Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Biduran

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 35 kali

Biduran atau urtikaria adalah reaksi kulit yang ditandai dengan bilur berwarna merah atau putih yang terasa gatal. Bilur ini dapat muncul di satu bagian tubuh atau menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ukuran dan bentuk bilur pun bisa berbeda-beda, dari beberapa millimeter hingga sebesar tangan. Salah satu penyebab umum biduran adalah alergi.

Selain terasa gatal, ruam pada kasus biduran juga bisa terasa perih atau menyengat. Ruam ini dapat muncul di seluruh bagian tubuh, termasuk wajah, bibir, lidah, teggorokan, dan telinga. Gejala biduran bisa berlangsung selama beberapa jam atau hari.

Terdapat berbagai jenis uritkaria. Urtikaria yang terjadi selama kurang dari enam minggu disebut sebagai urtikaria akut. Selain itu, ada juga kasus urtikaria yang berlangsung lebih dari enam minggu, atau bersifat kambuhan selama beberapa bulan atau bahkan tahun. Kondisi yang jarang terjadi tersebut disebut sebagai urtikaria kronis. Urtikaria kronis bisa saja merupakan gejala dari suatu penyakit lain yang sedang diderita, misalnya penyakit tiroid atau lupus.

Selain urtikaria akut dan kronis, ada juga yang disebut sebagai urtikaria fisik dan dermatografisme. Urtikaria fisik disebabkan oleh stimulasi fisik secara langsung pada kulit, misalnya stimulasi suhu panas atau dingin, sinar matahari, tekanan, getaran, atau keringat. Sedangkan dermatographism merupakan kondisi kulit yang terbentuk setelah menggaruk kulit dengan keras.

Biduran sendiri merupakan kondisi yang umum dialami oleh semua orang pada segala usia. Namun, biduran lebih sering terjadi pada anak-anak dan wanita pada usia 30-60 tahun. Selain itu, orang yang memiliki riwayat alergi juga lebih berisiko untuk mengalaminya.

Penyebab Biduran atau Urtikaria

Munculnya bilur pada kulit dipicu oleh tingginya kadar histamin dan senyawa kimia lain yang dilepaskan oleh lapisan di bawah kulit, sehingga menyebabkan pembengkakan jaringan. Histamin terkadang dapat menyebabkan bocornya cairan plasma dari pembuluh darah, sehingga terjadi penumpukan cairan atau angioedema. Kelebihan cairan ini juga yang menyebabkan kulit bengkak dan terasa gatal. Pelepasan histamin yang menyebabkan biduran dapat dipicu berbagai hal, antara lain:

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya biduran:

  • Paparan udara panas atau dingin.
  • Kontak dengan pemicu atau penyebab alergi (misalnya gigitan serangga).
  • Obat-obatan tertentu (misalnya antibiotik dan obat antiinflamasi nonsteroid)
  • Infeksi (misalnya influenza).

Penyebab pasti urtikaria belum dapat dipastikan. Kendati demikian, beberapa faktor juga bisa memperburuk gejala yang ada, di antaranya adalah konsumsi minuman beralkohol atau minuman berkafein, stres, dan suhu udara yang panas.

Cara Mengenali Biduran atau Urtikaria pada Kulit

Dokter dapat memastikan apakah seorang pasien terkena biduran melalui pemeriksaan bilur atau ruam yang ada pada kulit secara langsung. Selain melakukan pemeriksaan, dokter juga akan menanyakan riwayat biduran untuk memastikan penyebabnya. Jika biduran sudah berlangsung selama berhari-hari atau melebihi enam minggu, berarti dapat dipastikan bahwa penyebabnya bukan alergi.

Cara Mengobati Biduran atau Urtikaria

Biduran atau urtikaria umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Gejala ini biasanya akan menghilang dalam beberapa hari. Jika terasa sangat mengganggu, obat antihistamin bisa digunakan untuk mengatasi rasa gatalnya. Untuk kasus yang lebih parah, konsumsilah tablet kortikosteroid.

Biduran atau Urtikaria dan Penyakit yang Menyertai

Beberapa kondisi kesehatan dapat menyertai biduran, dua di antaranya adalah angioedema dan anafilaksis.

Angioedema merupakan pembengkakan pada lapisan kulit yang lebih dalam. Pembengkakan ini biasanya terjadi pada bagian mata, bibir, dan alat kelamin.

Sedangkan anafilaksis merupakan reaksi alergi parah dan terjadi secara tiba-tiba hingga dapat menyebabkan kematian. Kondisi ini dianggap sebagai keadaan darurat karena beberapa gejalanya yang ekstrem. Berikut ini adalah gejala-gejala anafilaksis lainnya, yaitu:

  • Pembengkakan pada kelopak mata, bibir, tangan, dan kaki.
  • Sesak napas yang disebabkan oleh penyempitan saluran udara.
  • Pusing.
  • Pingsan.
  • Sakit dan mual pada bagian perut.
  • Muntah-muntah.

Orang-orang yang menderita asma atau penyakit kulit eksim lebih berisiko untuk mengalami anafilaksis dibandingkan orang lain. Walau merupakan kondisi yang gawat, penderita anafilaksis dapat pulih sepenuhnya asal ditangani dengan benar dan cepat.

Bilur yang muncul akibat biduran biasanya terasa sangat gatal dengan ukuran dan lokasi berbeda-beda. Beberapa gejala atau tanda biduran yaitu:

  • Bilur atau ruam berbentuk hampir oval atau seperti cacing.
  • Rasa gatal yang kuat.
  • Berwarna merah atau putih.

Lebar ruam atau bilur dapat mencapai beberapa sentimeter. Terdapat beberapa faktor pemicu yang bisa memperburuk gejala biduran yang sedang dialami, yaitu:

  • Kondisi stres
  • Minuman beralkohol atau mengandung kafein.
  • Suhu udara yang panas.

Hindarilah faktor-faktor di atas agar tidak memperparah gejala biduran yang dialami. Jika gejala biduran terasa parah dan berlangsung lebih dari beberapa hari, segera temui dokter.

Urtikaria Vaskulitis

Urtikaria vaskulitis adalah kondisi ketika pembuluh darah di dalam kulit mengalami inflamasi atau peradangan. Jenis urtikaria ini jarang terjadi. Bilur pada jenis ini bertahan lebih lama dari satu hari. Selain terasa jauh lebih sakit, bilur ini juga bisa meninggalkan memar.

Urtikaria terjadi ketika tubuh terpapar oleh reaksi alergi, bahan-bahan kimia pada makanan, sengatan serangga, paparan sinar matahari, atau obat-obatan. Hal-hal tersebut menyebabkan tubuh untuk mengeluarkan senyawa kimia yang disebut histamin. Histamin ini akan menyebabkan pelepasan plasma dalam darah, sehingga memicu terjadinya rasa gatal dan pembengkakan jaringan di sekitarnya.

Ada beberaoa kondisi yang memicu terjadinya urtikaria, baik akut maupun kronis. Di antaranya adalah:

Urtikaria Akut

Urtikaria akut adalah urtikaria yang gejalanya tidak lebih dari enam minggu. Sayangnya, lebih dari setengah kasus urtikaria akut tidak diketahui penyebabnya. Berikut ini adalah beberapa faktor yang diduga memicu urtikaria akut, di antaranya:

  • Reaksi alergi terhadap faktor-faktor yang ada dalam lingkungan, seperti serbuk sari, tungau debu, gigitan serangga, atau bahan kimia tertentu.
  • Alergi terhadap makanan seperti kacang, makanan laut, telur, dan susu.
  • Stres.
  • Gigitan serangga.
  • Infeksi, baik yang ringan seperti pilek hingga yang serius seperti HIV.
  • Efek samping dari obat-obatan, misalnya antibiotik, obat anti inflamasi nonsteroid (NSAIDs), dan aspirin.
  • Kondisi kesehatan, termasuk gangguan kekebalan tubuh (misalnya lupusdan kanker), serta infeksi bakteri atau virus (misalnya hepatitisatau HIV).
  • Faktor lingkungan, seperti perubahan suhu panas atau dingin, sinar matahari, dan kualitas air.

Urtikaria Kronis

Pada kasus urtikaria kronis, gejala berlangsung hingga lebih dari enam minggu. Biasanya penyebab kondisi ini lebih sulit untuk diketahui, namun bisa juga sama dengan urtikaria akut.

Antibodi yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh memicu pelepasan histamin dan inilah yang mengakibatkan terjadinya urtikaria kronis. Belum diketahui sepenuhnya kenapa kekebalan tubuh bisa merespon faktor pemicu dengan keliru hingga menyerang sel tubuh yang normal. Oleh karena itu, ada beberapa kasus urtikaria kronis yang muncul bersama penyakit autoimun lain, seperti lupus dan arthritis rheumatoid.

Khususnya pada urtikaria kronis, kondisi ini bersifat kambuhan. Urtikaria akan muncul dan menghilang dalam kurun waktu tertentu. Beberapa pemicu atau faktor yang memperparah urtikaria kronis antara lain:

  • Mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
  • Cuaca yang panas.
  • Tekanan pada kulit dalam waktu lama seperti menggunakan pakaian yang terlalu ketat.
  • Memakai pakaian yang terlalu ketat untuk waktu yang lama.
  • Mengonsumsi obat-obatan seperti obat anti-hipertensi seperti penghambat ACE, obat anti inflamasi non-steroid dan obat pereda rasa sakit.
  • Mengonsumsi zat aditif yang ada di dalam makanan atau minuman.
  • Mengalami stres.
  • Gigitan atau sengatan serangga.

Selain hal-hal di atas, urtikaria kronis juga bisa terjadi akibat infeksi usus, gangguan pada kelenjar tiroid, dan hepatitis.

Diagnosis urtikaria akan dibuat oleh dokter dengan melakukan pertanyaan seputar riwayat penyakit pasien dan melakukan pemeriksaan fisik secara teliti. Hal ini bertujuan agar di masa mendatang pasien bisa menghindarinya. Dokter akan bertanya tentang kapan dan bagaimana gejala urtikaria terjadi serta jika ada sesuatu yang baru terjadi seperti perubahan lingkungan atau mengonsumsi makanan yang belum pernah dimakan sebelumnya.

Tes darah dan kulit atau alergi mungkin perlu dilakukan untuk mengetahui apakah Anda alergi terhadap sesuatu. Tapi lebih dari setengah kasus urtikaria akut tidak diketahui penyebabnya.

Pada urtikaria kronis, tes alergi jarang sekali dilakukan karena jarang disebabkan oleh reaksi alergi. Beberapa tes yang dilakukan untuk menentukan penyebab urtikaria kronis adalah:

  • Penghitungan tingkat antibodi di dalam darah.
  • Tes darah lengkap, untuk memeriksa tingkat sel darah merah yang berfungsi dengan normal.
  • Tes fungsi hati, untuk mendeteksi gangguan pada hati.
  • Pengambilan sampel tinja untuk mengetahui apakah ada infeksi di dalam usus.
  • Tes fungsi tiroid.
  • Tes Laju Endap Darah (LED) untuk mengenali masalah dengan sistem kekebalan tubuh.

Kasus biduran kebanyakan ringan dan bisa sembuh dalam dua hari. Penanganan atau pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan tingkat gejala yang dialami dan faktor penyebabnya.

Urtikaria Akut

Pengobatan yang diberikan untuk mengatasi biduran akut adalah:

  • .Antihistamin. Obat ini menghentikan gatal-gatal dan mengurangi bilur yang muncul dengan cara menghambat histamin. Obat ini tidak disarankan untuk diberikan kepada wanita hamil karena keamanannya tidak diketahui. Contoh obat antihistamin adalah loratadine, cetirizine, dan fexofenadine.
  • Kortikosteroid. Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala biduran yang parah. Kortikosteroid bekerja dengan cara menghambat kinerja sistem kekebalan tubuh. Contoh obatnya adalah prednisolone. Obat ini tidak untuk dikonsumsi secara jangka panjang. Pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan efek samping seperti hipertensi, katarak, glaukoma, dan diabetes.

Urtikaria Kronis

Obat-obatan yang digunakan untuk menangani urtikaria kronis atau yang bertahan lebih dari enam minggu adalah:

  • Antihistamin H1 dan H2. Selama gejala biduran muncul, dianjurkan untuk mengonsumsi antihistamin Dosis yang diminum disesuaikan dengan gejala yang dihadapi.

Ketika kemunculan ruam makin parah, obat antihistamin H2 bisa dikonsumsi untuk mengatasi kondisi ruam dengan cara menyempitkan pembuluh darah. Antihistamin H2 memiliki efek samping seperti sakit kepala, diare dan pusing. Jangan mengoperasikan alat atau kendaraan berat jika mengonsumsi obat ini. Antihistamin H2 yang biasa diberikan antara lain: cimetidine, famotidine dan ranitidine.

  • Kortikosteroid. Urtikaria kronis yang kambuh dengan parah juga bisa ditangani dengan kortikosteroid. Efek samping obat ini adalah meningkatnya selera makan, berat badan bertambah, perubahan suasana hati dan kesulitan tidur. Oleh karena itu tidak dianjurkan untuk digunakan dalam jangka panjang.
  • Leukotriene receptor antagonists. Obat ini membantu mengurangi pembengkakan dan kemerahan pada kulit. Efek sampingnya cukup ringan seperti mual dan sakit kepala sehingga bisa digunakan untuk jangka waktu panjang.
  • Omaluzimab. Obat ini bisa mengurangi jenis antibodi dalam tubuh yang berperan menyebabkan biduran. Obat ini diberikan melalui suntikan.
  • Siklosporin. Sama seperti kortikosteroid, obat ini juga menghambat sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang sel tubuh yang sehat. Efek samping yang ditimbulkan obat ini termasuk hipertensi, masalah ginjal, sakit kepala, kolesterol darah naik, tremor atau gemetar, dan meningkatkan risiko terkena infeksi.

Terdapat beberapa cara untuk membantu meredakan gejala yang dialami akibat urtikaria:

  • Hindari menggaruk bagian yang muncul bilur atau ruam.
  • Jangan memakai sabun yang mengandung bahan kimia yang keras.
  • Usahakan area kulit yang terkena biduran tetap dingin, tidak tertutup pakaian ketat, dan diolesi losion penyejuk, atau diberi kompres dingin guna membantu menenangkan kulit dan menghindari menggaruk kulit..
  • Gunakan pakaian yang longgar dan ringan.
  • Hindari faktor pemicu seperti zat aditif di dalam makanan, minuman beralkohol, obat pereda rasa sakit, kondisi panas atau dingin dan stres.

PENCEGAHAN URTIKARIA

Anda dapat menurunkan risiko untuk terkena biduran dengan:

  • Minghindari faktor pencetus. Menghindari beberapa hal seperti obat-obatan, makanan, stres, dan suhu dapat membantu mengurangi frekuensi kekambuhan. Faktor pemicu ini berbeda dari satu orang ke yang lainnya, sehingga penting bagi setiap orang untuk mengidentifikasi hal apa saja dapat mencetuskan kondisi ini.
  • Makanan. Pada beberapa kondisi, biduran dapat disebabkan oleh makanan. Oleh karena itu, Anda dapat mencegah terjadinya biduran di kemudian hari dengan melakukan pencatatan akan jenis makanan apa saja yang dapat memperparah atau menyebabkan biduran. Anda dapat mengonsultasikan hal ini dengan ahli gizi guna memastikan Anda tetap mendapatkan asupan nutrisi yang terbaik.

Urtikaria dapat sangat berdampak pada hidup penderitanya terutama yang mengalaminya dalam jangka panjang. Jika tidak ditangani sama sekali, ruam urtikaria yang sering menyebar ke seluruh tubuh dan terasa sangat gatal akan mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya dan bahkan berujung pada berbagai komplikasi, antara lain:

Angioedema

Penderita urtikaria kronis atau akut bisa mengalami angioedema, yaitu lapisan dalam kulit yang bengkak karena penumpukan cairan. Bagian yang biasanya terpengaruh oleh angioedema adalah kelopak mata, bibir, tangan, kaki, dan sekitar alat kelamin.

Gangguan ini dapat bertahan lebih lama dibanding biduran, meski gejala bengkak pada kulit biasanya berkurang dalam waktu 24 jam. Salah satu penyebab kondisi ini adalah penggunaan obat-obat, seperti obat antihipertensi (penghambat ACE), obat antihistamin non-steroid dan pereda nyeri (codeine).

Untuk mengatasi angioedema, antihistamin dan steroid untuk jangka waktu pendek bisa digunakan.

Anafilaksis

Anafilaksis adalah reaksi alergi langka yang parah dan terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini bisa berakibat fatal karena gejalanya yang ekstrem. Anafilaksis menyebabkan penurunan tekanan darah sehingga orang yang mengalami bisa langsung pingsan atau hingga meninggal.

Selain itu, pembengkakan akan langsung terjadi khususnya pada bagian wajah dan tenggorokan atau leher sehingga penderita akan sulit bernapas. Gejala-gejala anafilaksis yang lain adalah:

  • Bengkak pada kelopak mata, bibir, tangan, kaki
  • Sakit atau mual pada bagian perut
  • Detak jantung yang cepat atau sulit bernapas karena aliran udara menyempit
  • Pusing
  • Muntah-muntah
  • Pingsan atau hilang kesadaran

Satu-satunya pengobatan yang digunakan untuk anafilaksis adalah dengan memakai suntikan epinephrine. Obat ini berfungsi untuk meredam reaksi gejala yang terjadi pada anafilaksis. Perlu diingat bahwa ini adalah kondisi darurat, jika Anda mencurigai adanya gejala anafilaksis, segera temui dokter di rumah sakit terdekat.

Biduran adalah reaksi kulit yang menyebabkan munculnya bilur berwarna merah atau putih dan terasa gatal, tapi bisa juga terasa perih atau menyengat. Bilur bisa muncul di bagian tubuh mana pun dan umumnya muncul di satu bagian tubuh sebelum akhirnya menyebar ke bagian tubuh lain. Ukuran bilur bisa berbeda-beda, mulai dari hanya beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter.

Bilur memiliki ciri-ciri yaitu jika bagian tengah yang berwarna merah ditekan maka akan berubah warna menjadi putih. Setelah tekanan dilepas, bilur kembali berwarna merah. Benjolan bilur juga memiliki tepi yang jelas.

Bilur yang muncul akibat kegiatan fisik biasanya akan hilang dalam waktu 1-2 jam, tapi jika tidak hilang lebih dari 1,5 hari kemungkinan itu adalah reaksi akibat alergi terhadap obat atau makanan.

Bilur dan ruam pada biduran tampak serupa dengan ruam akibat terkena jelatan. Bilur-bilur yang muncul bisa awalnya terpisah dan kemudian bergabung untuk membentuk bilur yang lebih besar.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT