Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Impotensi

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 20 kali

Impotensi atau disfungsi ereksi adalah kondisi ketika alat kelamin pria (penis) tidak mampu ereksi atau sulit bertahan di posisi ereksi. Impotensi merupakan masalah seksual yang cukup umum di kalangan pria. Sebagian besar kasus tersebut dialami oleh pria yang telah berumur 40 tahun ke atas.

Gagalnya seorang pria dalam memulai atau mempertahankan ereksi bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya, depresi, serangan cemas, hubungan yang kurang harmonis dengan pasangan, gangguan hormon, penyempitan pembuluh darah menuju penis, dan luka/cedera pada penis.

Selain hal-hal tersebut, impotensi juga bisa disebabkan oleh efek samping obat-obatan (obat pereda nyeri, obat hipertensi, antihistamin, antidepresan), konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan, dan penggunaan obat-obatan terlarang.

Diagnosis impotensi

Untuk mengetahui apakah seorang pasien mengalami impotensi dan apa penyebabnya, dokter akan bertanya seputar gejala-gejala yang dirasakan pasien, riwayat kesehatan, serta kondisi psikologisnya. Selain itu, dokter kemungkinan akan menanyakan apakah pasien sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, kecanduan minuman beralkohol, atau menggunakan obat-obatan terlarang.

Jika dokter mencurigai bahwa impotensi pasien disebabkan oleh suatu kondisi kronis, maka pemeriksaan lanjutan akan dilakukan guna memastikannya. Beberapa contoh pemeriksaan lanjutan tersebut adalah adalah tes urine, tes darah, ultrasonografi (USG), dan/atau elektrokardiogram (EKG).

Pengobatan impotensi

Pengobatan impotensi atau disfungsi ereksi akan bergantung kepada faktor penyebab. Dokter akan menyuruh pasien berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi minuman beralkohol, atau menghindari obat-obatan terlarang jika impotensi disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Jika impotensi disebabkan oleh stres, kemungkinn dokter akan menyarankan pasien menjalani terapi di bawah bimbingan ahli terkait.

Selain itu, tersedia juga sejumlah obat yang dapat membantu pasien impotensi mencapai dan mempertahankan ereksi, seperti tadalafil atau sildenafil. Namun obat-obatan tersebut tidak boleh dikonsumsi oleh pesien impotensi yang memiliki penyakit jantung atau yang sedang mengkonsumsi obat-obat tertentu.

Ada beberapa metode penanganan alternatif untuk pasien impotensi yang tidak disarankan meminum obat akibat menderita kondisi tertentu. Dua metode alternatif tersebut adalah penggunaan alat pompa penis atau operasi implan penis.

Gejala utama seorang pria yang mengalami impotensi meliputi sulitnya penis mencapai ereksi, sulitnya penis bertahan di posisi ereksi, serta penurunan gairah seksual.

Impotensi atau disfungsi ereksi bukan merupakan masalah serius apabila hanya dialami sesekali. Namun apabila gejalanya tidak kunjung hilang, maka hal ini bisa jadi merupakan tanda peringatan bahwa Anda sedang menderita kondisi serius, seperti diabetes atau penyakit jantung koroner.

Impotensi bisa saja menimbulkan dampak buruk bagi keharmonisan Anda dengan pasangan. Pasangan Anda mungkin saja merasa kecewa karena penis Anda tidak bisa ereksi, atau merasa tidak puas karena penis Anda tidak cukup lama bertahan di posisi ereksi saat berhubungan intim.

Impotensi berbeda dengan ejakulasi dini. Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa seorang pria dianggap mengalami impotensi apabila penisnya tidak mampu ereksi (meskipun dirangsang) atau tidak dapat mempertahankan kondisi ereksi ketika berhubungan seksual. Sedangkan yang dimaksud dengan ejakulasi dini adalah kondisi ketika pria mengalami klimaks atau orgasme sebelum atau segera setelah penetrasi.

Selain berdampak buruk bagi kehidupan seksual Anda, impotensi juga bisa menimbulkan gangguan psikologi. Anda mungkin saja akan merasa tidak percaya diri dan depresi karena tidak bisa memuaskan pasangan.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seorang pria mengalami impotensi karena proses ereksi itu sendiri melibatkan emosi, saraf, otak, pembuluh darah, hormon, dan otot.

Pada sebagian besar kasusnya, impotensi disebabkan oleh masalah kesehatan yang berkaitan dengan fisik, seperti:

  • Gangguan pada sistem saraf

Diakibatkan oleh penyakit stroke, Parkinson, multiple sclerosis, cedera tulang belakang, tumor tulang belakang, cedera parah di kepala, tumor otak, penyakit Alzheimer, epilepsi.

  • Gangguan pada peredaran darah

Diakibatkan oleh hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

  • Kelainan pada struktur penis

Diakibatkan oleh penyakit Peyronie.

  • Gangguan keseimbangan hormon

Diakibatkan oleh hipotiroidisme, hipertiroidisme, hipogonadisme, serta sindrom Cushing.

Selain disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan fisik, terjadinya impotensi juga bisa disebabkan oleh:

  • Gangguan psikologis (misalnya cemas dan stres).
  • Efek samping obat-obatan (misalnya antihistamin, antidepresan, antipsikotik, antiandrogen, antikonvulsan, penghambat beta, antagonis H2, diuretik, fibrat, sitotoksik, atau kortikosteroid).
  • Gaya hidup yang tidak sehat (misalnya merokok, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, atau menggunakan obat-obatan terlarang).
  • Stamina yang sedang menurun

Ada beberapa hal yang perlu ditanyakan oleh dokter sebagai langkah awal pemeriksaan impotensi, termasuk untuk mencari penyebabnya. Biasanya dokter akan bertanya seputar gejala-gejala yang Anda alami, riwayat kesehatan fisik dan psikologi, termasuk obat-obatan yang sedang Anda konsumsi selama ini. Gaya hidup Anda sehari-hari juga menjadi topik yang akan ditanyakan, misalnya apakah Anda terbiasa merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau menggunakan obat-obatan terlarang.

Jika Anda mengalami impotensi sepanjang waktu, biasanya hal ini dianggap sebagai indikasi bahwa Anda menderita suatu penyakit. Namun jika hanya terjadi ketika hendak berhubungan seksual dengan pasangan, bisa jadi ini didasari oleh gangguan psikologi.

Berkaitan dengan hal tersebut, dokter akan menanyakan apakah penis Anda bisa ereksi ketika akan berhubungan seksual dengan pasangan, apakah Anda bisa mencapai orgasme atau ejakulasi, apakah penis Anda ereksi ketika bangun tidur di pagi hari seperti kebanyakan pria normal, seberapa tinggi tingkat libido Anda, apa orientasi seksual Anda, dan bagaimana perbandingan kehidupan seksual Anda dahulu dan sekarang. Dokter kemungkinan akan melakukan pemeriksaan penis atau testikel menggunakan tangan guna mengukur sensitivitas Anda juga.

Jika dokter mencurigai impotensi Anda didasari oleh faktor psikologis, maka Anda bisa dirujuk ke seorang dokter spesialis terkait guna ditangani lebih lanjut. Namun jika impotensi Anda dicurigai disebabkan oleh gangguan kesehatan fisik, maka sejumlah pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan untuk memastikannya. Beberapa contoh pemeriksaan lanjutan tersebut di antaranya:

  • Ultrasonografi (USG) guna mengetahui tingkat kelancaran aliran darah.
  • Tes darah guna mengetahui kadar testosteron dan mendeteksi tanda-tanda diabetes, penyakit jantung, atau penyakit-penyakit lainnya.
  • Tes urin guna mendeteksi tanda-tanda diabetes dan penyakit lainnya.
  • Elektrokardiogram (EKG) guna mendeteksi adanya gangguan pada organ jantung.

Pengobatan impotensi atau disfungsi ereksi akan bergantung kepada penyebabnya yang diketahui melalui hasil diagnosis. Sebagai contoh, jika impotensi disebabkan oleh diabetes atau penyakit jantung, maka kedua kondisi tersebut harus diobati terlebih dahulu. Impotensi biasanya akan pulih dengan sendirinya setelah kondisi yang mendasarinya berhasil diobati.

Apabila impotensi Anda disebabkan oleh gangguan psikologis, maka pengobatan harus dilakukan oleh dokter spesialis terkait, seperti psikolog atau psikiater. Contoh pengobatan bisa berupa konseling untuk membahas masalah di dalam hubungan Anda bersama pasangan serta mencari solusinya, atau melalui terapi untuk memperbaiki pola pikir pemicu impotensi.

Jika impotensi disebabkan oleh efek samping obat-obatan yang sedang Anda konsumsi, maka sebaiknya temui dokter Anda kembali untuk dikaji lebih lanjut apakah obat tersebut harus tetap dikonsumsi atau dicari alternatifnya.

Agar penanganan impotensi berhasil, sebaiknya ditunjang juga dengan penerapan pola hidup sehat, seperti:

  • Berusaha mencegah atau mengurangi stres.
  • Berusaha menurunkan berat badan jika mengalami obesitas.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Tidak merokok atau berhenti merokok.
  • Tidak mengonsumsi minuman keras secara berlebihan.
  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang.

Ada jenis senam khusus yang biasanya disarankan bagi mereka yang mengalami disfungsi ereksi akibat bocornya pembuluh darah, yaitu senam Kegel. Senam ini bertujuan memperkuat otot-otot panggul dengan cara melatih kontraksi serta relaksasi otot-otot tersebut sehingga pria yang melakukan senam ini mampu mencapai ereksi tanpa pengobatan tambahan. Senam ini juga kerap dianjurkan bagi mereka yang mengalami inkontinensia urine atau ketidakmampuan tubuh dalam mengendalikan pembuangan air urine.

Saat ini, ada beberapa macam obat-obatan, peralatan, maupun prosedur operasi yang dapat diterapkan untuk mengatasi impotensi, di antaranya:

  • Sildenafil, tadalafil, vardenafil. Ketiga obat ini efektif dalam meningkatkan aliran darah ke penis secara sementara. Obat-obatan ini hanya boleh dikonsumsi satu tablet dalam kurun satu hari dan biasanya 30 menit hingga satu jam sebelum melakukan hubungan seksual. Contoh efek samping ini bisa berupa gangguan pencernaan, nyeri punggung, mual, muntah, dan sakit kepala. Ketiga obat ini tergolong obat resep yang pemakaiannya perlu petunjuk dari dokter dan secara hati-hati. Begitupula penggunaan obat-obatan ini pada penderita gangguan jantung dan tekanan darah yang diterapi dengan obat golongan nitrat, sebaiknya dikonsultasikan dahulu dengan dokter. Sildenafil, tadalafil, dan vardenafil yang dikombinasikan dengan obat nitrat dapat menyebabkan turunnya tekanan darah (hipotensi) yang cepat dan mendadak.
  • Injeksi hormon testosteron.
  • Alprostadil. Obat ini digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam saluran uretra melalui ujung lubang penis atau dapat juga disuntikkan ke bagian samping penis guna menimbulkan ereksi.
  • Pompa vakum. Alat ini berfungsi menarik darah ke dalam penis sehingga terjadi ereksi. Ereksi kemudian dipertahankan dengan cara memasangkan sebuah cincin karet pada pangkal penis. Namun cincin ini harus dilepas setelah 30 menit untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan penis serta memulihkan sirkulasi. Pompa vakum cukup efektif dalam membantu pengidap impotensi. Dilaporkan bahwa sembilan puluh persen pengguna alat ini mampu melakukan hubungan seks.
  • Operasi. Operasi atau bedah biasanya dilakukan jika impotensi akibat terhalangnya suplai aliran darah ke penis tidak dapat ditangani oleh obat-obatan atau pun alat-alat lainnya. Selain itu, operasi juga biasanya diperuntukkan bagi pria yang mengalami impotensi akibat masalah anatomi pada penisnya dan akibat cedera serius pada bagian panggulnya.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT