Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Atresia Ani

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 35 kali

Atresia ani adalah salah satu jenis cacat atau kelainan sejak lahir. Pada kondisi ini, perkembangan janin mengalami gangguan sehingga bentuk rektum (bagian akhir usus besar) sampai lubang anus umumnya tidak sempurna.

Atresia ani biasanya mencakup kelainan di area tubuh yang lain, termasuk kelainan yang terjadi pada organ-organ pencernaan, saluran kemih, hingga kelamin. Tingkat anomali yang terjadi pun berbeda-beda dan umumnya dikategorikan sebagai berikut:

  • Kelainan di tingkat bawah. Berupa lubang anus yang menyempit atau sama sekali tertutup akibat usus rektum yang masih menempel pada kulit. Lubang anus yang tertutup umumnya disertai dengan cacat lahir lain, seperti gangguan jantung, masalah pada sistem saraf pusat, atau anomali pada tangan dan kaki.
  • Kelainan di tingkat atas. Posisi usus besar yang terletak di rongga panggul bagian atas dan terbentuknya fistula yang menghubungkan rektum dan kandung kemih, uretra, atau vagina. Fistula adalah terowongan abnormal yang muncul antara dua saluran normal seperti antara pembuluh darah, usus, atau organ tubuh.
  • Lubang posterior atau kloaka yang persisten. Pada kelainan ini, rektum, saluran kemih, dan lubang vagina bertemu pada satu saluran yang sama.

Penyebab dan Faktor Risiko Atresia Ani

Pada kondisi normal, lubang anus, saluran kemih, dan kelamin terbentuk pada usia kehamilan delapan minggu melalui proses pembelahan dan pemisahan dinding-dinding pencernaan janin. Gangguan pada masa perkembangan janin inilah yang akan memicu atresia ani.

Penyebab di balik gangguan perkembangan tersebut belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga bahwa faktor keturunan atau genetika mungkin memiliki pengaruh besar di balik terjadinya cacat lahir ini.

Diagnosis dan Pengobatan Atresia Ani

Atresia ani bisa didiagnosis melalui USG, tetapi umumnya diketahui pada pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan ketika bayi lahir. Dokter akan memeriksa perut, alat-alat kelamin, lubang anus, dan tulang belakang setiap bayi yang baru lahir. Bila terdapat kelainan pada bagian-bagian ini, dokter kemudian akan memastikan apakah ada jenis cacat lahir lain yang juga dialami oleh sang bayi.

Pemeriksaan dini tersebut sangat dibutuhkan agar penanganan bisa segera dilakukan. Jenis prosedur yang akan dipilih oleh dokter tergantung pada jenis dan tingkat keparahan cacat lahir yang dialami oleh sang bayi. Kondisi kesehatan bayi juga akan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan.

Bayi yang tidak memiliki lubang anus akan diberi asupan melalui infus. Jika ada fistula yang terbentuk pada saluran kemih, dokter akan menyarankan penggunaan antibiotik.

Sebagian besar lubang anus yang tertutup membutuhkan operasi secepatnya guna membentuk saluran pembuangan untuk kotoran. Meski demikian, operasi ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena posisi organ yang mengalami gangguan terletak jauh dalam panggul. Belum lagi faktor usia bayi yang sangat muda sehingga risiko komplikasi juga meningkat.

Pasca menjalani operasi pembentukan lubang anus, komplikasi yang umumnya terjadi adalah konstipasi atau inkontinensia tinja. Untuk mengatasinya, pola makan pasien anak-anak sebaiknya dijaga dengan seksama. Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi banyak serat, seperti sayur dan buah. Makanan yang mengandung pencahar alami, contohnya produk susu, juga bisa digunakan. Selain cara alami, pasien juga bisa dianjurkan untuk menggunakan obat pencahar atau laksatif serta suplemen yang mengandung serat.

Komplikasi Atresia Ani

Sebagian komplikasi dapat terjadi pada saat operasi. Bila terdapat fistula yang berhubungan dengan saluran pencernaan, tindakan operasi bisa melukai dinding saluran cerna yang normal. Operasi pembuatan lubang pengganti anus (kolostomi) juga mengandung risiko mencemari saluran kemih sehingga risiko infeksi organ-organ kemih meningkat.

Stenosis (penyempitan) pada lubang anus buatan juga dapat terjadi bila kulit pasien mempunyai kecenderungan membentuk keloid (jaringan parut). Kondisi ini mengharuskan perbaikan kembali dengan cara operasi.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT