Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Carpal Tunnel Syndrome

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 33 kali

Carpal tunnel syndrome atau CTS (sindrom terowongan/lorong karpal) adalah kondisi yang menyebabkan jari tangan mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri. Bagian yang paling sering terpengaruh adalah jempol, jari tengah, dan telunjuk. Gejala yang muncul biasanya berkembang secara perlahan dan akan bertambah parah pada malam hari.

Carpal tunnel atau lorong lorong sempit pada pergelangan tangan dengan ujung terbuka di telapak tangan. Lorong ini dikelilingi oleh tulang-tulang pergelangan tangan di bagian bawah dan jaringan ikat (ligamen) yang melintang di atasnya. Saraf median berjalan melalui lorong ini untuk memberikan sensasi perasa atau sentuhan pada telapak ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan setengah dari jari manis. Selain itu, saraf median juga memberikan tenaga pada otot tangan untuk menjepit atau mencubit benda oleh ibu jari dan ujung jari-jari yang lain.

Ketika terjadi pembengkakan pada bagian saraf, tendon, atau bahkan keduanya, saraf median akan tertekan dan mengakibatkan kondisi carpal tunnel syndrome. Selain itu, beberapa kondisi seperti kehamilan, radang sendi, dan gerakan berulang juga dapat memicu terjadinya penekanan saraf median. Saat saraf median ini terhimpit atau terjepit, maka akan menimbulkan mati rasa, sensasi kesemutan, dan terkadang muncul rasa sakit pada bagian-bagian yang terpengaruh oleh saraf ini.

Gejala Carpal Tunnel Syndrome

Selain sensasi rasa kesemutan, mati rasa atau kebas, dan rasa sakit pada tiga jari tangan (ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah), berikut ini adalah beberapa gejala lain yang mungkin terjadi.

  • Ibu jari melemah.
  • Muncul rasa seperti tertusuk pada jari tangan.
  • Muncul rasa sakit yang menjalar ke tangan atau lengan.

Gejala yang muncul bisa terjadi pada salah satu atau kedua tangan sekaligus, tapi pada kebanyakan kasus, CTS akhirnya memengaruhi kedua tangan.

Penyebab Carpal Tunnel Syndrome

Carpal tunnel syndrome terjadi karena saraf median tertekan atau terhimpit. Pada kebanyakan kasus CTS, penyebab tertekannya saraf median ini masih belum diketahui. Tapi ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seseorang menderita CTS. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terkena carpal tunnel syndrome.

  • Faktor keturunan keluarga yang menderita CTS.
  • Cedera pada pergelangan tangan.
  • Kehamilan. Hampir setengah dari wanita hamil mengalami CTS. Namun, gejala ini biasanya menghilang sesaat setelah bayi lahir.
  • Pekerjaan berat dan berulang-ulang dengan memakai tangan, seperti mengetik, menulis, atau menjahit.
  • Kondisi medis lain, misalnya rheumatoid arthritis dan diabetes.

Diagnosis Carpal Tunnel Syndrome

Diagnosis terhadap CTS bisa dilakukan oleh dokter secara langsung dengan pemeriksaan fisik pada tangan dan pergelangan, serta mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan gejala yang Anda alami.

Dokter biasanya akan melakukan penekanan lembut pada daerah saraf medianus di pergelangan tangan. Selain itu, dokter mungkin akan meminta anda untuk mengangkat pergelangan tangan sampai di atas kepala, dengan posisi pergelangan tangan tertekuk ke dalam (fleksi). Penderita CTS biasanya akan merasa mati rasa, kesemutan, atau nyeri pada saat dokter melakukan pemeriksaan ini. Namun untuk memastikan diagnosa CTS, dokter mungkin menyarankan Anda untuk melakukan beberapa pemeriksaan tambahan di bawah ini:

  • Tes darah.
  • Elektromiografi atau studi konduksi saraf.
  • Pencitraan dengan ultrasonografi.

Pengobatan Carpal Tunnel Syndrome

Terkadang, carpal tunnel syndrometidak membutuhkan pengobatan khusus dan akan pulih dengan sendirinya. Khususnya pada wanita hamil, CTS akan membaik dalam waktu tiga bulan pasca melahirkan.

Gejala CTS yang ringan dan sedang bisa ditangani dengan cara membalut pergelangan dengan papan kecil . Pembalutan tangan ini bertujuan untuk meminimalisir gerakan yang dapat memicu penekanan saraf medianus, terutama gerakan menekuk pergelangan tangan ke arah dalam.

Apabila metode pembalutan tangan ini kurang efektif, dokter mungkin akan memberikan suntikan kortikosteroid langsung pada daerah yang sakit. Suntikan ini bertujuan untuk mengurangi reaksi peradangan pada saraf medianus.

Jika kedua hal ini tidak berhasil, prosedur operasi mungkin akan dilakukan. Operasi mungkin menjadi pilihan pertama apabila dokter mencurigai adanya tanda-tanda kerusakan saraf permanen.

Pemulihan pasca operasi akibat CTS mungkin butuh waktu lama jika kasus CTS yang terjadi sudah cukup parah. Bahkan, ada kemungkinan tidak ada perkembangan dari penanganan yang sudah dilakukan.

Awalnya, carpal tunnel syndrome ditandai dengan kemunculan sensasi mati rasa di jari-jari Anda pada malam hari. Gejala ini kemungkinan disebabkan karena tangan dan pergelangan berada pada posisi rileks dan lentur saat tertidur. Selain itu, bisa juga disebabkan karena penimbunan cairan yang mengakibatkan terhimpitnya persendian. Akhirnya, Anda akan terbangun dengan tangan mengalami kesemutan dan mati rasa.

Gejala muncul pada area yang terhubung dengan saraf median, yaitu pada ibu jari atau jempol, jari telunjuk, jari tengah, dan setengah jari manis. Terkadang gejala juga bisa menyebar Rasa sakit yang muncul bisa menyebar hingga ke lengan dan siku. Berikut ini beberapa gejala lain yang mungkin muncul akibat CTS:

  • Muncul rasa sakit pada lengan.
  • Menjadi kurang sensitif terhadap sentuhan.
  • Pembengkakan, kulit kering, atau perubahan warna pada kulit tangan.
  • Kemampuan tangan atau jari yang terpengaruh CTS akan berkurang, misalnya mengetik, mengancingkan baju, atau mengangkat sesuatu dengan jari.

Berikut ini beberapa hal yang bisa memperparah carpal tunnel syndromeyang dialami:

  • Menggunakan tangan yang terpengaruh untuk beraktivitas.
  • Melakukan gerakan tangan atau pergelangan secara berulang-ulang.
  • Tidak menggerakkan tangan atau lengan untuk waktu yang lama.

Carpal tunnel syndrome disebabkan oleh terhimpitnya saraf median pada pergelangan tangan. Terhimpitnya saraf median ini akan memengaruhi indera sentuhan dan juga gerakan tangan Anda. Saraf median bisa terhimpit jika jaringan di dalam lorong karnal membengkak atau lorong karnal menyempit.

Penyebab terhimpitnya saraf median pada sebagian besar kasus CTS tidak diketahui. Tapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalami CTS, yaitu:

  • Faktor keturunan. Menurut penelitian, CTS bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika ada anggota keluarga Anda yang menderita CTS, risiko Anda mengalaminya akan meningkat. Namun, hingga kini tidak diketahui bagaimana dan kenapa bisa terpengaruh oleh faktor keturunan.
  • Cedera pada pergelangan tangan. Cedera pada tangan bisa menjadi penyebab munculnya CTS, misalnya terkilir dan tulang retak bisa menyebabkan pembengkakan dan akhirnya memberi tekanan pada saraf median. Cedera yang terjadi juga bisa mengubah bentuk tulang dan ligamen pada tangan. Perubahan ini menyebabkan saraf median terhimpit.
  • Kehamilan. Hampir setengah dari wanita hamil mengalami CTS pada masa kehamilan, tapi tidak diketahui kenapa hal ini bisa terjadi. Kebanyakan kasus CTS pada kehamilan pulih dengan sendirinya setelah bayi dilahirkan. Wanita yang memasuki masa menopause juga cenderung mengalami CTS.
  • Pekerjaan atau aktivitas yang melibatkan tangan. Kegiatan yang melibatkan genggaman kuat, gerakan pergelangan tangan berulang, dan getaran yang kuat bisa memicu munculnya CTS. Aktivitas yang dimaksud seperti bermain musik, pekerjaan bagian pengemasan, dan pemakaian gergaji mesin yang melibatkan banyak gerakan memakai tangan. Sampai saat ini masih dilakukan penelitian yang lebih mendalam apakah carpal tunnel syndrome terkait secara langsung dengan pekerjaan yang melibatkan banyak gerakan tangan.
  • Kondisi medis lain. Risiko terkena CTS akan meningkat akibat beberapa kondisi medis, seperti diabetes, hipotiroidisme, obesitas, dan jika mengonsumsi obat untuk kanker seperti exemestane.
  • Jenis kelamin. Wanita memiliki lorong karpal lebih kecil daripada pria. Karena itu, CTS cenderung lebih sering terjadi pada wanita.

Pemeriksaan fisik secara langsung oleh dokter dapat menentukan diagnosis carpal tunnel syndrome pada seseorang. Berikut ini beberapa tes yang bisa dilakukan untuk menentukan diagnosis CTS.

  • Tes fisik. Dokter akan memeriksa indera sentuhan dari jari-jari yang terpengaruh oleh saraf median. Selain itu, dokter Sedikit tepukan pada pergelangan tangan bisa membuat Anda merasakan gejala CTS (kesemutan dan mati rasa). Dokter juga mungkin menyuruh Anda mengangkat tangan di atas kepala selama beberapa menit untuk mengetahui apakah bisa memunculkan gejala CTS.
  • Tes darah. Jika CTS yang Anda alami disebabkan oleh kondisi medis lain, maka dokter akan menyarankan Anda melakukan tes darah. Beberapa penyakit lain yang bisa menyebabkan CTS adalah rheumatoid arthritis, diabetes, dan hipotiroidisme.
  • Elektromiografi atau studi konduksi saraf. Prosedur ini dilakukan untuk menguji kecepatan sinyal listrik yang dialirkan ke dalam saraf tangan. Hasil tes ini bisa memperlihatkan seberapa banyak kerusakan pada saraf tangan Anda.
  • Pencitraan ultrasonografi. Tes ini berguna untuk melihat struktur saraf secara lebih jelas, dan terutama dilakukan apabila dicurigai ada suatu massa atau tumor yang menekan saraf medianus.

Carpal tunnel syndrome seringkali tidak memerlukan pengobatan khusus karena kondisi ini bisa pulih dengan sendirinya dalam waktu beberapa bulan. Jika CTS memang memerlukan pengobatan, maka penanganan yang dilakukan bergantung kepada tingkat keparahan dan berapa lama Anda sudah menderita kondisi ini.

Bagi yang menderita CTS pada masa kehamilan, biasanya gejala yang muncul akan menghilang sekitar dua sampai tiga bulan setelah melahirkan bayi. Tapi jika kondisi CTS sudah cukup parah, pengobatan lebih lanjut harus dilakukan.

Agar gejala yang muncul tidak bertambah parah, sebaiknya Anda menghindari kegiatan yang membuat jari dan tangan terlalu banyak bekerja. Jika gejala CTS tidak segera membaik dalam kurun waktu beberapa minggu, ada beberapa teknik pengobatan yang bisa dilakukan untuk meredakan tekanan yang terjadi pada saraf median. Teknik yang digunakan adalah obat-obatan, terapi, dan operasi. Prosedur yang dilakukan, antara lain:

  • Pembebatan pergelangan tangan. Prosedur ini bertujuan untuk menempatkan pergelangan tangan selalu pada posisi netral. Pembebatan yang dilakukan biasanya tidak akan membebani lorong karpal. Pergelangan yang membengkok dapat menambah tekanan pada saraf median. Apabila pergelangan dibalut dan tidak banyak bergerak, tekanan pada saraf akan berkurang. Akibatnya, gejala akan cepat berkurang.
  • Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS). Tidak ada bukti yang jelas bahwa OAINS seperti ibuprofen, bisa membantu mengobati CTS.Meski demikian, obat ini bisa membantu meredakan rasa nyeri yang muncul untuk jangka pendek.
  • Kortikosteroid. Obat ini mengandung senyawa kimia yang kuat untuk mencegah inflamasi. Obat ini bisa berbentuk tablet, tapi khususnya untuk pengobatan CTS, Anda akan diberikan suntikan kortikosteroid di pergelangan tangan.
  • Operasi. Prosedur ini dilakukan apabila teknik pengobatan lainnya tidak berhasil. Operasi untuk CTS lebih dikenal dengan nama dekompresi lorong karpal atau operasi pelepasan lorong karpal. Ada beberapa pilihan prosedur operasi yang bisa dilakukan, Anda bisa membicarakan dengan dokter bedah untuk mengetahui cara yang paling tepat untuk kondisi Anda.

Sebelum melakukan operasi untuk CTS, ada beberapa pertimbangan yang perlu Anda pikirkan lebih jauh. Misalnya kesuksesan pengobatan dengan obat dan pembalutan pergelangan tangan, masa pemulihan pasca operasi, serta kemungkinan komplikasi yang muncul setelah operasi. Komplikasi yang bisa terjadi setelah pelaksanaan operasi CTS, antara lain:

  • Infeksi
  • Pendarahan pasca operasi.
  • Gejala CTS berlanjut akibat operasi tidak berhasil.
  • Bekas luka.
  • Cedera saraf.
  • Sakit pada pergelangan tangan, tapi berbeda dengan gejala CTS.
  • Muncul complex regional pain syndrome (CRPS), yaitu kondisi kronis yang menimbulkan rasa nyeri pada beberapa bagian tubuh.

Setelah menjalani operasi CTS, biasanya pasien akan sembuh sepenuhnya. Pergelangan tangan akan tetap terbalut perban dan Anda akan memakai penopang lengan selama beberapa hari pasca operasi. Agar jari dan tangan tidak mengalami pembengkakan dan terasa kaku, tangan Anda sebaiknya tetap terangkat selama dua hari.

Lakukan latihan ringan pada jari, bahu, dan siku setelah operasi. Sebaiknya menghindari aktivitas fisik yang memerlukan tenaga besar pada tangan yang dioperasi. Namun, Anda biasanya diperbolehkan untuk melakukan beberapa aktivitas seperti menyetir, aktivitas perawatan diri (mandi, berganti baju, makan, dan sebagainya), serta latihan menggenggam dan mengangkat barang yang ringan.

Kemampuan menggenggam dan mencubit biasanya akan kembali normal 2 hingga 3 bulan setelah operasi. Namun, proses pemulihan bisa memanjang hingga satu tahun apabila kerusakan saraf median sebelum dioperasi sudah terlalu parah.

Di bawah ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah carpal tunnel syndrome.

  • Hindari membengkokan pergelangan tangan secara berulang-ulang. Posisi pergelangan yang santai adalah posisi terbaik. Jika Anda mengetik memakai keyboard, sebaiknya posisikan pergelangan tangan Anda setinggi siku atau sedikit lebih rendah.
  • Jika Anda bekerja atau melakukan aktivitas yang memanfaatkan pergelangan tangan, lakukan istirahat lebih sering untuk menghindari tekanan.
  • Lakukan pemanasan atau latihan kecil untuk jari dan pergelangan tangan Anda.
  • Usahakan untuk tidur dengan posisi pergelangan tangan tetap lurus.
  • Jika Anda bekerja di lingkungan yang dingin, gunakan sarung tangan agar tangan tidak kedinginan. Suhu yang dingin bisa menyebabkan rasa sakit dankaku pada tangan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT