Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Gagal Ginjal Kronis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Penyakit ginjal kronis atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan istilah gagal ginjal kronis (GGK) adalah kondisi saat fungsi ginjal mulai menurun secara bertahap. Indonesia Renal Registry mendefinisikan gagal ginjal kronis sebagai kerusakan ginjal, dapat berupa kelainan jaringan, komposisi darah dan urine atau tes pencitraan ginjal, yang dialami lebih dari tiga bulan.

Status GGK berubah menjadi gagal ginjal tahap akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD) ketika ginjal tidak lagi berfungsi. Pada stadium ini biasanya telah terjadi penumpukan limbah tubuh, cairan, dan elektrolit yang bisa membahayakan tubuh jika tanpa dilakukan penyaringan buatan (dialisis/cuci darah) atau transplantasi ginjal.

GGK sendiri, biasanya tidak menimbulkan gejala sehingga membuat pengidap penyakit ini biasanya tidak menyadari gejalanya hingga mencapai stadium lanjut. GGK biasanya terdeteksi pada stadium dini ketika dilakukan pemeriksaan darah atau urine.

GGK stadium lanjut umumnya mengalami gejala: sesak napas, mual, kelelahan, mengalami pembengkakan pergelangan kaki, kaki, atau tangan karena terjadi penumpukan cairan pada sirkulasi tubuh, sesak napas, serta munculnya darah dalam urin.

Pemeriksaan darah dan urin secara teratur setiap tahun sangat disarankan bagi orang-orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit ginjal kronis. Anda termasuk berisiko tinggi, antara lain jika memiliki tekanan darah tinggi, mengidap diabetes, dan memiliki riwayat keluarga pengidap penyakit ginjal kronis.

Fungsi Ginjal dan Penyebab Gagal Ginjal Kronis

Ginjal terletak di bawah tulang rusuk. Bentuknya menyerupai sepasang kacang di kedua sisi tubuh.

Ginjal berfungsi menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah sebelum dibuang melalui cairan urine. Ginjal juga memiliki berbagai fungsi lain yang tidak kalah penting, yaitu:

  • Mengatur kadar bahan kimia dalam tubuh sehingga membantu jantung dan otot agar bekerja dengan baik.
  • Membantu mengatur tekanan darah.
  • Memproduksi zat sejenis vitamin D yang menjaga kesehatan tulang.
  • Memproduksi hormon glikoprotein disebut erythropoietin yang membantu merangsang produksi sel-sel darah merah.

Beberapa kondisi seperti diabetes dan tekanan darah tinggi menjadi beberapa penyebab terjadinya gagal ginjal kronis. Dalam jangka panjang, kondisi-kondisi ini menyebabkan kerusakan pada ginjal sehingga fungsi ginjal menurun.

Pengidap Penyakit Gagal Ginjal Kronis di Indonesia

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementrian Kesehatan RI, sebanyak 0.2% dari total jumlah penduduk Indonesia mengalami kondisi ini. Provinsi Sulawesi Tengah merupakan daerah dengan angka tertinggi yaitu, 0.5% dari total jumlah penduduk di provinsi tersebut.

Dari data 7th Report of Indonesian Renal Registry tahun 2014, pasien gagal ginjal yang melakukan cuci darah paling banyak disebabkan karena hipertensi (37%). Diikuti diabetes (27%), dan kelainan bawaan (10%).

Berbagai Cara Penanganan Gagal Ginjal Kronis

Terdiagnosis mengidap GGK dapat membuat Anda dan kerabat merasa cemas. Berkonsultasi dengan dokter dan sesama pengidap dapat membuat Anda menemukan cara agar penyakit ini tidak mengambil alih hidup Anda.

Ini dikarenakan memang tidak ada obat yang dapat menyembuhkan gagal ginjal. Perawatan terhadap penyakit ini hanya berfokus memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit dan mencegah munculnya kondisi serius lain. Selain itu, terapi juga bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul akibat GGK.

Perubahan yang terjadi dalam sirkulasi tubuh membuat pengidap penyakit ginjal kronis menjadi lebih berisiko menderita stroke atau penyakit jantung.

Pada penderita gagal ginjal stadium akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD) harus dilakukan cuci darah atau transplantasi ginjal untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak.

Agar Terhindar dari Gagal Ginjal Kronis

Pengidap kondisi-kondisi tertentu yang berisiko mengarah ke penyakit ginjal kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi disarankan untuk mewaspadai perkembangan penyakit mereka. Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, berolahraga teratur, menghindari konsumsi obat-obatan yang dapat merusak ginjal dan menghindari kelebihan konsumsi minuman keras akan membantu mencegah terjadinya gagal ginjal.

Umumnya tubuh dapat menoleransi berkurangnya fungsi ginjal, bahkan dalam skala besar. Situasi ini membuat pengidap penyakit gagal ginjal kronis (GGK) tidak merasa mengalami gejala apapun.

Jika salah satu ginjal Anda rusak, fungsi ginjal manusia masih tetap dapat terpenuhi hanya dengan satu ginjal lain. Fakta ini membuktikan bahwa manusia terlahir dengan kapasitas fungsi ginjal yang jauh lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Penurunan awal fungsi ginjal yang tanpa gejala ini membuat pengidap GGK kerap tidak segera menyadari penyakitnya. Perubahan fungsi ginjal umumnya baru dapat terdeteksi dari pemeriksaan urin dan darah secara rutin.

Pengidap penyakit ginjal yang telah terdiagnosis akan menjalani pemeriksaan secara teratur untuk memantau fungsi ginjalnya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan tes darah dan urin. Terapi perawatan juga dilakukan untuk mencegah agar penyakit tidak berkembang.

Tes darah, urin, dan pemantauan rutin ini juga berfungsi untuk mendeteksi jika ginjal mulai kehilangan fungsi dan mengarah kepada gagal ginjal. Gagal ginjal menunjukkan gejala sebagai berikut:

  • Lebih sering ingin buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Kulit gatal.
  • Adanya darah atau protein dalam urin yang dideteksi saat tes urin.
  • Kram otot dan kejang otot.
  • Kehilangan berat badan.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Cegukan.
  • Kelelahan atau merasa lemah.
  • Menurunnya ketajaman mental.
  • Tekanan darah yang sulit dikendalikan.
  • Penumpukan cairan yang mengakibatkan pembengkakan pada pergelangan kaki, kaki, atau tangan.
  • Nyeri pada dada, akibat cairan menumpuk di sekitar jantung.
  • Sesak napas.
  • Mual dan muntah.
  • Gangguan tidur.
  • Disfungsi ereksi pada pria.

Pengobatan pada stadium awal penyakit ginjal kronis dapat mencegah timbulnya gejala-gejala di atas.

Kondisi atau penyakit tertentu yang memberi tekanan pada ginjal menjadi penyebab utama terjadinya penyakit ginjal. Tekanan berlebih yang dialirkan jantung melalui pembuluh darah besar maupun kecil dapat merusak organ tubuh, termasuk ginjal. Penyakit ginjal terutama disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi dan diabetes.

Gangguan Ginjal pada Pengidap Diabetes

Diabetes merupakan salah satu penyebab utama terhadap penyakit gagal ginjal kronis. Terdapat dua tipe utama diabetes:

  • Diabetes tipe 1 adalah kondisi saat tubuh tidak atau sedikit memproduksi insulin.
  • Diabetes tipe 2 adalah kondisi saat produksi insulin cukup, tapi tubuh tidak menggunakan insulin dengan efektif.

Insulin dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi berikut ini:

  • Mengatur kadar glukosa (gula) dalam darah.
  • Membatasi agar glukosa tidak meningkat terlalu tinggi setelah makan.
  • Menjaga agar kadar glukosa tidak terlalu rendah pada jeda antara waktu makan.

Jika glukosa dalam darah terlalu tinggi, ini dapat memengaruhi kemampuan ginjal untuk menyaring kotoran dalam darah dengan merusak sistem penyaringan ginjal. Maka itu sangat penting bagi penderita diabetes untuk menjaga tingkat glukosa (gula darah) mereka melalui pola makan yang sehat dan mengonsumsi obat-obat antidiabetes sesuai aturan dari dokter.

Gagal ginjal diperkirakan diderita sekitar 1-2 dari 5 pengidap diabetes tipe 1 sebelum umur mereka mencapai 50 tahun. Hal ini juga terjadi pada pengidap diabetes tipe 2 yang 1 dari 3 di antaranya juga mengalami tanda-tanda kerusakan ginjal.

Tes fungsi ginjal tahunan akan direkomendasikan oleh dokter agar gangguan ginjal dapat dideteksi secepat mungkin.

Gangguan Ginjal pada Pengidap Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah adalah besarnya tekanan yang dihasilkan jantung saat memompa darah ke pembuluh arteri dalam tiap denyut nadi. Tekanan darah kerap diasosiasikan dengan penyakit ginjal karena tekanan darah yang berlebihan dapat merusak organ tubuh Anda.

Hipertensi menghambat proses penyaringan dalam ginjal bekerja dengan baik. Kondisi ini merusak ginjal dengan menekan pembuluh darah kecil dalam organ tersebut.

Meski 9 dari 10 penyebab kasus tekanan darah tinggi tidak diketahui, namun ada kaitan antara kondisi tersebut dengan kesehatan tubuh seseorang secara menyeluruh, termasuk pola makan dan gaya hidup.

Orang yang mengidap kondisi atau memiliki kebiasaan tertentu lebih berisiko mengidap hipertensi, yaitu: kurang berolahraga, kebiasaan merokok, stres, obesitas, mengonsumsi minuman keras berlebihan, usia tua, terdapat anggota keluarga yang dulu mengidap hipertensi, terlalu banyak garam dan lemak dalam makanan yang dikonsumsi.

Hal-hal Lain yang Menyebabkan Gangguan Ginjal Kronis

Ada beberapa kondisi lain yang lebih tidak umum, tapi juga berisiko menyebabkan penyakit ginjal kronis yaitu:

  • Gangguan ginjal polisistik: kondisi saat kedua ginjal berukuran lebih besar dari normal karena pertambahan massa kista. Kondisi ini adalah kondisi yang diturunkan.
  • Glomerulonefitis atau peradangan pada ginjal.
  • Pielonefritis atau infeksi pada ginjal.
  • Penyumbatan atau gangguan jangka panjang pada saluran kemih, seperti yang disebabkan batu ginjal atau gangguan prostat
  • Suatu kondisi yang menyebabkan urin kembali ke dalam ginjal, disebut dengan vesicoureteral reflux.
  • Penggunaan rutin obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti obat anti-inflamasi non-steroid (non-steroidal anti-inflammatory drugs/NSAIDs), termasuk aspirin dan ibuprofen.
  • Lupus eritematosus sistemik (kondisi saat sistem kekebalan tubuh menyerang dan mengenali ginjal sebagai jaringan asing).
  • Kegagalan pertumbuhan ginjal pada janin saat dalam kandungan.

Umumnya diagnosis penyakit gagal ginjal kronis (GGK) dilakukan melalui pemeriksaan rutin urine dan darah. Melalui pemeriksaan rutin, terutama pada orang-orang yang berisiko tinggi, akan mudah untuk mendeteksi jika ada penurunan fungsi ginjal pada penderita. Jika memang dicurigai positif, maka tes tersebut dapat diulang untuk memastikan diagnosa.

Tes-tes untuk Mendeteksi Kadar Kerusakan Ginjal

Ada beberapa tes yang dapat digunakan untuk menentukan kadar kerusakan pada ginjal Anda. Tes-tes tersebut meliputi:

Tes urin

Salah satu gejala penyakit ginjal adalah terdapat protein atau darah dalam urin Anda. Maka tes ini digunakan untuk mengecek kemungkinan kandungan tersebut. Perubahan pada urine ini dapat muncul 6-10 bulan atau lebih lama sebelum gejala timbul.

Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)

Laju filtrasi glomerulus/LFG (glomerular filtration rate/GFR) adalah pengukuran terhadap seberapa baik ginjal Anda bekerja berdasarkan jumlah kotoran yang berhasil disaring ginjal dari darah. Hasil perkiraan laju filtrasi glomerulus atau eGFR normal adalah 90 ml cairan kotoran per menit. Kisaran angka ini menunjukkan bahwa ginjal masih berfungsi dengan baik. Penghitungan eGFR menggunakan sebuah formula khusus. Metodenya adalah dengan menghitung kadar kreatinin dalam sampel darah, kemudian dihitung berdasarkan umur, jenis kelamin, dan etnis Anda. Hasil GFR ini merupakan estimasi persentase fungsi normal ginjal Anda. Misalnya: hasil estimasi GFR 60ml/menit sama artinya dengan 60% fungsi ginjal masih berjalan.

Pemindaian

Dalam kasus gagal ginjal stadium lanjut, ginjal dapat mengerut dan berbentuk tidak utuh. Sebelum perubahan bentuk ginjal tersebut terjadi, pemindaian digunakan untuk mengetahui apakah terjadi penyumbatan tidak normal dalam aliran urin Anda. Proses ini dilakukan dengan alat-alat seperti USG, computerised tomography (CT) scan, atau pemindaian magnetic resonance imaging (MRI).

Biopsi ginjal

Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal. Deteksi kerusakan ginjal kemudian dilakukan dengan memeriksa sel-sel ini dengan mikroskop.

Menentukan Stadium Gagal Ginjal

Perkembangan penyakit ginjal diklasifikasi dengan sistem pemeringkatan (stadium) berdasarkan hasil GFR yang diperoleh. Terdapat enam stadium untuk mendefinisikan tingkat keparahan gagal ginjal kronis:

eGFR bernilai di atas 90 atau normal: stadium 1.

Walau nilai eGFR normal, namun terdapat kerusakan pada ginjal yang terdeteksi oleh tes lain. Misalnya, terdapat darah di dalam urin (hematuria) atau terjadi peradangan pada ginjal.

eGFR bernilai 60-89: stadium 2.

Laju eGFR turun sedikit menjadi 60-89 ml/menit dan disertai kerusakan atau gangguan pada ginjal. Penderita dengan laju eGFR yang sama tanpa kerusakan ginjal tidak dianggap mengalami GGK.

Agar perkembangan kondisi ginjal dapat terus dipantau, pengidap GGK stadium satu atau stadium dua direkomendasikan untuk menjalani tes eGFR tahunan.

eGFR bernilai 30-59: stadium 3. Stadium ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Stadium 3a : laju eGFR (45-59). Terdapat penurunan fungsi ginjal yang ringan sehingga memerlukan pemeriksaan tiap tahun.
  • Stadium 3b: laju eGFR (30-44). Terdapat penurunan fungsi ginjal yang parah sehingga memerlukan pemeriksaan berkala tiap enam bulan sekali.

eGFR bernilai 15-29: stadium 4.

Pada stadium ini, pengidap kemungkinan telah merasakan gejala-gejala GGK dan perlu mengikuti pemeriksaan tiap enam bulan.

eGFR bernilai di bawah 15: stadium 5.

Disebut sebagai kondisi gagal ginjal, yaitu ginjal telah kehilangan hampir seluruh fungsinya. Tiap tiga bulan, pasien gagal ginjal ini perlu menjalani pemeriksaan.

Hasil eGFR dari waktu ke waktu dapat naik atau turun. Diagnosis CKD biasanya baru bisa dipastikan jika tes-tes eGFR yang dilakukan beberapa kali selama tiga bulab berturut-turut menunjukkan hasil konsisten di bawah normal.

Kelompok Paling Berisiko

Disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin tahunan untuk mendeteksi gagal ginjal kronis (GGK), terutama jika Anda termasuk kelompok orang-orang yang berisiko tinggi, yaitu:

  • Pengidap diabetes, hipertensi, lupus, stroke, penyakit jantung.
  • Orang yang secara teratur mengonsumsi obat-obatan antiradang nonsteroid (NSAID) seperti aspirin dan ibuprofen atau yang mengandung lithium dalam waktu yang lama.
  • Orang dengan riwayat keluarga yang pernah mengidap GGK stadium lima atau menderita penyakit ginjal turunan.
  • Penderita dengan hematuria (dalam urinnya terdapat darah) atau proteinuria (terdapat protein dalam urin) yang penyebabnya belum diketahui.

Dokter biasanya akan merekomendasikan apakah Anda termasuk ke dalam golongan risiko tinggi untuk dilakukan pemeriksaan rutin.

Penyakit ginjal tidak dapat disembuhkan. Perawatan difokuskan untuk mencegah dan memperlambat agar penyakit tidak berkembang serta meredakan rasa sakit. Selain itu, pengobatan juga bertujuan untuk mengurangi risiko munculnya penyakit lainnya yang terkait.

Gagal ginjal kronis (GGK) yang berada pada stadium satu hingga tiga umumnya bisa ditangani langsung oleh seorang dokter umum. Pada stadium yang lebih lanjut, yaitu stadium empat dan lima, pasien biasanya akan dirujuk ke seorang dokter spesialis.

Pengobatan sesuai Tingkat Keparahan

Tingkat keparahan gagal ginjal kronis (GGK) menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Dalam beberapa kasus, kerusakan pada ginjal dan sirkulasi tubuh dapat dicegah dengan konsumsi obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah Anda.

Di samping itu, obat-obatan juga diberikan untuk mengontrol atau mencegah perburukan GGK hingga tubuh kehilangan hampir semua fungsi ginjal. Kondisi ini disebut dengan gagal ginjal permanen (End-Stage Renal Disease/ESRD) atau established renal failure (ERF).

Setidaknya 1 dari 100 pengidap GGK stadium tiga akan mengidap gagal ginjal. Pengidap gagal ginjal membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menggantikan sejumlah fungsi ginjal. Untuk mengetahui lebih banyak informasi, Anda dapat mengunjungi Registrasi Ginjal Indonesia atau Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI).

Menjaga Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi dapat mempercepat perkembangan kerusakan ginjal. Oleh sebab itu penting untuk mengontrol tekanan darah, yang dapat dilakukan dengan mengubah gaya hidup seperti mengurangi konsumsi garam dan mengurangi berat badan.

Namun jika perubahan ini belum cukup untuk mengontrol tekanan darah, Anda mungkin membutuhkan obat-obat antihipertensi seperti penghambat ACE (angiotensin converting enzyme inhibitor). Obat penghambat ACE memberikan perlindungan tambahan pada ginjal dan mengurangi tekanan pada pembuluh darah. Contoh penghambat ACE adalah ramipril dan lisinorpil. Golongan obat ini dapat menyebabkan efek samping berupa batuk kering, sakit kepala, dan lemah. Gejala-gejala ini dapat hilang setelah beberapa hari pemakaian, meski pada beberapa penderita batuk kering tetap muncul.

Selain itu terdapat juga obat anti-hipertensi yang disebut angiotensin-II receptor blocker (ARB) meliputi: valsartan, irbesartan, dan losartan. Efek samping dari jenis obat ini jarang namun tetap ada, misalnya rasa pusing.

Perubahan Gaya Hidup

Selain konsumsi obat-obatan, perkembangan GGK dan tekanan darah tinggi dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup sebagai berikut:

  • Mengurangi berat badan, terutama jika Anda mengalami obesitas.
  • Berolahraga teratur.
  • Berhenti merokok.
  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang dan rendah lemak
  • Membatasi konsumsi minuman keras.
  • Menjaga konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram.
  • Kecuali diresepkan oleh dokter, hindari konsumsi obat anti-inflamasi non-steroid seperti ibuprofen.

Perbaikan Keseimbangan Fosfat

Kelebihan fosfat pada tubuh biasanya disaring oleh ginjal. Namun penumpukan fosfat akan terjadi pada ginjal yang tidak berfungsi dengan baik, seperti yang dapat terjadi pada pengidap penyakit ginjal stadium empat atau lima. Maka dari itu, pengidap penyakit ginjal stadium menengah ke atas akan disarankan untuk mengurangi konsumsi fosfat yang umumnya terkandung dalam daging merah, makanan produk susu, telur, dan ikan.

Selain itu, penderita akan disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan yang disebut pengikat fosfat. Contoh pengikat fosfat yang paling umum digunakan adalah kalsium karbonat. Walau jarang terjadi, pengikat fosfat dapat menimbulkan efek samping yang meliputi: konstipasi, diare, mual, sakit perut, perut kembung, ruam serta gatal-gatal pada kulit.

Mengurangi Kadar Kolesterol

Beberapa faktor risiko GGK seperti tekanan darah tinggi dan tingginya kadar kolesterol dalam darah, sama dengan faktor risiko serangan jantung dan stroke.

Dengan memiliki faktor risiko yang sama, pengidap GGK berisiko lebih tinggi menderita sakit jantung, termasuk serangan jantung atau stroke.

Oleh sebab itu, Anda akan disarankan mengonsumsi statin untuk membantu mengurangi risiko serangan jantung atau stroke. Statin bekerja dengan menghambat efek enzim dalam hati Anda yang berguna untuk membentuk kolesterol, pemicu serangan jantung.

Pada beberapa kasus, statin dapat menyebabkan sakit otot, lemas, dan nyeri. Sementara efek samping lebih ringan yang dapat timbul adalah sakit perut, konstipasi, diare, dan sakit kepala.

Penumpukan Cairan (Edema)

Ginjal yang tidak berfungsi membuat tubuh sulit membuang cairan. Akibatnya terjadi penumpukan cairan pada pergelangan kaki yang dapat memicu peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu dokter akan menyarankan pengidap sakit ginjal untuk membatasi konsumsi cairan dan garam. Selain itu, kelebihan cairan dalam tubuh juga dapat dikurangi dengan konsumsi obat diuretik, seperti furosemida.

Konsumsi Suplemen Zat besi dan Vitamin D

Anemia atau kondisi saat tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah, banyak diderita pengidap GGK stadium tiga ke atas. Suplemen zat besiuntuk produksi sel-sel darah merah biasanya akan diberikan untuk mengatasinya. Zat ini dapat diberikan dalam bentuk tablet seperti ferri sulfat.

Hormon eritropoietin yang membantu tubuh memproduksi sel darah merah juga bisa disuntikkan jika langkah-langkah di atas tidak dapat mengatasi anemia. Hormon ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan ke dalam pembuluh darah atau di bawah kulit (subkutan).

Selain itu, pengidap penyakit ginjal berisiko kekurangan vitamin D yang penting untuk tulang. Ini dikarenakan ginjal tidak dapat berfungsi mengaktifkan vitamin D dari makanan dan sinar matahari. Sehingga umumnya Anda akan mendapatkan suplemen vitamin D seperti calcitriol.

Pengobatan untuk Gagal Ginjal: Cuci Darah atau Transplantasi

Dalam beberapa kasus, penyakit ginjal kronis dapat berkembang menjadi gagal ginjal tahap akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD)atau established renal failure (ERF). Pada tahap ini, ginjal berhenti bekerja dan mengancam hidup. Kondisi ini terjadi secara perlahan-lahan dan jarang terjadi secara tiba-tiba. Namun banyak pengidap penyakit ginjal tetap dapat memiliki ginjal yang berfungsi dengan baik sepanjang hidup mereka, namun dengan menjalani perawatan.

Diskusikan dengan dokter Anda tentang pilihan-pilihan pengobatan, seperti cuci darah atau dialisis, transplantasi ginjal, atau perawatan pendukung. Cuci darah atau dialisis adalah proses pembuangan atau penyaringan cairan atau limbah dari darah yang sudah tidak bisa dilakukan lagi oleh ginjal yang rusak. Tranplantasi ginjal akan menggantikan ginjal yang rusak dengan ginjal baru dari seorang donor organ yang memiliki kriteria sesuai dengan pasien.

Perawatan pendukung bertujuan terbatas, yaitu hanya untuk meringankan gejala yang dirasakan penderita stadium akhir. Pada umumnya perawatan pendukung diberikan pada penderita gagal ginjal yang tidak ingin melakukan cuci darah atau transplantasi ginjal.

Umumnya penyakit ini tidak dapat dicegah sepenuhnya meski Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko berkembangnya penyakit gagal ginjal kronis atau GGK.

Menggunakan Kalkulator Risiko Ginjal

Bagaimana cara untuk memperkirakan kondisi ginjal lima tahun yang akan datang? Anda dapat menggunakan kalkulator risiko ginjal dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana di QKidney Web Calculator. Kalkulator ini dapat digunakan bagi Anda yang sehat atau mengalami GGK stadium awal. Jika Anda ragu, Anda dapat menanyakannya kepada dokter.

Pola Makan Sehat

Pola makan sehat penting untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan menjaga tekanan darah tetap normal. Kedua kondisi ini penting untuk mencegah terjadinya penyakit ginjal kronis. Konsumsilah makanan berimbang meliputi banyak sayuran dan buah segar.

Selain itu, kontrol kadar kolesterol dengan menghindari makanan kaya lemak jenuh tinggi seperti goreng-gorengan, mentega, keju, kue, biskuit, serta makanan-makanan yang mengandung minyak kelapa atau minyak sawit.

Sebaliknya, Anda disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya lemak tidak jenuh yang dapat mengurangi kadar kolesterol, antara lain minyak ikan, avocad, kacang dan biji-bijian, minyak bunga matahari, minyak biji sesawi, minyak zaitun.

Selain itu, terlalu banyak garam juga akan meningkatkan tekanan darah. Penting untuk membatasi konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram sehari yang setara dengan satu sendok teh penuh.

Hindari Rokok dan Minuman Keras

Selain meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, merokok dan mengonsumsi minuman keras dapat memperburuk kondisi gangguan ginjal yang sudah terjadi. Selain meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, mengonsumsi minuman keras secara berlebihan akan meningkatkan tekanan darah Anda.

Olahraga Teratur

Naiknya tekanan darah dan risiko berkembangnya GGK dapat diminimalkan dengan olahraga teratur. Anda disarankan untuk menjalankan aktivitas aerobik dengan intensitas menengah seperti bersepeda atau jalan cepat selama setidaknya 150 menit tiap minggu.

Baca Petunjuk Obat

Pastikan Anda mengikuti petunjuk pemakaian jika Anda memang harus mengonsumsi obat pereda sakit. Konsumsi obat anti-inflamasi non-steroid seperti aspirin dan ibuprofen dalam dosis berlebih dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Waspada Diabetes

Penyakit kronis (bersifat menetap dalam jangka panjang), seperti diabetes, dapat berpotensi menyebabkan gagal ginjal kronis. Oleh karena itu sangat penting untuk mengendalikan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Selain itu setiap tahun, pengidap diabetes disarankan untuk memeriksakan fungsi ginjalnya. Ikuti saran dokter dan lakukan langkah-langkah untuk menjaga kondisi Anda.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT