Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Batu Ginjal

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 35 kali

Penyakit batu ginjal atau nefrolitiasis adalah suatu kondisi ketika material keras yang menyerupai batu terbentuk di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat limbah di dalam darah yang disaring oleh ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring waktu.

Pada sebagian besar kasus, penyakit batu ginjal dialami oleh orang-orang yang berusia 30-60 tahun. Diperkirakan 10 persen wanita dan 15 persen pria pernah mengalami kondisi ini selama hidup mereka.

Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan jenisnya, batu ginjal dibagi menjadi empat, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.

Gejala batu ginjal

Gejala akibat batu ginjal biasanya tidak akan dirasakan penderitanya jika batu ginjal berukuran sangat kecil sehingga bisa keluar dari tubuh secara alami melalui ureter dengan mudah. Ureter adalah saluran yang menyambungkan ginjal dengan kandung kemih.

Gejala akibat batu ginjal baru bisa terasa jika batu berukuran lebih besar dari diameter saluran ureter. Batu yang besar akan bergesekan dengan lapisan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi dan bahkan luka. Oleh sebab itu, urine kadang bisa mengandung darah. Selain mengiritasi ureter, batu ginjal juga bisa tersangkut di dalam ureter atau uretra (saluran akhir pembuangan urine) sehingga terjadi akumulasi bakteri dan bisa menyebabkan pembengkakan akibat infeksi. Gejala batu ginjal yang bisa muncul apabila batu bergesekan dengan ureter di antaranya adalah nyeri pada pinggang, perut bagian bawah atau samping, dan selangkangan yang dapat disertai mual.

Sedangkan gejala yang bisa dirasakan jika penderita batu ginjal mengalami infeksi ginjal di antaranya urine tampak keruh dan berbau tidak sedap, badan lemas, menggigil, dan demam tinggi.

Penderita batu ginjal di Indonesia

Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) pada tahun 2013, diperkirakan prevalensi penderita yang terdiagnosa batu ginjal untuk umur di atas 15 tahun adalah sebesar 0,6 persen dari total penduduk Indonesia. Lima provinsi yang menduduki posisi tertinggi masalah penyakit batu ginjal di antaranya adalah DI Yogyakarta, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

Diagnosis batu ginjal

Dalam mendiagnosis batu ginjal, biasanya pertama-tama dokter akan menanyakan pada pasien mengenai seputar gejala-gejala yang telah dialami. Dokter juga bisa menanyakan apakah pasien pernah menderita batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau apakah pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.

Setelah keterangan dikumpulkan, dokter biasanya akan melakukan sejumlah tes untuk memperkuat bukti. Tes-tes tersebut bisa berupa pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan pemindaian (misalnya USG, rontgen, CT scan, dan intravenous urogram/IVU)

Pengobatan batu ginjal

Pengobatan penyakit batu ginjal yang dilakukan tergantung kepada ukuran dari batu. Jika batu ginjal masih tergolong kecil atau menengah, serta masih dapat melewati saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk minum air putih saja sesuai takaran yang disarankan. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal dapat terdorong keluar dengan sendirinya. Apabila gejala yang dirasakan oleh pasien cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, misalnya acetaminophen, ibuprofen atau obat anti radang non steroid.

Penanganan batu ginjal yang dengan prosedur khusus (misalnya dengan energi laser, ultrasound, atau operasi) biasanya baru akan diterapkan jika batu berukuran lebih besar sehingga menyumbat saluran kemih pasien.

Pencegahan batu ginjal

Cara mencegah batu ginjal sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu minum cukup air putih tiap hari dan membatasi konsumsi makanan, minuman, atau suplemen yang mengandung zat-zat yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal, seperti zat oksalat, suplemen kalsium, dan protein hewani.

Selain dengan minum cukup air dan membatasi asupan zat-zat tertentu, pencegahan batu ginjal juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Biasanya langkah ini dianjurkan untuk mencegah kambuh bagi mereka yang sebelumnya pernah menderita batu ginjal.

Gejala batu ginjal tidak akan terasa jika ukuran batu relatif kecil dan bisa keluar dari saluran kemih bersamaan dengan aliran urine dengan lancar. Gejala baru bisa dirasakan apabila batu tertahan di dalam ginjal, batu berukuran terlalu besar melewati ureter, atau batu ginjal menyebabkan infeksi.

Ureter adalah saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Bentuk organ ini menyerupai tabung dengan struktur jaringan yang sensitif. Ketika batu ginjal yang besar melewati ureter, batu tersebut akan bergesekan dengan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi dan berisiko melukai. Ini sebabnya kadang-kadang urine bisa mengandung darah. Jika batu tersebut berukuran cukup besar, batu bisa tersangkut di dalam ureter sehingga mengganggu kelancaran aliran urine dari ginjal.

Gejala batu ginjal yang paling umum adalah rasa nyeri yang menetap pada perut bagian samping, punggung bagian bawah, pinggang, selangkangan, atau bahkan testis (pada pria). Selain itu, gejala lain dari batu ginjal yang mungkin ada adalah:

  • Meningkatnya frekuensi buang air kecil dan rasa sakit saat berkemih.
  • Warna urine tampak keruh dan beraroma tidak sedap. Warna keruh seperti kecokelatan atau kemerahan pada urine tersebut bisa diakibatkan oleh adanya pendarahan saat batu ginjal melewati saluran kemih.
  • Mual dan bisa disertai muntah.
  • Gelisah.
  • Sulit beristirahat karena sulit menemukan posisi yang tepat untuk melakukannya.

Batu ginjal yang tersangkut di ureter dan membuat aliran urine tidak lancar bisa menyebabkan penumpukan kotoran. Penumpukan kotoran ini bisa menyebabkan perkembangbiakan bakteri yang akhirnya dapat berakibat ke infeksi ginjal. Jika infeksi ginjal sudah terjadi, maka gejala yang bisa dialami penderita adalah demam, badan terasa lemas, tubuh terasa dingin bahkan sampai menggigil, urine tampak keruh dan beraroma tidak sedap, serta diare.

Secara alami, ginjal membersihkan darah tiap hari dengan menyaring zat-zat limbah yang terdapat di dalamnya untuk selanjutnya dibuang dalam bentuk urine. Terkadang zat-zat tersebut kadarnya terlalu banyak dibanding cairan yang berfungsi sebagai pelarut sehingga tidak dapat sepenuhnya terbuang oleh tubuh dan mengendap di dalam ginjal. Faktor penyebab lainnya adalah ginjal kekurangan bahan yang berfungsi mencegah endapan kristal menggumpal membentuk batu.

Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan bahan pembentuknya, batu ginjal dapat dibagi menjadi empat jenis utama, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu amonia (struvit), dan batu sistin.

Batu kalsium disebabkan oleh tingginya kadar kalsium di dalam urine. Jenis batu ginjal ini merupakan yang paling umum terjadi. Tingginya kadar kalsium bisa diakibatkan karena penyakit keturunan hiperkalsiuria. Kondisi ini menyebabkan penderitanya melepaskan kalsium yang banyak dalam urine. Tingginya kadar kalsium juga bisa disebabkan oleh kelenjar paratiroid yang terlalu aktif. Hormon yang diproduksi kelenjar ini berfungsi mengatur jumlah kalsium di dalam darah.

Yang kedua adalah batu asam urat. Batu ini terbentuk akibat tingginya kadar asam urat di dalam urine yang disebabkan oleh makanan berkadar purin tinggi. Contoh makanan yang memicu tingginya asam urat adalah kerang-kerangan, daging dan ikan. Penderita penyakit Gout juga berisiko tinggi membentuk batu jenis ini.

Yang ketiga adalah batu struvit. Ini merupakan jenis batu ginjal yang dapat terbentuk dan membesar secara cepat. Penyebab utama terbentuknya batu struvit adalah infeksi saluran kemih yang telah berlangsung lama. Jenis batu ini lebih sering ditemukan pada pasien wanita dibandingkan pasien laki-laki.

Yang terakhir adalah batu sistin. Batu ginjal ini terbentuk akibat terlalu banyaknya asam amino sistin yang dikeluarkan oleh ginjal. Batu sistin merupakan jenis batu ginjal yang sangat jarang ditemukan. Kondisi ini disebabkan oleh penyakit yang dikenal sebagai sistinuria. Penyakit ini mempengaruhi jumlah asam amino sistin yang dikeluarkan dalam urine.

Selain faktor makanan dan kondisi kesehatan yang mendasari, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu terjadinya penyakit batu ginjal, di antaranya:

  • Kurang minum air putih
  • Riwayat kesehatan keluarga
  • Mengalami obesitas
  • Mengonsumsi obat-obatan, misalnya diuretik, aspirin, antibiotik, antasid, serta beberapa obat antiepilepsi dan antiretroviral
  • Efek samping operasi terhadap organ pencernaan

Jika Anda sudah pernah menderita batu ginjal, maka Anda berpeluang untuk kembali terkena kondisi yang sama. Berikut adalah faktor pemicu kambuhnya batu ginjal.

  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung protein dan terlalu sedikit mengonsumsi makanan berserat.
  • Hanya memiliki satu ginjal yang masih berfungsi.
  • pernah mengalami beberapa infeksi yang berhubungan dengan ginjal atau sistem saluran kemih.
  • Memiliki riwayat keluarga berpenyakit batu ginjal.
  • Pernah menjalani operasi pada sistem pencernaan.
  • Rutin mengonsumsi suplemen yang mengandung kalsium.
  • Mengonsumsi obat-obatan aspirin, antibiotik golongan tertentu, antasida, diuretik, obat antiepilepsi, dan obat-obatan untuk HIV.

Dalam mendiagnosis batu ginjal, pertama-tama dokter akan mencoba menggali keterangan terlebih dahulu dari pasien seputar gejala-gejala yang dialaminya. Biasanya dokter juga akan menanyakan apakah pasien sudah pernah menderita batu ginjal, memiliki riwayat keluarga berpenyakit batu ginjal, atau apakah pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang dirasa bisa memicu terbentuknya batu ginjal.

Setelah keterangan tersebut dikumpulkan, sejumlah pilihan tes akan dilakukan untuk memastikan diagnosis. Tes tersebut bisa berupa pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan pemindaian (misalnya USG, rontgen, CT scan, dan intravenous urogram/IVU). Pemeriksaan urine dilakukan untuk mengetahui keberadaan infeksi pada saluran kemih yang terkait dengan batu ginjal. Selain itu, jika sampel urine mengandung serpihan batu ginjal, tes ini dapat membantu dokter dalam mengenali jenis batu ginjal yang terbentuk.

Sedangkan untuk pemeriksaan darah, metode ini dilakukan untuk membantu dokter mengetahui kadar zat-zat tertentu yang berpotensi menyebabkan batu ginjal, misalnya seperti kadar kalsium atau asam urat di dalam darah. Selain itu, tes darah juga dilakukan untuk memastikan apakah ginjal pasien masih berfungsi dengan baik atau sudah mengalami kerusakan.

Yang terakhir adalah pemeriksaan melalui citra gambar dengan X-ray, CT scan atau intravenous urogram (IVU). Pemeriksaan yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit ini sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk memastikan keberadaan dan menentukan posisi batu ginjal secara tepat dan akurat.

Analisis yang tepat akan sangat membantu dokter dalam menentukan penanganan atau obat-obatan yang sesuai dengan kondisi penderita batu ginjal. Untuk diketahui, saat ini pemeriksaan CT scan sudah lebih sering dijadikan pilihan utama oleh dokter dalam mendiagnosis penyakit batu ginjal karena hasilnya yang lebih akurat dibandingkan dengan metode pemeriksaan penunjang lainnya.

Pengobatan penyakit batu ginjal tergantung kepada ukuran batu. Jika masih tergolong kecil, batu ginjal masih dapat keluar melalui saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi. Dokter biasanya akan menyarankan pasien melakukan langkah pengobatan selayaknya tindakan pencegahan, yaitu dengan minum cukup air putih tiap hari. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal yang kecil dapat terdorong keluar dengan sendirinya.

Jika air putih saja dianggap belum cukup, dokter kemungkinan akan meresepkan obat untuk membantu melancarkan pengeluaran batu ginjal, misalnya obat penghambat alfa. Obat ini membantu menjadikan otot-otot ureter rileks sehingga batu ginjal bisa keluar tanpa menimbulkan rasa sakit dan dalam tempo waktu yang relatif cepat.

Apabila gejala yang dirasakan pasien sudah cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, seperti parasetamol, ibuprofen dan obat anti radang non steroid. Selain obat pereda sakit, dokter juga akan memberikan obat antiemetik untuk menangani gejala mual dan muntah-muntah.

Dokter biasanya akan merujuk pasien ke rumah sakit apabila penyakit batu ginjal sudah menyebabkan rasa sakit yang parah. Hal ini diperlukan terutama jika pasien memiliki kondisi lain (misalnya sedang hamil, muntah-muntah sampai menyebabkan dehidrasi, berusia di atas 60 tahun, serta hanya memiliki satu ginjal). Selain itu, dokter juga biasanya akan merujuk pasien ke rumah sakit jika gejala nyeri bertambah parah meskipun sudah diberikan obat pereda nyeri.

Penanganan batu ginjal dengan operasi

Penanganan batu ginjal dengan operasi baru akan diterapkan jika batu tersebut berukuran besar (kira-kira berdiameter 0,6 centimeter atau lebih) sehingga menyumbat saluran kemih pasien. Tipe penanganan akan bergantung padaa lokasi dan ukuran batu. Prosedur-prosedur untuk menangani batu ginjal besar adalah:

  • Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), yaitu prosedur penghancuran batu ginjal dengan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound). Batu dihancurkan agar serpihan-serpihannya dapat keluar dengan mudah.
  • Ureteroskopi, yaitu prosedur pengangkatan batu ginjal dengan menggunakan sebuah alat yang disebut ureteroskop yang dimasukkan ke ureter melalui uretra dan kandung kemih. Uretra adalah saluran terakhir untuk keluarnya urine dari kandung kemih ke luar tubuh.. Setelah letaknya diketahui, batu akan dihancurkan dengan menggunakan instrumen lain atau laser. Ureteroskopi biasanya dilakukan untuk menangani batu yang terjebak di dalam ureter.
  • Bedah terbuka. Di zaman modern seperti sekarang, prosedur ini sebenarnya sudah tergolong jarang dan hanya dilakukan untuk mengangkat batu ginjal yang berukuran sangat besar. Sesuai dengan namanya, bedah terbuka dilakukan dengan cara membuat sebuah sayatan pada permukaan kulit di punggung yang berfungsi sebagai akses bagi dokter bedah dalam mengangkat batu ginjal.
  • Percutaneous nephrolithotomy atau disingkat PCNL, yaitu prosedur penghancuran batu ginjal. Sayatan kecil dibuat di atas permukaan kulit dekat ginjal sehingga alat yang disebut nephroscope bisa masuk untuk memecahkan dan mengangkat serpihan batu ginjal. Prosedur ini biasanya dilakukan jika tindakan ESWL tidak memungkinkan untuk dilakukan, misal pada penderita obesitas.

Komplikasi yang tibul pada penderita dengan batu ginjal bisa diakibatkan karena batu ginjal itu sendiri atau akibat terapi penanganan batu ginjal.

Komplikasi Akibat Batu Ginjal

Batu yang terbentuk di ginjal memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari sebesar butiran pasir hingga sebesar kerikil atau lebih besar lagi. Permukaan batu juga bermacam-macam. Beberapa tipe batu ginjal memiliki permukaan yang halus, sedangkan yang lain memiliki permukaan yang tidak rata. Batu yang berukuran besar dapat mengiritasi hingga melukai saluran kemih ketika dilalui oleh batu ginjal. Batu ginjal juga dapat tersangkut di saluran kemih dan menghambat aliran urine sehingga risiko terjadinya infeksi ginjal (pielonefritis) akan meningkat. Infeksi pada ginjal dapat berakibat pada penyebaran bakteri dan mikroorganisme lainnya ke dalam darah. Selain itu, batu ginjal juga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada ginjal.

Komplikasi Akibat Terapi Batu Ginjal

Tipe terapi serta lokasi batu ginjal akan mempengaruhi jenis komplikasi yang timbul. Beberapa di antaranya adalah

  • Sepsis. Bakteri dan mikroorganisme yang terdapat di ginjal dapat lolos ke aliran darah dan menyebabkan infeksi. Gejalanya akan timbul di seluruh tubuh.
  • Nyeri
  • Cedera pada ureter
  • Perdarahan akibat operasi

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT