Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Bell’s Palsy

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 22 kali

Bell’s palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan pada salah satu sisi otot di wajah yang yang bersifat sementara. Kondisi ini menyebabkan salah satu sisi dari wajah akan terlihat “melorot”. Meski belum diketahui penyebab pastinya, Bell’s palsy lebih umum terjadi pada wanita hamil, penderita diabetes, dan HIV.

Saraf yang rusak pada bagian wajah akan berdampak kepada indera perasa dan cara tubuh Anda menghasilkan air mata dan ludah. Bell’s palsy datang secara tiba-tiba dan umumnya kondisi ini akan membaik dalam hitungan minggu.

Pada kebanyakan kasus Bell’s palsy, kelumpuhan pada salah satu sisi wajah bisa pulih sepenuhnya. Jika Anda mengalami kelumpuhan di salah satu sisi wajah, segera temui dokter untuk memahami kondisi yang terjadi sekaligus mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Gejala Bell’s Palsy

Bell’s palsy memiliki gejala yang berbeda-beda pada sebagian orang. Kelumpuhan yang terjadi pada salah satu sisi wajah bisa dijelaskan sebagai kelumpuhan sebagian (kelemahan otot ringan) atau sebagai kelumpuhan total (tidak ada gerakan sama sekali). Mulut serta kelopak mata juga akan terpengaruh akibat Bell’s palsy, kedua bagian ini akan kesulitan untuk dibuka dan ditutup.

Bell’s palsy adalah gangguan yang terjadi hanya pada otot dan saraf wajah. Kondisi ini tidak berdampak kepada kinerja otak atau bagian tubuh lainnya. Apabila kelumpuhan di salah satu sisi wajah Anda disertai dengan kelumpuhan atau kelemahan pada bagian tubuh lain, segera periksakan ke dokter.

Penyebab Terjadinya Bell’s Palsy

Bell’s palsy terjadi saat persarafan yang mengontrol otot-otot di wajah teriritasi atau tertekan. Penyebab iritasi saraf ini masih belum diketahui secara jelas, namun beberapa jenis infeksi virus diduga menjadi penyebab kondisi ini, antara lain: virus herpes simpleks (HSV), virus varicella-zoster, virus epstein barr, cytomegalovirus, penyakit sifilis, dan penyakit Lyme.

Diagnosis Bell’s Palsy

Untuk memastikan diagnosis Bell’s palsy, dokter akan menanyakan riwayat gejala yang Anda alami. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan saraf untuk mengetahui fungsi saraf wajah. Apabila gejala yang dialami tidak jelas, Anda mungkin disarankan untuk melakukan beberapa tes, seperti elektromiografi, MRI, atau CT scan.

Mengobati Bell’s Palsy

Untuk mengurangi pembengkakan yang terjadi pada saraf wajah, prednisolone atau prednison(kelompok obat kortikosteroid) bisa digunakan. Sedangkan untuk mencegah munculnya masalah pada mata yang tidak bisa menutup, Anda mungkin memerlukan obat tetes mata. Sedangkan untuk menutup mata, Anda membutuhkan isolasi.

Bell’s palsy bisa kembali pulih sepenuhnya pada 70 persen pasien yang mengalaminya. Pada sebagian besar orang yang menderita Bell’s palsy, gejala mulai membaik setelah dua atau tiga minggu. Tapi untuk bisa pulih sepenuhnya akan membutuhkan sekitar sembilan bulan. Lama masa pemulihan tergantung pada tingkat kerusakan saraf yang diderita.

Komplikasi Bell’s Palsy

Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat Bell’s palsy:

  • Gangguan pada mata.
  • Kesulitan makan, minum, dan bicara.
  • Kelemahan atau kelumpuhan otot secara terus-menerus.
  • Otot wajah berkedut.
  • Kemampuan indera perasa menurun.

Khususnya pada Bell’s palsy yang terkait dengan faktor keturunan, ada kemungkinan kondisi ini akan terulang kembali di masa mendatang.

Gejala yang muncul pada Bell’s palsy berkembang dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam waktu dua hari. Gejala yang terjadi bisa berbeda-beda. Berikut ini adalah gejala yang biasanya muncul pada Bell’s palsy.

  • Salah satu sisi wajah akan mengalami kelumpuhan atau kelemahan. Sisi wajah yang terpengaruh akan terlihat melorot dan Anda tidak bisa menggerakkannya. Anda akan kesulitan untuk membuka atau menutup mata dan mulut.
  • Sakit telinga pada sisi wajah yang mengalami kelumpuhan.
  • Telinga yang terpengaruh akan lebih sensitif terhadap suara.
  • Berdenging di salah satu telinga atau keduanya.
  • Penurunan atau perubahan pada indera perasa.
  • Bagian mulut yang terpengaruh akan mudah berliur.
  • Mulut terasa kering.
  • Rasa sakit pada sekitar rahang.
  • Sakit kepala dan pusing.
  • Kesulitan untuk makan, minum, dan berbicara.

Gejala-gejala yang muncul di atas biasanya akan mulai membaik dalam waktu dua hingga tiga minggu dan akhirnya pulih sepenuhnya dalam waktu sembilan hingga sepuluh bulan.

Tidak ada tes yang bisa dilakukan untuk memastikan diagnosis terhadap Bell’s palsy. Tes dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan saraf lainnya, seperti stroke. Kondisi lain yang bisa memunculkan gejala yang mirip adalah:

  • Tumor. Pertumbuhan jaringan secara abnormal.
  • Stroke. Terputusnya pasokan darah ke beberapa bagian otak yang berbahaya dan bisa mengancam nyawa.
  • Sindrom Moebius. Kondisi yang sangat jarang terjadi dan muncul sejak lahir.
  • Infeksi telinga tengah. Kondisi yang cukup umum terjadi pada anak-anak yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.
  • Penyakit Lyme. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang disebarkan oleh kutu.
  • Cedera kepala. Kondisi yang bisa terjadi pada semua orang akibat pukulan, terjatuh, atau kecelakaan.
  • Kolesteatoma. Jaringan kulit abnormal yang ada di telinga bagian tengah.

Dokter akan memeriksa kepala, telinga, dan leher Anda. Kemudian dokter juga akan memeriksa otot-otot wajah untuk memastikan apakah hanya saraf wajah yang terpengaruh. Jika dokter tidak mendapati adanya kondisi lain, bisa disimpulkan gejala yang terjadi itu adalah akibat Bell’s palsy.

Berikut ini beberapa tes yang dilakukan bisa dilakukan:

  • Elektromiografi. Pemeriksaan ini berguna untuk mengukur aktivitas elektrik dari otot dan saraf Anda. Informasi yang diberikan alat ini bisa digunakan untuk mengetahui apakah terdapat kerusakan saraf.
  • MRI. Prosedur ini bisa dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya tekanan pada saraf wajah Anda.
  • CT scan. Prosedur ini dilakukan untuk mengetahui kondisi lain yang menyebabkan gejala yang Anda alami, memeriksa apakah terdapat infeksi atau tumor. Prosedur ini juga bisa menentukan apabila terdapat keretakan tulang pada wajah.

Bell’s palsy disebabkan oleh saraf yang mengendalikan otot atau saraf wajah yang mengalami peradangan atau terhimpit. Dari otak, saraf wajah melewati celah sempit di dekat rahang bagian atas. Ketika saraf wajah ini terhimpit atau mengalami peradangan, sinyal yang dikirimkan otak menuju ke otot wajah akan terganggu. Gangguan inilah yang menghambat pasokan darah dan oksigen menuju ke sel-sel saraf, akibatnya terjadi kelemahan atau kelumpuhan pada wajah.

Penyebab iritasi saraf ini masih belum diketahui secara jelas, namun virus herpes diduga kuat menjadi penyebab utama masalah ini. Ada dua jenis virus herpes yang diduga dapat menyebabkan iritasi saraf pada waja, yakni:

  • Virus herpes simpleks (HSV). Ada dua jenis virus herpes simpleks yang diduga mampu mengiritasi saraf wajah, yakni HSV tipe 1 yang menyebabkan cold sore (lepuhan pada daerah bibir) dan HSV tipe 2, yang menjadi penyebab herpes genitalis.
  • Virus varisela zoster. Jenis virus ini yang menyebabkan cacar air dan cacar api. Virus ini lebih jarang menyebabkan Bell’s palsy, tapi bisa menyebabkan kondisi yang lebih serius, yakni sindrom Ramsay-Hunt

Selain virus herpes, beberapa kondisi infeksi virus lain juga diduga mampu menyebabkan Bell’s Palsy, antara lain:

  • Penyakit Lyme. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang disebarkan oleh kutu.
  • Sifilis. Penyakit ini disebabkan oleh virus Treponema pallidum.
  • Virus Epstein-Barr. Virus jenis ini menyebabkan demam kelenjar.
  • Cytomegalovirus. Virus ini termasuk dalam kelompok virus herpes. Virus ini bisa menyebabkan gejala yang mirip seperti flu, demam kelenjar, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar.

HIV dan diabetes juga berpeluang menyebabkan Bell’s palsy, meski hingga kini alasannya belum diketahui dengan pasti. Infeksi saluran pernapasan atas juga bisa menjadi faktor yang meningkatkan risiko mengalami Bell’s palsy.

Pada wanita yang sedang dalam kondisi hamil dan memasuki semester ketiga juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami Bell’s palsy. Penyakit ini bisa terjadi pada minggu pertama wanita yang baru saja melahirkan. Selain itu, faktor keturunan juga berpengaruh dalam meningkatkan risiko mengalami Bell’s palsy. Dengan kata lain,seseorang lebih berisiko mengalami Bell’s palsy jika ada anggota keluarganya dengan kondisi tersebut.

Jika ada seseorang mengalami kelumpuhan wajah secara tiba-tiba, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit bagian IGD yang terdekat. Menurut studi, pengobatan Bell’s palsy akan sangat efektif jika dilakukan dalam 3 hari pertama setelah gejala awal muncul.

Meski tanpa pengobatan khusus, biasanya kasus Bell’s palsy dapat kembali pulih sepenuhnya. Pengobatan yang dilakukan biasanya diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah munculnya komplikasi akibat Bell’s palsy.

Penanganan pada Bell’s Palsy

Berikut ini beberapa pengobatan dan penanganan yang dilakukan untuk Bell’s palsy.

  • Prednisolone. Obat ini sangat disarankan sebagai pengobatan Bell’s palsy yang paling efektif. Sebaiknya obat ini diberikan 72 jam sejak gejala awal muncul. Obat ini akan diresepkan selama 10 hari dan dikonsumsi sehari dua kali. Cari tahu lebih banyak tentang prednisolone.
  • Antivirus. Hingga kini, peran obat-obatan antivirus masih menjadi perdebatan. Namun demikian, dokter mungkin akan meresepkan antivirus atau antivirus yang dikombinasikan dengan prednison pada pasien dengan kelemahan saraf wajah yang cukup parah.
  • Perawatan mata. Penderita Bell’s palsy akan kesulitan untuk menutup mata. Hal ini bisa menyebabkan air mata menguap, sehingga mata menjadi lebih kering dan lebih rentan terkena infeksi. Air mata berperan penting untuk melindungi dan menjaga mata bebas dari kotoran dan bakteri. Dokter akan meresepkan obat tetes mata untuk siang hari dan obat oles mata pada malam hari.
  • Fisioterapi. Ahli fisioterapi akan mengajari Anda beberapa latihan yang bisa memperkuat otot-otot wajah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan koordinasi dan jangkauan gerakan. Prosedur ini sangat membantu dalam kasus-kasus Bell’s palsy, meski tidak semua orang sesuai dengan prosedur ini.
  • Suntikan Botox. Khususnya pada penderita Bell’s palsy kronis atau jangka panjang, suntik botox bisa diberikan untuk mengobati wajah yang terpengaruh maupun yang tidak terpengaruh. Suntikan ini berfungsi untuk melemaskan otot wajah yang mengencang atau mengurangi gerakan otot yang tidak diinginkan. Suntikan ini juga berfungsi untuk menyeimbangkan gerakan wajah, mengatasi ketidaknyamanan yang dirasakan saat makan, dan meningkatkan penampilan wajah secara keseluruhan. Suntik botox umumnya perlu diulangi tiap empat bulan sekali.
  • Operasi plastik. Dokter bedah akan membantu mengatasi kelemahan atau kelumpuhan pada wajah Anda. Meski prosedur operasi tidak bisa mengembalikan fungsi saraf seperti semula, tapi bisa melindungi mata dan memperbaiki penampilan wajah, serta meningkatkan fungsi wajah yang lemah. Prosedur operasi plastik dilakukan untuk memperbaiki fungsi kelopak mata, memperbaiki posisi mulut, membantu dalam bicara, makan, dan minum, serta memperbaiki keseimbangan bentuk wajah.
  • Pengobatan lainnya. Teknik relaksasi dan akupuntur dikatakan bisa membantu mempercepat pemulihan dari kondisi Bell’s palsy dan mengembalikan fungsi saraf wajah.

Komplikasi yang terjadi akibat Bell’s palsy sangat bergantung pada kerusakan saraf yang terjadi. Kebanyakan penderita Bell’s palsy akan pulih dengan sendirinya dalam jangka waktu sembilan hingga sepuluh bulan. Tapi komplikasi jangka panjang bisa terjadi terutama jika Anda:

  • Berusia lebih dari 60 tahun.
  • Mengalami rasa sakit parah ketika gejala pertama muncul.
  • Mengalami lumpuh wajah total pada salah satu sisi wajah.
  • Mengalami kerusakan saraf wajah yang parah.
  • Memiliki penyakit hipertensi atau penyakit diabetes.
  • Sedang hamil.
  • Tanda-tanda pemulihan hanya mulai setelah dua bulan.
  • Tidak mengalami tanda-tanda pulih setelah menderita selama empat bulan.

Beberapa penderita Bell’s palsy akan mengalami kembali penyakit tersebut di masa mendatang pada sisi wajah lainnya. Kondisi ini biasanya terjadi apabila Bell’s palsy terkait dengan faktor genetik atau turunan.

Berikut ini beberapa komplikasi jangka panjang yang bisa disebabkan oleh Bell’s palsy:

  • Kelemahan wajah. Sekitar dua hingga tiga dari sepuluh orang penderita Bell’s palsy akan mengalami kelemahan wajah permanen. Beberapa anak terlahir dengan lumpuh wajah dan sebagian lainnya menderita kelemahan wajah setelah mengalami cedera pada saraf wajah.
  • Gangguan bicara. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari kerusakan pada otot-otot wajah penderita Bell’s palsy.
  • Mata kering dan ulkus kornea. Ulkus kornea bisa muncul karena kelopak mata terlalu lemah untuk bisa menutup sepenuhnya. Akibatnya, lapisan pelindung mata menjadi tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini bisa menyebabkan kebutaan dan infeksi mata.
  • Indera perasa berkurang atau hilang. Kondisi ini bisa terjadi jika kerusakan saraf tidak bisa kembali pulih dengan baik. Sebagian juga sering mengeluarkan air mata saat makan.
  • Kontraktur wajah. Kondisi ini terjadi ketika otot-otot wajah mengalami ketegangan secara permanen. Cacat wajah, mata mengecil, pipi menebal, dan garis antara hidung dan mulut bertambah dalam sebagai akibat dari kontraktur otot-otot wajah.
  • Sinkinesis mata dan mulut. Kondisi ini muncul ketika saraf wajah tumbuh kembali dengan cara yang berbeda. Ketika makan, tertawa, atau tersenyum, mata bisa berkedip. Pada kondisi yang parah, mata akan tertutup sepenuhnya ketika makan.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT