Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Gagal Jantung

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 22 kali

Gagal jantung adalah kondisi saat otot jantung menjadi sangat lemah sehingga tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah gagal jantung kongestif. Terjadinya gagal jantung biasanya dipicu oleh masalah kesehatan, seperti:

  • Penyakit jantung koroner.
  • Aritmia atau gangguan ritme jantung.
  • Kardiomiopati atau gangguan otot jantung.
  • Kerusakan pada katup jantung.
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi.
  • Hipertiroidisme atau kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
  • Anemia atau kekurangan sel darah merah.
  • Miokarditis atau radang otot jantung.
  • Cacat jantung sejak lahir.
  • Diabetes.

Ada empat jenis gagal jantung, di antaranya:

  • Gagal jantung sebelah kiri (ventrikel kiri jantung tidak dapat memompa darah dengan baik ke seluruh tubuh menyebabkan tubuh kekurangan darah yang mengandung oksigen).
  • Gagal jantung sebelah kanan (kerusakan pada ventrikel kanan jantung yang menyebabkan proses pengambilan oksigen di dalam paru-paru oleh darah tidak berjalan dengan baik).
  • Gagal jantung sistolik (otot jantung tidak dapat berkontraksi dengan baik sehingga proses penyaluran darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu).
  • Gagal jantung diastolik (jantung sulit terisi darah akibat kekakuan pada otot organ tersebut).

Gejala gagal jantung

Berdasarkan rentang waktu berkembangnya gejala, gagal jantung terbagi menjadi dua, yaitu kronis dan akut. Pada gagal jantung kronis, gejala berkembang secara bertahap dan lama. Sedangkan pada gagal jantung akut, gejala berkembang secara cepat. Gejala utama gagal jantung adalah:

  • Sesak napas, baik ketika beraktivitas maupun beristirahat.
  • Tubuh terasa lelah sepanjang waktu.
  • Pembengkakan kaki dan pergelangan kaki.

Diagnosis gagal jantung

Ada beberapa tes yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis gagal jantung, di antaranya adalah ekokardiogram, elektrokardiogram, dan tes darah.

Tes-tes ini penting untuk dilakukan guna membantu dokter mengetahui tingkat fungsi jantung pasien dan jenis gagal jantung yang diderita. Pilihan pengobatan nantinya akan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Pengobatan gagal jantung

Seseorang yang mengalami gagal jantung bukan berarti jantungnya telah berhenti bekerja, melainkan daya pompa jantungnya menjadi lemah. Karena itu mereka yang mengalami kondisi ini membutuhkan pengobatan untuk memperlambat perburukan penyakit serta mengontrol gejala selama mungkin.

Pada sebagian besar kasusnya, gagal jantung merupakan kondisi seumur hidup yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Dalam kasus demikian, penanganan yang terdiri dari kombinasi obat-obatan, peralatan penopang jantung, dan operasi perlu dilakukan sesuai dengan keadaan penderita.

Keefektifan pengobatan gagal jantung bukan hanya tugas dokter, namun juga harus didukung oleh kerjasama dari pasien dengan menjalani pola hidup sehat.

Pencegahan gagal jantung

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah gagal jantung, di antaranya:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan membatasi asupan garam, lemak, dan gula. Contoh-contoh makanan sehat adalah buah dan sayur, makanan berprotein tinggi (misalnya ikan, daging, atau kacang), makanan yang mengandung zat tepung (misalnya beras, kentang, atau roti), dan makanan yang terbuat dari bahan susu atau bahan olahan susu.
  • Menjaga berat badan dengan berolahraga secara rutin.
  • Berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman keras.
  • Menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah pada batas sehat.

Gejala utama gagal jantung adalah sesak napas dan rasa lelah sepanjang hari. Penyakit ini juga dapat membuat pasokan darah ke ginjal menjadi lebih sedikit sehingga terjadi penumpukan cairan di tubuh penderitanya yang ditandai dengan:

  • Pembengkakan pada kaki (termasuk pergelangan kaki) dan perut
  • Kenaikan berat badan
  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat pada malam hari

Selain ke ginjal, gagal jantung juga membuat pasokan darah ke otot serta organ-organ penting lainnya menjadi berkurang. Hal ini dapat membuat penderita mengalami:

  • Lemah.
  • Bingung.
  • Pusing.

Pada segelintir kasus, gagal jantung juga dapat menyebabkan gejala-gejala seperti:

  • Mengi
  • Batuk yang memburuk di malam hari
  • Perut kembung
  • Jantung berdebar-debar tidak teratur (palpitasi)
  • Detak jantung yang cepat
  • Nafsu makan berkurang
  • Penurunan berat badan
  • Pingsan
  • Cemas
  • Depresi

Sesak napas akibat gagal jantung biasanya makin terasa saat penderita berbaring datar. Sebagian dari mereka juga mengalami tidur malam yang terganggu akibat sesak napas hebat sehingga harus duduk atau berdiri agar bisa menghirup udara. Sedangkan untuk gejala pembengkakan kaki, biasanya mereda di waktu pagi hari, namun kembali memburuk di siang hari.

Gejala gagal jantung dapat berbeda-beda pada tiap penderita. Periksakan diri Anda ke dokter jika merasakan gejala gagal jantung. Bagi mereka yang sudah menderita penyakit ini, segera periksakan diri ke dokter jika gejala yang sudah ada memburuk atau timbul gejala lainnya. Hal ini merupakan tanda-tanda bahwa pengobatan yang sudah dilakukan belum berhasil.

Terjadinya gagal jantung biasanya dipicu oleh masalah-masalah kesehatan, seperti:

  • Hipertensi. Tekanan darah merupakan kekuatan yang dibutuhkan untuk memompa darah ke seluruh tubuh tiap kalinya. Jika tekanan darah tinggi, maka hal ini dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh dan otomatis otot jantung akan menebal untuk mengimbangi kinerja yang meningkat tersebut. Jika ini terus berlangsung, maka pada akhirnya jantung terlalu terbebani dan tidak lagi kuat untuk memompa darah secara efektif. Otot-ototnya menjadi lemah atau bisa juga menjadi terlampau kaku.
  • Penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Kondisi ini membuat pasokan darah dan oksigen ke jantung menurun akibat menyempitnya arteri oleh tumpukan lemak. Saat pembuluh darah ke otot jantung benar-benar tersumbat dan aliran oksigen ke seluruh bagian jantung menjadi terputus, terjadilah serangan jantung. Serangan jantung dapat membuat daya pompa jantung melemah atau bahkan menyebabkan kerusakan permanen pada dinding otot jantung.
  • Kardiomiopati atau kerusakan pada otot jantung. Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kardiomiopati, di antaranya adalah genetik atau keturunan, penggunaan obat-obatan kemoterapi, penyalahgunaan narkoba, kecanduan alkohol,dan infeksi.
  • Miokarditis atau radang otot jantung. Penyakit ini kadang-kadang dapat berkembang dan mengarah pada gagal jantung kiri. Umumnya, penyebab miokarditis adalah infeksi virus.
  • Kerusakan katup jantung. Katup jantung berfungsi menjaga darah yang mengalir melalui jantung tetap berada di jalur yang tepat. Jika katup jantung rusak, maka aliran darah bisa terganggu. Hal ini mengakibatkan meningkatnya beban kerja pada otot jantung.
  • Gangguan ritme jantung. Kondisi ini dapat menyebabkan ritme atau detak jantung menjadi terlalu lambat atau terlalu cepat. Ritme yang terlalu lambat akan mengurangi pasokan darah dari jantung ke tubuh. Sedangkan ritme yang terlalu cepat, dapat membuat jantung bekerja terlalu keras. Kedua kondisi ini lama-kelamaan akan mengarah kepada gagal jantung.
  • Hipertioridisme. Orang yang menderita penyakit ini, kelenjar tiroid di dalam tubuhnya akan memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Saat kadar hormon tersebut tinggi, maka denyut jantung, tekanan darah, serta suhu tubuh akan meningkat pula.
  • Anemia. Saat seseorang mengalami anemia, maka tubuhnya kekurangan oksigen yang didapat dari darah. Jika kondisi ini tidak ditangani maka kerusakan pada organ-organ di tubuhnya, termasuk jantung, dapat terjadi.
  • Diabetes. Orang yang menderita diabetes memiliki risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner yang meningkat.
  • Cacat jantung sejak lahir. Sebagian bayi lahir dengan kondisi sebagian bilik atau katup jantungnya tidak terbentuk secara sempurna. Keadaan ini dapat menyebabkan bagian jantung lainnya yang masih sehat harus bekerja lebih keras dalam memompa darah. Pada akhirnya berpotensi mengarah kepada gagal jantung.

Dalam mendiagnosis gagal jantung, pertama-tama dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan pasien serta riwayat kesehatannya. Misalnya, apakah pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi, diabetes, nyeri dada, kerusakan katup jantung, atau penyakit jantung koroner. Dokter juga akan bertanya apakah pasien seorang perokok, suka mengonsumsi minuman keras, atau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Setelah keterangan didapat, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik seperti mengecek adanya pembengkakan pada bagian perut atau kaki akibat penumpukan cairan, mengecek denyut nadi di leher atau mendengarkan detak jantung yang abnormal sebagai ciri-ciri gagal jantung dengan menggunakan stetoskop, atau mengecek adanya tanda-tanda kongesti di dalam paru-paru dengan menggunakan stetoskop.

Jika pasien dicurigai menderita gagal jantung, sejumlah tes akan direkomendasikan, di antaranya:

  • Tes darah. Melalui tes darah, dokter dapat mengetahui apakah ada masalah pada fungsi tiroid dan ginjal pasien, serta indikasi penyakit lainnya yang mungkin berdampak kepada jantung. Selain itu, melalui tes darah, dokter juga dapat mengetahui kadar zat kimia dalam tubuh yang berhubungan dengan kondisi jantung. Zat kimia ini disebut N-terminal pro-B-type natriuretic peptide (NT-proBNP).
  • Ekokardiogram. Ini merupakan salah satu tes yang penting dilakukan dalam mendiagnosis gagal jantung. Ekokardiogram dilakukan dengan menggunakan gelombang ultrasound yang menghasilkan gambaran jantung penderita. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi kinerja fungsi jantung dan jika ada kerusakan pada jantung, misalnya masalah pada katupnya. Selain itu, tindakan ini juga dilakukan untuk membedakan antara gagal jantung sistolik dan gagal jantung diastolik.
  • Tes stres. Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa baik fungsi jantung saat tubuh melakukan aktivitas berat. Dalam tes ini, detak jantung pasien akan ditingkatkan, misalnya dengan obat yang disuntikkan atau akitivitas olahraga. Melalui tes ini, dokter dapat mengetahui apakah jantung pasien dapat merespons dengan baik terhadap beban latihan. Tes stres biasanya dipadukan dengan ekokardiogram agar dokter bisa melihat keadaan jantung selama tes dilakukan.
  • Tes napas. Jika pasien mengalami sesak napas, tes ini mungkin akan dilakukan. Pasien akan diminta menghirup napas dan menghembuskannya ke dalam sebuah tabung khusus. Nantinya dari tes ini dapat diketahui apakah pasien mengalami masalah pada paru-parunya yang menyebabkan gejala muncul.
  • Pemeriksaan X-ray. Pada penderita gagal jantung, ukuran jantung dapat membesar dan terjadi penumpukan cairan di dalam paru-paru. Melalui X-ray keadaan tersebut dapat terlihat.
  • Tes elektrokardiogram. Tes ini dapat membantu dokter mengetahui adanya masalah yang mendasari terjadinya gagal jantung, misalnya gangguan ritme jantung atau kerusakan pada organ tersebut akibat serangan jantung. Dalam tes elektrokardiogram, aktivitas elektrik jantung dicatat melalui elektroda yang dipasang pada kulit pasien.
  • Pemeriksaan ekokardiografi transesofagus. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui struktur jantung dan pembuluh darah secara lebih rinci. Dalam pemeriksaan ini, sebuah selang kecil yang dilengkapi perangkat ultrasound di ujungnya akan dimasukkan melalui kerongkongan.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan pasien dinyatakan positif menderita gagal jantung, selanjutnya dokter akan menentukan tingkat keparahannya dari frekuensi kemunculan gejala yang pasien rasakan. Ada empat tingkat keparahan dalam penyakit gagal jantung, di antaranya:

  • Tingkat I – Tidak ada gejala selama melakukan aktivitas normal.
  • Tingkat II – Gejala tidak dirasakan ketika penderita dalam kondisi istirahat, melainkan ketika melakukan kegiatan fisik yang normal.
  • Tingkat III – Gejala tidak dirasakan ketika penderita dalam kondisi istirahat, melainkan ketika melakukan kegiatan fisik yang ringan atau kecil.
  • Tingkat IV – Gejala selalu muncul ketika melakukan aktivitas apa pun, bahkan terkadang gejala muncul saat beristirahat sekali pun.

Gagal jantung merupakan masalah kesehatan yang berbahaya yang dapat mengancam nyawa penderitanya. Bahkan penyakit ini dapat meningkatkan risiko kematian mendadak. Oleh karena itu, penderita gagal jantung harus mendapatkan pengobatan yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan kondisi.

Sebagian besar penderita gagal jantung harus mengubah gaya hidupnya dan minum obat dalam jangka panjang atau bahkan seumur hidup agar gejalanya bisa terkendali. Beberapa penderita lain yang memiliki gejala yang lebih berat bahkan terpaksa harus dipasangi alat penopang jantung, melakukan operasi, atau bahkan menjalani transplantasi jantung agar tetap bertahan hidup.

Penanganan gagal jantung bertujuan untuk:

  • Meredakan gejala gagal jantung.
  • Membantu jantung menjadi lebih kuat.
  • Memungkinkan si penderita bisa hidup lebih lama secara normal.
  • Menurunkan risiko serangan kematian mendadak.

Berikut ini adalah beberapa obat yang dapat digunakan untuk menangani gagal jantung.

  • Diuretik. Obat ini dapat membantu Anda mengurangi cairan di dalam tubuh melalui pembuangan air urin. Beberapa contoh obat diuretik yang sering digunakan adalah furosemide dan bumetanide. Diuretik dapat meredakan gejala sesak napas dan pembengkakan pergelangan kaki pada penderita gagal jantung.
  • Obat penghambat beta. Obat ini dapat memperlambat detak jantung dan melindungi organ tersebut dari zat adrenalin dan noradrenalin di dalam tubuh. Contoh obat ini adalah nebivolol, carvedilol, dan bisoprolol.
  • Obat penghambat enzim pengubah angiotensin atau ACE inhibitor. Obat ini dapat mengurangi tekanan darah dengan memperlebar pembuluh darah sehingga lebih memudahkan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Contoh obat-obatan ACE inhabitor adalah perindopril, lisinopril, enalapril, captopril, dan ramipril.
  • Obat penghambat aldosteron. Kinerja obat ini hampir sama seperti diuretik, yakni mengurangi cairan berlebih di dalam tubuh. Perbedaannya dengan diuretik adalah obat penghambat aldosteron tidak menyebabkan kalium terbuang dari tubuh. Akan tetapi, hal ini juga dapat menyebabkan tingginya kadar kalsium dalam tubuh. Disarankan untuk selalu mengkonsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter. Contoh obat ini adalah eplerenone dan spironolactone.
  • Obat penghambat reseptor angiotensin atau ARB. Sama seperti obat penghambat enzim pengubah angiotensin atau ACE inhabitor, ARB bekerja dengan cara mengurangi tekanan darah dan melebarkan pembuluh darah. Meskipun tidak seefektif ACE inhibitor, ARB tidak menyebabkan batuk. Contoh obat ini adalah valsartan, telmisartan, losartan, dan candesartan.
  • Digoxin. Obat ini biasanya diresepkan pada penderita gagal jantung yang gejalanya tidak kunjung reda oleh diuretik, obat penghambat beta, ACE inhibitor, dan ARB. Digoxin dapat memperlambat denyut jantung dan meningkatkan kekuatan kontraksi otot.
  • Ivabradine. Obat ini umumnya dijadikan alternatif pada penderita gagal jantung yang tidak bisa mengonsumsi obat penghambat beta dan juga sebagai tambahan jika pemberian obat penghambat beta tidak cukup dalam memperlambat detak jantung. Obat ini memperlambat detak jantung dan hanya cocok digunakan bagi mereka yang mengalami efek samping akibat obat penghambat beta.
  • Kombinasi hydralazine dan nitrat. Kombinasi dari kedua obat ini mampu mengurangi tekanan dan melebarkan pembuluh darah, dan biasanya diberikan pada penderita gagal jantung yang intoleran terhadap ACE inhibitor atau ARB.

Berikut ini beberapa jenis operasi untuk gagal jantung:

  • Operasi bypass atau angioplasty. Operasi ini dilakukan untuk mengatasi gagal jantung yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner (kondisi ketika sejumlah pembuluh darah jantung tersumbat). Melalui operasi bypass, darah dapat mengalir kembali melalui jalur baru yang dibuat mengitari pembuluh darah yang tersumbat secara lancar sehingga serangan jantung dan angina dapat dicegah. Pada beberapa kasus, operasi bypass dapat memperbaiki fungsi otot jantung. Ada dua jenis operasi bypass, yaitu dengan menggunakan balon kecil untuk merenggangkan pembuluh yang sempit atau tersumbat, dan dengan mengalihkan aliran darah dari pembuluh darah yang sempit atau tersumbat ke pembuluh darah lain yang masih sehat.
  • Operasi katup jantung. Jika gagal jantung disebabkan oleh kerusakan pada katup jantung, maka operasi ini dapat dilakukan. Ada dua jenis operasi katup jantung, yaitu operasi untuk memperbaiki katup dan operasi untuk mengganti katup.
  • Operasi transplantasi jantung. Operasi ini dilakukan jika penanganan gagal jantung dengan obat-obatan serta operasi lainnya tidak menemui hasil. Melalui operasi transplantasi, jantung pasien yang sudah rusak diganti dengan jantung yang didapat dari donor. Namun prosedur ini tidaklah mudah, mengingat tingginya risiko akan tindakan ini serta sulitnya mendapatkan donor jantung serta kecocokan dengan diri pasien.

Berikut ini adalah beberapa alat yang dapat dipasangkan pada penderita gagal jantung:

  • Alat pemompa jantung. Alat ini dipasang oleh dokter untuk membantu pasien gagal jantung parah agar tetap hidup, baik bagi mereka yang sudah tidak bisa diobati lagi oleh cara apa pun atau bagi mereka yang sedang menunggu donor jantung. Perangkat mekanik ini dipasang pada jantung untuk membuat organ tersebut tetap berdetak (sebagian besar dipasang pada ventrikel kiri jantung).
  • Cardic resynchronization therapy (CRT). CRT dikenal juga sebagai pemicu jantung biventrikular. Alat ini dapat membantu pasien gagal jantung yang memiliki masalah dengan sistem kelistrikan di dalam jantung mereka sehingga jantung berkontraksi secara tidak harmonis. CRT mengirim impuls listrik ke ventrikel kiri dan kanan agar mampu memompa secara efisien.
  • Implantable cardioverter-defibrillator (ICD). Fungsi perangkat ini sama seperti alat pacu jantung. Perangkat yang dihubungkan ke jantung melalui pembuluh darah ini akan terus memonitor detak jantung. Jika detak jantung melemah atau bahkan berhenti, maka ICD akan mengirim sinyal kejut agar jantung kembali berdetak secara normal.
  • CRT-D. Perangkat ini merupakan gabungan dari Cardic resynchronization therapy (CRT) dan Implantable cardioverter-defibrillator (ICD) yang dipasang pada pasien yang kondisinya membutuhkan bantuan yang diberikan oleh kedua alat tersebut.

Jika Anda menderita gagal jantung, penyembuhan tidak bisa bergantung pada obat-obatan atau operasi semata, tapi juga harus didukung dengan gaya hidup sehat, seperti:

  • Berolahraga secara teratur.
  • Mengonsumsi makanan sehat yang dianjurkan dokter.
  • Berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman keras.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan agar gejala gagal jantung Anda tidak memburuk, di antaranya:

  • Rutin memeriksakan diri ke dokter.
  • Rutin memonitor gejala yang Anda rasakan.
  • Rutin memonitor berat badan Anda.
  • Membatasi konsumsi garam.
  • Disiplin dalam mengonsumsi obat-obatan dari dokter.
  • Membatasi konsumsi cairan.

Berikut ini adalah beberapa jenis obat yang harus dihindari oleh penderita gagal jantung:

  • Obat anti-aritmia yang memiliki efek melemahkan kekuatan kontraksi otot jantung seperti flecainide.
  • Obat penghambat enzim siklooksigenase 2 (COX-2 inhibitor)
  • Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID).
  • Lithium.
  • Obat antidepresan trisiklik
  • Kortikosteroid
  • Obat penghambat saluran kalsium seperti verapamil dan diltiazem (hanya amlodipin yang mungkin dapat digunakan)

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Lakukanlah beberapa hal berikut ini agar Anda terhindar dari penyakit gagal jantung.

  • Mengonsumsi makanan sehat seperti sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, ikan, dan daging. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh seperti gorengan, mentega, es krim dan daging olahan.
  • Batasi asupan gula dan garam.
  • Batasi konsumsi minuman keras.
  • Jika Anda memiliki tingkat tekanan darah dan kolesterol yang tinggi, segera lakukan penanganan. Kedua kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena gagal jantung.
  • Jaga berat badan pada batasan sehat dan lakukan langkah-langkah penurunan berat badan jika diperlukan.
  • Berhenti merokok jika Anda seorang perokok. Jika Anda bukan perokok, maka jauhi asap rokok agar tidak menjadi perokok pasif.

Lakukan aktivitas atau olahraga yang dapat membuat jantung sehat, seperti bersepeda atau berjalan kaki, minimal dua setengah jam per minggu.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT