Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Jerawat

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 19 kali

Jerawat adalah masalah kulit yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik pada beberapa bagian tubuh, seperti wajah, leher, punggung, dan dada. Bintik-bintik tersebut dapat berkisar mulai dari yang ringan, seperti komedo hitam dan komedo putih, hingga bintik-bintik parah yang berisi nanah dan kista. Biasanya bintik-bintik yang tergolong parah tersebut akan meninggalkan bekas luka.

Selain ditandai dengan gejala-gejala seperti kulit berminyak dan munculnya bintik-bintik, kadang-kadang jerawat juga menyebabkan kulit terasa panas dan sakit saat disentuh. Ada beberapa bagian pada tubuh yang biasa ditumbuhi jerawat dan yang paling umum adalah wajah. Jerawat merupakan kondisi yang umum, artinya sebagian besar orang pernah mengalaminya.

Sebagian besar kasus jerawat terjadi pada seseorang yang berusia di bawah 28 tahun. Terutama bagi remaja, mereka sangat rentan terkena jerawat pada usia 14-19 tahun.

Meskipun jerawat dapat menghilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan usia, namun pada sebagian kasus, masih ada yang mengalami masalah jerawat di pertengahan usia 20-an. Wanita usia 20-an tahun lima kali lebih berisiko mengalami hal tersebut dibandingkan pria usia 20-an tahun.

Faktor-faktor penyebab jerawat

Jerawat bisa muncul pada usia berapa pun, namun perubahan kadar hormon selama masa puber kerap dikaitkan dengan penyebab-penyebabnya. Perubahan hormon tersebut berdampak kepada kelenjar penghasil minyak atau sebum yang letaknya dekat dengan folikel rambut di kulit.

Peningkatan aktivitas kelenjar ini menyebabkan produksi sebum pada wajah juga bertambah. Jadi tumpukan sebum ini nantinya akan bergabung dengan kotoran dan sel kulit yang mati, kemudian menyumbat pori-pori.

Pada saat pori-pori tersumbat dan dengan banyaknya sebum pada permukaan kulit, bakteri yang disebut Propionobacterium acnes berkembang dengan cepat. Bakteri ini merupakan bakteri penyebab jerawat. Propionobacterium acnes melepaskan semacam zat iritan yang akan mengiritasi kulit. Efek dari iritasi inilah yang menyebabkan kulit memerah dan membengkak, disamping itu juga menyebabkan timbulnya nanah di balik kulit.

Lapisan dalam folikel rambut juga menebal akibat perubahan kadar hormon dan menyebabkan tersumbatnya pori-pori kulit. Penyumbatan pori-pori ini tidak akan hilang, meski kulit telah dibersihkan.

Selain pada masa puber, jerawat juga bisa dialami para wanita akibat perubahan hormon yang terjadi selama siklus menstruasi dan masa kehamilan. Jerawat juga diketahui sebagai faktor keturunan. Kemungkinan besar seseorang akan memiliki jerawat jika kedua orang tua berjerawat juga.

Hingga kini belum ada bukti bahwa jerawat disebabkan oleh aktivitas seksual, makanan, atau buruknya kebersihan.

Diagnosis jerawat

Dokter biasanya mampu mendiagnosis jerawat hanya dengan melihat kulit penderita secara langsung. Melalui pemeriksaan, dokter dapat menentukan jenis jerawat yang tumbuh serta mengukur tingkat keparahannya (tingkat peradangan dan jumlah jerawat). Setelah diagnosis dilakukan, barulah rencana penanganan bisa dibuat.

Tindakan yang tepat dilakukan jika memiliki jerawat

Penting untuk menjaga kebersihan kulit di area yang berjerawat, meski itu tidak akan mencegah munculnya jerawat baru. Basuh area tersebut dua kali sehari dengan menggunakan pembersih atau sabun wajah. Agar tidak mengalami iritasi, jangan menggosok kulit terlalu keras.

Kini sebagian besar produk pelembap telah melalui tahap pengujian agar tidak menimbulkan komedo atau jerawat. Gunakan pelembap jika kulit Anda kering dan hindari memakai produk kecantikan yang dapat menyumbat pori-pori kulit.

Meski jerawat tidak bisa disembuhkan, namun masih bisa dikendalikan melalui pengobatan. Obat-obatan berbentuk gel, pelembap, dan krim kini sudah banyak tersedia di apotek. Jika memiliki jerawat, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter, terutama jika penggunaan obat yang dijual bebas di pasaran tidak membuahkan hasil atau bahkan justru menimbulkan efek samping seperti:

  • Pembengkakan pada wajah, mata, bibir, atau lidah.
  • Radang tenggorokan dan sesak napas.
  • Pingsan.

Umumnya dokter menyarankan penggunaan produk yang mengandung konsentrat benzoil peroksida rendah. Namun berhati-hatilah dalam menggunakannya karena pada bidang industri, konsentrat tersebut juga digunakan sebagai bahan pemutih pakaian.

Anda mungkin membutuhkan antibiotik atau krim yang lebih kuat jika jerawat Anda tergolong parah dan timbul pada sejumlah bagian tubuh, seperti dada dan punggung. Ingatlah bahwa penggunaan obat tersebut tetap harus melalui resep dokter.

Komplikasi jerawat

Tanyakan kepada dokter jika pertumbuhan jerawat makin parah. Jika jerawat parah tidak segera ditangani, dikhawatirkan bisa menimbulkan komplikasi berupa bekas luka. Selain itu, disarankan untuk menemui dokter jika obat yang digunakan tidak bisa mengendalikan pertumbuhan jerawat sehingga menjadikan Anda tidak percaya diri serta depresi.

Pengobatan jerawat membutuhkan kesabaran. Tidak disarankan untuk memencet jerawat karena akan meninggalkan bekas luka permanen. Biasanya pengobatan akan menunjukkan hasil optimal dalam tiga bulan.

Bagian tubuh yang biasa ditumbuhi jerawat adalah wajah. Hal ini dialami oleh sebagian besar orang yang berjerawat. Selain pada wajah, jerawat juga bisa tumbuh pada bagian punggung dan ini dialami lebih dari setengah orang yang berjerawat. Yang terakhir adalah jerawat yang tumbuh pada bagian dada. Diketahui bahwa sekitar 15 persen dari orang-orang yang berjerawat mengalami jerawat di dada.

Selain munculnya bintik-bintik, kulit juga menjadi berminyak saat kita berjerawat, bahkan bisa terasa sakit atau panas apabila disentuh. Ada enam jenis bintik jerawat, di antaranya papula, pustula, komedo hitam, komedo putih, nodul, dan kista. Papula adalah benjolan kecil yang terasa menyakitkan. Ukurannya kecil dengan warna merah dan tekstur lunak. Sedangkan pustula adalah benjolan kecil yang pada ujungnya terdapat penumpukan nanah.

Komedo hitam adalah bintik berwarna hitam yang biasanya muncul di area sekitar hidung. Warna hitam tersebut bukan berasal dari debu atau pun kotoran, melainkan pigmentasi yang terjadi di dalam lapisan pada folikel rambut. Sedangkan komedo putih memiliki tekstur yang lebih keras. Ini disebabkan oleh akumulasi sebum yang mengeras di dalam pori-pori kulit. Jika dilihat sekilas, bintik komedo putih hampir serupa dengan komedo hitam.

Nodul dan kista termasuk kategori jerawat parah. Nodul adalah benjolan besar yang terbentuk di balik permukaan kulit dengan tekstur keras dan terasa menyakitkan. Sama seperti nodul, benjolan kista juga berukuran besar, namun berisi nanah. Sekilas kista tampak seperti bisul. Umumnya jerawat kista dapat meninggalkan bekas luka permanen di wajah setelah sembuh.

Jerawat dapat muncul ketika folikel rambut tersumbat oleh percampuran sel kulit mati, kotoran, dan sebum (zat yang diproduksi kelenjar minyak yang berfungsi mencegah kekeringan pada kulit). Kemudian, dapat terjadi infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada daerah sumbatan tersebut.

Pada kasus komedo hitam, sumbatan folikel tersebut membuka pori-pori kulit. Sebaliknya pada kasus komedo putih, sumbatan folikel tersebut berada tidak jauh di bawah permukaan kulit dan menciptakan tonjolan. Jerawat biasa dan komedo sebenarnya tidak boleh dianggap enteng karena kondisi tersebut bisa berkembang menjadi jerawat parah, misalnya berkembang menjadi pustula, papula, nodul, atau bahkan kista apabila sumbatan folikel turut dijangkiti oleh bakteri kulit.

Ada beberapa faktor yang dapat memicu atau meningkatkan risiko seseorang mengalami jerawat, di antaranya:

  • Perubahan hormon. Diperkirakan bahwa jerawat yang terjadi pada orang-orang dewasa disebabkan oleh perubahan kadar hormon. Delapan dari sepuluh kasus jerawat pada orang dewasa, terjadi pada wanita, karena wanita lebih sering mengalami perubahan hormon pada masa-masa tertentu, yaitu ketika menstruasi dan kehamilan. Jerawat kerap muncul pada sebagian wanita menjelang periode menstruasi. Sedangkan pada wanita hamil, jerawat biasa muncul pada tiga bulan pertama kehamilan. Bagi wanita yang mengalami kondisi yang disebut sindrom ovarium polikistik, selain munculnya jerawat, naiknya berat badan serta munculnya kista kecil di dalam ovarium juga bisa terjadi.
  • Masa pubertas. Hal ini biasanya dialami oleh remaja. Pada masa pubertas, produksi sebum oleh kelenjar minyak akan meningkat seiring dengan tingginya produksi hormon testosteron. Dan terkadang, produksi sebum tersebut melebihi kuantitas yang dibutuhkan oleh kulit.
  • Efek samping penggunaan kosmetik.
  • Iritasi akibat benda yang dikenakan. Bintik jerawat juga bisa muncul akibat gesekan atau tekanan dari material yang kita pakai terhadap kulit secara terus-menerus. Contohnya bintik yang muncul di kening akibat terlalu sering mengenakan ikat kepala dan bintik di punggung akibat rutin memakai ransel.
  • Kecanduan merokok.
  • Stres.
  • Efek samping obat-obatan. Hal ini biasanya terjadi pada penggunaan obat lihium, steroid, dan antiepilepsi. Suplemen vitamins B2, B6, dan B12 juga dapat menyebabkan efek samping berupa jerawat.
  • Keturunan. Jika kita memiliki orang tua yang pernah yang bermasalah dengan jerawat, maka kita berisiko besar mengalami hal yang sama. Bahkan tingkat keparahan jerawat bisa saja lebih tinggi terutama sebelum memasuki usia dewasa. Selain itu, apabila orang tua kita masih memiliki masalah dengan jerawat, maka kita juga berisiko mengalami hal yang sama meski sudah memasuki usia dewasa.

Banyak yang tidak terlalu memahami jerawat, meski itu merupakan salah satu masalah pada kulit yang dialami sebagian besar orang. Pemahaman yang kurang lengkap sering kali memunculkan sejumlah anggapan yang tidak masuk akal mengenai jerawat, misalnya:

  • Seseorang akan tertular oleh jerawat yang dialami oleh orang lain.
  • Meremas komedo adalah cara terbaik untuk menghilangkan jerawat. Padahal, meremas jerawat hanya akan membuat gejalanya makin parah, bahkan dapat meninggalkan bekas luka.
  • Aktivitas seksual dapat berdampak kepada kemunculan jerawat.
  • Jerawat disebabkan oleh pola makan yang buruk.
  • Kebersihan yang buruk atau kulit yang kotor dapat menyebabkan jerawat.
  • Berjemur baik secara alami dan buatan, dapat mengobati gejala jerawat.

Semua anggapan di atas tidak benar. Satu hal penting mengenai kebersihan kulit, yaitu kebersihan kulit tidak berkaitan dengan munculnya jerawat karena jerawat timbul akibat reaksi biologis yang terjadi di balik permukaan kulit. Justru kondisi kulit kita akan memburuk jika kita mencuci muka lebih dari dua kali sehari ketika sedang berjerawat.

Belum ada bukti secara pasti bahwa berjemur di bawah sinar matahari atau berjemur dengan teknik buatan dapat mengobati jerawat. Banyak obat jerawat yang justru membuat kulit kita menjadi lebih sensitif terhadap sinar. Akibatnya paparan sinar bisa menyebabkan kulit rusak, bahkan risiko kanker kulit bisa meningkat.

Menurut informasi dari sejumlah situs, pasta gigi dapat mengeringkan jerawat. Meski pasta gigi memang mengandung zat antibakteri, namun pasta gigi juga mengandung zat yang dapat membuat kulit mengalami iritasi dan rusak. Oleh sebab itu, penggunaan pasta gigi untuk mengobati jerawat tidak disarankan. Apoteker atau dokter bisa memberikan saran mengenai pengobatan yang jauh lebih aman dan efektif.

Ada empat tingkatan yang dapat digunakan untuk mengukur keparahan jerawat, antara lain tingkat pertama atau ringan, tingkat kedua atau menengah, tingkat ketiga atau cukup parah, dan yang terakhir adalah tingkat keempat atau parah.

Pada tingkat pertama, biasanya jerawat yang tumbuh hanya sebatas komedo putih atau hitam dengan sedikit papula dan pustula. Pada tingkat kedua, ada sejumlah papula dan pustula yang umumnya muncul pada wajah saja. Pada tingkat keparahan ketiga, papula dan pustula yang muncul sudah terbilang banyak, termasuk di bagian dada serta punggung. Tingkat keparahan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa nodul. Pada tingkat keparahan teratas, yaitu tingkat keempat atau berat, pustula dan nodul terlihat memenuhi berbagai bagian tubuh, dan disertai rasa sakit.

Dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai jerawat Anda termasuk obat-obatan atau suplemen yang Anda konsumsi. Dokter biasanya mampu mendiagnosis jerawat hanya dengan memeriksa kulit penderita. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan tipe-tipe jerawat yang muncul pada wajah atau bahkan pada punggung dan dada jika ada. Selain itu, dokter juga akan menentukan seberapa tinggi tingkat keparahan jerawat berdasarkan inflamasi yang terlihat dan jumlah jerawat. Setelah pemeriksaan dilakukan, barulah rencana penanganan bisa dibuat.

Pemeriksaan yang sifatnya lebih progresif untuk kasus jerawat jarang dilakukan, terkecuali pada beberapa kasus tertentu. Misalnya pada wanita yang mengalami masalah jerawat secara tiba-tiba dalam kehidupan dewasanya. Dalam hal ini kemungkinan dokter akan melakukan tes darah dan pemeriksaan USG untuk memastikan apakah pasien wanita terkena sindrom ovarium polikistik yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan berimbas pada munculnya jerawat.

Pengobatan jerawat kadang-kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, tergantung seberapa parah jerawat yang dialami.

Anda bisa mengobati sendiri jerawat ringan yang berupa bintik-bintik, komedo putih, dan komedo hitam dengan menggunakan krim atau gel yang mengandung benzoil peroksida. Krim atau gel tersebut dapat Anda beli tanpa resep dokter. Berikut ini adalah beberapa saran yang berguna bagi Anda yang berjerawat.

  • Gunakan sabun atau pembersih wajah ringan, serta air hangat untuk membersihkan area yang berjerawat. Sebaiknya hindari menggunakan air yang terlalu panas atau dingin karena bisa membuat jerawat makin parah.
  • Jangan terlalu sering mencuci area kulit yang berjerawat karena hal tersebut hanya akan memperparah iritasi, cukup cuci dua kali dalam sehari.
  • Atur rambut sebisa mungkin agar tidak mengenai wajah dan keramas rambut secara rutin agar selalu bersih.
  • Jangan mencoba menghilangkan komedo dengan cara menekannya karena justru akan memperparah dan meninggalkan bekas luka.
  • Jangan pakai kosmetik atau rias wajah secara berlebihan. Sebaiknya gunakan produk kosmetik berbasis air yang tidak memiliki efek menghalangi pori-pori kulit.
  • Bersihkan seluruh rias wajah sebelum tidur.
  • Jika Anda memiliki kulit kering, pakailah pelembap berbasis air yang tidak mengandung unsur parfum.

Jika Anda sedang mengobati jerawat, sebaiknya jangan mengharapkan hasil singkat karena prosesnya bisa berlangsung hingga tiga bulan. Kesabaran dan ketahanan sangat dibutuhkan selama proses tersebut.

Jika area yang teriritasi meluas, serta muncul papula dan pustula dalam jumlah banyak, serta tidak kunjung sembuh walau sudah diobati sendiri, segera periksakan diri ke dokter. Dokter biasanya akan memberi Anda resep obat.

Obat jerawat yang biasanya dibeli melalui resep dokter meliputi antibiotik topikal, retinoid topikal, pil KB kombinasi untuk wanita, tablet isotretinoin, tablet antibiotik, dan asam azelaic.

Dokter bisa saja merujuk Anda kepada dokter spesialis kulit jika muncul nodul yang menyakitkan, selain adanya papula dan pustula dalam jumlah besar pada dada, punggung, serta wajah.

Mengatasi Jerawat dengan Retinoid Topikal

Selain mencegah tersumbatnya folikel rambut oleh sel-sel kulit yang mati, retinoid topikal juga mampu mengurangi produksi sebum pada kelenjar minyak. Obat-obatan retinoid topikal yang umum dipakai adalah tretinoin dan adapalene, tersedia dalam bentuk krim dan gel. Obat ini biasanya dipakai sekali sebelum tidur, yaitu 20 menit setelah Anda mencuci wajah.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebelum memakai obat ini. Bagi wanita hamil, retinoid topikal patut dijauhi karena dapat menyebabkan cacat lahir. Selain itu, pakailah obat ini sesuai takaran dan lindungi kulit yang teriritasi dari paparan sinar ultraviolet matahari yang berlebihan.

Biasanya pengobatan ini dijalani dalam jangka waktu enam minggu. Namun untuk mencegah jerawat muncul kembali, Anda mungkin disarankan untuk terus menggunakan obat ini dengan frekuensi yang jarang.

Dokter kadang menyarankan penggunaan retinoid topikal yang dikombinasikan dengan dapsone untuk hasil yang lebih efektif. Namun kombinasi obat ini berpotensi menyebabkan efek samping pada sebagian penggunanya, yaitu kulit menjadi kering dan kemerahan.

Mengatasi Jerawat dengan Benzoil Peroksida

Benzoil peroksida mampu mencegah kulit mati menyumbat folikel rambut dan membunuh bakteri yang dapat menginfeksi folikel yang tersumbat. Obat ini dipakai pada area wajah yang berjerawat pada 20 menit sesudah Anda mencuci muka. Benzoil peroksida tersedia dalam bentuk gel dan krim.

Gunakan obat ini sesuai takaran yang dianjurkan. Penggunaan yang terlalu berlebihan bisa menyebabkan kulit mengalami iritasi. Beberapa efek samping yang timbul dari penggunaan obat ini di antaranya menimbulkan sensasi gatal, menyengat, dan panas pada kulit. Selain itu, kulit juga bisa mengeras dan mengering, bahkan menjadi kemerahan dan mengelupas.

Hindari terlalu sering terpapar sinar ultraviolet matahari saat memakai benzoil peroksida karena obat ini dapat menyebabkan kulit Anda lebih sensitif terhadap sinar tersebut. Obat ini juga memiliki efek memutihkan, jadi sebisa mungkin jangan sampai terkena baju atau rambut Anda.

Tidak perlu khawatir terhadap efek samping yang ada karena pada umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah pengobatan selesai.

Untuk menghilangkan seluruh jerawat, biasanya benzoil peroksida dipakai selama enam minggu. Namun setelahnya, ada penderita yang mungkin disarankan untuk terus menggunakan obat ini dengan frekuensi pemakaian yang lebih jarang dalam mencegah jerawat kembali.

Mengatasi Jerawat dengan Asam Azelaic

Asam azelaic mampu menyingkirkan kulit mati dan membunuh bakteri jerawat. Obat ini biasa dijadikan alternatif bagi mereka yang tidak ingin menjalani pengobatan dengan retinoid topikal atau benzoil peroksida karena efek sampingnya yang terasa menjengkelkan dan mengganggu. Obat ini tidak membuat pemakainya sensitif terhadap sinar matahari.

Namun bukan berarti obat asam azelaic tidak memiliki efek samping. Efek samping tetap ada walau lebih ringan. Beberapa efek samping penggunaan asam azelaic dapat menjadikan kulit kemerahan dan kering. Kadang-kadang kulit juga terasa gatal, panas, atau perih.

Asam azelaic tersedia dalam bentuk gel atau krim, biasanya dipakai dua kali sehari atau sekali sehari bagi mereka yang memiliki kulit yang lebih sensitif. Khasiat awal obat ini baru akan terlihat sebulan setelah digunakan.

Mengatasi Jerawat dengan Antibiotik Topikal

Antibiotik topikal mampu membunuh bakteri pada kulit yang dapat menginfeksi folikel rambut yang tersumbat. Obat ini tersedia dalam bentuk cairan atau gel.

Ada beberapa efek samping yang bisa timbul melalui pengobatan ini, meski hal tersebut jarang terjadi. Efek samping tersebut dapat menjadikan kulit kemerahan dan terasa panas, kulit mengalami iritasi ringan, dan kadang-kadang mengelupas.

Antibiotik topikal umumnya digunakan sekali hingga dua kali dalam sehari. Biasanya pengobatan ini dilakukan selama 6-8 minggu. Setelah jangka waktu tersebut, pemakaian obat ini harus dihentikan agar bakteri pada wajah tidak berbalik menjadi kebal terhadap obat ini sehingga infeksi bisa bertambah atau jerawat makin parah.

Tablet Antibiotik Untuk Mengobati Jerawat yang Lebih Parah.

Untuk tingkat keparahan jerawat yang tinggi, penanganan bisa dilakukan dengan memadukan obat-obatan topikal bersama tablet antibiotik. Pemulihan biasanya baru akan terlihat setelah enam minggu pengobatan, tergantung reaksi dari masing-masing pengguna. Bahkan ada yang pemulihannya baru terlihat setelah 4-6 bulan.

Pada sebagian besar kasus jerawat yang parah, dokter akan meresepkan sejenis antibiotik yang disebut tetrasiklin. Namun biasanya obat ini tidak diberikan kepada wanita yang sedang hamil atau menyusui. Sebagai obat pengganti bagi wanita hamil, dokter akan menyarankan antibiotik yang disebut dengan eritromisin karena lebih aman untuk digunakan.

Selain dapat membuat kulit Anda sensitif terhadap sinar ultraviolet dari matahari, tetrasiklin juga dapat menjadikan pil kontrasepsi menjadi kurang efektif selama beberapa minggu pertama pengobatan. Biasanya Anda dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi lain, seperti kondom, selama menjalani pengobatan ini.

Mengobati jerawat dengan antiandrogen

Apabila antibiotik tidak bisa meredakan jerawat, pemberian antiandrogen kemungkinan akan dipertimbangkan oleh dokter. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi efek androgen pada kelenjar sebaceous. Salah satu contoh obat androgen adalah spironolactone.

Isotretinoin Untuk Mencegah Tersumbatnya Folikel Rambut

Isotretinoin adalah obat jerawat berbentuk tablet. Obat ini mampu mencegah tersumbatnya folikel rambut dan menurunkan jumlah bakteri pada kulit. Selain itu isotretinoin juga membantu mengurangi produksi sebum di kelenjar kulit. Isotretinoin juga dapat meredakan bengkak di dalam bintik jerawat dan mengurangi kemerahan di sekitar kulit yang terinfeksi.

Sebagian besar pengguna obat isotretinoin membutuhkan waktu 4-6 bulan sebelum hasilnya terlihat. Selama 7-10 hari pertama pengobatan, jerawat akan terlihat makin menyebar. Jangan khawatir, kondisi semacam ini dianggap normal pada masa awal pemakaian.

Terlepas dari sejumlah keunggulan di atas, obat ini juga menyimpan berbagai efek samping. Oleh karena itu, penggunaan isotretinoin hanya disarankan bagi yang mengalami jerawat yang sudah parah dan tidak bisa pulih dengan pengobatan lain. Dengan kata lain, hanya diberikan kepada mereka yang pengobatannya khusus diresepkan oleh dokter spesialis kulit. Sejumlah efek samping dari pengobatan isotretinoin meliputi:

  • Perubahan kadar gula dalam darah.
  • Peradangan, kekeringan, dan keretakan yang terjadi pada kulit, bibir, serta sekitar lubang hidung.
  • Adanya darah pada urine.
  • Blepharitis atau radang kelopak mata.
  • Konjungtivitis atau radang serta iritasi mata.

Beredar sejumlah isu bahwa pengguna isotretinoin mengalami perubahan suasana hati. Meski belum ada bukti mengenai hal tersebut, ada baiknya Anda melakukan tindakan pencegahan. Tanyakan kepada dokter jika Anda merasa tertekan atau cemas, bersikap agresif, atau memiliki bayangan untuk bunuh diri setelah memulai pemakaian isotretinoin.

Efek samping lain dari pengobatan isotretinoin yang lebih jarang terjadi adalah penyakit ginjal, radang pankreas, dan hepatitis atau radang hati. Oleh sebab itu Anda disarankan untuk melakukan tes darah sebelum atau selama menjalani pengobatan ini untuk menghindari ketiga risiko efek tersebut.

Efek samping terakhir dari pengobatan isotretinoin yang sangat dikhawatirkan wanita hamil adalah kelainan pada janin yang dikandung. Obat ini juga sebaiknya dihindari oleh mereka yang sedang menyusui.

Jika Anda wanita yang tengah memasuki usia subur, sebaiknya gunakan satu atau dua metode kontrasepsi selama satu bulan sebelum pengobatan dimulai, selama pengobatan berjalan, dan selama satu bulan setelah pengobatan usai. Meski Anda telah memakai metode kontrasepsi, Anda masih perlu melakukan tes kehamilan sebelum, selama, dan sesudah pengobatan. Begitu juga bagi mereka yang tengah hamil atau merasa dirinya sedang hamil, dilarang untuk menggunakan isotretinoin.

Segera hubungi dokter spesialis kulit jika Anda merasa sedang hamil saat menggunakan pengobatan isotretinoin.

Terapi Hormon bagi Wanita Menstruasi yang Mengalami Jerawat

Dampak positif dari pengobatan terapi hormon sering kali dirasakan wanita berjerawat, terutama jika jerawat tersebut muncul selama masa menstruasi atau jika berkaitan dengan masalah hormon, seperti sindrom ovarium polikistik. Jika Anda belum menggunakan pengobatan tersebut, biasanya dokter akan menyarankan Anda menggunakan pil KB kombinasi. Umumnya pada wanita, pil KB kombinasi dapat membantu memulihkan jerawat meski bisa memakan waktu hingga satu tahun sebelum terlihat hasil sepenuhnya.

Pilihan Terapi Non Obat Lainnya

Selain menggunakan obat-obatan, ada beberapa teknik pengobatan jerawat lainnya. Teknik pengobatan ini dapat dilakukan sendiri atau bersamaan dengan konsumsi obat.

Yang pertama adalah chemical peels. Dalam metode ini, kulit yang berjerawat akan dikelupas dengan tujuan menumbuhkan lapisan kulit baru. Pada prosesnya, chemical peels melibatkan bahan kimia, yaitu asam salisilat.

Terapi menggunakan ekstraktor komedo juga dapat dilakukan. Sesuai namanya, metode yang dibantu dengan alat khusus ini diperuntukkan menghilangkan komedo.

Injeksi steroid yang bertujuan menghilangkan jerawat nodul dan kista juga mungkin dilakukan. Melalui teknik ini, dokter tidak perlu melakukan operasi pengangkatan, melainkan hanya dengan menyuntikan obat-obatan steroid pada kulit yang bermasalah.

Teknik lainnya adalah terapi fotodinamik (disebut juga terapi sinar). Melalui metode ini, jerawat dihilangkan dengan cara membunuh bakteri penyebab inflamasi dengan menembakkan sinar.

Bekas luka atau jaringan parut merupakan komplikasi jerawat yang umum terjadi. Ada tiga jenis jaringan parut pada kasus jerawat. Pertama adalah jaringan parut yang terbentuk di balik kulit dan menyebabkan permukaan kulit tampak bergulir tidak merata. Bentuk jaringan parut kedua adalah yang berbentuk lonjong atau menyerupai kawah. Dan yang ketiga adalah jaringan parut dengan bentuk berlubang menyerupai bekas tusukan jarum.

Tiap jenis jerawat dapat mengakibatkan jaringan parut, tapi jenis yang paling sering meninggalkan bekas adalah nodul dan kista. Jaringan parut timbul dari jerawat yang pecah akibat dicabut atau ditekan secara sengaja.

Pengobatan Jaringan Parut untuk Mengatasi Tekanan Psikologis

Pengobatan jaringan parut saat ini dianggap penting setelah adanya kasus bahwa bekas jerawat menyebabkan tekanan psikologis yang serius. Pengobatan jaringan parut ini termasuk ke ranah bedah kosmetik.

Namun sebelum menjalani bedah ini, Anda harus sadar bahwa prosedur ini tidak akan bisa menghilangkan seratus persen bekas luka, melainkan hanya bertujuan untuk menyamarkan. Biasanya operasi ini hanya memperbaiki sekitar 50-70 persen penampilan wajah.

Konsultasikan kepada dokter spesialis untuk meminta saran mengenai prosedur apa yang cocok untuk Anda.

Ada beberapa beberapa jenis bedah kosmetik yang populer. Pertama adalah bedah dermabrasi. Penanganan ini dilakukan dengan cara mengangkat lapisan terluar kulit dengan menggunakan laser atau sikat kawat khusus. Biasanya kulit pasien akan terlihat merah dan terasa sakit selama beberapa bulan setelah mereka menjalani prosedur ini sebelum hasilnya terlihat.

Yang kedua adalah subcision yang biasanya dilakukan untuk mengatasi jaringan parut. Pada prosesnya, dokter akan mengangkat lapisan terluar kulit beserta jaringan parut yang ada di bawahnya. Pemisahan ini akan mengakibatkan darah bergumpal di area tersebut dan membentuk jaringan ikat. Jaringan ikat inilah yang akan meratakan jaringan parut dengan permukaan kulit lainnya. Untuk hasil yang lebih sempurna, biasanya dokter akan melakukan pengobatan laser atau bedah dermabrasi setelah menyelesaikan prosedur subcision.

Selanjutnya adalah pengobatan laser. Prosedur ini dapat digunakan untuk mengobati bekas jerawat tingkat ringan hingga menengah. Pengobatan laser dibagi menjadi dua, yaitu pengobatan laser ablatif dan nonablatif.

Pada prosedur ablatif, laser digunakan untuk mengangkat bagian kecil kulit di sekitar jaringan luka untuk memproduksi kulit baru yang terlihat lembut. Sedangkan pada prosedur nonablatif, laser dipakai untuk merangsang tumbuhnya kolagen baru atau sejenis protein kulit yang berguna dalam memperbaiki penampilan dan kerusakan akibat adanya bekas luka.

Pemulihan Bekas Luka Jerawat dengan Punch Technique

Selanjutnya ada teknik pemulihan jerawat nonfarmasi yang disebut dengan punch technique. Biasanya teknik ini digunakan untuk mengobati jaringan parut berjenis ice pick dan boxcar. Teknik pukulan ini ada tiga, yaitu punch excision, punch elevation, dan punch grafting.

Punch elevation biasanya digunakan untuk mengobati bekas jerawat berbentuk boxcar agar nyaris tidak terlihat. Caranya adalah menyingkirkan dasar luka melalui bedah. Sisi luka kemudian ditarik atau diangkat agar sejajar dengan permukaan kulit.

Punch excision diterapkan untuk mengobati jaringan parut ice pick yang masih masuk kategori ringan. Caranya adalah dengan menyingkirkan bekas luka dan menutupnya. Ketika sembuh nanti, kulit terlihat lebih halus dan rata pada area yang dibedah tersebut.

Yang terakhir adalah punch grafting yang digunakan untuk mengobati jaringan parut ice pick yang tergolong sangat dalam. Caranya sama seperti punch excision, namun pada teknik ini, bekas luka ditambal dengan cangkok atau graft dari kulit bagian tubuh lain, misalnya kulit dari belakang telinga.

Gejala jerawat yang tampak pada kulit bisa berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahannya. Mulai dari jerawat ringan dalam bentuk komedo, hingga jerawat kista.

Komedo terbagi menjadi dua jenis, yaitu komedo hitam dan putih. Perbedaan di antara keduanya terletak pada penyumbatan dan pengerasan sebum atau minyak. Pada komedo hitam, penyumbatan terjadi di atas pori-pori kulit sehingga tampak terbuka. Sebum tersebut akan berubah watna menjadi cokelat atau hitam setelah tekena udara.

Sedangkan pada komedo putih, penyumbatan oleh sebum terjadi di bawah atau di dalam pori-pori. Mekipun pori-pori terlihat menutup, namun akan terasa seperti benjolan kecil padat ketika kulit ditekan.

Jerawat kista dan nodul yang menyebar di bagian tubuh penderitanya. Jerawat kista terbentuk ketika bakteri, sebum, dan sel-sel kulit yang mati menyumbat bagian dalam pori-pori. Benjolan jerawat kista tampak seperti bisul besar dan terasa menyakitkan. Benjolan yang berisi nanah tersebut biasanya akan meninggalkan bekas luka permanen setelah sembuh.

Sedangkan pada jerawat nodul ditandai dengan munculnya benjolan-benjolan keras, besar, dan terasa menyakitkan dari bawah permukaan kulit dalam jumlah yang cukup banyak. Sama seperti kista, nodul merupakan kategori jerawat parah dan bisa meninggalkan bekas permanen pada kulit setelah sembuh.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT