Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Dislokasi Bahu

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 22 kali

Dislokasi bahu adalah kondisi di mana tulang lengan bagian atas keluar dari mangkok pelindungnya. Pada beberapa kasus, jaringan di sekelilingnya dapat ikut tertarik dengan keras atau robek.

Sendi-sendi peluru pada bahu berada dalam mangkok pelindung (soket) yang kecil. Hal ini menjadikan bahu kita dapat digerakkan secara bebas ke segala arah, namun sekaligus juga membuat posisinya menjadi tidak stabil sehingga mudah mengalami dislokasi.

Dislokasi bahu umumnya terjadi pada bagian anterior (depan), di mana sebagian besar kasusnya terjadi pada lansia yang terjatuh dengan posisi lengan menjauhi badan (abduksi). Pada kondisi tersebut, kepala humerus (tulang panjang lengan) tertarik ke depan sehingga keluar dari sendi glenohumeral (sendi antara bahu dan lengan atas). Dislokasi bahu ini juga bisa disertai dengan fraktur pada tulang humerus secara bersamaan.

Selain pada lansia, dislokasi bahu banyak dialami pria usia 20 yang cenderung aktif melakukan kegiatan fisik. Kondisi ini juga sering terjadi pada orang yang (misalnya pada kasus hipermobilitas sendi). .

Untuk menegakkan diagnosis dislokasi bahu, dokter biasanya akan mengawali dengan pemeriksaan fisik dan melakukan pemeriksaan sinar-X atau rontgen. Hal ini dilakukan untuk melihat dislokasi yang terjadi, kemungkinan patah tulang, atau kerusakan sendi bahu lain.

Selain itu, pemeriksaan juga bertujuan untuk menentukan perawatan yang akan dilakukan. Dislokasi bahu membutuhkan setidaknya 3 hingga 4 bulan untuk benar-benar pulih setelah dilakukan perawatan.

Gejala Dislokasi Bahu

Tanda dan gejala dislokasi bahu sebagian besar dapat terlihat secara jelas. Gejala tersebut antara lain:

  • Bahu mengalami perubahan bentuk. Bahu cenderung terlihat lebih menyerupai kotak, bukan bulat seperti seharusnya.
  • Adanya benjolan atau bagian yang menonjol pada tulang lengan bagian atas atau pada bawah kulit di depan bahu.
  • Rasa nyeri yang sangat kuat.
  • Sendi tidak bisa digerakkan.
  • Bengkak atau memar.
  • Otot bahu menjadi tegang (spasme). Ini bisa semakin menambah rasa sakit.

Selain itu, dislokasi bahu juga dapat menyebabkan area di sekitar titik cedera (misalnya lengan dan leher) menjadi lemah, kebas, atau kesemutan.

Penyebab Dislokasi Bahu

Dislokasi pada bahu dapat disebabkan karena:

  • Cedera saat berolahraga (umumnya terjadi pada olahraga yang dipenuhi dengan kontak fisik, seperti sepak bola dan hoki).
  • Cedera akibat kecelakaan lalu lintas yang membuat bahu mendapat benturan keras.
  • Jatuh (misalnya jatuh dari tangga).

Pengobatan Dislokasi Bahu

Pengobatan untuk dislokasi bahu dapat dilakukan dengan cara :

  • Reduksi tertutup (perbaikan posisi bahu). Dokter akan membantu mengembalikan tulang bahu ke posisi yang seharusnya dengan gerakan perlahan. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat rasa nyeri dan bengkak yang dialami pasien. Jika terasa sangat nyeri, maka perlu diberikan sedatif atau obat bius sebelum perbaikan posisi dilakukan. Reduksi tertutup dapat dilakukan dengan beberapa metode, di antaranya:
    • Metode hipokratik. Di sini dokter akan melakukan penarikan (traksi) lengan dengan sudut 45 derajat, kemudian bahu akan diputar perlahan hingga kembali ke tempat asalnya.
    • Metode rotasi eksternal. Di sini lengan ditempelkan pada tubuh dan ditekuk sampai 90 derajat. Lengan kemudian diputar ke arah luar secara perlahan.
    • Teknik Stimson. Pasien dibaringkan pada posisi telungkup, kemudian lengan pasien diletakkan bergantung di sisi tempat tidur, lalu beban seberat 2-10 kg dipasangkan pada siku atau pergelangan tangan. Gravitasi menyebabkan terjadinya reduksi.
    • Reduksi cepat. Metode ini dilakukan pada kasus dislokasi bahu anterior tanpa disertai fraktur. Metode ini dapat meredakan nyeri dengan cepat dan tidak memerlukan traksi yang kuat. Gerakan awal yang dilakukan adalah dengan sedikit menjauhkan lengan dari tubuh (abduksi) dan secara bersamaan memutar lengan ke arah dalam. Bahu kemudian dipasang penyangga (sling) untuk meminimalkan gerakan.
  • Operasi. Tindakan ini mungkin dilakukan jika pasien memiliki sendi bahu atau ligamen yang lemah . Di sini dokter akan membuat irisan kecil dan memasukkan arthroscope (selang kecil yang dilengkapi kamera dan lampu).
  • Obat-obatan, Dokter akan memberi obat pereda sakit atau pelemas otot agar penderita merasa nyaman saat bahu masih dalam proses penyembuhan.
  • Penyangga.Dokter akan menggunakan penyangga khusus agar bahu tidak bergerak. Lamanya pemakaian penyangga tergantung dari kondisi bahu pasca dislokasi, biasanya sekitar biasanya sekitar dua hingga tiga minggu. Namun pemulihan bahu secara total bisa memakan waktu dua belas hingga enam belas minggu.
  • Rehabilitasi. Setelah penyangga bahu dilepaskan, program rehabilitasi dimulai untuk mengembalikan jangkauan gerakan, kekuatan, dan stabilitas sendi bahu. Jika dislokasi bahu ringan tanpa kerusakan jaringan atau saraf, pemulihan sendi bahu dapat dicapai dalam waktu beberapa minggu.

Selain pengobatan dari dokter, beberapa cara dapat kita lakukan secara mandiri untuk meredakan rasa nyeri dan mempercepat kesembuhan, di antaranya:

  • Kompres bahu dengan es lalu kompres hangat. Kompres bahu dengan sekantong es untuk meredakan bengkak dan rasa nyeri. Lakukan kompres es ini selama 15 hingga 20 menit tiap dua jam sekali. Setelah dua atau tiga hari, kompres bahu dengan air hangat yang dapat melemaskan otot yang sakit atau tegang. Batasi kompres hangat ini paling lama sekitar 20 menit.
  • Mengonsumsi obat pereda sakit. Obat-obatan seperti asetaminofen, ibuprofen, aspirin, dan, naproxen dapat membantu meredakan sakit. Ikuti petujuk penggunaan obat dan hentikan pemakaian obat setelah rasa nyeri berkurang.
  • Istirahatkan bahu. Jangan mengulangi aksi yang menyebabkan dislokasi bahu dan hindari gerakan yang membuat nyeri.
  • Pertahahan jangkauan gerak bahu. Saat pemulihan, lakukan latihan gerakan perlahan sesuai anjuran dokter atau terapis fisik untuk mempertahankan jangkauan gerakan bahu dan melemaskan kembali sendi yang kaku setelah beberapa lama tidak aktif. Begitu bahu sudah pulih, tetaplah berlatih untuk menjaga kekuatan serta stabilitas bahu, dan mencegah dislokasi berulang kembali.

Pencegahan Dislokasi Bahu

Untuk menghindari dislokasi bahu, ikuti beberapa cara berikut ini:

  • Berolahraga secara teratur untuk mempetahankan kekuatan dan fleksibilitas sendi dan otot bahu.
  • Memakai alat pelindung saat melakukan olahraga yang melibatkan kontak fisik.
  • Berhati-hati dalam bergerak agar tidak jatuh.

Kompllikasi Dislokasi Bahu

Apabila tidak ditangani dengan baik, dislokasi bahu dapat menyebabkan komplikasi yang lebih berat, antara lain:

  • Otot, ligamen, dan tendon yang menguatkan sendi bahu menjadi robek.
  • Kerusakan pada saraf atau pembuluh darah di dalam bahu dan sekeliling sendi bahu.
  • Bahu menjadi tidak stabil, terutama setelah mengalami dislokasi yang parah atau dislokasi yang berulang. Hal ini membuat bahu rentan mengalami cedera kembali.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT