Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Epidural Hematoma

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 23 kali

Epidural hematoma atau perdarahan extradural adalah adanya darah yang mengumpul di area epidural, yaitu area di antara tulang tengkorak dan lapisan duramater. Duramater adalah membran atau lapisan terluar dari mening (selaput otak dan tulang belakang) yang menyelimuti dan melindungi otak dan tulang belakang. Di kepala, lapisan dura biasanya melekat pada tengkorak bagian dalam sehingga rentan terjadi perdarahan.

Epidural hematoma dapat terjadi di kepala dan tulang belakang, namun biasanya terjadi di kepala akibat cedera yang menimbulkan keretakan tulang tengkorak. Kondisi ini, khususnya yang terjadi di pembuluh darah arteri di otak, tergolong serius dan memerlukan penanganan darurat untuk mengangkat darah yang terkumpul sebelum menyebabkan cedera lanjutan.

Penyebab Epidural Hematoma

Epidural hematoma disebabkan oleh beberapa faktor, tergantung kepada area yang mengalami kondisi ini. Epidural yang terjadi di tulang belakang disebut epidural hematoma tulang belakang dan lebih jarang ditemui dibandingkan epidural hematoma yang terjadi di kepala. Epidural hematoma yang terjadi di kepala disebut intracranial extradural haematomakarena merupakan salah satu jenis perdarahan lain yang juga terjadi di dalam kepala (hematoma intrakranial). Penyebab epidural hematoma menurut lokasinya, yaitu:

Epidural hematoma kepala

Kondisi ini paling umum disebabkan oleh cedera kepala yang menyebabkan keretakan pada tengkorak, seperti kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Penyebab lainnya, yaitu terjatuh atau pukulan yang sangat keras atau intens, kontak fisik ketika olahraga. Keretakan ini kemudian membuat lapisan dura terlepas dari tengkorak dan merusak pembuluh darah utama hingga terjadi perdarahan di area epidural.

Seseorang yang mengalami benturan keras atau tiba-tiba, juga bisa membuat otak bergeser atau bersinggungan dengan bagian dalam tengkorak hingga terjadi memar atau robekan. Benturan dapat merobek lapisan, jaringan, atau pembuluh darah. Selanjutnya, terjadilah perdarahan di area epidural.

Darah yang dihasilkan dari benturan ini kemudian mengumpul dan membentuk hematoma yang kemudian menciptakan tekanan pada jaringan otak. Otak kemudian akan mulai kekurangan asupan darah dan gejala mulai muncul. Jika tidak segera ditangani, tekanan yang berlebih pada otak dapat memicu kerusakan otak. Sebagian besar kasus epidural hematoma adalah situasi yang berbahaya karena dapat langsung terjadi setelah kecelakaan dialami.

Epidural hematoma tulang belakang

Kondisi ini biasanya terjadi akibat cedera di sekitar tulang belakang. Cedera yang dimaksud bisa diakibatkan oleh prosedur pengambilan cairan di tulang belakang saat berusaha mendiagnosis suatu penyakit atau prosedur pembiusan epidural untuk persalinan. Cedera juga bisa terjadi pada seseorang yang sedang mengonsumsi obat antikoagulan (pengencer darah) sebagai bagian dari pengobatannya, namun kondisi ini juga lebih jarang terjadi.

Walau demikian, cedera epidural hematoma tulang belakang biasanya jarang terjadi. Oleh karena itu, artikel ini selanjutnya akan membahas tipe epidural hematoma yang terjadi di kepala.

Epidural hematoma paling banyak dialami oleh orang-orang berusia 11-16 tahun, pria, dan orang-orang yang memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Risiko akan makin berkurang dialami oleh mereka yang berusia lebih dari 60 tahun karena memiliki lapisan dura yang telah menempel dengan kuat ke tengkorak sehingga dura tidak mudah lepas dan berdarah.

Gejala Epidural Hematoma

Baik epidural hematoma kepala dan tulang belakang memiliki gejala yang dapat langsung dirasakan maupun yang baru dirasakan beberapa hari setelah cedera dialami. Perdarahan yang terjadi lebih lambat menjadi penyebab gejala tidak langsung diketahui setelah cedera terjadi. Beberapa gejala epidural hematoma, yaitu:

  • Kehilangan kesadaran ketika cedera dialami, lalu kembali sadar selama beberapa jam sebelum perlahan-lahan memburuk dan kembali hilang kesadaran sebagai tanda darah telah mengumpul di area epidural. Tidak semua orang mengalami kondisi ini.
  • Tidak langsung pingsan setelah mengalami cedera, namun mengalami rasa mengantuk atau sakit kepala yang parah. Pasien yang hilang kesadaran juga dapat mengalami hal ini setelah mereka kembali sadar.
  • Mual atau muntah.
  • Linglung atau kebingungan.
  • Tidak memiliki tenaga/kelemahan pada tangan atau tungkai kaki di salah satu sisi tubuh.
  • Mengalami kesulitan berbicara.
  • Tampak normal dan berbicara dengan lancar, namun kemudian di menit berikutnya merasa sakit dan hilang kesadaran.
  • Kejang
  • Pupil membesar di salah satu mata. Umumnya di sisi sebaliknya dengan sisi badan yang mengalami kelemahan.
  • Memar di sekitar mata.
  • Keluarnya cairan bening dari hidung atau telinga.
  • Memar di belakang telinga.
  • Sesak napas atau memiliki pola napas yang berubah-ubah.

Diagnosis Epidural Hematoma

Seseorang yang mengalami cedera, lalu kehilangan kesadaran atau mengalami sakit kepala yang parah, atau seperti gejala-gejala di atas, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Pada umumnya, epidural hematoma membutuhkan terapi gawat darurat segera.

Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari tanda-tanda epidural hematoma, cedera atau hematoma intrakranial jenis lain. Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan adalah:

  • Mengecek tingkat kesadaran.
  • Memeriksa kondisi mata sebagai tanda adanya peningkatan tekanan di dalam tengkorak.
  • Mengetes tingkat kekuatan pada tangan dan kaki.
  • Tes darah untuk mendeteksi penggumpalan darah abnormal atau kekentalan darah yang tidak normal.
  • CT scan untuk melihat jika ada keretakan pada tengkorak atau hematoma intrakranial lainnya.
  • X-ray untuk melihat adanya cedera di lokasi tubuh yang berbeda

Pengobatan Epidural Hematoma

Penanganan pertama yang dilakukan untuk orang yang mengalami epidural hematoma adalah dengan menstabilkan kondisi pasien. Pengembalian tekanan darah dan tingkat kesadaran ke level normal adalah beberapa hal yang biasanya dilakukan pada pasien. Penggumpalan darah yang kecil dan tidak menimbulkan gejala akan mengurai dengan sendirinya. Anda dapat melalui serangkaian pemeriksaan fisik dan CT scan secara berulang untuk mengawasi ukuran gumpalan darah serta gejala-gejala epidural hematoma. Alat ventilator mungkin akan dipasang jika pasien mengalami kesulitan bernapas. Kondisi Anda akan terus dipantau untuk mengantisipasi hematoma bertambah besar serta memburuknya gejala.

Jika dokter menemukan adanya peningkatan tekanan pada kepala, maka obat-obatan dapat diberikan atau disusul dengan prosedur operasi. Epidural hematoma yang membesar atau memburuk harus diangkat, biasanya melalui prosedur kraniotomi. Prosedur kraniotomi dilakukan dengan membuat lubang Burr di tulang tengkorak. Kondisi pasien kemudian terus dipantau di ruang perawatan intensif pascaoperasi.

Kraniotomi adalah prosedur di mana sebagian kecil tengkorak diangkat untuk mengurangi tekanan di dalam otak dan mengangkat gumpalan darah yang ada di epidural. Tengkorak kemudian dikembalikan ke posisi semula, menempel dengan lapisan dura, lalu ditutup.

Epidural hematoma yang ditangani segera bisa mengurangi kerusakan otak permanen walaupun tetap ada kemungkinan hal tersebut untuk terjadi, seperti kesulitan berbicara, kejang, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Walau demikian, kondisi ini dapat membaik dengan serangkaian terapi fisik atau obat-obatan.

Tingkat kesuksesan perawatan epidural hematoma juga akan meningkat dan cenderung bagus jika pasien tidak kehilangan kesadarannya sebelum operasi dilakukan dan sebaliknya. Prognosis operasi akan lebih buruk pada pasien yang mengalami hilang kesadaran sebelum prosedur operasi.

Pencegahan Epidural Hematoma

Menggunakan alat pelindung kepala dan badan adalah tindak pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena epidural hematoma atau cedera serius saat menjalani aktivitas olahraga yang berisiko tinggi menimbulkan cedera kepala. Beberapa olahraga dapat membuat seseorang mengalami cedera otak akibat kecelakaan yang menimpa kepala, seperti bersepeda, skateboard, ski, roller blade,atau tinju.

Kenakan juga sabuk keselamatan saat berkendara di mobil atau jenis kendaraan lain, khususnya bagi anak-anak. Mulai batasi area atau atur benda dan perabotan agar tidak membahayakan anak-anak (childproofing), misalnya memasang pengaman pada ujung lemari atau tangga.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seseorang yang memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan juga berisiko terkena epidural hematoma karena lebih rentan terjatuh atau terbentur. Hindari mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Tidak hanya membantu Anda mengurangi risiko terkena epidural hematoma, namun juga berkembangnya penyakit lain, seperti penyakit jantung dan sirosis hati.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT