Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Epilepsi

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Penyakit epilepsi atau ayan adalah suatu kondisi yang dapat menjadikan seseorang mengalami kejang secara berulang. Kerusakan atau perubahan di dalam otak diketahui sebagai penyebab pada sebagian kecil kasus epilepsi. Namun pada sebagian besar kasus yang pernah terjadi, penyebab masih belum diketahui secara pasti.

Di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Tiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Pada kasus epilepsi, kejang terjadi ketika impuls listrik tersebut dihasilkan secara berlebihan sehingga menyebabkan perilaku atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.

Kejang memang menjadi gejala utama penyakit epilepsi, namun belum tentu orang yang mengalami kejang mengidap epilepsi. Dalam dunia medis, seseorang dicurigai menderita epilepsi setelah mengalami kejang sebanyak lebih dari satu kali. Tingkat keparahan kejang pada tiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan ada juga yang hingga beberapa menit. Ada yang hanya mengalami kejang pada sebagian tubuhnya dan ada juga yang mengalami kejang total hingga menyebabkan kehilangan kesadaran.

Menurut data WHO, kurang lebih 50 juta orang di dunia hidup dengan epilepsi. Angka ini akan bertambah sekitar 2.4 juta setiap tahunnya. Angka pertambahan kasus epilepsi lebih tinggi di negara berkembang. Di negara maju, kasus epilepsi bertambah sekitar 30-50 kasus tiap 100ribu penduduk. Sedangkan di negara dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah kasus bisa bertambah hingga dua kali lipatnya.

Di Indonesia sendiri didapatkan data kasus epilepsi paling sedikit 700.000-1,4 juta. Angka ini akan bertambah sekitar 70ribu tiap tahunnya. Di antaranya, terdapat kurang lebih 40-50 persen kasus epilepsi yang terjadi pada anak-anak.

Penyebab epilepsi

Epilepsi dapat mulai diderita seseorang pada usia kapan saja, meski umumnya kondisi ini terjadi sejak masa kanak-kanak. Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dibagi dua, yaitu idiopatik dan simptomatik.

Epilepsi idiopatik (disebut juga sebagai epilepsi primer) merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui. Sejumlah ahli menduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Sedangkan epilepsi simptomatik (disebut juga epilepsi sekunder) merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Sejumlah faktor, seperti luka berat di kepala, tumor otak, dan stroke diduga bisa menyebabkan epilepsi sekunder.

Pengobatan serta komplikasi epilepsi

Hingga kini memang belum ada obat atau metode yang mampu menyembuhkan kondisi ini sepenuhnya. Meski begitu, obat antiepilepsi atau OAE mampu mencegah terjadinya kejang sehingga penderita dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman.

Selain obat-obatan, penanganan epilepsi juga perlu ditunjang dengan pola hidup yang sehat, seperti olahraga secara teratur, tidak mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, serta diet khusus.

Alasan kenapa kejang-kejang pada penderita epilepsi perlu ditangani dengan tepat adalah untuk menghindari terjadinya situasi yang dapat membahayakan nyawa penderitanya. Contohnya adalah terjatuh, tenggelam, atau mengalami kecelakaan saat berkendara akibat kejang.

Epilepsi juga bisa menyebabkan kematian mendadak dan mengalami status epileptikus pada kasus yang jarang terjadi. Status epileptikus merupakan kondisi ketika penderita epilepsi mengalami kejang selama lebih dari 5 menit atau mengalami serangkaian kejang pendek. Ketika serangkaian kejang pendek terjadi, penderita status epileptikus biasanya akan berada dalam keadaan yang tidak sadar sepenuhnya. Status epileptikus dapat menyebabkan kerusakan pada otak secara permanen, bahkan kematian.

Kejang berulang merupakan gejala utama epilepsi. Karakteristik kejang akan bervariasi dan bergantung pada bagian otak yang terganggu pertama kali dan seberapa jauh gangguan tersebut terjadi. Berdasarkan gangguan pada otak, jenis kejang epilepsi dibagi menjadi dua, yaitu parsial dan umum.

Kejang Parsial

Pada kejang parsial atau focal,otak yang mengalami gangguan hanya sebagian saja. Kejang parsial ini dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu: kejang parsial simpel (tanpa kehilangan kesadaran) dan kejang parsial kompleks.

Kejang parsial simpel ditandai dengan tidak hilangnya kesadaran penderita saat kejang terjadi. Gejalanya dapat berupa anggota tubuh yang menyentak, atau timbul sensasi kesemutan, pusing, dan kilatan cahaya.

Bagian tubuh yang mengalami kejang tergantung kepada bagian otak mana yang mengalami gangguan. Contohnya jika epilepsi mengganggu fungsi otak yang mengatur gerakan tangan atau kaki, maka kedua anggota tubuh itu saja yang akan mengalami kejang. Selain itu, kejang parsial juga dapat membuat penderita berubah secara emosi, seperti merasa gembira atau takut secara tiba-tiba.

Kadang-kadang, kejang focal memengaruhi kesadaran penderita sehingga dia terlihat seperti bingung atau setengah sadar selama beberapa saat. Inilah yang dinamakan dengan kejang parsial kompleks. Ciri-ciri kejang parsial kompleks lainnya adalah pandangan kosong, menelan, mengunyah, atau menggosok-gosokkan tangan.

Kejang Umum

Pada kejang umum atau menyeluruh, gejala terjadi pada sekujur tubuh dan disebabkan oleh gangguan yang berdampak kepada seluruh bagian otak. Berikut ini adalah gejala-gejala yang bisa terjadi saat seseorang terserang kejang umum:

  • Mata yang terbuka saat kejang.
  • Kejang tonik. Tubuh yang menjadi kaku selama beberapa detik. Ini bisa diikuti dengan gerakan-gerakan ritmis pada lengan dan kaki atau tidak sama sekali. Otot-otot pada tubuh terutama lengan, kaki, dan punggung berkedut.
  • Kejang atonik. Otot tubuh tiba-tiba menjadi rileks sehingga penderita jatuh tanpa kendali.
  • Kejang klonik. Gerakan menyentak ritmis yang biasanya menyerang otot leher, wajah dan lengan.
  • Penderita epilepsi kadang-kadang mengeluarkan suara-suara atau berteriak saat mengalami kejang-kejang.
  • Mengompol.
  • Kesulitan bernapas untuk beberapa saat sehingga badan terlihat pucat atau bahkan membiru.
  • Dalam sebagian kasus, kejang menyeluruh membuat penderita benar-benar tidak sadarkan diri.
  • Setelah sadar, penderita terlihat bingung selama beberapa menit atau jam.

Ada jenis epilepsi yang umumnya dialami oleh anak-anak, dikenal dengan nama epilepsi absence atau petit mal. Meski kondisi ini tidak berbahaya, namun konsentrasi dan prestasi akademik anak bisa terganggu. Ciri-ciri epilepsi ini adalah hilangnya kesadaran selama beberapa detik, mengedip-ngedip atau menggerak-gerakkan bibir, serta pandangan kosong. Anak-anak yang mengalami kejang ini tidak akan sadar atau ingat akan apa yang terjadi saat mereka kejang.

Penyakit epilepsi dibagi menjadi dua jenis, yaitu idiopatik dan simptomatik.

Epilepsi idiopatik (disebut juga epilepsi primer) merupakan jenis epilepsi yang tidak diketahui penyebabnya. Meskipun ada dugaan bahwa kondisi ini terkait dengan genetika yang diturunkan di dalam keluarga, penelitian yang ada hingga saat ini belum dapat membuktikannya. Sebagian besar kasus epilepsi yang terjadi di dunia saat ini masuk ke dalam kelompok epilepsi idiopatik.

Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik di antaranya adalah:

  • Cedera parah di kepala
  • Tumor otak
  • Penyakit serebrovaskuler (misalnya stroke)
  • Penyakit infeksi otak (misalnya meningitis dan ensefalitis)
  • Pertumbuhan beberapa bagian otak yang tidak berjalan dengan baik
  • Kekurangan oksigen ketika dilahirkan (misalnya karena tercekik tali pusar)
  • Kadar gula darah atau natrium yang tidak normal
  • Kecanduan minuman beralkohol
  • Penyalahgunaan obat-obatan.

Hal-hal yang dapat menjadi pemicu kejang

Jika Anda merupakan penderita epilepsi, ada baiknya mengenali hal-hal yang dapat memicu kejang agar Anda dapat melakukan pencegahan atau antisipasi. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kejang, di antaranya:

  • Lelah akibat kurang tidur
  • Stres
  • Tidak mengonsumsi obat antiepilepsi secara teratur
  • Mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat antiepilepsi
  • Mengonsumsi minuman beralkohol yang berlebihan
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Saat menstruasi, yaitu ketika otak dipengaruhi oleh perubahan hormon-hormon pada masa tersebut
  • Lampu berkedip atau cahaya yang menyilaukan

Dokter baru bisa mencurigai seorang pasien terkena epilepsi apabila dia telah mengalami kejang lebih dari satu kali. Selain itu dokter juga perlu mengetahui ciri-ciri kejang yang dialami. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk menanyakan karakteristik kejang pada orang-orang yang turut menyaksikan kejadian kejang pasien guna mendapatkan informasi terkait. Hal ini perlu dilakukan karena sejumlah kondisi lain kadang-kadang memiliki gejala yang serupa dengan epilepsi (misalnya serangan panik dan migrain).

Untuk melengkapi keterangan, dokter juga perlu menanyakan riwayat kesehatan pasien (misalnya apakah pasien menderita suatu kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi), gaya hidup pasien (misalnya apakah pasien pecandu minuman beralkohol, atau penggunaan narkotika), dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien.

Jika keterangan lisan di atas dirasa belum cukup, dokter dapat melakukan metode pemeriksaan yang lebih detail melalui:

  • MRI scan. Jenis pemeriksaan yang dilakukan dengan bantuan gelombang radio dan medan magnet guna menghasilkan gambar organ dalam tubuh secara terperinci ini bertujuan mengetahui adanya tumor otak atau kecacatan pada struktur otak sebagai penyebab epilepsi.
  • Electroencephalogram atau EEG. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pada impuls atau aktivitas elektrik di dalam otak yang mungkin menjadi penyebab terjadinya kejang.

Sebagian besar kasus epilepsi tidak bisa disembuhkan. Meskipun begitu penderita dapat mengonsumsi obat-obatan guna mencegah terjadinya kejang. Obat yang paling umum diresepkan dokter adalah obat antiepilepsi (OAE). Banyak penderita epilepsi yang mengalami penurunan frekuensi kejang atau bahkan tidak mengalami kejang sama sekali selama bertahun-tahun setelah menjalani terapi pengobatan dengan OAE.

Dalam menentukan OAE yang paling cocok dengan pasien, dokter akan menyesuaikannya dengan usia, kondisi, dan frekuensi kejang yang dialami pasien. Selain itu, jika pasien sedang mengalami masalah kesehatan lainnya, dokter akan menyesuaikan OAE agar tidak bersinggungan dengan kinerja obat-obatan lainnya yang sedang dikonsumsi pasien.

Agar kejang dapat dicegah secara maksimal, pasien disarankan untuk selalu meminum obat sesuai dengan yang diresepkan dokter secara teratur. Selain itu, jika pasien ingin berhenti mengonsumsi atau beralih ke jenis OAE lainnya, sebaiknya tanyakan dahulu kepada dokter.

Efek Samping setelah mengonsumsi Obat-obatan OAE

Sama seperti kebanyakan obat, OAE juga berisiko menimbulkan efek samping. Efek samping tersebut bisa tergolong ringan atau bisa juga parah.Beberapa efek samping OAE yang tergolong ringan di antaranya adalah:

  • Kenaikan berat badan
  • Pusing
  • Badan terasa lelah
  • Penurunan kepadatan tulang
  • Daya ingat berkurang
  • Bicara tidak lancar
  • Hilangnya koordinasi gerakan
  • Ruam kulit

Sedangkan efek samping OAE yang tergolong lebih berat (hal ini jarang terjadi) adalah:

  • Peradangan pada organ (misalnya organ hati)
  • Ruam kulit parah
  • Menjadi depresi
  • Kecenderungan untuk bunuh diri

Segera beri tahu dokter jika Anda mengalami migrain, perubahan suasana hati, depresi, atau bahkan keinginan untuk bunuh diri setelah mengonsumsi OAE.

Jenis Obat-obatan OAE yang Tersedia

Berikut ini adalah jenis-jenis OAE yang telah tersedia pada saat ini:

  • Phenobarbital
  • Phenytoin
  • Carbamazepine
  • Valproate
  • Topiramate
  • Tiagabine
  • Oxcarbazepine
  • Levetiracetam
  • Lamotrigine
  • Gabapentin

Bedah Otak

Jika terapi dengan obat anti epilepsi tetap tidak dapat mengontrol kondisi tersenut pada penderita, maka terapi bedah otak dapat dijadikan alternatif. Bedah ini dilakukan untuk mengangkat bagian otak yang menghasilkan kejang.

Pasien mungkin akan dirujuk ke ahli epilepsi untuk dilakukan beberapa tes termasuk tes memori, psikologis dan pemindaian otak ntk melihat bagian otak yang bermasalah. Setelah dilakukan tes, maka pembedahan akan direkomendasikan jika:

  • Bedah otak tidak akan menimbulkan masalah sigifikan akibat hilangya again otak tertentu.
  • Jika bagian otak yang bermasalah hanya di satu area saja.

Walau demikian, bedah otak ini tetap memiliki efek saping berupa masalha dengan ingatan penderita dan stroke pasca operasi. Diskusikan dengan dokter tentang keuntungan dan kerugian terapi ini jika memang terapi ini direkomendasikan.

Diet Ketogenik

Terapi lain untuk penderita epilepsi adalah diet ketogenik. Diet ini merupakan diet yang tinggi akan lemak tetapi rendah karbohidrat dan protein. Hal ini ditengarai dapat mengurangi frekuensi kejang dengan mengubah komposisi senyawa di dalam otak. Walau demikian, terapi ini tidak dianjurkan pada orang dewasa terutama yang memiliki riwayat penyakit diabetes dan kardivaskular.

Alasan kenapa kejang-kejang pada penderita epilepsi perlu ditangani dengan tepat adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi dan situasi yang dapat membahayakan nyawa penderitanya. Contohnya adalah terjatuh, tenggelam, atau mengalami kecelakaan saat berkendara akibat kejang.

Masalah kesehatan mental yang muncul akibat epilepsi juga tidak boleh dianggap enteng. Penderita bisa saja melakukan bunuh diri akibat merasa depresi dengan kondisinya tersebut atau dikarenakan efek samping obat anti epilepsi yang dikonsumsi. Dalam hal ini, peran keluarga dan orang-orang yang dekat dengan penderita sangat dibutuhkan untuk selalu memberikan dukungan dan semangat padanya.

Dalam kasus yang jarang terjadi, epilepsi dapat menimbulkan komplikasi berupa status epileptikus. Status epileptikus merupakan kondisi ketika penderita epilepsi mengalami kejang selama lebih dari 5 menit atau serangkaian kejang pendek. Biasanya penderita status epileptikus akan berada dalam keadaan yang tidak benar-benar sadar ketika serangkaian kejang pendek terjadi. Status epiliptikus dapat menyebabkan kerusakan pada otak secara permanen, bahkan kematian.

Komplikasi lainnya yang juga jarang terjadi adalah kematian mendadak. Hingga kini, penyebab kematian mendadak pada penderita epilepsi masih belum dapat diketahui secara pasti. Beberapa ahli mengemukakan bahwa hal tersebut berkaitan dengan kondisi jantung dan pernapasan penderita.

Epilepsi dan kehamilan

Tidak dapat dipungkiri bahwa epilepsi berbahaya bagi kehamilan. Kejang yang terjadi berpotensi membahayakan bayi yang sedang dikandung dan juga mengancam nyawa sang ibu. Beberapa jenis obat antiepilepsi pun ada yang berisiko membuat janin mengalami kecacatan.

Namun jika Anda menderita epilepsi dan ingin hamil, jangan cemas. Rencanakan dan lakukanlah pemeriksaan kandungan dan kondisi Anda secara rutin ke dokter. Banyak wanita yang menderita epilepsi dapat menjalani kehamilan dengan normal dan melahirkan anak yang sehat.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT