Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Infeksi Jamur

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Infeksi jamur merupakan penyakit umum yang disebabkan oleh jamur. Terdapat sekitar 1,5 juta jenis jamur di dunia dan sebagian besar tidak berbahaya. Namun ada beberapa jenis jamur yang berpotensi mengancam kesehatan.

Jenis infeksi ini sangat umum terjadi dan dapat dialami oleh siapa saja. Meski demikian, orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko tinggi untuk mengidap infeksi jamur. Contohnya, pengidap HIV/AIDS, orang yang menjalani kemoterapi, pengguna kortikosteroid, serta pasien di rumah sakit.

Gejala dari infeksi jamur sangat beragam, tergantung bagian tubuh yang tertular dan jamur penyebabnya. Tanda klinis dari infeksi jamur ringan pada kulit kerap terlihat seperti ruam kulit biasa dan sering sekali terjadi. Sementara, infeksi jamur pada paru-paru memiliki gejala yang mirip dengan flu atau tuberkulosis.

Apabila ada gejala-gejala yang terasa mengganggu dan tidak kunjung sembuh, segeralah kunjungi dokter. Pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin akan meningkatkan potensi kesembuhan sekaligus mencegah komplikasi yang serius.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis-jenis infeksi jamur berdasarkan penyebabnya.

Aspergilosis

Infeksi ini disebabkan oleh jamur Aspergilluss. Jamur tersebut sering tidak sengaja terhirup oleh manusia dan jarang menyebabkan infeksi. Namun, pengidap penyakit paru atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi akibat jamur ini.

Terdapat beberapa jenis aspergilosis. Jenis yang sering terjadi adalah:

  • Allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA). Infeksi ini sering menyerang penderita asma, dan cystic fibrosis. Inflamasi pada paru-paru yang muncul biasanya disertai gejala batuk, mengi, kadang disertai demam, serta napas pendek. Obat-obatan steroid akan gunakan untuk menurunkan reaksi alergi dari sistem kekebalan tubuh terhadap jamur, sementara obat antijamur akan diberikan untuk membunuh jamur.
  • Chronic pulmonary aspergillosis (CPA). Infeksi menahun ini umumnya terjadi pada pengidap penyakit paru-paru seperti tuberkulosis, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau sarcoidosis. Gejalanya bisa berupa batuk yang tidak kunjung sembuh, kelelahan, napas pendek, penurunan berat badan, serta batuk darah. CPA umumnya akan ditangani dengan obat antijamur yang digunakan untuk jangka panjang. Jika ada aspergilloma (bola jamur) yang tumbuh pada paru-paru, langkah operasi akan dianjurkan untuk mengangkat aspergilloma atau jaringan yang terinfeksi, serta mencegah pendarahan pada paru-paru.
  • Invasive pulmonary aspergillosis (IPA). Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah berisiko tinggi untuk mengalami IPA. Contohnya pasien transplantasi sumsum tulang, jantung, atau paru-paru, dan pengidap kanker darah yang menjalani kemoterapi dosis tinggi. Sakit dada, batuk, serta napas pendek merupakan gejala infeksi ini. Infeksi yang dapat menyebar dengan cepat, biasanya ditangani dengan pemberian antijamur kuat melalui infus.

Candidiasis

Candidiasis disebabkan oleh jamur Candida. Pada kondisi normal, jamur tersebut memang ada pada permukaan kulit manusia. Infeksi dapat terjadi ketika jamur tersebut berkembang secara tidak terkendali.

Infeksi ini umumnya muncul pada mulut, tenggorokan, vagina, atau di dalam aliran darah. Gejalanya juga berbeda-beda, tergantung pada bagian tubuh yang mengalami infeksi. Contohnya adalah:

  • Candidiasis mulut (oral trush). Gejala umumnya meliputi bercak-bercak putih pada bagian dalam mulut dan lidah, kulit di sudut mulut yang pecah-pecah, kemerahan pada rongga mulut, sakit tenggorokan, serta kesulitan menelan.
  • Ruam popok dengan gejala kulit memerah pada bokong, paha, dan di sekitar genital.
  • Candidiasis di sekitar kelamin. Indikasi dari infeksi jamur pada vagina meliputi gatal luar biasa yang terasa di sekitar vagina, bagian di sekeliling vagina memerah dan perih, serta keputihan yang menggumpal seperti keju. Sementara, gejala yang dialami pria dapat berupa ruam merah pada penis, gatal dan sensasi terbakar di ujung penis, serta bau tidak sedap. Infeksi ini termasuk penyakit menular seksual, khususnya jika terjadi pada pasangan. Karena itu, pengobatan sesegera mungkin sangat penting bagi pasien yang terinfeksi.

Jika tidak ditangani dan dibiarkan terlalu lama, candidiasis berpotensi menyebabkan jamur masuk hingga ke aliran darah dan memicu infeksi di darah (sepsis).

Bayi, lansia, pengidap penyakit kronis (seperti diabetes), dan obat-obatan (contohnya, antibiotik) merupakan faktor yang meningkatkan risiko infeksi ini.

Penanganan utama untuk infeksi jamur ini adalah dengan obat antijamur. Menjaga kebersihan juga akan membantu proses pemulihan sekaligus pencegahannya.

Kurap

Kurap adalah infeksi jamur dengan masa inkubasi 4 hari hingga 2 minggu setelah terpajan jamur. Penyakit ini memiliki gejala khas berupa ruam kemerahan berbentuk cincin dengan tepi yang tidak beraturan, dan umumnya muncul pada kaki, kulit kepala, serta genital. Ruam tersebut terasa luar biasa gatal dan berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain.

Jenis obat antijamur untuk menangani kurap ada bermacam-macam dan dijual bebas. Umumnya dalam bentuk obat oles, tapi ada juga yang berupa bubuk. Apabila infeksi ini tidak kunjung sembuh meski sudah diobati, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.

Infeksi Jamur pada Kuku

Infeksi jamur ini lebih sering menyerang kuku kaki daripada kuku tangan. Pengidap kurap di kaki, diabetes, atau gangguan sirkulasi darah lebih rentan terkena penyakit ini. Demikian juga dengan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Infeksi jamur pada kuku tidak berbahaya, namun umumnya sulit diobati dan memengaruhi kenyamanan. Infeksi ini juga jarang menyebabkan rasa sakit kecuali infeksi yang terjadi sangat parah. Kuku yang terinfeksi jamur akan mengalami perubahan warna ( menjadi kuning, cokelat, atau putih), penebalan, serta mudah retak dan terbelah.

Penanganan secara medis untuk infeksi ini dapat meliputi konsumsi obat antijamur, penggunaan kutek antijamur, atau pengangkatan kuku yang terinfeksi. Proses penyembuhannya membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Infeksi Cryptococcus neoformans

Infeksi akibat jamur Cryptococcus neoformansini paling sering dialami oleh orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, khususnya pengidap HIV/AIDS stadium lanjut. Paru-paru dan sistem saraf pusat merupakan bagian tubuh yang rentan diserang infeksi ini.

Jika menyerang paru-paru, gejala infeksi ini mirip dengan indikasi pneumonia yang berupa napas pendek, batuk, sakit dada, dan demam. Sementara infeksi C. neoformans pada otak akan menyebabkan meningitis dengan gejala sakit kepala, demam, sakit leher, mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, linglung, serta perubahan tingkah laku.

Langkah penanganan infeksi yang tidak menular ini tergantung pada tingkat keparahannya. Penggunaan obat antijamur bagi pengidap infeksi C. neoformans umumnya akan dianjurkan setidaknya selama 6 bulan.

Histoplasmosis

Infeksi akibat jamur Histoplasmaumumnya disebabkan oleh kotoran burung atau kelelawar.

Masa inkubasi pada histoplasmosis adalah sekitar 3 hari hingga 2,5 minggu setelah seseorang menghirup spora histoplasma. Infeksi ini dapat memicu gejala-gejala seperti demam, batuk, kelelahan, menggigil, sakit kepala, sakit dada, dan pegal-pegal.

Gejala-gejala tersebut umumnya akan hilang dalam waktu beberapa minggu atau setelah sebulan. Namun jika tidak kunjung sembuh atau bertambah parah, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter. Apabila dibiarkan, histoplasmosis berpotensi menyebabkan infeksi paru-paru jangka panjang serta menyebar hingga ke sistem saraf pusat. Khususnya pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, pada bayi, serta dewasa umur di atas 55 tahun.

Penanganan dilakukan dengan pemberian obat antijamur dibutuhkan untuk mengobati histoplasmosis paru, kronis, atau yang sudah menyebar dari paru ke bagian lain tubuh. Masa pengobatan infeksi ini umumnya memerlukan waktu 3-12 bulan.

Pneumocystis pneumonia (PCP)

PCP disebabkan oleh jamur Pneumocystis jirovecii. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah memiliki risiko tinggi untuk terkena penyakit ini. Misalnya, pengidap HIV/AIDS, anak-anak yang terpajan HIV dan tidak tertular, orang yang menjalani terapi imunosupresif, serta pengidap penyakit paru-paru kronis.

Batuk kering, demam, napas pendek, serta kelelahan merupakan gejala dari PCP. Orang dengan risiko tinggi dianjurkan ke dokter jika mengalami gejala-gejala tersebut karena penyakit ini dapat membahayakan mereka.

Obat trimethoprim sulfamethoxazole yang diberikan untuk menangani PCP umumnya harus dikonsumsi selama 21 hari. Obat ini juga dapat memicu efek samping seperti munculnya ruam-ruam dan mual.

Sporotrichosis

Penyebab sporotrichosis adalah jamur Sporothrix yang banyak ditemukan pada tanah maupun tanaman. Sporotrichosis terbagi dalam 3 jenis, yaitu:

  • Sporotrichosis kulit. Ini merupakan sporotrichosis yang paling umum terjadi. Gejalanya berupa benjolan kecil berwarna merah, ungu, atau merah muda yang tidak terasa sakit dan tumbuh di tangan. Benjolan tersebut bisa muncul lebih dari satu dan akan membesar serta menjadi bisul atau luka yang sulit sembuh.
  • Sporotrichosis paru-paru dengan gejala batuk, demam, napas pendek, serta sakit dada.
  • Sporotrichosis yang menyebar ke bagian tubuh lain, misalnya tulang, sendi, atau sistem saraf pusat. Jenis sporotrichosis ini biasanya menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Sebagian besar kasus sporotrichosis ditangani dengan obat antijamur selama beberapa bulan hingga 1 tahun. Khusus sporotrichosis paru-paru, pengidap mungkin akan menjalani operasi pengangkatan jaringan yang terinfeksi jika dibutuhkan.

Infeksi Cladosporium

Pengidap alergi dan asma sangat rentan terkena infeksi akibat jamur Cladosporium. Jamur ini umumnya bisa ditemukan pada tanaman, udara, atau tempat-tempat lembap dalam ruangan. Contohnya, di permukaan dinding atau karpet. Meski jarang, jamur ini dapat menyebabkan infeksi pada kulit, mata, sinus, serta otak.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT