Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Bronkiektasis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 35 kali

Bronkiektasis adalah kondisi ketika saluran bronkus yang terdapat di dalam paru-paru mengalami kerusakan, penebalan, atau pelebaran secara permanen, dan dapat terjadi pada lebih dari satu cabang bronkus. Kerusakan tersebut menyebabkan bakteri dan cairan mukus lebih mudah terkumpul di dalam bronkus yang dapat memicu penyumbatan saluran udara dan infeksi berulang. Penderita bronkiektasis akan lebih mudah terkena infeksi bakteri yang dapat memperparah kerusakan bronkus.

Secara umum, penderita bronkiektasis tidak dapat disembuhkan. Namun dengan perawatan yang baik, pasokan oksigen untuk tubuh melalui paru-paru dapat terjaga dan kerusakan lebih lanjut pada paru-paru dapat dicegah, sehingga kualitas hidup penderita dapat meningkat.

Gejala Bronkiektasis

Gejala utama yang dapat diamati dari penderita bronkiektasis adalah batuk berdahak yang tidak mereda meskipun diobati. Dahak yang dihasilkan dari batuk akibat bronkiektasis dapat berwarna bening, kuning pucat, atau kuning kehijauan. Gejala lainnya adalah:

  • Mengi.
  • Sesak napas.
  • Nyeri sendi.
  • Perubahan bentuk ujung-ujung jari yang dinamakan clubbing finger, di mana kuku menebal dan bentuk ujung jari menjadi bulat.
  • Batuk mengeluarkan darah atau dahak dari batuk bercampur dengan darah.
  • Mengalami infeksi saluran pernapasan berulang.
  • Kehilangan berat badan.
  • Lelah.

Jika penderita bronkiektasis mengalami infeksi sekunder akibat kerusakan bronkus, gejala munculnya infeksi antara lain:

  • Tidak enak badan.
  • Nyeri menusuk di dada yang semakin terasa ketika bernapas.
  • Batuk yang semakin memburuk dengan dahak yang mengental, berubah warna menjadi lebih kehijauan, dan meneluarkan bau tidak sedap.
  • Merasa sangat lelah.
  • Sesak napas yang semakin memburuk.
  • Batuk mengeluarkan darah.

Jika gejala-gejala berikut sudah muncul, berarti infeksi paru-paru yang dipicu bronkiektasis sudah memburuk dan perlu dirawat di rumah sakit. Gejala-gejala infeksi paru-paru yang perlu diperhatikan adalah:

  • Sianosis, yaitu kulit dan bibir dan bibir tampak kebiruan.
  • Bingung dan gangguan mental.
  • Napas lebih cepat, lebih dari 25 kali per menit.
  • Nyeri dada parah yang menyebabkan sulit bernapas dan sulit batuk untuk mengeluarkan dahak.
  • Demam dengan suhu di atas 38 C.

Penyebab Bronkiektasis

Bronkiektasis terjadi akibat kerusakan jaringan bronkus yang diperparah oleh infeksi. Infeksi bronkus pada penderita bronkiektasis meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada paru-paru, yang akan membuat bronkus semakin meradang dan melebar. Kedua hal tersebut terjadi secara berputar dan berulang, sehingga kerusakan pada bronkus dan paru-paru semakin parah.

Kerusakan bronkus dipicu oleh respons sistem imun yang berupaya menghilangkan penyebab infeksi, seperti bakteri dan virus. Kerja sistem imun tersebut memicu reaksi peradangan. Pada umumnya, reaksi peradangan akan berhenti dengan sendirinya tanpa menimbulkan kerusakan jaringan. Namun, pada bronkiektasis, reaksi peradangan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan elastis dan jaringan otot bronkus. Kerusakan pada kedua jaringan tersebut menyebabkan pelebaran bronkus yang justru makin meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Berbagai kondisi dan penyakit yang dapat memicu kerusakan permanen pada bronkus paru-paru antara lain:

  • Penyakit jaringan ikat.Beberapa penyakit dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan ikatdi seluruh tubuh, termasuk di bronkus, antara lain:
    • Rheumatoid arthritis.
    • Sindrom Sjogren.
    • Kolitis ulseratif.
    • Penyakit Crohn.
  • Aspergilosis bronkopulmoner alergika (ABPA). Penderita penyakit ini memiliki alergi terhadap jamur Aspergillus yang aktif mengeluarkan spora. Jika seorang penderita ABPA menghirup spora Aspergillus, spora dapat memicu reaksi alergi dan peradangan, yang kemudian menyebabkan bronkiektasis.
  • Cystis fibrosis. Ini merupakan penyakit genetik yang menyebabkan paru-paru terganggu oleh cairan mukus yang menggumpal. Cairan mukus yang ada di paru-paru dapat menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan infeksi serta memicu bronkiektasis
  • Penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK merupakan golongan penyakit paru-paru progresif yang menyebabkan penderita sulit bernapas akibat kerusakan pada alveoli dan bronki. Contoh penyakit yang tergolong PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis. Seperti bronkiektasis, penyakit PPOK juga tidak dapat disembuhkan, namun gejala dan perkembangan penyakitnya dapat dikontrol sehingga kualitas hidup penderita dapat terjaga.
  • Infeksi paru-paru sewaktu kecil. Sekitar sepertiga dari kasus bronkiektasis dapat dikaitkan dengan infeksi paru-paru semasa kecil, seperti batuk rejan, tuberkulosis, dan penumonia berat.
  • Imunodefisiensi. Pada orang dengan kondisi sistem imun yang rendah (imunodefisiensi), paru-paru lebih mudah terkena infeksi sehingga risiko terkena bronkiektasis lebih tinggi. Imunodefisiensi dapat terjadi karena penyakit genetik atau nongenetik, seperti infeksi HIV.
  • Aspirasi. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung secara tidak sengaja masuk ke dalam paru-paru. Dikarenakan paru-paru sangat sensitif terhadap keberadaan benda asing, sekecil apa pun benda yang masuk dapat memicu reaksi peradangan yang dapat merusak jaringan.
  • Kelainan silia. Silia merupakan rambut-rambut halus yang berada di sekeliling permukaan saluran pernapasan. Fungsi silia adalah untuk membantu mengeluarkan cairan mukus yang berlebih dari permukaan saluran pernapasan. Jika fungsi silia terganggu, maka akan terjadi penumpukan cairan mukus yang dapat menimbulkan sumbatan di saluran pernapasan dan memudahkan terjadinya infeksi. Kondisi kelainan silia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, di antaranya adalah primary ciliary dyskinesia dan penyakit Young.

Diagnosis Bronkiektasis

Dokter dapat mencurigai seorang pasien terkena bronkiektasis apabila dia mengalami gejala-gejala sesuai dengan yang sudah dijelaskan di atas. Kecurigaan dapat diperkuat apabila pasien memiliki gaya hidup yang tidak sehat, misalnya merokok. Untuk memastikan diagnosa, dokter akan merekomendasikan sejumlah tes lanjutan, dan salah satunya adalah analisis dahak.

Dalam analisis dahak, dokter akan mengambil sampel dahak pasien guna diperiksa di laboratorium. Penderita bronkiektasi akan memiliki semacam konsentrasi berwarna keputihan atau kekuningan pada dahaknya yang disebut dengan gumpalan Dittrich. Sedangkan untuk mengecek keberadaan bakteri pada dahak, dokter dapat melakukan teknik pewarnaan Gram dan kultur bakteri. Selain itu, keberadaan spora dan fungi Aspergillus juga dapat diketahui pada pemeriksaan ini.

Jenis tes lanjutan lain yang dapat membantu diagnosis bronkiektasis adalah high resolution computerised tomography scan (HRCT scan). Ini sebenarnya merupakan metode paling akurat dalam mendeteksi terjadinya bronkiektasis. Dalam HRCT scan, gambar paru-paru akan diambil dari berbagai sudut dengan menggunakan sinar-X, dan kemudian digabungkan dengan menggunakan komputer. Dengan gambar gabungan tersebut, kondisi paru-paru dapat dipetakan secara lebih akurat. Pada paru-paru yang sehat, cabang-cabang bronki yang ada di paru-paru akan semakin menyempit seiring bertambahnya jumlah cabang bronki (mirip dengan percabangan pada pohon). Akan tetapi, jika HRCT scan memperlihatkan lebar bronki yang sama atau justru bertambah, maka dapat diduga bahwa pasien menderita bronkiektasis.

Selain analisis dahak dan HRCT scan, terdapat metode-metode lain yang dapat membantu diagnosis bronkiektasis, antara lain adalah:

  • Pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengecek kondisi darah serta kemampuan sistem imun dalam bekerja membasmi patogen seperti virus, bakteri, dan fungi. Jenis pemeriksaan darah yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap. Pasien yang menderita bronkiektasis, seringkali jumlah sel darahnya menjadi tidak normal, di antaranya adalah peningkatan jumlah sel darah putih, terutama neutrofil dan eosinofil, atau penurunan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin (anemia).
  • Tes keringat. Keringat penderita bronkiektasis akan dikumpulkan dan dianalisis kandungan garamnya. Pada penderita bronkiektasis yang disebabkan oleh cystis fibrosis, akan ditemukan kandungan garam dalam jumlah tinggi.
  • Tes fungsi paru-paru. Ini merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis kinerja dan fungsi paru-paru dalam pernapasan. Pada tes ini, dokter akan meminta pasien menghembuskan napas sekuat dan secepat mungkin ke dalam alat pengukur yang disebut spirometer.
  • Bronkoskopi. Bronkoskopi merupakan alat bantu visual berbentuk selang fleksibel dengan kamera, yang dimasukan ke dalam paru-paru guna memperlihatkan bagian dalam organ tersebut. Bronkoskopi dapat digunakan untuk melihat adanya benda asing dalam paru-paru yang dapat memicu respons peradangan dan menyebabkan bronkiektasis.
  • Aspergillus precipitins dan serum IgE. Untuk mendiagnosis apakah seseorang terkena infeksi Aspergillus (APBA) yang memicu bronkiektasis, kedua tes tersebut dapat dilakukan.
  • Tes skrining autoimun. Untuk memastikan apakah bronkiektasis terjadi karena penyakit autoimun, dapat dilakukan tes skrining autoimun.

Pengobatan Bronkiektasis

Penanganan bronkiektasis mencakup berbagai jenis pengobatan yang dilakukan secara berkesinambungan. Karena kerusakan paru-paru yang timbul akibat bronkiektasis bersifat permanen, maka tujuan pengobatan bukan untuk menyembuhkan penyakit, melainkan untuk meringankan gejala, mengurangi dan mencegah komplikasi, mencegah penyakit bertambah parah, serta mengurangi angka kesakitan dan angka kematian.

Sangat penting untuk mengenali dan mendiagnosis bronkiektasis pada tahap awal. Selain itu, mengobati penyakit yang menyebabkan bronkiektasis juga menjadi tujuan pengobatan. Beberapa hal yang berkaitan dengan penanganan bronkiektasis di antaranya adalah:

  • Meringankan gejala bronkiektasis.Perlu diingat bahwa bronkiektasis tidak bisa disembuhkan, namun gejalanya dapat dikontrol sehingga tidak memburuk. Beberapa langkah untuk meringankan gejala bronkiektasis adalah:
    • Berhenti merokok.
    • Menghindari menjadi perokok pasif.
    • Mendapatkan vaksin cacar, rubella, dan batuk rejan.
    • Terapi oksigen untuk penderita bronkiektasis yang mengalami hipoksemia dan komplikasi berat.
    • Pengobatan khusus (termasuk dari segi nutrisi dan psikologi) bagi penderita bronkiektasis akibat cystis fibrosis.
    • Mendapatkan vaksin flu setiap tahun.
    • Mendapatkan vaksin pneumococcal untuk menghindari pneumonia.
    • Melakukan latihan fisik secara teratur.
    • Menjaga cairan tubuh.
    • Menjaga pola makan gizi seimbang.
  • Pemberian antibiotik. Tujuan pemberian antibiotik adalah untuk mengobati infeksi bakteri pada penderita bronkiektasis yang dapat memperburuk kondisi. Untuk menentukan antibiotik yang tepat, dokter akan melakukan analisis dahak. Sementara menunggu hasil, dokter akan memberikan antibiotik berspektrum luas. Beberapa jenis antibiotik yang dapat diberikan bagi penderita bronkiektasis antara lain adalah: clarithromycin, azithromycin, sulfamethoxazole, doxycycline, levofloxacin, atau tobramycin.
  • Obat Antiinflamasi. Tujuan pemberian obat antiinflamasi adalah untuk memodifikasi respons sistem imun pada saat terjadinya infeksi sehingga mengurangi kerusakan jaringan. Beberapa obat antiinflamasi, seperti beclomethasone,dapat diberikan melalui alat nebulasi. Contoh golongan obat antiinflamasi yang dapat diberikan kepada penderita bronkiektasis adalah:
    • Kortikosteroid.
    • Penghambat leukotriene.
    • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs).
  • Bronkodilator. Bronkodilator diberikan untuk meredakan gejala bronkiektasis yang menyebabkan sulit bernapas. Bronkodilator akan merelaksasi otot paru-paru sehingga penderita dapat bernapas lebih mudah. Beberapa contoh obat jenis bronkodilator adalah:
    • Agonis beta2-adrenergik.
    • Antikolinergik.
    • Teofilin.
  • Latihan teknik siklus aktif bernapas (active cycle of breathing technique/ACBT). Latihan ini berfungsi agar penderita bronkiektasis dapat mengeluarkan cairan mukus dari dalam saluran pernapasan dengan cara mengatur ritme napas. Mulai dari bernapas normal, menarik napas dalam, kemudian mengeluarkan mukus melalui saluran pernapasan. Latihan ACBT harus dibantu oleh fisioterapi untuk menghindari kerusakan paru-paru.
  • Pembedahan. Pembedahan baru boleh direkomendasikan kepada pasien bronkiektasis jika hanya satu lobus paru-paru yang mengalami bronkiektasis, pasien tidak memiliki kondisi yang mendasari bronkiektasis untuk kambuh, atau gejala bronkiektasis tidak mereda setelah dilakukan berbagai macam pengobatan yang diberikan. Pembedahan dilakukan dengan cara membuang lobus paru-paru yang terkena bronkiektasis.

Komplikasi Bronkiektasis

Komplikasi akibat bronkiektasisi yang paling berbahaya adalah batuk mengeluarkan darah yang sangat hebat (hemoptisis). Kondisi ini terjadi akibat salah satu bagian pembuluh darah yang menyediakan darah bagi paru-paru terbuka dan mengalami perdarahan. Gejala hemoptisis antara lain adalah:

  • Batuk berdarah lebih dari 100 ml selama 24 jam.
  • Sulit bernapas yang disebabkan oleh darah menghalangi aliran udara di paru-paru.
  • Kepala berkunang-kunang.
  • Pusing.
  • Kedinginan dan kulit terasa basah dan dingin akibat kehilangan darah dalam jumlah banyak.

Hemoptisis masif yang terjadi pada penderita bronkiektasis merupakan keadaan darurat medis yang harus segera ditangani. Untuk mengatasi hemoptisis, dokter akan melakukan embolisasi arteri bronki (BAE) dengan cara menyumbat sumber perdarahan di paru-paru yang dipandu dengan pemindaian sinar-X.

Pencegahan Bronkiektasis

Beberapa kasus bronkiektasis terjadi akibat infeksi saluran pernapasan. Untuk mencegah infeksi yang dapat memicu bronkiektasis, dapat dilakukan langkah-langkah berikut:

  • Menghindari dan menghentikan kebiasaan merokok.
  • Menghindari udara berpolusi, asap memasak, dan senyawa kimia berbahaya.
  • Menerima vaksinasi influenza, batuk rejan, dan cacar, terutama pada saat masih anak-anak.
  • Melakukan diagnosis bronkiektasis sejak tahap dini, sehingga dapat mencegah perkembangan kondisi ini menjadi lebih parah.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT