Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Varikokel

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 18 kali

Varikokel adalah pembengkakan pada pembuluh vena di dalam kantong zakar atau skrotum. Penyakit ini mirip dengan pembengkakan pada penyakit varises di kaki, namun bedanya, penyakit varikokel menyebabkan pembengkakan pembuluh vena di dalam kantong zakar atau skrotum.

Pembengkakan ini akan berkembang secara bertahap menjadi sebuah benjolan lunak diatas buah zakar dan sering kali pada sisi kiri skrotum. Ukuran benjolan varikokel bermacam-macam, ada yang bisa dilihat secara kasat mata dan ada juga yang baru bisa diketahui setelah diraba.

Gejala Varikokel

Varikokel umumnya tidak menimbulkan gejala. Meski begitu, beberapa penderita ada yang merasakan ketidaknyamanan atau bahkan rasa sakit pada bagian kantong zakarnya. Gejala sakit ini biasanya meningkat saat penderita berdiri atau melakukan aktivitas fisik terlalu lama, dan mereda saat penderita berbaring.

Selain rasa sakit, pembesaran pembuluh vena juga bisa meningkat seiring waktu. Pembengkakan ini kebanyakan terjadi pada sisi kiri kantong zakar dan jarang terjadi pada sisi kanan kantong tersebut. Hal ini dikarenakan rute pembuluh vena di sisi kiri berbeda dengan pembuluh vena di sisi kanan.

Temuilah dokter jika Anda melihat adanya pembengkakan dan benjolan pada kantong zakar atau skrotum Anda, merasakan sakit pada bagian tersebut, dan menyadari adanya perbedaan ukuran antara testis kanan dan kiri. Jika gejala dibiarkan dan tidak diobati, maka dikhawatirkan varikokel berpotensi menyebabkan komplikasi seperti:

  • Penyusutan testis

Katup pembuluh vena yang rusak dapat menyebabkan darah berkumpul dan meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah tersebut. Tekanan dan toksin yang dikandung darah vena inilah yang diduga dapat merusak dan menyusutkan testis.

  • Kemandulan
  • Penyakit ini berpotensi menyebabkan kemandulan pada sebagian kecil kasus karena penyakit dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sperma pria yang menderitanya.

Suhu yang terus-menerus terlalu tinggi di sekitar testis akibat varikokel berisiko memberi dampak kepada pembentukan, kuantitas, pergerakan, serta kualitas sperma.

Penyebab Varikokel

Varikokel umumnya bersifat jinak, nonkanker, dan merupakan kondisi yang biasa terjadi selama masa pubertas, yaitu pada usia 15-25 tahun. Penyebab pasti varikokel belum bisa diketahui, namun dipercaya muncul akibat kelainan pada pembuluh vena yang menyebabkan terjadinya penumpukan darah dan menimbulkan pembengkakan pada scrotum.

Di dalam pembuluh vena terdapat katup-katup pembuluh yang berfungsi sebagai pintu satu arah. Ketika darah akan mengalir menuju jantung, katup akan terbuka agar darah dapat mengalir secara lancar ke organ tersebut. Begitu pula sebaliknya, katup akan menutup jika aliran darah berjalan lambat guna mencegah terjadinya aliran balik akibat gravitasi.

Jika katup tidak berfungsi dengan baik, maka darah akan mengalir balik dan mengendap di dalam pembuluh vena yang lama-kelamaan dapat menyebabkan pembengkakan.

Diagnosis Varikokel

Tergantung besarnya pembengkakan, diagnosis varikokel bisa dilakukan langsung melalui pemeriksaan fisik biasa atau harus melalui tes. Pemeriksaan pada testikel dilakukan untuk mengetahui ukurannya, posisi benjolan atau pembengkakan, apakah benjolan terasa sakit jika disentuh, dan apakah benjolan terasa keras atau lunak.

Jika pembengkakan cukup besar, kemungkinan dokter dapat dengan mudah merasakan benjolan lunak di atas testis. Jika pembengkakan lebih kecil, dokter dapat menggunakan teknik khusus dengan menyuruh pasien berdiri, menghirup napas dalam-dalam, lalu menahannya. Melalui teknik seperti ini, pembuluh vena akan membesar dan dokter kemungkinan dapat merasakan adanya pembengkakan.

Apabila melalui pemeriksaan fisik belum dapat dipastikan, maka akan dilakukan tes medis. Salah satunya adalah USG atau ultrasound. Pada kasus varikokel, USG dilakukan untuk menghasilkan citra atau gambar struktur di dalam skrotum secara terperinci. Melalui tes ini, tiap hal yang diduga berkaitan dengan gejala varikokel dapat diketahui, termasuk kondisi-kondisi lainnya, seperti tumor atau kanker testis.

Tes lain yang mungkin dilakukan adalah tes urine untuk memastikan apakah benjolan disebabkan oleh infeksi atau bukan.

Pengobatan Varikokel

Sebagian besar kasus varikokel tidak menyebabkan gejala. Meski ada gejala, biasanya tidak akan berkepanjangan atau menimbulkan gangguan lain. Oleh karena itu, pengobatan biasanya tidak diperlukan.

Namun jika varikokel telah menyebabkan ketidaknyamanan, rasa sakit, penyusutan testis, atau gangguan kesuburan, maka sebuah tindakan penanganan harus segera dilakukan. Tindakan penanganan ini bisa dimulai dengan berupa mengonsumsi paracetamol sebagai pereda rasa sakit atau menggunakan celana dalam khusus. Bila hal tersebut tidak membantu, perlu dilakukan konsultasi dengan dokter spesialis urologi untuk kemungkinan menjalani prosedur operasi.

Berikut ini adalah jenis-jenis operasi yang umumnya dilakukan untuk menangani varikokel:

  • Embolisasi.

Embolisasi dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang berukuran mikro dengan disertai perangkat X-ray ke pembuluh vena untuk mencari bagian yang rusak atau mengalami pembengkakan. Setelah varikokel ditemukan dan terlihat di monitor, cairan atau alat khusus berbentuk gulungan akan disalurkan ke pembuluh yang rusak melalui selang. Cairan atau alat khusus berbentuk gulungan ini berfungsi menghalangi darah masuk ke pembuluh vena yang rusak dan mengalir lewat pembuluh vena yang sehat.

Efek samping setelah menjalani embolisasi bisa berupa pembengkakan atau memar selama beberapa hari pada titik dimasukkannya selang dan risiko kecil untuk terkena infeksi. Pembengkakan dapat ditangani dengan kompres es dan infeksi tersebut biasanya dapat ditangani dengan antibiotik. Meski begitu, mereka yang telah menjalani prosedur ini tetap berpotensi kembali terkena varikokel di kemudian hari.

  • Operasi terbuka.

Pada prosedur ini, pembuluh vena yang rusak diperbaiki atau diangkat dengan pembedahan pada bagian bawah selangkangan atau perut. Pasien yang menjalani operasi terbuka harus dibius secara total. Efek samping setelah menjalani operasi terbuka adalah rasa sakit ringan yang berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu. Namun pasien tidak perlu khawatir karena rasa sakit ini bisa diatasi dengan obat-obatan pereda nyeri, seperti ibuprofen atau acetaminophen.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT