Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Fibromyalgia

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Fibromyalgia atau fibromyalgia syndrome (FMS) adalah penyakit kronis yang membuat penderitanya mengalami rasa sakit di sekujur tubuh.

Fibromyalgia bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Namun sebagian besar penderitanya berusia di antara 30 hingga 50 tahun. Selain itu, wanita memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena penyakit ini dibandingkan dengan pria.

Gejala Fibromyalgia

Gejala utama fibromyalgia adalah rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuh. Rasa sakit ini dapat berupa sensasi terbakar, seperti ditusuk-tusuk, atau nyeri tumpul yang dapat terus dirasakan selama setidaknya 12 minggu.

Indikasi tersebut akan berlangsung secara terus-menerus dengan tingkat keparahan yang mungkin berubah-ubah. Terkadang juga bisa disertai dengan gejala-gejala lain yang meliputi:

  • Tubuh sangat sensitif terhadap rasa sakit.
  • Otot kaku.
  • Sulit tidur dan kelelahan. Rasa sakit akibat fibromyalgia akan menyebabkan penderita sulit tidur sehingga akan memicu kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Gangguan kognitif, misalnya sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu.
  • Depresi.
  • Kecemasan.
  • Kram perut.
  • Sindrom iritasi usus.
  • Haid disertai nyeri yang parah.
  • Kepanasan atau kedinginan. Gejala ini terjadi karena penderita tidak mampu mengatur temperatur tubuh.

Keparahan gejala fibromyalgia umumnya berbeda-beda pada tiap penderita. Perbedaan ini bisa dipicu oleh tingkat stres yang dialami oleh penderita, banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh penderita, serta perubahan cuaca.

Penyebab dan Faktor Risiko Fibromyalgia

Penyebab di balik fibromyalgia belum diketahui secara pasti, tetapi para pakar menduga ada sejumlah faktor yang bisa memicu kondisi ini. Faktor-faktor pemicu tersebut adalah:

  • Usia. Kondisi ini umumnya dialami oleh orang-orang yang berusia 30-50 tahun.
  • Jenis kelamin. Wanita memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami fibromyalgia dibandingkan pria.
  • Kadar abnormal pada senyawa-senyawa dalam sistem saraf pusat. Perubahan ini dapat menyebabkan reaksi sistem saraf pusat yang lebih sensitif terhadap sinyal-sinyal rasa sakit.
  • Faktor keturunan. Risiko seseorang untuk mengalami fibromyalgia bisa meningkat jika memiliki anggota keluarga yang menderita kondisi sama.
  • Trauma fisik atau emosional, misalnya mengalami cedera, menjalani operasi, menderita infeksi virus, atau mengalami kejadian traumatis.
  • Senyawa kimia dalam otak yang tidak seimbang, seperti serotonin atau dopamin.
  • Gangguan tidur. Penderita insomnia berpotensi memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap rasa sakit.
  • Penyakit yang berhubungan dengan sendi, otot, dan tulang. Misalnya, lupus, rheumatoid arthritis, atau osteoarthritis.

Diagnosis Fibromyalgia

Fibromyalgia termasuk penyakit yang sulit didiagnosis karena gejala-gejalanya cenderung mirip dengan penyakit lain. Prosedur diagnostik khusus untuk penyakit ini juga belum ditemukan.

Dokter umumnya akan menanyakan gejala-gejala yang dialami oleh pasien sebelum memeriksa kondisi kesehatan pasien. Beberapa kriteria yang umumnya bisa digunakan untuk membantu diagnosis meliputi:

  • Pasien mengalami tingkat keparahan gejala yang sama, setidaknya selama 12 minggu.
  • Tidak adanya penyebab lain yang ditemukan.
  • Pasien mengalami rasa sakit, setidaknya pada 4 hingga 6 bagian tubuhnya.

Dokter kemudian akan menganjurkan sejumlah pemeriksaan yang dapat menghapus kemungkinan adanya penyakit lain yang diderita pasien sebelum memastikan diagnosis, seperti pemeriksaan darah dan foto Rontgen.

Penanganan Fibromyalgia

Fibromyalgia termasuk kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan. Tujuan pengobatannya adalah untuk meringankan gejala agar tidak menghambat kehidupan sehari-hari penderitanya.

Penanganan fibromyalgia berbeda untuk tiap penderita, namun secara umum meliputi:

  • Penggunaan obat-obatan, misalnya obat pereda sakit (paracetamol atau tramadol), antidepresan (seperti amitriptyline, fluoxetine, paroxetine, venlafaxine, dan duloxetine), serta antikonvulsan (gabapentin). Jika dibutuhkan, dokter juga bisa memberikan obat relaksan otot, obat penenang, atau obat tidur untuk meningkatkan kualitas tidur penderita.
  • Terapi psikologis, contohnya terapi perilaku kognitif. Konselor dapat membantu penderita untuk menemukan strategi agar bisa menangani stres yang dipicu atau memicu kondisi ini.
  • Terapi fisik untuk meringankan rasa sakit, seperti teknik relaksasi serta olahraga ringan atau berenang dalam air hangat.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT