Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Gangguan Bipolar

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Gangguan bipolar adalah kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis,misalnya tiba-tiba menjadi sangat bahagia dari yang sebelumnya murung. Nama lain dari gangguan bipolar adalah manik depresif.

Terdapat dua episode dalam gangguan bipolar, yaitu episode mania (fase naik) dan depresi (fase turun). Pada periode mania, penderita menjadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, penderita akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan perputaran episode suasana hati, ada sebagian penderita gangguan bipolar yang mengalami keadaan normal di antara mania dan depresi. Ada juga yang mengalami perputaran cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya tanpa adanya periode normal (rapid cycling).Selain itu, ada juga penderita gangguan bipolar yang mengalami mania dan depresi secara bersamaan. Contohnya, ketika penderita merasa sangat berenerjik, namun di saat bersamaan juga merasa sangat sedih dan putus asa. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state).

Penyebab gangguan bipolar

Hingga kini, para ahli belum mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya gangguan bipolar. Beberapa berpendapat bahwa kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa gangguan bipolar berkaitan dengan faktor genetik (keturunan).

Beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar adalah mengalami stres tingkat tinggi, pengalaman traumatik, kecanduan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang, dan memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orang tua) yang menderita gangguan bipolar.

Diagnosis gangguan bipolar

Dibutuhkan evaluasi psikologis untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Dalam hal ini, dokter biasanya menanyakan tentang pola perilaku pasien, suasana hati yang dirasakannya, dan apa yang dipikirkannya. Selain itu, dokter juga biasanya meminta pasien atau keluarga pasien memberi informasi yang berkaitan dengan episode mania atau depresi.

Karena ada kondisi lain yang juga bisa menyebabkan gejala yang sama seperti gangguan bipolar, yaitu hipotiroid dan hipertiroid, maka pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan dua penyakit tersebut juga perlu dilakukan untuk memastikan kondisi pasien.

Pengobatan gangguan bipolar

Tujuan penanganan gangguan bipolar adalah untuk menurunkan frekuensi terjadinya episode-episode mania dan depresi agar penderita dapat hidup secara normal dan membaur dengan lingkungan.

Selain memperbaiki pola hidup, penanganan biasanya mencakup pemberian obat-obatan yang dikombinasikan dengan terapi psikologis (contohnya terapi perilaku kognitif).

Gangguan bipolar merupakan salah satu penyakit kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami perubahan suasana hati secara drastis dari mania menjadi depresi, atau sebaliknya. Karena itu, gejala yang muncul pada penderita dengan kondisi ini akan tergantung kepada fase suasana hati mana yang tengah dia alami.

Gejala-gejala pada fase mania

Fase mania ditandai dengan kenaikan suasana hati secara signifikan sehingga menyebabkan penderita gangguan bipolar yang mengalaminya akan merasa sangat gembira dan bersemangat. Mereka merasa sangat berenerjik dan merasa tidak lelah walau kurang tidur dan kurang makan. Selain itu, mereka juga bicara dengan cepat dan merasa punya banyak ide atau rencana-rencana yang rumit.

Mania juga membuat ego penderita menjadi tinggi sehingga tidak jarang mereka menjadi mudah tersinggung dan terusik, merasa dirinya sangat penting, melakukan hal-hal sembrono dengan menghabiskan uang tabungan, atau membuat keputusan besar yang berisiko tinggi atau merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kadang-kadang pada beberapa kasus bipolar, penderita juga bisa mengalami gejala psikotik berupa delusi dan halusinasi. Saat berhalusinasi, seseorang akan merasa seperti mendengar atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Saat mengalami delusi, seorang penderita gangguan bipolar akan meyakini sesuatu yang pada umumnya tidak masuk akal atau tidak benar secara nalar.

Gejala-gejala pada fase depresi

Kebalikan dari fase mania adalah fase depresi. Fase ini ditandai dengan penurunan suasana hati secara signifikan sehingga penderita bipolar akan merasa sangat sedih, sulit tidur, tidak nafsu makan, kurang percaya diri, merasa bersalah, pesimis, merasa tidak berharga, dan cenderung putus asa. Jika gejala ini makin parah, dikhawatirkan penderita dapat menyakiti dirinya sendiri atau bahkan melakukan bunuh diri.

Fase depresi juga dapat membuat penderita gangguan bipolar menjadi sulit untuk berkonsentrasi dan mengalami penurunan daya ingat sehingga tidak jarang mengalami penurunan prestasi atau produktivitas.

Fase depresi juga dapat membuat hubungan penderita bipolar dengan orang-orang terdekat menjadi rusak akibat menjadi sering marah-marah, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari dan merasa tidak bisa menikmati segala sesuatu.

Jika dilihat dari perputaran episode suasana hati, ada beberapa penderita gangguan bipolar yang mengalami periode normal di antara fase mania dan fase depresi. Meskipun begitu, ada sebagian penderita yang mengalami perputaran cepat dari fase ke fase tanpa adanya periode normal. Tiap fase dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Pada gangguan bipolar, ada juga penderita yang mengalami mania dan depresi secara bersamaan, misalnya ketika penderita merasa sangat berenerjik, namun di saat bersamaan merasa sangat sedih dan putus asa juga. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state).

Hingga kini para ahli belum mengetahui penyebab terjadinya gangguan bipolar. Kondisi ini diduga muncul akibat adanya ketidakseimbangan neurotransmitter di dalam otak. Neurotransmitter meliputi dopamine, serotonin, dan noradrenaline yang memiliki fungsi mengendalikan fungsi-fungsi otak. Dugaan bahwa gangguan bipolar dipengaruhi oleh ketidakseimbangan neurotransmitter diperkuat dengan bukti medis, yaitu ketika seseorang memiliki kadar noradrenaline terlalu rendah sehingga memicu episode depresi. Dan sebaliknya, ketika kadar noradrenaline terlalu tinggi, maka yang muncul adalah episode mania.

Pendapat sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa gangguan bipolar berkaitan dengan genetika yang diwariskan dari orang tua dan faktor lingkungan di mana seseorang dibesarkan.

Seseorang yang menderita gangguan bipolar, gejalanya dapat muncul sewaktu-waktu. Kemunculan gejala ini bisa dipicu oleh beberapa hal, salah satunya adalah stres berlebihan, misalnya karena ditinggal mati oleh orang yang dicintai, karena perceraian atau putus hubungan dengan kekasih, dan karena pelecehan. Stres tidak boleh dianggap enteng karena terbukti menjadi pemicu utama hampir sebagian besar masalah-masalah psikologis, termasuk gangguan bipolar.

Selain stres, faktor-faktor lainnya yang bisa memicu kemunculan gejala atau umumnya ditemukan bersamaan dengan gangguan bipolar adalah:

  • Masalah rumah tangga, keuangan, atau pekerjaan
  • Kecanduan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang
  • Masalah rumah tangga, keuangan, atau pekerjaan
  • Gangguan tidur
  • Penyakit fisik

Dalam mendiagnosis gangguan bipolar, dokter biasanya akan terlebih dahulu menggali keterangan secara langsung dari pasien atau seseorang yang mendampingi pasien berobat. Dokter atau psikiater akan bertanya apakah pasien pernah mengalami perubahan suasana hati secara drastis, apa yang dirasakannya ketika periode tersebut muncul, dan kapan periode tersebut terjadi.

Setelah itu, dokter atau psikiater juga akan menanyai riwayat kesehatan keluarga pasien, yaitu apakah dirinya memiliki kakak, adik, atau orang tua yang mengidap gangguan bipolar. Dokter juga mungkin akan melakukan tes untuk mengukur kadar hormon tiroid dan memastikan gejala yang diderita oleh pasien bukanlah akibat hipotiroid atau hipertiroid.

Selain bertanya langsung kepada pasien atau seseorang yang mendampingi pasien berobat, dokter kemungkinan juga perlu menganalisis data dari buku harian tentang suasana hati. Dalam hal ini, pasien akan diberi tugas oleh psikiater untuk mencatat tentang suasana hati yang dirasakannya tiap hari, pola tidur sehari-hari, dan hal-hal lain yang terkait dengan kondisi kejiwaan.

Jika seluruh keterangan sudah terkumpul, maka penyimpulan bisa lebih mudah dilakukan. Keterangan lengkap juga akan membantu dokter dalam memberikan pengobatan yang tepat.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT