Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Ejakulasi Dini

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 21 kali

Ejakulasi dini adalah kondisi ketika seorang pria mengeluarkan sperma (mencapai klimaks) terlalu cepat ketika berhubungan seksual. Ejakulasi dini juga bisa didefinisikan ketika ejakulasi terjadi sebelum atau sesaat setelah penetrasi seksual.

Tiap pria dipastikan pernah mengalami ejakulasi dini. Jika hal ini terjadi sesekali, tidak perlu dikhawatirkan. Namun Anda disarankan menemui dokter jika 50 persen hubungan seksual yang pernah Anda lakukan berakhir dengan ejakulasi dini.

Sebenarnya tidak ada patokan pasti soal durasi berhubungan seksual yang baik karena hal ini tergantung kepada kepuasan masing-masing pasangan. Sebuah penelitian pernah dilakukan terkait berapa lama hubungan seks sebaiknya berlangsung. Hasilnya, rata-rata waktu bagi pria untuk mencapai ejakulasi setelah melakukan penetrasi adalah sekitar lima setengah menit.

Ejakulasi dini terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Ejakulasi dini primer, yaitu ejakulasi dini yang selalu dialami oleh seorang pria sejak dia pertama kali melakukan hubungan seksual atau tiap kali berhubungan seksual.
  • Ejakulasi dini sekunder, yaitu saat ejakulasi dini terjadi pada seorang pria yang sebelumnya memiliki riwayat ejakulasi normal atau tanpa masalah ejakulasi.

Penyebab Ejakulasi Dini

Penyebab ejakulasi dini beragam. Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor psikologis atau fisik. Contoh masalah psikologis yang bisa menyebabkan ejakulasi dini adalah gangguan kecemasan, stres, dan depresi. Sedangkan contoh masalah fisik yang bisa menyebabkan ejakulasi dini adalah gangguan prostat dan tiroid. Selain itu, bisa disebabkan juga oleh efek samping konsumsi obat-obatan terlarang.

Pengobatan Ejakulasi Dini

Jika Anda mengalami ejakulasi dini, tidak perlu langsung pergi ke dokter. Cobalah untuk melakukan penanganan sendiri di rumah, misalnya memakai kondom tebal untuk menurunkan sensitivitas penis, melakukan masturbasi terlebih dahulu satu atau dua jam sebelum berhubungan seksual, atau menarik napas dalam-dalam ketika akan ejakulasi.

Jika usaha di atas masih belum membuahkan hasil yang positif, Anda dapat menemui dokter. Dalam menangani ejakulasi dini, biasanya dokter akan meresepkan obat. Beberapa contoh di antaranya adalah fluoxetine, sertraline, paroxetine, dan dapoxetine. Seluruh obat-obatan ini termasuk kelompok antidepresan.

Selain dengan obat, ejakulasi dini juga bisa ditangani melalui terapi jika Anda dan pasangan memiliki masalah yang efeknya berpotensi memicu kondisi tersebut.

Salah satu penyebab ejakulasi dini adalah faktor psikologis. Contoh hal-hal yang berkaitan dengan ini di antaranya:

  • Adanya masalah yang terjadi antara Anda dan pasangan
  • Stres
  • Rasa cemas tidak bisa memuaskan pasangan
  • Depresi
  • Pengalaman traumatis sejak kecil (misalnya pernah dilecehkan secara seksual atau pernah tertangkap basah melakukan onani)
  • Sering melakukan onani ketika remaja dengan memaksakan diri untuk ejakulasi dengan cepat akibat rasa bersalah atau takut tertangkap basah.

Selain faktor psikologis, ejakulasi dini juga bisa dipicu oleh masalah-masalah yang berkaitan dengan fisik, di antaranya:

  • Gangguan tiroid
  • Gangguan prostat
  • Memiliki penis yang terlalu sensitif
  • Gangguan refleks pada sistem yang mengatur ejakulasi
  • Radang atau infeksi di dalam uretra atau prostat
  • Gangguan kadar neurotransmiter di dalam otak
  • Gangguan hormon
  • Kerusakan saraf akibat cedera atau operasi
  • Efek samping merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Ejakulasi dini juga bisa bersifat turunan. Artinya seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengalami ejakulasi dini jika di dalam keluarganya ada yang memiliki kondisi sama.

Jika Anda mengalami ejakulasi dini, maka dokter perlu mengetahui penyebabnya. Dokter mungkin akan bertanya tentang riwayat kesehatan Anda (masalah kesehatan yang sebelumnya Anda miliki), bertanya tentang kehidupan seksual Anda dengan pasangan dan melakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan laboratorium kadang-kadang diperlukan dalam kasus ejakulasi dini. Jika Anda mengalami ejakulasi dini disertai gejala sulit ereksi atau mempertahankan ereksi, maka dokter akan menyarankan Anda mengikuti pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini diperlukan dokter agar mengetahui kadar hormon testosteron Anda.

Selain pemeriksaan darah, ada juga tes urine. Tes ini akan disarankan jika dokter mencurigai bahwa ejakulasi dini Anda disebabkan oleh infeksi di dalam tubuh.

Penanganan secara mandiri, menggunakan obat-obatan dari dokter, dan melakukan konseling ke ahli terapi bersama pasangan adalah hal-hal yang termasuk penanganan ejakulasi dini.

Penanganan mandiri

Penanganan mandiri merupakan cara yang bisa Anda lakukan sendiri sebelum pergi ke dokter. Dengan melakukan beberapa teknik relaksasi atau teknik untuk mengalihkan perhatian, ejakulasi dini bisa ditangani.

Cobalah untuk melakukan posisi seksual dengan wanita di atas ketika berhubungan seks. Tujuannya adalah agar pasangan Anda dapat dengan mudah menarik diri ketika Anda mulai mendekati ejakulasi. Setelah rasa ingin ejakulasi telah hilang, Anda bisa kembali melanjutkan penetrasi.

Untuk menahan refleks ejakulasi, Anda bisa melakukannya dengan cara mengambil napas dalam-dalam dan beristirahat sebentar. Sambil beristirahat Anda dapat mengalihkan pikiran ke hal-hal lain agar keinginan untuk ejakulasi menurun.

Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan melakukan masturbasi satu atau dua jam sebelum berhubungan seks. Jika penis Anda sangat sensitif, penggunaan kondom tebal juga dapat membantu menurunkan sensasi.

Selain itu, Anda juga bisa mencoba mengurangi atau menghilangkan kebiasaan merokok dan konsumsi minuman keras. Langkah-langkah ini bisa meningkatkan kendali Anda dalam berejakulasi.

Penanganan ejakulasi dini dengan obat-obatan

Salah satu golongan obat untuk mengatasi ejakulasi dini adalah golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Obat ini sebenarnya merupakan antidepresan atau obat pereda depresi. Akan tetapi SSRI ternyata juga memiliki efek yang dapat menunda ejakulasi dan banyak diresepkan oleh dokter.

Jenis SSRI yang umum digunakan dalam menangani ejakulasi dini adalah fluoxetine, sertraline, dan paroxetine. Efek samping keempat jenis obat ini tergolong ringan, di antaranya adalah tubuh terasa lelah dan menjadi sering berkeringat, mual, muntah, dan diare. Efek samping akan reda setelah tubuh menyesuaikan diri dengan obat selama beberapa minggu.

Beberapa penderita ejakulasi dini mengaku mengalami kemajuan atas kondisinya setelah menggunakan obat-obatan SSRI selama 7-14 hari. Walaupun ada beberapa pria yang langsung merasakan efeknya setelah terapi dimulai.

Selain fluoxetine, sertraline, dan paroxetine, ada satu jenis obat SSRI lainnya namun memiliki reaksi pengobatan yang lebih cepat ketimbang tiga jenis SSRI tersebut. Nama obat ini adalah dapoxetine. Obat ini biasanya digunakan 1-3 jam sebelum berhubungan seksual.

Efek samping dapoxetine meliputi rasa mual, sakit kepala, dan pusing. Meskipun memiliki reaksi yang lebih cepat, obat ini tidak disarankan untuk digunakan pada penderita ejakulasi dini yang memiliki riwayat penyakit ginjal, jantung, dan hati.

Penanganan ejakulasi dini dengan anestesi topikal

Anestesi topikal mengandung zat yang dapat membuat bagian tubuh menjadi kebas dan mati rasa. Anestesi topikal dipakai sesaat sebelum melakukan hubungan seks. Efek kebas obat ini dapat mengurangi sensasi sehingga menunda ejakulasi.

Meski efektif, penanganan dengan cara ini juga memiliki efek samping. Beberapa pria mengaku kurang menikmati hubungan seksual akibat kepekaan penis mereka yang berkurang. Tidak hanya pria, pasangan wanitanya juga bisa mengalami hal yang sama. Ini dikarenakan zat anestesi ikut terserap oleh vagina. Dalam kasus yang jarang terjadi, anestesi topikal dapat menyebabkan pemakainya mengalami alergi.

Penanganan ejakulasi dini melalui konseling

Selama konseling, pasangan akan didorong untuk menceritakan segala masalah yang mungkin memengaruhi hubungan mereka dan menemukan solusinya bersama-sama dengan bantuan seorang tenaga ahli (biasanya psikolog). Sesi ini juga dapat membantu pasangan mengurangi kecemasan dan mengatasi stres. Biasanya efek konseling akan terlihat lebih nyata jika didukung dengan pemberian obat.

Selain menelaah masalah yang terjadi pada pasangan, ahli terapi juga kerap memperkenalkan teknik latihan untuk menunda ejakulasi. Pertama Anda dan pasangan akan diperkenalkan teknik “meremas”. Dalam teknik meremas, pasangan wanita Anda akan coba memberikan Anda masturbasi. Ketika Anda mulai merasa akan ejakulasi, berilah sinyal pada pasangan Anda untuk berhenti dan langsung meremas kepala penis selama 10-30 detik. Setelah penis dilepaskan, tunggulah selama setengah menit sebelum mengulangi proses yang sama. Lakukanlah metode ini secara berulang-ulang sebelum ejakulasi benar-benar dibiarkan terjadi.

Teknik yang kedua adalah adalah teknik “berhenti-mulai” atau “stop-go”. Teknik ini dilakukan selama masa penetrasi. Ketika Anda merasa akan ejakulasi, keluarkan penis Anda dari pasangan Anda, lalu mulai ambil napas dalam-dalam. Setelah keinginan untuk ejakulasi hilang, lanjutkan lagi penetrasi. Lakukan teknik ini secara berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan Anda dan pasangan.

Keefektifan teknik-teknik ini akan meningkat seiring dengan frekuensi latihan Anda dan pasangan Anda.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT