Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Delirium

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 26 kali

Delirium adalah gangguan mental serius yang menyebabkan penderita mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Pada fase awal, delirium akan berkembang cukup cepat, dari beberapa jam sampai beberapa hari.

Beberapa faktor yang memperbesar risiko seseorang terkena delirium adalah:

  • Memiliki gangguan otak.
  • Berusia lanjut.
  • Pernah mengalami delirium sebelumnya.
  • Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran.
  • Menderita beberapa gangguan medis.

Pemulihan penderita delirium tergantung dari kondisi kesehatan fisik dan mental mereka sebelum mengidap delirium. Penderita delirium yang memiliki penyakit serius berisiko untuk mengalami beberapa komplikasi berikut:

  • Turunnya tingkat kesehatan secara umum.
  • Buruknya pemulihan sesudah prosedur pembedahan.
  • Meningkatnya risiko kematian.
  • Hilangnya kemampuan berinteraksi.
  • Hilangnya kemampuan untuk merawat diri.

Gejala dan Jenis Delirium

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Penderita akan menunjukkan gejala-gejala setelah ia terkena delirium beberapa jam hingga beberapa hari. Terkadang, gejala delirium akan memburuk pada malam hari.

Beberapa gejala umum delirium adalah:

  • Berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk tetap fokus pada topik atau untuk mengganti topik pembicaraan, mudah teralihkan oleh hal-hal yang tidak penting, dan suka melamun sehingga tidak bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
  • Kemampuan berpikir yang buruk (gangguan kognitif). Hal ini akan terlihat seperti buruknya daya ingat jangka pendek, disorientasi (tidak mengetahui di mana dirinya berada), kesulitan berbicara, bicara bertele-tele, serta kesulitan dalam memahami pembicaraan, membaca dan menulis.
  • Gangguan emosional. Penderita akan tampak gelisah, takut atau paranoid, depresi, mudah tersinggung, apatis, perubahan mood mendadak, dan perubahan kepribadian.
  • Perubahan perilaku. Orang lain akan melihat penderita delirium mengalami halusinasi, gelisah dan agresif, mengeluarkan suara mengerang atau memanggil, menjadi pendiam dan menutup diri, pergerakan melambat, dan terganggunya kebiasaan tidur (jam aktif dan jam tidur menjadi terbalik).

Berdasarkan gejala yang ditunjukkan penderita, delirium bisa dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Delirium hiperaktif. Penderita akan terlihat gelisah, seringkali berubah mood atau berhalusinasi.
  • Delirium hipoaktif. Penderita akan tampak tidak aktif atau mengurangi aktivitas gerak, lesu, kantuk yang tidak normal, atau tampak linglung.
  • Delirium campuran. Penderita akan sering menunjukkan perubahan gejala dari delirium hiperaktif ke delirium hipoaktif atau sebaliknya.

Penyebab Delirium

Delirium bisa disebabkan oleh satu atau lebih faktor. Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan delirium adalah:

  • Beberapa jenis pengobatan atau keracunan obat.
  • Penyakit kronis atau parah.
  • Penyalahgunaan obat-obatan dan minuman beralkohol.
  • Gejala putus obat atau putus minuman beralkohol.
  • Malnutrisi atau dehidrasi.
  • Kondisi medis tertentu.
  • Gangguan tidur atau gangguan emosi parah.
  • Ketidakseimbangan metabolisme.
  • Demam dan infeksi akut, khususnya pada anak.
  • Terpapar racun.
  • Rasa sakit.
  • Proses pembedahan atau prosedur medis lainnya yang melibatkan pembiusan.

Beberapa pengobatan atau kombinasi obat bisa juga memicu munculnya delirium, yaitu:

  • Obat pereda rasa sakit.
  • Obat penyakit parkinson.
  • Obat tidur.
  • Obat asma.
  • Obat anti alergi.
  • Obat untuk kejang-kejang.
  • Obat untuk gangguan mood, seperti depresi dan gelisah.

Diagnosis Delirium

Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. Ada beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan dokter untuk mendiagnosis delirium, yaitu:

  • Pemeriksaan kondisi fisik dan neurologis. Penderita akan menjalani pemeriksaan fisik untuk memeriksa gangguan medis atau penyakit yang bisa menyebabkan delirium. Pada pemeriksaan neurologis, dokter akan mencari penyakit saraf lain atau stroke yang bisa mendasari delirium melalui pemeriksaan kondisi penglihatan, keseimbangan, koordinasi, dan refleks.
  • Pemeriksaan kondisi kejiwaan. Dokter akan menilai tingkat kesadaran, perhatian, dan daya berpikir penderita melalui sesi wawancara, pengujian, dan penyaringan.
  • Pemeriksaan lainnya. Dokter mungkin akan menyarankan penderita untuk menjalani tes darah, urine, dan juga tes pencitraan otak atau dada.

Pengobatan dan Pencegahan Delirium

Tujuan pertama pengobatan adalah untuk menangani penyebab yang memicu munculnya delirium. Setelah itu, terapi pengobatan akan bertujuan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk penyembuhan tubuh dan menenangkan pikiran penderita.

Dokter akan mencoba mengurangi atau menghindari penggunaan obat yang bisa memicu delirium. Namun, dokter tetap meresepkan beberapa obat yang berfungsi mengontrol rasa nyeri yang dapat memicu delirium.

Perawatan pendukung juga diperlukan bagi penderita delirium untuk mencegah komplikasi. Beberapa perawatan pendukung penderita delirium adalah:

  • Melindungi saluran napas.
  • Menyediakan cairan dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh penderita.
  • Membantu penderita yang kesulitan menggerakkan tubuh.
  • Menangani rasa nyeri yang dialami penderita.
  • Mencegah penderita kehilangan kendali atas dirinya.
  • Menghindari pemakaian pengekangan fisik atau pemakaian tabung kandung kemih.
  • Menghindari banyak perubahan di lingkungan sekitar penderita.
  • Mendorong adanya interaksi antara penderita dengan keluarga atau kerabat dekatnya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau tidak memperparah delirium, yaitu:

  • Menghindari faktor-faktor yang berisiko memicu delirium, misalnya berada di rumah sakit dengan suasana baru, suara berisik, pemakaian obat bius, pencahayaan kamar atau ruangan yang buruk, kebingungan.
  • Lakukan kebiasaan tidur yang sehat. Sediakan kamar dan lingkungan yang tenang, pencahayaan yang baik, termasuk membantu penderita memiliki aktivitas yang seimbang di siang hari, dapat membantunya untuk tidur lebih baik di malam hari.
  • Terus berusaha menenangkan atau mengarahkan penderita agar tidak merasakan banyak perubahan di sekitarnya. Ini termasuk menaruh barang-barang yang dikenal penderita di sekitarnya, sediakan jam dan kalender, dan berupaya untuk bicara dengan suara rendah sehingga penderita tidak terganggu.
  • Menghindari masalah medis dan komplikasi lainnya, yang juga membantu menurunkan tingkat keparahan delirium. Diet sehat, obat-obatan tersedia, anjuran untuk berolahraga, dan mengobati kondisi fisik yang mengarah ke gangguan kesehatan tertentu, semua dapat membantu menurunkan kekambuhan delirium.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT