Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Gangguan Kecemasan Sosial

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Gangguan kecemasan sosial adalah gangguan kesehatan mental kronis yang ditandai dengan kecemasan dan pemahaman diri sendiri yang berlebihan terhadap situasi sosial sehari-hari. Penderita gangguan ini memiliki rasa takut yang sangat kuat secara terus-menerus jika diperhatikan, dinilai atau dihakimi, serta dipermalukan orang lain karena tindakannya Banyak orang sering merasa cemas terhadap situasi sosial tertentu, tapi penderita gangguan ini akan merasa sangat takut menghadapinya sejak sebelum, selama, dan setelah berinteraksi dengan orang lain sehari-hari.

Gangguan kecemasan sosial dikenal juga dengan fobia sosial dan merupakan salah satu jenis fobia yang paling sering diderita orang. Kondisi ini seringkali memengaruhi rasa percaya diri, hubungan dengan orang lain, serta menurunkan produktivitas kerja atau prestasi sekolah

Gangguan kecemasan sosial bisa dialami untuk satu situasi tertentu, misalnya takut berbicara atau tampil di depan umum, serta takut setiap kali bersama orang lain. Kondisi ini dapat menjadi parah hingga penderita tidak mau pergi bekerja atau bersekolah lagi. Di sisi lain, penderita juga akan semakin sulit berinteraksi dengan orang lain.

Gangguan kecemasan sosial umumnya bermula pada masa anak-anak atau remaja, dan jarang diderita seseorang pada usia di atas 25 tahun. Kondisi ini cenderung dialami oleh wanita dan seringkali disertai dengan depresi atau gangguan kecemasan lainnya, seperti panik berlebihan atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Sebenarnya, penderita gangguan kecemasan sosial menyadari bahwa mereka memiliki suatu gangguan, namun mereka tidak mampu mengatasinya meskipun telah berusaha. Banyak penderita yang berusaha mengobatinya sendiri dengan cara minum alkohol atau mengonsumsi obat-obatan. Hal tersebut justru berisiko menimbulkan kecanduan. Sebenarnya, kondisi ini dapat diatasi dengan konseling psikologi yang dipadukan dengan obat dari terapis guna mengembalikan kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan penderita berinteraksi dengan orang lain.

Gejala Gangguan Kecemasan Sosial

Gejala gangguan sosial dapat berubah seiring waktu. Gejala biasanya muncul saat penderita menghadapi tekanan atau tuntutan tertentu. Gejala yang timbul dapat berupa:

  • Gejala fisik, meliputi:
    • Denyut jantung menjadi cepat.
    • Mual atau gangguan pada perut.
    • Kesulitan bernapas.
    • Pusing.
    • Diare.
    • Otot menjadi tegang.
    • Mengeluarkan banyak keringat, gemetar.
    • Wajah memerah karena malu.
    • Menunjukkan postur tubuh yang kaku.
    • Menghindari kontak mata.
    • Bicara terlalu pelan.
  • Gejala emosi dan sikap, meliputi:
    • Menghindari interaksi dengan orang lain atau orang asing, termasuk menolak untuk hadir dalam pesta atau pertemuan sosial.
    • Enggan untuk makan di depan orang lain.
    • Enggan untuk menggunakan toilet umum.
    • Merasa takut terlihat gelisah, takut diperhatikan orang, dan takut mempermalukan diri sendiri
    • Gelisah menunggu karena takut menghadapi suatu kegiatan atau kejadian.
    • Menghabiskan waktu untuk menganalisis penampilan dan mencari-cari kelemahan diri saat berinteraksi dengan orang lain
    • Selalu menduga terjadinya konsekuensi terburuk ketika berada di situasi sosial berdasarkan pengalaman pribadi.
    • Panik berlebihan saat ketakutan dan kegelisahan sudah melebihi batas. Serangan panik ini biasanya berlangsung selama beberapa menit.

Penyebab Gangguan Kecemasan SosialGangguan kecemasan sosial dapat terjadi karena perpaduan sejumlah faktor, di antaranya:

  • Keturunan. Gangguan fobia sosial cenderung terjadi secara turun-temurun di dalam keluarga. Namun, tidak bisa dipastikan apakah hal ini disebabkan oleh faktor genetik atau lebih cenderung merupakan sikap yang dipelajari berdasarkan pengalaman orang lain.
  • Lingkungan. Gangguan kecemasan sosial merupakan sikap yang dapat dipelajari. Artinya, sikap ini dapat berkembang pada diri seseorang setelah melihat sikap cemas pada orang lain. Selain itu, penderita gangguan kecemasan sosial umumnya dibersarkan oleh orang tua yang terlalu mengekang dan mengontrol anaknya.
  • Struktur Otak. Respon takut sangat dipengaruhi oleh struktur dalam otak yang bernama amygdala. Saat amygdala terlalu aktif karena kecemasan menghadapi situasi sosial, maka respon pada takut akan bertambah besar.

Diagnosis Gangguan Kecemasan Sosial

Seseorang didiagnosa menderita gangguan kecemasan sosial apabila memenuhi kriteria baku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V), yakni:

  • Seseorang mengalami ketakutan akan satu atau lebih situasi sosial, di mana orang tersebut memiliki kemungkinan bertemu orang lain atau diamati oleh orang lain. Contohnya, bertemu dengan orang asing, diamati saat sedang makan atau minum, atau harus tampil di depan umum.
  • Seseorang memiliki ketakutan bahwa ia akan melakukan suatu hal yang memalukan atau dinilai secara buruk oleh orang lain.
  • Seseorang hampir selalu mengalami kecemasan hebat saat berada pada situasi sosial.
  • Situasi yang ditakuti ini cenderung akan dihindari atau dihadapi dengan kecemasan berlebihan.
  • Rasa takut atau cemas ini telah berlangsung setidaknya selama enam bulan.
  • Perilaku menghindar, cemas, dan panik ini telah berpengaruh secara signifikan terhadap aktivitas akademis, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari orang tersebut.

Pada saat merasakan kecemasan, orang tersebut dapat mengalami gejala-gejala fisik seperti:

  • Wajah memerah dan berkeringat
  • Tubuh gemetar
  • Jantung berdegup kencang
  • Pikiran kosong mendadak
  • Mual
  • Postur tubuh kaku
  • Menghindari kontak mata
  • Berbicara dengan suara sangat pelan

Pengobatan Gangguan Kecemasan Sosial

Ada dua metode pengobatan yang efektif dalam mengatasi gangguan kecemasan sosial, yaitu melalui psikoterapi dan pemberian obat. Perawatan ini harus diberikan oleh dokter spesialis kejiwaan (psikiater) atau terapis yang terlatih dan berpengalaman menangani penderita gangguan kecemasan sosial. Salah satu metode psikoterapi untuk gangguan kecemasan sosial adalah terapi perilaku kognitif. Metode ini umumnya dilakukan untuk menangani kasus gangguan kecemasan sosial yang parah. Tujuan metode ini untuk mengurangi kecemasan dengan menghilangkan keyakinan atau sikap yang yang membuat gangguan fobia sosial tersebut bertahan.

Terapi perilaku kognitif dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah menghadapkan penderita pada situasi yang menakutkan baginya. Tahap kedua adalah menciptakan situasi penolakan atau kritik, dengan tujuan untuk membangun rasa percaya diri penderita secara perlahan dan meyakinkan penderita bahwa ia mampu menerima penilaian atau kritik dengan baik. Sedangkan tahap terakhir adalah membayangkan rasa takut yang paling kuat terhadap kritik dan penolakan, lalu membangun respon konstruktif dalam menghadapi rasa takut tersebut. Ketiga tahap tersebut hanya dilakukan oleh ahli yang berpengalaman, dan hanya dilakukan saat penderita merasa siap untuk menjalankannya.

Terapi perilaku kognitif umumnya berlangsung selama 12 minggu dan dapat dilakukan secara berkelompok. Selain terapi perilaku, terapi dukungan untuk pasangan atau keluarga penderita juga diperlukan untuk memberi pemahaman tentang gangguan kecemasan sosial ini.

Di samping metode terapi perilaku kognitif tersebut, pemberian obat yang tepat dan efektif juga berperan penting untuk mengatasi gangguan kecemasan sosial. Obat yang diberikan berupa:

  • Obat antiansietas. Obat antiansietas berupa benzodiazepine dapat menurunkan tingkat kecemasan yang bekerja secara cepat. Meski demikian, obat ini biasanya hanya digunakan dalam jangka waktu pendek karena berisiko membentuk kebiasaan dan kecanduan.
  • Obat antidepresan. Terdapat beberapa macam obat antidepresan, salah satunya adalah obat penghambat penyerapan serotonin (serotonin reuptake inhibitor/SSRI) yang meningkatkan kadar serotonin dalam otak. Obat ini diberikan dalam dosis yang rendah pada awalnya dan dapat ditambah setelah tubuh penderita terbiasa mengonsumsi obat ini. Selain itu, golongan antidepresan lainnya seperti monoamine oksidase (monoamine oxidase inhibitors/MAOIs) juga dapat digunakan.
  • Obat penghambat beta. Obat ini bertujuan menahan efek epinefrin (adrenalin) sehingga dapat menurunkan detak jantung, tekanan darah, serta meredam suara yang gemetar. Obat ini akan efektif untuk mengendalikan gejala dalam suatu situasi tertentu dan tidak dianjurkan digunakan secara rutin.

Pengobatan untuk gangguan kecemasan sosial tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Perawatan psikoterapi dan menemukan obat yang sesuai dengan kondisi penderita dapat memakan waktu beberapa minggu atau bulan.

Bagi sebagian orang, gejala gangguan kecemasan sosial dapat mereda seiring berjalannya waktu, dan dosis obat akan diturunkan secara perlahan hingga penderita tidak mengonsumsi obat sama sekali. Sementara bagi penderita lain, perlu waktu bertahun-tahun mengonsumsi obat untuk mencegah gejala tersebut muncul kembali. Guna memastikan pengobatan berjalan efektif, penderita dianjurkan untuk menemui dokter atau terapis secara teratur sehingga perubahan kondisi yang dialami dapat terpantau.

Jika gangguan kecemasan sosial tidak diatasi dengan baik, maka kenikmatan hidup, hubungan dengan orang lain, pencapaian prestasi di sekolah dan tempat kerja akan sangat terganggu.Yang paling parah, gangguan ini bahkan dapat membuat penderitanya berusaha bunuh diri.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT