Selamat Datang di Web Portal Komunitas Donor Darah Indonesia Daftarkan alamat email anda dan dapatkan update berita terbaru melalui newsletter kami




Informasi Penyakit

Aterosklerosis

Editor : Rr. Anne Marie Heidija

Dibaca 38 kali

Aterosklerosis adalah penyempitan dan penebalan arteri karena penumpukan plak pada dinding arteri. Penumpukan plak tersebut terjadi saat lapisan sel pada dinding dalam arteri (endothelium) yang bertugas menjaga kelancaran aliran darah mengalami kerusakan.

Plak yang menyebabkan aterosklerosis terdiri dari kolesterol, zat lemak, kalsium, dan fibrin (zat dalam darah). Plak dapat terbawa aliran darah hingga menyebabkan penyumbatan, atau membentuk bekuan darah pada permukaan plak. Hal tersebut menyebabkan peredaran darah dan oksigen dari arteri ke organ tubuh terhambat.

Meski digolongkan sebagai gangguan jantung, aterosklerosis sebenarnya dapat terjadi pada arteri di bagian tubuh mana pun, seperti otak, ginjal, atau kaki, serta dapat memicu masalah kesehatan di bagian-bagian tersebut.

Terjadinya aterosklerosis bisa berawal sejak masa anak-anak dan berkembang terus secara perlahan. Gejala membahayakan baru muncul ketika usia penderita mencapai 50 atau 60 tahun. Kendati demikian, penyakit ini dapat dihindari dan diatasi dengan perubahan gaya hidup,

Gejala Aterosklerosis

Gejala aterosklerosis baru akan terasa ketika arteri sudah sangat menyempit dan menghambat peredaran darah menuju jaringan atau organ tubuh. Gejala yang muncul tergantung pada lokasi terjadinya ateriosklerosis, di antaranya:

  • Aterosklerosis pada tangan dan kaki; menimbulkan nyeri saat berjalan (klaudikasio).
  • Aterosklerosis pada ginjal; menyebabkan gagal ginjal dan tekanan darah tinggi.
  • Aterosklerosis pada jantung; menyebabkan nyeri dada (angina).
  • Aerosklerosis pada otak; mengakibatkan tangan dan kaki lemah atau kaku, kesulitan bicara, otot wajah melemah, atau kehilangan penglihatan sementara pada salah satu mata.

Penyebab Aterosklerosis

Penyebab pasti aterosklerosis belum diketahui, namun penyakit ini dimulai saat terjadi kerusakan atau cedera pada lapisan dalam arteri (endothelium).Kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh:

  • Kadar kolesterol, trigliserida, serta tekanan darah yang tinggi.
  • Diabetes atau resisten terhadap insulin.
  • Penyakit yang menyebabkan peradangan, seperti artritis, infeksi, atau lupus.
  • Kebiasaan merokok.
  • Obesitas.

Selain penyebab di atas, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat aterosklerosis juga diduga berisiko tinggi untuk menderita penyakit yang sama.

Diagnosis Aterosklerosis

Diagnosis dapat diawali dengan pemeriksaan fisik. Terjadinya gangguan peredaran darah dapat ditandai dengan denyut nadi yang lemah, tekanan darah yang rendah pada tungkai yang terganggu, serta penyembuhan luka . Hasil pemeriksaan fisik tersebut perlu diperkuat dengan beberapa pemeriksaan lanjutan yang meliputi:

  • Tes darah, untuk melihat kadar kolesterol dan gula darah.
  • Perbandingan indeks tekanan darah kaki dan lengan, guna memeriksa penyumbatan arteri pada tangan dan kaki.
  • Elektrokardiogram (EKG), untuk memeriksa aktivitas jantung yang dapat menunjukkan bukti serangan jantung sebelumnya.
  • USG Doppler, guna melihat adanya penyumbatan arteri dengan gelombang suara.
  • Stress test atau pemeriksaan treadmill, untuk memeriksa aktivitas elektrik jantung dan tekanan darah saat melakukan kegiatan fisik.
  • Pemindaian, meliputi magnetic resonance angiogram (MRA) dan CT scan untuk memeriksa kondisi arteri.
  • Angiogram dan katerisasi jantung, yaitu pemeriksaan kondisi arteri jantung dengan menyuntikkan zat kontras (pewarna) pada arteri sehingga dapat terlihat melalui foto R

Pengobatan Aterosklerosis

Penangan aterosklerosis dapat dilakukan melalui tiga hal, yaitu perubahan gaya hidup, obat-obatan, serta prosedur operasi.

Perubahan gaya hidup sehari-hari merupakan hal utama yang perlu dilakukan. Penderita dianjurkan untuk lebih sering berolahraga guna meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengurangi konsumsi makanan dengan kadar lemak dan kolesterol yang tinggi.

Selain perubahan gaya hidup, pemberian obat-obatan juga penting untuk mencegah arterosklerosis bertambah buruk. Di antaranya adalah:

  • Obat untuk pencegah pembekuan darah yang menghambat arteri. Obat yang mungkin diberikan adalah antiplatelet dan antikoagulan, seperti aspirin.
  • Obat penurun tekanan darah. Obat yang mungkin diberikan adalah penghambat beta (beta blockers), penghambat kanal kalsium (calcium channel blockers), dan diuretik guna meningkatkan laju urin
  • Obat penurun kadar kolesterol jahat (LDL), seperti misalnya statin dan asam fibrat.
  • Obat penghambat enzim angiostensin (ACE inhibitors). Obat ini dapat meredakan perkembangan aterosklerosis dengan menurunkan tekanan darah dan mencegah penyempitan arteri.
  • Obat-obatan lain untuk mengendalikan kondisi medis yang menyebabkan terjadinya aterosklerosis, misalnya obat diabetes.

Pada kasus aterosklerosis parah, prosedur operasi perlu dilaksanakan. Di antaranya adalah:

  • Operasi bypass, untuk mengatasi penyumbatan atau penyempitan arteri. Operasi ini dilakukan dengan cara memintas pembuluh darah yang tersumbat dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain atau selang berbahan sintetis agar darah tetap mengalir.
  • Terapi fibrinolitik untuk mengatasi penyumbatan arteri akibat pembekuan darah.
  • Pemasangan tabung (stent) dan angioplasty. Tujuan prosedur ini sama dengan operasi bypass, yaitu untuk mengatasi penyempitan atau penyumbatan arteri. Dalam prosedur ini, dokter akan memasang dua buah kateter dan tabung kecil agar arteri tetap terbuka.
  • Endarterektomi untuk membuang simpanan lemak pada dinding arteri yang menyempit.
  • Arterektomi untuk membuang plak dan arteri.

Komplikasi Aterosklerosis

Komplikasi yang dapat terjadi akibat aterosklerosis adalah:

  • Serangan iskemik sesaat (stroke ringan/TIA) dan stroke, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri yang berada di dekat organ otak.
  • Gangrene (jaringan mati), ketika aterosklerosis terjadi pada tangan dan kaki yang mengakibatkan gangguan sirkulasi darah.
  • Penyakit ginjal kronis, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri yang mengarah pada ginjal.
  • Aneurisma atau pelebaran pembuluh darah pada dinding arteri.
  • Serangan jantung, gagal jantung, serta angina, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri jantung.

Informasi Penyakit



BACA JUGA



BERITA TERKAIT