanya juga akan menjalankan beberapa pemeriksaan seperti:

  • Analisis urine. Dokter akan meneliti sampel urine pasien untuk mencari ada tidaknya tanda infeksi, kandungan darah atau kondisi abnormal lainnya.
  • Uji dipstick. Dokter akan menyelupkan stik khusus yang sudah dilumuri bahan kimia khusus ke dalam sampel urine pasien. Stik ini dapat berubah warna jika ditemukan bakteri atau kandungan abnrmal lain dalam sampel urine.
  • Sistogram. Dokter akan memasukkan selang kateter ke dalam uretra serta kandung kemih untuk menyuntikkan cairan warna khusus, untuk kemudian dilihat menggunakan pencitraan sinar-X.
  • Tes sisa urine, akan dilakukan untuk melihat jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien buang air kecil.
  • Ultrasonografi pelvis. Digunakan untuk melihat ada tidaknya kelainan pada struktur saluran kemih.
  • Pemeriksaan urodinamik. Tes dilakukan dengan cara memasang selang kateter melalui uretra menuju ke kandung kemih, kemudian diisi air. Tes ini dilakukan untuk menguji kekuatan kandung kemih untuk menampung cairan serta kekuatan otot uretra.
  • Sistoskopi. Dokter akan memasukkan sebuah alat berupa selang kecil dengan kamera melalui uretra. Kelainan di sepanjang saluran kemih akan tampak dari kamera tersebut.

Pengobatan dan Komplikasi Inkontinensia Urine

Penanganan terhadap penderita inkontinensia urine dibedakan berdasarkan jenis inkontinensia urine yang diderita serta tingkat keparahan gejala yang dirasakan penderita. Ada dua jenis penanganan untuk penderita inkontinensia urine yaitu penanganan non-bedah, serta penanganan bedah.

Ada beberapa hal yang akan dilakukan dokter untuk menangani penderita inkontinensia urine dengan penanganan non-bedah, yaitu:

  • Mengubah gaya hidup penderita. Dokter akan menyarankan penderita untuk mengurangi konsumsi kafein, menyesuaikan kadar cairan yang dikonsumsi penderita setiap hari, dan menyesuaikan berat badan penderita menjadi ideal.
  • Alat bantu medis. Contohnya seperti memasukkan alat kecil sekali pakai seperti tampon ke dalam uretra sebelum melakukan aktivitas tertentu, serta pemasangan pesarium (untuk wanita) yang dapat membantu mencegah kebocoran urine.
  • Melatih otot-otot panggul bawah (senam kegel). Jika penderita tidak mampu untuk membuat otot-otot tersebut berkontraksi, maka dokter bisa menggunakan alat bantu seperti stimulasi elektrik atau kerucut vagina.
  • Terapi intervensi. Contohnya adalah penyuntikan zat sintetis ke dalam jaringan di sekitar uretra, penyuntikan Botox ke dalam otot kandung kemih serta stimulasi saraf yang berfungsi mengontrol kandung kemih dapat membantu menangani inkontinensia urine.
  • Latihan kandung kemih. Penderita akan diajari teknik untuk menahan buang air kecil. Latihan ini biasanya membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah bulan.
  • Pemberian obat-obatan. Ada beberapa obat yang bisa dikonsumsi untuk menangani inkontinensia urine seperti obat golongan antimuskarinik, antikolinergik, obat penghambat alfa (alpha blocker), atau obat oles estrogen.
  • Stimulasi elektrik ke beberapa saraf, seperti saraf sacralis yang terletak pada bagian bawah punggung dan saraf posterior tibialis yang menjalar dari kaki kaki hingga pergelangan kaki.
  • Pemasangan kateter. Ini biasanya diterapkan untuk mengurangi terjadinya inkontinensia luapan.

Jika penanganan non-bedah belum mampu untuk mengatasi inkontinensia urine, maka dokter akan mengambil tindakan pembedahan. Beberapa tindakan pembedahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi inkontinensia urine adalah:

  • Prosedur plester, biasanya dilakukan pada wanita dengan inkontinensia stres. Plester plastik akan diikatkan di belakang uretra, dengan tujuan untuk menopang uretra pada posisi yang benar, sehingga mengurangi kebocoran urine akibat tekanan.
  • Kolposuspensi. Dalam prosedur bedah ini dokter akan menaikkan leher kandung kemih pasien, kemudian menjahitnya untuk mencegah kebocoran saat mendapat tekanan.
  • Prosedur sling, dimana dokter akan memasang sling di sekeliling leher kandung kemih untuk menahannya dan mencegah kebocoran urine. Sling dapat terbuat dari bahan sintetis, jaringan tubuh bagian lain, jaringan tubuh orang lain, atau jaringan tubuh hewan.
  • Urethral bulking agents, adalah bahan yang disuntikkan ke dinding uretra wanita. Bahan ini akan meningkatkan ketebalan dinding uretra sehingga lebih kuat menahan tampungan urine.
  • Pemasangan otot sphincter artifisial, adalah otot berbentuk cincin yang akan selalu menutup untuk mencegah aliran urine dari kandung kemih ke uretra.
  • Sistoplasti augmentasi. Pada prosedur ini, dokter dan ahli bedah akan membuat kandung kemih penderita lebih besar dengan cara menambahkan sebagian jaringan dari usus penderita ke dinding kandung kemih. Namun, usai melakukan tindakan ini, penderita hanya bisa buang air kecil melalui selang kateter.
  • Pembedahan prolaps, untuk menormalkan kembali posisi organ pada penderita inkontinensia urine akibat prolaps organ panggul.

Jika tidak ditangani dengan benar, penderita inkontinensia urine dapat mengalami beberapa komplikasi seperti:

  • Infeksi saluran kemih. Orang dengan inkontinensia urine memiliki risiko lebih besar untuk mengalami infeksi pada saluran kemihnya.
  • Gangguan pada kulit. Ruam, infeksi kulit dan luka dapat muncul jika kulit terus menerus dalam keadaan basah.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT