Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Botulisme

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 32 kali

Botulisme adalah kondisi keracunan serius yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum. Kondisi ini cukup langka, tapi racun yang dihasilkan oleh bakteri ini dikenal sebagai salah satu racun yang paling berbahaya dan mematikan.

Racun yang dihasilkan bakteri ini menyerang sistem saraf seperti otak, tulang belakang, saraf lainnya, dan menyebabkan kelumpuhan otot. Kelumpuhan yang terjadi bisa menyerang otot-otot yang mengendalikan pernapasan, ini bisa mematikan dan harus segera mendapatkan penanganan. Bakteri ini biasanya bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan maupun melalui luka pada tubuh.

Penyebab Botulisme

Bakteri Clostridium botulinum bisa ditemukan di tanah, debu, sungai serta dasar laut. Bakteri ini sebenarnya tidak berbahaya dalam kondisi lingkungan normal, namun ketika kekurangan oksigen mereka akan melepaskan racunnya. Bakteri Clostridium botulinum akan kekurangan oksigen saat berada dalam kaleng tertutup, botol, lumpur dan tanah yang tidak bergerak, atau di dalam tubuh manusia.

Berdasarkan penyebabnya, berikut ini adalah ketiga jenis botulisme:

  • Botulisme keracunan makanan. Botulisme yang muncul akibat konsumsi makanan kalengan rendah asam seperti buncis, jagung dan bit yang menjadi tempat berkembangnya bakteri Clostridium botulinum. Jika seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung racun penyebab botulisme, maka racun tersebut akan mengganggu fungsi saraf sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
  • Botulisme luka. Botulisme yang muncul karena luka pada penderita terinfeksi bakteri Clostridium botulinum. Bakteri yang berada di dalam luka kemudian berkembang biak dan memproduksi racun penyebab botulisme.
  • Botulisme bayi. Botulisme ini terjadi ketika bayi menelan spora bakteri Clostridium botulinum. Spora-spora bakteri Clostridium botulinum (biasanya terdapat pada tanah atau madu) yang tertelan oleh bayi ini akan berkembangbiak dan memproduksi racun pada saluran pencernaan. Biasanya terjadi pada bayi di bawah usia satu tahun.

Gejala Botulisme

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Kemunculan gejala botulisme berbeda-beda pada setiap pasien, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari setelah terpapar bakteri Clostridium botulinum. Gejala yang dirasakan penderita bergantung pada penyebab dan jenis botulisme, yaitu:

  • Botulisme keracunan makanan: kesulitan menelan dan berbicara, mulut kering, otot wajah lemah, gangguan penglihatan, kelopak mata lemas (terkulai), kesulitan bernafas, mual, muntah, kram perut dan lumpuh.
  • Botulisme luka: kesulitan menelan dan berbicara, otot wajah lemah, gangguan pengelihatan, kelopak mata lemas (terkulai), kesulitan bernafas, lumpuh.
  • Botulisme bayi: Sembelit, kesulitan mengontrol kepala, gerak tubuh tidak bertonus (tidak ada tegangan otot, seperti boneka kain), menangis lemah, mudah marah, sering mengeluarkan air liur, kelopak mata lemas terkulai, kelelahan, kesulitan untuk menyedot atau makan, lumpuh.

Jika tidak ditangani dengan cepat dan benar, penderita botulisme dapat berisiko terkena beberapa komplikasi seperti:

  • Gangguan pernapasan.
  • Kesulitan berbicara.
  • Sulit menelan.
  • Merasa lemah terus menerus.
  • Nafas menjadi pendek

Diagnosis Botulisme

Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi berdasarkan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. Dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik untuk mengecek tanda-tanda lemah otot atau kelumpuhan, seperti kelopak mata lemas dan suara lemah.

Selain pemeriksaan fisik, dokter juga akan mengajukan pertanyaan tentang makanan yang dikonsumsi pasien selama beberapa hari terakhir dan tentang luka di tubuh yang berisiko terinfeksi bakteri.

Dokter bisa menyarankan tes darah dan tinja untuk memeriksa apakah terdapat bakteri Clostridium botulinum di dalamnya. Jika masih ada, makanan yang dicurigai juga bisa dibawa untuk diuji di laboratorium.

Pada botulisme bayi, dokter akan bertanya pada orang tua bayi apakah bayinya diberi makan madu, ataukah mengalami sembelit atau lesu. Dokter mungkin juga akan menganalisa darah, tinja atau muntah bayi untuk mengidentifikasi racun penyebab botulisme.

Pengobatan Botulisme

Penderita botulisme perlu menjalani rawat inap di rumah sakit. Tujuan dari pengobatan botulisme adalah untuk menetralisir racun dan membantu fungsi tubuh (seperti pernapasan) berjalan normal, hingga penderita pulih kembali.

Pengobatan botulisme tidak akan menyembukan kelumpuhan otot dan pernapasan yang mungkin sudah terjadi, tapi pengobatan akan menjaga kondisi tidak semakin memburuk. Beberapa minggu atau bulan setelah pengobatan, umumnya kelumpuhan yang muncul sebelum pengobatan akan menghilang dan tubuh kembali normal.

Beberapa perawatan bagi penderita botulisme yang biasanya diberikan oleh dokter adalah:

  • Pemberian antitoksin. Pada penderita botulisme keracunan makanan atau botulisme luka, biasanya dokter akan menyuntikkan obat antitoksin untuk mengurangi risiko komplikasi. Antitoksin dengan jenis imun globulin botulisme biasanya diberikan untuk mengobati botulisme bayi.
  • Pemberian antibiotik. Prosedur ini direkomendasikan hanya untuk penderita botulisme luka, karena antibiotik justru mempercepat pelepasan racun.
  • Alat bantu pernapasan. Alat ini akan dipasang oleh dokter jika penderita mengalami kesulitan bernapas.
  • Rehabilitasi. Kelumpuhan pada penderita botulisme bisa sembuh secara bertahap. Penderita membutuhkan terapi untuk membantu proses pemulihan berbicara, menelan, dan fungsi tubuh yang terkena dampak botulisme.

Pencegahan Botulisme

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah seseorang terkena botulisme yaitu:

  • Hindari mengonsumi makanan dengan kemasan yang sudah rusak, makanan diawetkan yang sudah berbau, makanan yang disimpan pada suhu yang tidak sesuai, serta makanan kadaluarsa.
  • Jangan berikan madu pada bayi berusia di bawah satu tahun, meskipun dalam jumlah sedikit, karena diketahui madu mengandung spora bakteri Clostridium botulinum. Sirup jagung juga dilarang diberikan pada bayi di bawah satu tahun.
  • Jangan menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT