Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Dengkur (Mendengkur)

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 26 kali

Dengkur adalah getaran yang dihasilkan oleh aliran udara yang melewati saluran pernapasan yang tersumbat sebagian. Suara yang dihasilkan dari getaran ini dapat terdengar halus atau keras (parau) yang mengganggu.

Dengkur biasa dialami oleh orang dewasa dan merupakan gejala awal dari penyakit apnea tidur akibat obstruksi atau gangguan kesehatan lain yang cukup serius. Selain berkurangnya waktu tidur, dengkur menjadi salah satu penyebab rasa kantuk di siang hari, menurunnya daya fokus, dan berkurangnya libido.

Penyebab Dengkur

Suara dengkur yang besar dihasilkan akibat terhambatnya udara yang melewati struktur saluran pernapasan ketika tidur. Namun secara umum, dengkur terjadi ketika jaringan lunak di langit-langit mulut (soft palate), anak tekak (uvula), dan tenggorokan menjadi rileks pada saat kita memasuki tidur yang lebih dalam (terlelap) setelah tidur selama sekitar 90 menit. Bagian lain yang juga mengalami getaran adalah saluran hidung, dasar lidah, dan tonsil. Otot dan jaringan yang berada di dalam kondisi rileks inilah yang menyebabkan terganggu atau terhalangnya aliran udara yang lewat sehingga terjadilah getaran atau dengkur.

Makin sempit aliran udara, maka makin sulit juga udara melewati saluran pernapasan. Kondisi ini menyebabkan bertambahnya kekuatan aliran udara yang menghasilkan getaran atau suara dengkur makin kuat juga. Terdapat beberapa faktor yang berdampak kepada terganggunya aliran udara penyebab dengkur, yaitu:

  • Kurang tidur
  • Posisi tidur telentang menyebabkan tenggorokan menyempit dan lidah turun ke bawah sehingga menghalangi aliran udara.
  • Anatomi mulut, misalnya memiliki langit-langit yang terlalu rendah, posisi rahang yang salah akibat otot yang tegang, dan tenggorokan yang menutup ketika tidur.
  • Gangguan pada hidung, misalnya penyumbatan yang parah atau sekat lubang hidung yang bengkok
  • Saluran udara yang tersumbat sebagian, misalnya akibat pilek atau alergi yang menyebabkan tonsil membesar.
  • Konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan yang membuat otot tenggorokan menjadi rileks
  • Kelebihan berat badan (obesitas) yang menyebabkan banyaknya jaringan lemak di sekitar tenggorokan.
  • Apnea tidur obstruksi, yaitu ketika jaringan yang ada di tenggorokan menghalangi sebagian atau seluruh aliran udara sehingga mengganggu pernapasan.
  • Pria lebih sering mengalami dengkur dibandingkan wanita.
  • Memiliki anggota keluarga yang mendengkur atau mengidap apnea tidur obstruksi.

Gejala Dengkur

Walau sebagian besar pendengkur dikaitkan dengan penyakit apnea tidur obstruksi, namun bukan berarti semua penderita dengkur juga memiliki kondisi penyakit apnea tidur obstruksi, kecuali dia memiliki gejala-gejala berikut.

  • Bersuara ketika tidur.
  • Gelisah ketika tidur.
  • Tersedak ketika tidur.
  • Terbangun dari tidur akibat tersedak.
  • Sakit dada di malam hari.
  • Suara dengkur yang keras dan mengganggu orang di sekitar penderita diikuti dengan periode diam ketika pernapasan terhenti atau hampir terhenti setidaknya lima kali selama periode tidur.
  • Terbangun karena tersedak atau tergagap.
  • Sakit kepala di pagi hari.
  • Rasa kantuk di siang hari yang berlebihan.
  • Kesulitan berkonsentrasi.
  • Sakit tenggorokan.
  • Tekanan darah tinggi.

Beberapa tenaga medis menggunakan tingkatan dengkur untuk mengetahui tingkat keparahan dengkur. Terdapat tiga tingkatan dengkur, yaitu:

  • Tingkat 1 – Ketika frekuensi dengkur tidak sering dan suara yang dihasilkan tidak keras. Pernapasan tidak akan terpengaruh dan tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan yang berkaitan dengan dengkur yang dialami.
  • Tingkat 2 – Ketika frekuensi dengkur berlangsung rutin, selama tiga hari atau lebih lama dalam seminggu dan penderita mengalami gangguan ringan hingga menengah selama tertidur. Kondisi ini akan berdampak kepada kualitas tidur, menimbulkan kelelahan, dan mengantuk di siang hari.
  • Tingkat 3 – Ketika penderita mendengkur dengan keras tiap malam hingga terdengar hingga ke luar ruangan tidur. Sebagian besar penderita yang berada di tahap ini memiliki kondisi apnea tidur obstruksi dan berdampak juga pada aktivitas sehari-hari.

Diagnosis Dengkur

Penderita dengkur kemungkinan akan dirujuk kepada seorang spesialis untuk mendapatkan diagnosis yang pasti dan penanganan kondisi ini. Ajaklah seseorang yang mengetahui kebiasaan Anda saat tidur agar bisa menjabarkan gejala dengan lebih menyeluruh. Cari tahu sejarah kesehatan dan juga obat-obatan apa saja yang pernah dikonsumsi. Dokter akan bertanya tentang hal-hal semacam ini selain mengevaluasi gejala-gejala yang dirasakan, serta melakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan penunjang, seperti CT-scan, X-ray, dan MRI bisa juga dilakukan untuk mengecek struktur yang memengaruhi gangguan aliran udara.

Pemeriksaan terhadap pola dan kebiasaan tidur penderita dapat memberikan informasi lain yang diperlukan dokter, seperti pada prosedur polisomnografi yang akan mengamati gelombang otak saat penderita tidur. Polisomnografi juga akan menganalisis tingkatan detak jantung dan pernapasan, tahapan tidur, serta pergerakan mata dan kaki.

Pengobatan Dengkur

Perubahan gaya hidup adalah tindakan pertama yang akan direkomendasikan untuk menangani dengkur, misalnya dengan menurunkan berat badan ke batas normal, dan menjaga waktu tidur yang cukup. Penderita dengkur juga sebaiknya menghindari konsumsi minuman beralkohol, khususnya menjelang waktu tidur malam, dan memberikan pengobatan untuk penyumbatan hidung serta menyarankan penderita untuk tidak tidur telentang.

Untuk dengkur yang disebabkan oleh penyakit apnea tidur obstruksi, dokter dapat menyarankan beberapa langkah penanganan yang akan disesuaikan dengan kondisi penderita dengkur, yaitu:

  • Penggunaan mesin CPAP (continuous positive airway pressure) dengan cara meletakkan sebuah masker bertekanan yang terhubung kepada pompa udara kecil di atas hidung ketika penderita tidur. Alat ini akan menjaga saluran pernapasan tetap terbuka.
  • Penggunaan alat yang dibuat khusus agar sesuai dengan mulut penderita untuk menjaga posisi rahang, lidah, dan langit-langit mulut tetap terbuka. Pemasangan alat ini akan membutuhkan kunjungan rutin ke dokter spesialis gigi untuk memastikan kondisi terus terpantau hingga membaik. Efek samping dari alat ini adalah meningkatnya ludah, mulut kering, dan sakit rahang.
  • Prosedur operasi tradisional bernama uvulopalatofaringoplasti (UPPP). Prosedur pengencangan dan pembuangan jaringan berlebih dari tenggorokan untuk melebarkan aliran udara dan mengurangi dengkur. Risiko efek samping dari prosedur ini meliputi infeksi, perdarahan, sakit dan penyumbatan di hidung.
  • Bedah laser atau LUPPP, yaitu menggunakan bantuan sinar laser untuk melakukan prosedur UPPP pada penderita dengkur. Prosedur ini dapat dilakukan berkali-kali untuk mengendalikan dengkur.
  • Somnoplasti atau ablasi jaringan dengan menggunakan frekuensi radio untuk mengecilkan jaringan pada langit-langit mulut dan mengurangi dengkur.
  • Prosedur pemasangan langit-langit rongga mulut buatan yang terbuat dari polyester lunak ke dalam jaringan langit-langit mulut untuk membuatnya lebih kaku dan mengurangi dengkur. Diskusikan dengan dokter sebelum menjalani prosedur ini karena tingkat keamanannya masih dalam penelitian.

Terapi alternative seperti homeopati atau semprotan hidung adalah beberapa langkah alternatif yang juga tersedia bagi penderita dengkur, namun masih perlu diteliti lagi efektivitasnya. Anda bisa mendiskusikan beberapa alternatif lainnya bersama dokter sebelum melakukannya. Berikut adalah beberapa terapi yang bisa membantu mengurangi dengkur:

  • Melakukan latihan nyanyi tertentu tiap hari selama tiga bulan dapat membantu meningkatkan kekuatan langit-langit mulut dan tenggorokan bagian atas.
  • Memainkan alat musik tertentu selama 25 menit dalam satu hari bisa melatih otot saluran pernapasan atas dan mengurangi rasa kantuk di siang hari.

Komplikasi Dengkur

Dengkur dapat sangat berpengaruh kepada kehidupan penderita, sebagaimana kepada pasangan atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Selain terganggu dan berkurangnya waktu tidur, beberapa risiko komplikasi dengkur yang mungkin berkembang, yaitu:

  • Rasa kantuk berlebihan di siang hari dan sulit berkonsentrasi.
  • Mengalami frustrasi atau marah yang lebih sering frekuensinya.
  • Penyakit tekanan darah tinggi, jantung, dan stroke.
  • Meningkatnya risiko mengalami kecelakaan lalu lintas atau ketika sedang mengoperasikan alat berat, akibat kekurangan tidur.
  • Gangguan perilaku pada anak penderita apnea tidur obstruksi, seperti agresi dan gangguan belajar.

Pencegahan Dengkur

Salah satu penyebab dengkur adalah kebiasaan atau gaya hidup, seperti mengonsumsi minuman beralkohol, khususnya menjelang tidur, merokok, dan begadang yang menyebabkan berkurangnya waktu tidur. Cegah dengkur dengan beberapa langkah berikut:

  • Tidak tidur telentang.
  • Cobalah tidur dengan meninggikan bagian kepala dari tempat tidur Anda sebanyak 10 cm.
  • Usahakan untuk mendapatkan waktu tidur yang ideal sebanyak 7-8 jam tiap malam. Waktu tidur dapat bervariasi pada anak-anak dan anak remaja, yaitu berkisar antara 10-12 jam.
  • Tidak mengonsumsi obat penenang dan minuman beralkohol menjelang tidur karena dapat menekan sistem saraf pusat, menyebabkan otot tenggorokan terlalu rileks, dan menghalangi aliran udara.
  • Berhenti merokok.
  • Rutin berolahraga untuk membantu menguatkan otot leher dan mencegah terjadinya penyempitan saluran udara.
  • Jika terjadi penyumbatan hidung, cobalah meminum obat atau menggunakan semprotan dekongestan sesuai instruksi dan tidak lebih dari tiga hari kecuali dengan resep dokter. Semprotan steroid untuk mengobati penyumbatan yang parah dapat diperoleh dengan resep dokter.
  • Menggunakan bantal khusus yang menahan kepala dan leher ketika tidur sehingga aliran udara tidak terhalang.
  • Penderita dengkur dapat menyarankan atau memberikan pasangan atau orang di sekitarnya sepasang penyumbat hidung, memasang musik atau suara latar yang menenangkan. Sebagai tips, coba nyalakan kipas angin untuk menutupi suara dengkur.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT