Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Endometriosis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 22 kali

Endometriosis adalah suatu penyakit pada sistem reproduksi wanita di mana jaringan dari lapisan dalam dinding rahim atau endometrium tumbuh di luar rongga rahim.

Tiap bulan, tubuh wanita akan melepaskan hormon yang memicu penebalan dinding rahim atau endometrium, yang merupakan persiapan untuk menerima sel telur yang sudah dibuahi. Apabila tidak terjadi kehamilan, dinding rahim akan luruh dan keluar dari tubuh dalam bentuk darah yang keluar dari vagina.

Endometriosis terjadi saat jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Jika Anda mengidap endometriosis, jaringan tersebut juga mengalami proses penebalan dan luruh, yang sama dengan siklus menstruasi. Tetapi, darah tersebut akhirnya mengendap dan tidak bisa keluar karena terletak di luar rahim. Endapan tersebut akan mengiritasi jaringan di sekitarnya. Lama-kelamaan, jaringan parut atau bekas iritasi pun terbentuk.

Gejala-gejala Endometriosis

Meski umumnya tidak tergolong mematikan, penyakit menahun ini dapat menyebabkan gejala yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari pengidapnya.

Gejala endometriosis yang paling sering terasa adalah sakit yang luar biasa pada saat menstruasi. Selain itu, beberapa penderita endometriosis juga merasakan sakit saat buang air besar dan kecil ataupun saat berhubungan seks.

Di samping itu, pengidap endometriosis juga bisa mengalami pendarahan menstruasi yang berlebihan ataupun perdarahan di tinja atau urine.

Pengaruh endometriosis berbeda-beda pada tiap wanita, dan terkadang ada wanita yang sama sekali tidak merasakan gejala apa-apa. Karena itu, sangat penting bagi Anda untuk tidak meremehkan rasa sakit yang mendadak muncul atau melebihi dari biasanya pada saat menstruasi. Segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan gejala yang tidak seperti biasanya.

Penyebab Endometriosis

Penyebab tumbuhnya jaringan endometrium di luar rahim belum diketahui secara pasti. Tapi ada teori yang mengatakan bahwa endometriosis terjadi karena dinding rahim yang luruh saat menstruasi gagal dikeluarkan dari dalam tubuh (menstruasi retrograd) dan akhirnya melekat pada organ dalam panggul. Namun teori ini pun tidak bisa menjelaskan menagapa endometriosis juga terjadi pada wanita yang sudah menjalani pengangkatan rahim (histerektomi).

Adapun faktor risiko yang memicu timbulnya endometriosis salah satunya adalah hormon estrogen. Hormon estrogen yang tinggi terbukti dapat memperparah kondisi ini. Itulah yang menyebabkan endometriosis umumnya menyerang wanita di usia produktif. Ada beberapa faktor risiko selain estrogen yang diduga sebagai pemicunya, yaitu faktor keturunan, sistem kekebalan tubuh, faktor adaptasi sel sesuai lingkungan organnya, dan faktor paparan lingkungan.

Proses Diagnosis Endometriosis

Sama halnya dengan penyakit pada umumnya, diagnosis endometriosis meliputi konsultasi dengan dokter serta pemeriksaan organ-organ panggul. Dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien secara mendetail, terutama lokasi, frekuensi, serta waktu kemunculan rasa sakit.

Anda kemudian akan menjalani pemeriksaan untuk memastikan keberadaan endometriosis. Langkah ini meliputi pemeriksaan organ intim, USG dan laparoskopi. Dalam prosedur laparoskopi, dokter juga biasanya akan mengambil sampel jaringan endometrium yang tumbuh di luar rahim agar dapat diteliti di laboratorium.

Langkah Pengobatan Untuk Endometriosis

Karena penyebabnya belum diketahui, langkah penanganan endometriosis yang akurat juga tidak ada. Tujuan pengobatannya adalah untuk mengurangi gejala agar tidak mengganggu rutinitas sehari-hari pengidap.

Rasa sakit luar biasa saat menstruasi yang menjadi gejala utama penyakit ini dapat dikurangi dengan obat pereda sakit atau terapi hormon. Penanganan dengan operasi juga bisa dilakukan untuk mengangkat jaringan endometriosis, terutama untuk pengidap yang berencana punya anak.

Endometriosis umumnya tidak tergolong mematikan. Namun kondisi ini bisa menyebabkan gejala-gejala yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari dari penderitanya.

Secara umum, gejala endometriosis meliputi sakit yang luar biasa pada perut bagian bawah dan sekitar pinggul. Gejala ini biasanya terasa paling parah sebelum dan selama siklus menstruasi. Tapi ada juga yang merasakan sakit sepanjang waktu. Rasa sakit tersebut juga terkadang muncul saat berhubungan seks atau setelahnya, serta rasa sakit waktu buang air kecil dan besar.

Di samping rasa sakit, perut terasa kembung, darah pada feses atau urine, volume darah yang berlebihan saat menstruasi, darah serta pendarahan di luar siklus menstruasi juga termasuk gejala endometriosis.

Gejala lain yang dapat dialami penderita seperti diare, konstipasi, kelelahan, dan mual selama periode menstruasi.

Gejala endometriosis bervariasi tergantung letak di mana tumbuhnya jaringan endometrium seperti misalnya, di ovarium, dinding luar rahim, vagina, usus, kandung kemih, dan bahkan paru-paru. Sehingga perlunya diketahui bahwa dampak endometriosis berbeda-beda pada tiap penderitanya. Karena itu, sangat penting bagi Anda untuk memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala-gejala tersebut.

Penyebab tumbuhnya jaringan endometrium yang abnormal ini belum diketahui secara pasti. Tetapi ada beberapa penjelasan tentang bagaimana endometriosis bisa terjadi, yang meliputi:

  • Retrogade menstruation atau aliran menstruasi yang berbalik arah. Berbeda dengan proses menstruasi normal, gangguan ini terjadi ketika darah menstruasi yang mengandung banyak sel endometrium mengalir naik ke tuba falopi atau saluran telur dan kemudian masuk ke rongga perut.
  • Gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Ada kemungkinan sistem kekebalan tubuh tidak berhasil melenyapkan sel-sel endometrium yang secara keliru tumbuh di luar rahim.
  • Perpindahan sel-sel endometrium ke bagian tubuh lain melalui darah atau sistem limfatik.

Para pakar juga memercayai bahwa ada beberapa hal yang dapat menjadi faktor risiko endometriosis. Di antaranya adalah:

  • Faktor keturunan. Risiko endometriosis akan meningkat apabila pengidap memiliki anggota keluarga (terutama ibu atau saudara perempuan) yang juga mengalami penyakit yang sama.
  • Belum pernah melahirkan.
  • Mengalami keabnormalan pada rahim.
  • Mengidap kondisi tertentu yang dapat menghalangi jalur darah menstruasi.
  • Konsumsi minuman beralkohol.
  • Mengalami menstruasi pada usia lebih muda dari batas normal.
  • Siklus menstruasi yang singkat, misalnya kurang dari 27 hari.
  • Mengalami menopause pada usia yang lebih tua dari batas normal.

Karena penyebabnya yang belum diketahui, langkah penyembuhan endometriosis secara akurat juga belum ada. Tujuan penanganannya hanya untuk mengurangi gejala, memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium di luar rahim, meningkatkan kesuburan, dan mencegahnya kambuh.

Ada beberapa faktor yang sebaiknya dipertimbangkan saat memilih langkah pengobatan yang akan Anda jalani, yaitu gejala yang dirasakan, usia dan keinginan Anda untuk memiliki anak.

Menangani Rasa Sakit Akibat Endometriosis

Obat pereda sakit

Rasa sakit luar biasa saat menstruasi yang menjadi gejala utama endometriosis dapat dikurangi dengan obat pereda sakit jenis anti inflamasi non-steroid (OAINS), seperti ibuprofen atau naproxen. Obat-obatan ini dijual bebas dan tersedia di apotek terdekat.

Paracetamol juga bisa menjadi alternatif untuk meredakan sakit, namun keefektifannya tidak sekuat OAINS.

Terapi hormon

Terapi hormon digunakan untuk mengurangi gejala endometriosis dengan menghambat produksi hormon estrogen dalam tubuh. Proses ini akan mencegah pertumbuhan sel-sel endometriosis dan dapat dilakukan melalui cara-cara berikut:

Hormon kontrasepsi. Contohnya seperti pil KB, koyo KB, dan cincin vagina dapat menghambat proses penebalan lapisan endometrium sehingga menstruasi lebih ringan, cepat berakhir dan mengurangi rasa sakit endometriosis.

Terapi Progestin. Pengobatan dengan hormon progestin saja, misalnya kontrasepsi implan, suntik (Depo-Provera), atau berupa alat kontrasepsi dalam rahim yang disebut juga intrauterine device. Kerja hormon ini adalah menghambat siklus menstruasi dengan menahan pertumbuhan endometrium sehingga dapat mengurangi rasa sakit.

Analog hormon pelepas gonadotropin. Obat ini akan memicu kondisi yang mirip dengan menopause, sehingga ukuran endometriosis akan mengecil dan menstruasi pun terhenti.

Danazol. Obat ini juga bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan jaringan endometrium sehingga mencegah menstruasi dan meringankan gejala endometriosis lainnya. Sebaiknya obat ini tidak dijadikan pilihan utama mengobati endometriosis karena akan menimbulkan efeksamping yang cukup serius dan dapat membahayakan janin bila Anda ternyata hamil saat sedang mengonsumsi obat ini.

Antiprogestogen, yaitu hormon sintetis dengan fungsi sejenis analog hormon pelepas gonadotropin. Karena efek sampingnya sangat berat, obat ini merupakan langkah terakhir yang dianjurkan ketika obat-obatan lain tidak efektif.

Pengangkatan Jaringan Endometriosis Melalui Operasi

Operasi pengangkatan endometriosis akan menjadi pilihan jika terapi hormon tidak efektif bagi pengidap endometriosis. Prosedur ini umumnya dilakukan guna mengangkat jaringan endometriosis serta jaringan parut.

Apabila Anda mengidap endometriosis dan masih ingin memiliki anak, dokter biasanya akan menganjurkan pengangkatan jaringan endometriosis melalui prosedur laparoskopi atau operasi dengan sayatan besar jika banyak jaringan yang perlu diangkat. Kedua prosedur operasi ini dapat mengurangi rasa sakit sekaligus meningkatkan kemungkinan Anda untuk hamil.

Sementara bagi pengidap endometriosis yang tidak ingin memiliki anak, ada pilihan untuk menjalani operasi pengangkatan seluruh rahim. Serviks dan kedua ovarium juga biasanya diangkat. Pengangkatan ovarium dilakukan karena hormon estrogen yang diproduksinya dapat merangsang kambuhnya endometriosis. Operasi ini akan menghapus kemungkinan seseorang untuk hamil.

Komplikasi dapat terjadi jika endometriosis terus dibiarkan berkembang tanpa pengobatan. Beberapa komplikasi yang mungkin muncul meliputi:

  • Gangguan pada kesuburan atau infertilitas. Komplikasi ini terjadi karena adanya jaringan endometrium yang tumbuh dan menutupi tuba falopi, sehingga menghalangi pertemuan sel telur dan sperma. Tidak semua penderita endometriosis mengalami infertilitas, hanya sebagian saja. Dokter biasanya akan menganjurkan pengidap endometriosis tingkat ringan sampai menengah untuk memiliki anak secepatnya sebelum kondisi mereka makin parah.
  • Adhesi. Jaringan endometriosis yang membuat organ-organ tubuh saling menempel.
  • Kista ovarium, yaitu tumbuhnya kantong berisi cairan pada ovarium. Kantong ini bisa tumbuh menjadi sangat besar dan menimbulkan nyeri.
  • Kanker ovarium. Meski komplikasi ini jarang terjadi, pengidap endometriosis tetap memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker ovarium.
  • Kanker endometirum yang terpicu endometriosis, yaitu jenis kanker ganas di lapisan dinding dalam rahim akibat endometriosis. Jenis kanker ini tergolong jarang terjadi dan masih dalam penelitian untuk mencari faktor pemicunya.

Adhesi dan kista ovarium dapat muncul ketika jaringan endometrium tumbuh di dalam atau di dekat ovarium.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT