Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Disfungsi Seksual

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 23 kali

Disfungsi seksual adalah masalah yang menghalangi seseorang memiliki hasrat seksual atau mendapat kepuasan dalam kegiatan seksual. Kondisi ini dapat menimpa wanita maupun pria, dan risikonya semakin tinggi seiring pertambahan usia.

Disfungsi seksual pada wanita meliputi masalah dalam respon seksual, orgasme dan rasa nyeri saat berhubungan seksual. Sedangkan masalah seksual pada pria menyangkut disfungsi ereksi atau impotensi, gangguan ejakulasi, dan kehilangan gairah seksual. Disfungsi seksual sendiri bukanlah suatu hal yang jarang terjadi, di mana 43 persen wanita dan 31 persen pria setidaknya pernah merasakan gangguan atau kesulitan dalam aktivitas seksual mereka.

Disfungsi seksual dapat menjadi gangguan jika masalah ini terjadi terus-menerus dan berpengaruh secara signifikan dalam kehidupan seksual seseorang. Semakin lama disfungsi seksual ini berlangsung, semakin tinggi tekanan dan tingkat kecemasan yang dimiliki penderita. Meski begitu, sebagian besar penderita disfungsi seksual dapat dipulihkan dengan pengobatan fisik yang dipadukan dengan terapi psikologi.

Gejala Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual menunjukkan gejala berdasarkan jenis gangguan yang diderita. Pria dan wanita memiliki gejala yang berbeda. Berikut adalah gejala disfungsi seksual pada wanita:

  • Hasrat seksual yang rendah. Ini adalah jenis disfungsi seksual yang paling umum diderita wanita, dan ditandai dengan hilangnya hasrat atau keinginan untuk berhubungan seksual.
  • Gangguan rangsangan seksual. Dalam kondisi ini, hasrat berhubungan seksual tetap ada, tapi seorang wanita sulit untuk terangsang dan mempertahankan rangsangan selama kegiatan seksual.
  • Gangguan nyeri seksual/dyspareunia. Gejalanya adalah timbul rasa nyeri saat melakukan kontak vagina atau stimulasi seksual. Banyak hal yang dapat memicu rasa nyeri dalam hubungan seksual, di antaranya vaginismus, pelumas yang tidak memadai, serta otot vagina yang kaku.
  • Gangguan orgasme, yaitu kesulitan mencapai orgasme meski rangsangan dan stimulasi dilakukan terus menerus.

Sedangkan gejala disfungsi seksual pada pria adalah:

  • Disfungsi ereksi atau dikenal dengan nama impotensi. Kondisi ini terjadi saat pria tidak mampu untuk ereksi atau mempertahankan ereksi yang dibutuhkan selama hubungan seksual.
  • Penurunan hasrat berhubungan seksual (libido). Kondisi ini seringkli dikaitkan dengan rendahnya jumlah hormon testosteron dalam tubuh. Apabila penurunan hasrat sudah parah, seorang pria akan sama sekali tidak bergairah untuk melakukan hubungan seksual.
  • Gangguan ejakulasi, Ada tiga jenis gangguan ejakulasi, yakni ejakulasi dini (ejakulasi yang terjadi sebelum penetrasi atau sesaat setelah penetrasi), ejakulasi yang lambat, serta ejakulasi berbalik (ejakulasi kembali ke kandung kemih dan bukan keluar di ujung penis melalui uretra).

Penyebab Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

  • Kondisi fisik atau medis yang mengganggu fungsi seksual. Kondisi tersebut termasuk penyakit diabetes, jantung dan vaskuler, gangguan saraf, penyakit kronis, penyalahgunaan obat, dan efek samping dari obat-obatan tertentu (salah satunya adalah antidepresan yang dapat mengganggu hasrat dan fungsi seksual).
  • Kondisi hormonal, seperti penurunan kadar hormon estrogen pada wanita, terutama setelah menopause dan hormon testosteron yang rendah pada pria sehingga mengurangi hasrat melakukan kegiatan seksual.
  • Faktor psikologi, terutama stres, dapat menyebabkan disfungsi seksual. Selain itu, kecemasan, kekhawatiran berlebihan akan performa seksualnya, masalah dalam hubungan atau pernikahan, depresi, perasaan bersalah, serta efek trauma masa lalu juga dapat berpengaruh.

Diagnosis Disfungsi SeksualDiagnosis disfungsi seksual dimulai dengan menanyakan gejala secara menyeluruh dan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan perubahan fisik yang dapat mempengaruhi kepuasan seksual, seperti elastisitas kulit dan jaringan pada alat kelamin. Untuk menguatkan diagnosis disfungsi seksual, dokter mungkin akan melakukan beberapa tes berikut ini, di antaranya:

  • Tes darah untuk memeriksa kadar hormon dan faktor risiko lain, seperti diabetes dan kolesterol.
  • Tes untuk memonitor ereksi saat tidur di malam hari. Tes ini akan menentukan apakah gangguan ereksi yang dialami akibat faktor fisik atau psikologis.
  • Tes vaskuler pada pria untuk memeriksa aliran darah ke penis.
  • Tes pengujian sensori untuk memeriksa kekuatan impuls saraf pada bagian tubuh tertentu.

Dokter juga dapat merujuk pasien ke dokter lain, seperti dokter spesialis urologi, endokrinologi, neurologi, terapis seksual dan terapis lain guna mendapatkan diagnosis dan pilihan pengobatan yang paling tepat.

Pengobatan Disfungsi Seksual Pengobatan disfungsi seksual bertujuan mengatasi masalah utama yang menyebabkan gangguan ini. Pengobatan tersebut meliputi:

  • Pengobatan medis untuk menangani masalah fisik. Bagi penderita suatu penyakit, dokter dapat menyesuaikan atau mengganti obat yang memiliki efek seksual tertentu. Obat flibanserin diberikan pada wanita pramenopause yang memiliki hasrat seksual rendah. Sedangkan obat tadalafil, sildenafil, atau vardenafil dapat meningkatkan fungsi seksual pria dengan meningkatkan aliran darah ke penis. Untuk masalah ejakulasi dini, dokter dapat memberi obat promescent. Obat semprot topikal ini mengandung lidocaine yang bertujuan mengurangi sensitivitas agar ejakulasi lebih terkendali.
  • Pengobatan yang berkaitan dengan masalah hormon. Bagi wanita dengan kadar estrogen rendah, terapi estrogen dapat diberikan guna membantu elastisitas vagina dengan meningkatkan aliran darah dan pelumas pada vagina. Terapi ini dapat diberikan dalam bentuk cincin vagina, krim, atau tablet Sedangkan bagi pria dengan kadar testosteron rendah, dokter dapat memberi suplemen hormon atau terapi pengganti testosteron.
  • Terapi psikologi. Terapi ini dilakukan oleh konselor terlatih untuk membantu seseorang mengatasi kecemasan, rasa takut atau perasaan bersalah yang berdampak pada fungsi seksual. Selain itu, pemahaman tentang seks dan tingkah laku seksual juga perlu dimiliki penderita agar kegelisahan tentang kemampuan seksualnya dapat teratasi. Salah satu caranya adalah berbicara secara terbuka pada pasangan tentang kebutuhan dan kegelisahan pada dirinya guna menghilangkan hambatan dalam kehidupan seks.

Selain pengobatan tersebut, beberapa alat bantu seperti alat pompa (vakum) dan vibrator dapat membantu seseorang dalam penanganan masalah seksual. Sedangkan untuk membantu pria dengan gangguan ereksi, pilihan operasi implan penis dapat dipertimbangkan.

Guna meningkatkan kehidupan seksual Anda, tingkatkan kepercayaan diri dan temukan cara agar bisa nyaman dengan seksualitas Anda. Selain itu, Anda juga harus bisa menerima bentuk fisik Anda. Itu semua bisa dicapai dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti berolahraga guna meningkatkan kebugaran dan suasana hati, meluangkan waktu untuk bersantai guna meredakan stres, menghindari konsumsi alkohol, serta menghentikan kebiasaan merokok.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT